Saturday, August 29, 2009

4-4-2-#5

[Wasit]
"Tidak, Amanda." He? Tidak boleh? Dia tidak boleh ikut main? Amanda membuka mulut untuk protes, namun segera mengatupkannya kembali saat mendengar Nathaniel melanjutkan kalimatnya, "Dan please, aku sedang tidak ingin berdebat, oke?" Gadis itu memandang sepupunya tak percaya. Kenapa tidak boleh? Ia merengut, melipat kedua tangan di dada, kaki mengetuk-ngetuk rerumputan. Kesal. Kemampuannya bermain sepakbola tidak jelek-jelek amat. Well, tapi begitulah. Ia tidak pernah mampu membantah Nat. Ralat, bukan tidak mampu, hanya saja ia memang sudah terbiasa mengalah. Ya sudah.

Amanda melempar pandang ke sekeliling lapangan. 5 anak laki-laki termasuk Nat. Seorang anak lelaki berbaju biru dan celana pendek putih datang, berkata bahwa ia ingin ikut serta. Mata Amanda melebar tak percaya ketika mendengar Lazarus mengucapkan 'aku ikut'. Serius nih? SERIUSS? Oke, berlebihan. Tidak mengherankan sih jika seorang anak laki-laki berminat untuk bermain sepakbola. Yang akan membuat permainan sepakbola kali ini akan menjadi seru adalah keikutsertaan Larry dan Lazarus. Apa jadinya ya? Prediksinya, mereka berdua tidak akan mau bekerja sama. Eh, ataukah sebaliknya--seperti di kelas astronomi? Kita lihat saja.

Ada Arvid. Mallandrt. Ah, senior Theo juga. Ditambah Marius. Great. Amanda mengulum senyum. Sepertinya bakal seru. Dalam waktu singkat para pemuda cilik di hadapannya telah membentuk tim dan formasi. 5 orang tiap tim, eh? Cukup, mengingat ukuran halaman berumput yang terhampar tak terlalu luas, bahkan sepertinya tidak mencapai 25 kali 15 meter--ukuran standar minimal sebuah lapangan futsal. Tak lama kemudian seluruh personil pertandingan telah mengambil posisi masing-masing, Nat dan Arvid sebagai sentral. Fine, let's see. Jika dilihat dari sini, yang dapat Amanda tangkap adalah : sepupunya akan bertanding bersama Arvid, Lazarus, Mallandrt, dan senior Theo. Ck ck, Slytherin mendominasi. Sementara tim seberang terdiri dari sahabat baiknya, Larry; dua orang berparas Asia, junior dan senior; anak lelaki berbaju biru dan Marius. Gadis itu terdiam, memperhatikan Nat yang terlihat bersiap melakukan kick off. Ah, ia iri. Ia ingin ikut main...

Keningnya berkerut saat melihat sepupunya berlari ke arahnya alih-alih memulai pertandingan. Ada yang tertinggal? "Amanda. Kau. Jadi wasit, oke? Oh, but please, just stay here." Wasit? Dia? Jadi wasit? Amanda bengong, menatap peluit hitam yang kini berada di tangannya. Yang benar saja. Sejak kapan Nat jadi otoriter begini sih? Sama sekali tak memberi kesempatan padanya untuk menolak. Huft, calm down, Amanda. Lagipula kekecewaan Nathaniel adalah hal terakhir yang ingin ia lihat. Menyadari bahwa para pemain sudah siap, ia mengangkat peluit, menghela napas pasrah, dan meniup benda itu keras-keras.

PRIIIITT!

Just let the match begins. Para pemain bersenang-senang, sedangkan ia susah. Huh. Bukan, bukan karena ia tak mengerti peraturan sepakbola, atau kesulitan karena harus memancangkan mata mengamati pertandingan tanpa berkedip, bukan itu. Lebih cenderung kepada tekanan batin sebenarnya. Ditilik dari pembagian tim, satu statement sudah jelas. Nat versus Larry. Kalau begini yang akan terjadi adalah Amanda akan diam saja, berpura-pura jadi patung. Daripada dianggap memihak dan di akhir pertandingan harus menerima tatapan sinis dari salah satu dari mereka. Atau bahkan dari keduanya. Argh, Amanda tidak akan tahan jika benar itu yang akan terjadi. Tapi. Nathaniel sudah memberikan kepercayaannya, rite? Otomatis anak laki-laki tersebut telah memikirkan akibat baik dan buruk yang akan timbul atas keputusannya menjadikan Amanda wasit. Yah, baiklah. Do her best saja deh. Doakan agar ia tidak memihak. Amin.

Well, kembali ke pertandingan. Operan pertama diberikan kepada Arvid, dan diteruskan kepada Mallandrt. Ah. Amanda hampir saja meniup peluit ketika melihat sang senior Asia men-tackle Mallandrt, membuat bola terlepas dari penjagaan siswa Slytherin itu untuk sesaat. Ternyata tacklenya bersih. Bukan pelanggaran. Bagus. Entah bagaimana caranya kini bola telah berada di kaki Lazarus, pemuda tersebut menendang--asal-asalan, mengharuskan Nat kembali ke belakang untuk menjemput bola. Dan... sepupunya menendang. Ditangkap dengan mudah oleh Marius. Sial. Hei, hei, tuh kan. Ya, ya, tidak boleh memihak.

Marius menggiring bola--membuat Amanda menaikkan kedua alisnya, tidak menyangka--dan melakukan tendangan lambung. Yang menerima adalah... Larry. Wohoo. Sahabatnya menendang, tepat menuju gawang. Oh. So, what's next? Semuanya kini ada di tangan senior Theo.

(OOC : Maaf, Amanda nggak merhatiin penonton =9)

Labels: ,


6:24 PM


4-4-2-#4

[Tim Myself Nat - Midfielder]
Nostalgia. Hm... Apakah benar dapat dikatakan begitu? Well, yang pasti semangat yang tengah dirasakan Nathaniel saat ini hampir sama dengan semangatnya saat bertanding dan berlatih di akademi--dulu. Catat, hanya hampir, tak ada yang dapat menggantikan saat-saat berharga tersebut, apapun itu. Ia tersenyum puas ketika melihat operannya diterima dengan baik oleh seniornya--si pegawai magang--dan diteruskan kepada rekannya yang lain--seorang gadis kelihatan berseru memanggil namanya. Mallant, eh? Atau Mallandrt? Masa bodohlah.

Ah. Sial. Nat mendecakkan lidah ketika melihat Chiaki berhasil memotong pergerakan Mallandrt dan menguasai bola--untuk sesaat. Seringai kembali bertengger di wajah anak laki-laki itu saat bola entah bagaimana caranya sukses digulirkan tepat menuju Lazarus. Fine, sampai sini sudah benar. Sekarang masalahnya adalah, mampukah senior ular tersebut mengontrol bola dengan baik? Tampang datarnya amat tidak meyakinkan. Nat memicingkan kedua matanya, mengamati dengan sedikit harap-harap cemas. Oh ya, Lazarus mampu, ia dapat melihat itu. Tapi--for God's sake--kemampuan menendang bola pemuda tersebut ternyata lebih buruk dari kemampuannya menerima. Bola meluncur menyusur rumput tak jelas tujuannya. Gawat. Nat mendesah, menyadari bahwa ia harus kembali ke belakang lagi untuk menjemput bola. Ia berlari menghampiri bola yang tak bertuan, kemudian tanpa basa-basi kaki kanannya menyambar sang benda keramat dengan cekatan, bersyukur tak ada seorang pun yang mendahuluinya. Dari sudut matanya Nat melihat siluet beberapa gadis tengah berdiri di tepi area permainan, dekat pohon, salah seorang dari mereka mengangkat sebuah--kertas? Tidak, ia tak sempat membaca tulisan yang tertera disana. Wohoo, banyak yang menonton, eh? Ia baru sadar.

Nat memutar tubuh. Dan memulai sprint seraya mendribbling bola. Yeah, this is what he call football, dude. Dengan lincah ia bergerak, berlari dengan cepat sementara kedua kakinya sibuk memberikan sentuhan putus-putus pada bola, mempertahankan agar kuasanya terhadap benda itu tak hilang. So, what's next? Kedua matanya bergerak liar mencari celah di antara para pemain lawan, celah untuk... meneruskan bola. Sayangnya striker timnya, sang pegawai magang--Corleone namanya, ia baru ingat--tengah dijaga ketat oleh Joong dan Sullivan. Mau ambil resiko? Jadikan itu pilihan terakhir. Coba cari opsi lain. Mallandrt tengah bebas, namun posisinya tak menguntungkan, terlebih lagi Chiaki masih eksis di dekatnya. Nat mengerjapkan mata, menatap penjaga gawang lawan dengan tatapan setengah bingung. Berpikir cepat, Nat. Lawan dapat mengambil tindakan tak terduga kapan saja.

"Dengarkan aku, Gladstone. Pengambilan keputusan adalah kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh para pemain, dalam kasus ini adalah dirimu. Dalam permainan sepakbola, pemain yang dengan cepat mengambil keputusan dan benar, akan menjamin aliran bola yang cantik dan cenderung akan menyulitkan lawan. Apakah kau mengerti, Nak?"
"Ya, Pelatih. Tapi, Sir... Bukankah keadaan akan menjadi sulit saat pemain lawan menghadang?"
"Semua tergantung padamu. Percayakah kau pada dirimu sendiri? Keragu-raguan sama dengan sebuah kekalahan telak, camkan baik-baik kata-kataku, Gladstone."
Nat terpekur, mengangguk. Right, that's the question. Percayakah ia?


He must make a desicion. Nathaniel melempar pandang bergantian ke arah penjaga gawang beberapa meter jauhnya di depan sana dan bola di kakinya. Come on, mana yang kau pilih? Pass? Or... Shoot? Pilihan tak pernah tidak berkawan dengan resiko, begitupun kedua pilihan tersebut. Pass memiliki resiko yang lebih tinggi, mengingat bek lawan sepertinya telah menguasai peran mereka dengan baik. Sedangkan shoot? Oh, well, ia ingin--tapi bagaimanana kalau...

Baiklah. Menghela napas, Nat mendribble bola dua langkah ke depan, berkonsentrasi pada area di sekeliling kiper, mencari titik yang dapat dituju. Ah, gawang tidak tersedia. Hal ini sungguh mempersulitnya untuk memprediksi jangkauan tendang, keraguan menelusup jauh lebih dalam. Tetapi bagaimanapun situasinya, he must do this. Kaki kanannya menjejak rerumputan dengan kuat, kaki kirinya terangkat ke belakang--oh ya, ia pemain kidal. Ancang-ancang telah diambil, mate. Dan detik berikutnya, tendangan melambung telah dilaksanakan, bola meluncur lurus ke arah sang penjaga gawang. Nathaniel menahan napas. Masuk-kah?

(OOC : Menendang langsung ke gawang, dari jarak sekitar 8 meter.
Mengenai gawang: maap, gw baru inget meskipun tidak ada gawang, area gawang adalah 2,5 meter panjang alas, 2 meter tingginya. Silahkan bayangkan sendiri. Atau mungkin bagi para penjaga gawang dapat menciptakan gawang sendiri atau memberikan batas? =9 CMIIW)

Labels: ,


4:26 PM


4-4-2-#3

"Ha--hai--Naaat."

Nat menoleh. Ah, akhirnya datang juga. Ia mengangguk ketika Joong meminta maaf karena terlambat. Well, ya sudah, mau bagaimana lagi memangnya? Marah-marah? Buang tenaga. "Yakin bisa memasukkan bola ke gawangku hari ini?" ujar Joong lagi. Nat mendengus, kemudian menyeringai dan melempar tatapan lihat-saja-nanti kepada teman Asianya itu. Belum tahu saja kau, Joong. Ia meneruskan juggling yang sempat tertunda karena kedatangan Joong, bahkan bersikap acuh ketika seorang anak lelaki berparas asia lain menghampiri, memperkenalkan diri sebagai Chiaki Lin, bertanya apakah ia boleh ikut bermain sepak bola. Nat mengacungkan ibu jari tangan kanannya tanpa menoleh. Silahkan saja kalau mau ikut.

Jugglingnya baru benar-benar terhenti ketika sebuah seruan mampir di telinganya, "OI KALIAN-- Sepak bola, hm? Aku ikut." Nat memutar leher mencari sang pemilik suara. Dan apa yang ia lihat? Hell. Jonathan L. Baned. Teman Amanda. Ralat. Sahabat Amanda. Oh, bukan. Pacar Amanda. Ngarang kau, Nat. Si Baned itu hanya teman biasa gadis itu, tidak lebih. Ya kan?

Cemburu, eh, Nat?



Nathaniel menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran yang-benar-saja itu dari kepalanya. Tidak, dia tidak cemburu--enak saja--ia hanya peduli pada sepupunya, khawatir jika gadis tersebut memilih teman yang salah. Itu saja. Anak lelaki berambut gelap itu mengangkat dagu, memandang Baned dengan sinis, tak terlalu memperhatikan saat seniornya tersebut mengatakan sesuatu seraya menunjuk pemuda lain di sampingnya. Ah. Nat tahu siapa pemuda lain itu. Tak dapat dipercaya memang, tetapi Amanda membawa banyak foto saat libur musim panas lalu, mayoritas merupakan foto-foto teman-temannya, dan diantara sekian banyak lembar foto yang ia tunjukkan, yang paling membuat Amanda bersemangat saat membicarakannya--setelah Baned tentu-- adalah pemuda yang satu ini. Sylar Lazarus. Cih, apa sih kelebihan ular satu itu sampai-sampai Amanda pernah bilang bahwa gadis itu su--

PUK!

Eh? Nat tersentak, sadar dari lamunan, dan mengerjapkan mata saat menyadari siapa yang kini berada di hadapannya sambil berkacak pinggang. Wohoo, sepupunya tercinta. Amanda Steinhart. Mata Nat berbinar ketika gadis itu mengangsurkan majalah yang telah lama ia tunggu. Great, akhirnya. "By the way, main bola? Aku ikut," ucap gadis itu. What? Ikut main? Wow, wow, tunggu dulu, ia tak ingin mengambil resiko sepupunya akan terluka, terlebih lagi yang akan menjadi lawan Amanda adalah para anak lelaki. No way. "Tidak, Amanda. Dan please, aku sedang tidak ingin berdebat, oke?" ujar Nat, kemudian ia segera melihat ke arah lain, benar-benar tak ingin melihat raut wajah gadis tersebut yang pastinya kecewa. Untuk kebaikanmu, Amanda, mengertilah.

Satu orang lagi--ah, Sullivan, anak yang pernah ia lihat di danau--datang dan ingin turut bergabung. Welcome, deh. "Aku ikut. Aku setim denganmu." Sebentar. Itu tadi... benar-benar Lazarus yang berbicara? Well, tidak ada salahnya juga sih. Fine, he got one. Seorang anak lelaki lain--oke, si pegawai magang di toko tongkat, Nat ingat--juga turut berminat setim dengannya. Got two. 2 orang menyusul, yang satu membicarakan tentang dua orang perempuan--Diana dan Susan--apa sih? Masa bodohlah. Yang satu lagi secara tiba-tiba merangkul bahunya, memperkenalkan diri sebagai Theo--jujur, Nat terkejut, but he got three. Or four? Terserah.

Satu orang lagi datang, menggenapkan jumlah mereka menjadi sepuluh. Enough, sudah terlalu banyak nih. Nathaniel mengangguk setuju ketika Joong menyarankan agar mereka bertanding lima lawan lima. Nice idea. Nat memungut bolanya, mengedarkan pandang ke seantero halaman. Hm, tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk dijadikan tempat bermain bola meskipun dengan konsep futsal. Ia mengedikkan kepala kepada seluruh anak laki-laki yang telah sepakat untuk turut bermain, mengisyaratkan mereka untuk beranjak ke tengah lapangan. Biarlah mereka menentukan sendiri posisi yang mereka inginkan.

Setelah yakin semuanya telah menempati posisi masing-masing, Nat menahan bola dengan bagian bawah sepatu kanannya, menoleh kesana kemari, mencari tahu apakah ada yang keberatan jika timnya yang memulai terlebih dahulu. Tidak ada? Bagus. Ayo kita mulai. Are you ready guys? Ah, tunggu. Ada yang terlewat. Nat berlari ke sisi lapangan--ke arah Amanda berdiri--merogoh saku, kemudian menyerahkan peluit yang telah ia siapkan kepada sepupunya. "Amanda. Kau. Jadi wasit, oke?" Ia mengedipkan sebelah mata, kemudian menambahkan, "Oh, but please, just stay here." Ia memberi tatapan tolong-jangan-membantah kepada Amanda sebelum kembali ke tengah lapangan, mengambil posisi lagi.

Siap? Baiklah. Setelah terdengar suara peluit, Nat melakukan first pass. Kick off!

(OOC : First pass to Arvid :3 Anggap Amanda sudah meniup peluit
- Tim Nat :
1. Arvid E. Corleone (striker)
2. Dean L. Mallandrt (striker)
3. Sylar Lazarus (Defender)
4. Theo P. Collin (Keeper)
- Bagi para personil tret ini, diharap menuliskan status di bagian atas post. Contoh, [Tim Nat] atau [Tim Kim] atau [Penonton], biar gak bingung, okeh...
- Alur : let it flow, skor pertandingan juga... =9
- Ketentuan dan peraturan lain lewat conf ^_^

Labels: ,


4:20 PM


4-4-2-#2

Ini-- Ah, mana sih Nat? Amanda mengedarkan pandang ke seantero Aula Besar, mencari wajah sepupunya. Tidak ada, yeah, seperti dugaannya. Semenjak tiba di Hogwarts, anak itu amat sulit ditemui, seakan melupakan Amanda. Gadis itu menghela napas, kemudian menatap tabloid Weekly Football di hadapannya dengan heran. Sepertinya pamannya salah kirim deh. Seharusnya majalah ini ditujukan untuk Nat--well, anak itu langganan kalau tidak salah. Ia menatap sampul depan majalah--menampilkan skuad tim nasional Jerman Barat--dengan antusias, kemudian membuka halaman demi halaman, mencari tahu apakah ada yang menarik. Oke, Piala Eropa, Piala Eropa dan Piala Eropa. Wajar sih, mengingat event besar tersebut akan diselenggarakan sebentar lagi, di pertengahan tahun 1980 di Italia. Semoga ia bisa menonton pertandingan final. Amin.

Ya sudahlah. Lebih baik sekarang ia mencari Nat, firasatnya mengatakan anak lelaki itu telah lama menunggu sang edisi terbaru. Amanda membelai burung hantu pamannya, Perseus, membiarkannya minum dari gelas miliknya sebelum burung itu pergi. Fine, saatnya berkeliling Hogwarts mencari sepupunya tersayang. Amanda menghabiskan sarapannya--jika bisa disebut sarapan, sekarang sudah pukul sepuluh--dengan cepat, bangkit, dan melangkah santai menuju pintu Aula Besar.

Halaman
Bagus sekali. Capek. Nat tidak ada dimana-mana. Di perpustakaan--tentu saja tidak ada, Amanda kurang kerjaan mencoba mencari kesana, di ruang rekreasi atau di kamar juga tidak ada--kata seorang junior kelas satu. Ia dengan bodohnya menyusuri tiap lantai dan juga jembatan sampai kakinya pegal, dan hasilnya nihil. Ah, masa bodoh kalau begitu. Majalah ini untuknya saja.

Halaman tampak lengang. Amanda berjalan perlahan sambil mendekap majalah di dada, mengamati aktivitas para siswa Hogwarts. Sedang tidak berminat untuk beraktivitas sih. Ia hanya ingin istirahat di bawah sebuah pohon jika mungkin, menuntaskan membaca tabloid dalam dekapannya tersebut. Kedua kakinya melangkah ke bagian jauh halaman, mencari tempat yang enak. Ah. Kan. Ck. Itu dia Nat. Mengapa tidak dari pertama saja ia mencari di halaman? Payah kau, Amanda. Sepupunya itu sedang ber-juggling ria, dengan dua anak lelaki berparas asia di dekatnya, serta 4 orang lain yang tengah berbincang tak jauh dari mereka bertiga. Tunggu. Sepertinya ia kenal...

Larry, Sylar, senior Carrera, dan Prefek McAfferty. Wow.

"Well, aku turun dari pohon di atas sana--karena telingaku menangkap beberapa suara yang mengatakan bahwa Jonathan dan Lazarus akan bermain Soccer bersama mereka." Eh? Amanda tertegun ketika mendengar ucapan sang prefek, terlebih lagi saat seniornya itu menunjuk ke arah Nat dan kedua temannya, mengindikasikan kata 'mereka' yang ia ucapkan. Oh my--serius? Larry dan Lazarus akan bermain sepak bola bersama Nat? Well, alamat bakal terjadi Perang Dunia ke-3. Prefek McAfferty mengatakan bahwa ia akan menemani senior Carrera menonton. Menonton. Menonton? Tidak, Amanda tidak mau menonton. Ia mau ikut main.

Gadis itu menghampiri mereka berempat, mengangguk kepada kedua seniornya, menatap Lazarus dengan sedikit salah tingkah--ya Tuhan, yang benar saja Amanda--kemudian nyengir kepada Larry, mengacak rambut sahabatnya. "Kau akan bermain sepak bola, eh? Great, Larry. Aku juga," ujarnya, mengedipkan sebelah mata, lalu mulai berjalan menjauh, kini menghampiri Nat. Amanda menepuk kepala sepupunya dengan majalah, berkacak pinggang, kemudian berkata, "Nat, kemana saja sih kau? Ini. Majalahmu. By the way, main bola? Aku ikut."

(OOC : Tenang, Amanda ga beneran ikut kok =9 FYI, setau gue, di Inggris itu sepak bola disebut 'football'. Soccer itu istilah di Amerika, sengaja supaya g ketuker dengan 'football America'. But, it's okay sih. CMIIW :3)

Labels: ,


4:16 PM


4-4-2-#1

You must let it go, Nat.

Cih, kalimat macam apa itu. Nathaniel mendecakkan lidah jengkel, tangan kanannya melambung-lambungkan bola sepak kesayangannya sementara tatapannya menerawang jauh tak terfokus. No, he can't and won't let it go. Dalam berbagai situasi, Nat selalu setuju kepada apa yang Amanda ucapkan, sepupunya itu selalu benar, ia akui. Tapi tidak kali ini.

Ah, sepak bola. Bagian terpenting dari hidupnya itu kini harus ia tinggalkan begitu saja demi sekolah ini. Demi Hogwarts. Pantaskah, eh? Entah. Ia belum yakin. Apa yang dapat Hogwarts tawarkan untuk mengganti hal berharga itu? Teman-teman akademi, keceriaan saat bertanding. Well, tentunya ia tak dapat menerima saat Amanda berujar just-let-it-go padanya, dengan kata 'it' sama dengan sepak bola dan karirnya di akademi. Is she kidding him? Tentu saja ia tak akan membiarkan sepak bola berlalu dan pergi dari kehidupannya. Tidak akan pernah. Apalagi hanya untuk sebuah sekolah sihir yang sama sekali tak sebanding.

Saat ini anak lelaki berambut gelap itu tengah duduk di bawah pohon Chestnut di bagian timur halaman dengan raut wajah jenuh. Di hadapannya terbentang rerumputan yang cukup luas. Sepi. Hanya ada beberapa orang berjalan di kejauhan. Mana sih Joong? Sudah lima belas menit beranjak dari pukul sepuluh, waktu yang mereka tentukan untuk bertemu. Ck, Nat paling benci jika harus menunggu. Ia menyandarkan kepala ke batang pohon di belakangnya, lutut kanannya ditekuk ke atas sementara tangannya menepuk-nepuk bola sepak yang kini berada di samping sepatu putih kanannya. Waiting is the worst thing ever. Tak ada kerjaan, pikiran Nat melayang, kalimat Amanda lagi-lagi terngiang di benaknya. "Calm, Nat. Kau akan mendapatkan pengganti sepak bola di Hogwarts. Quidditch. No doubt."

Quidditch.

Tidak, menurut Nathaniel olahraga kebanggaan kaumnya tersebut amat jauh berbeda jika dibandingkan dengan sepak bola Muggle. Baginya, sepak bola lebih menantang dan menarik meskipun lebih menguras tenaga. Fine, mungkin argumen satu ini terlihat berat sebelah karena ia selalu berkutat dengan dunia sepak bola, tak pernah sekalipun ia melirik olahraga lain, termasuk Quidditch. Bermain pun tidak. Bahkan Nat menolak dengan halus saat sepupunya mengajak ia menemani gadis itu bermain Quidditch musim panas lalu, karena final Liga Champion Eropa tengah ditayangkan di televisi. Intinya, ia menjunjung tinggi sepak bola di atas olahraga lain, whatever other people say. Teman-teman penyihirnya seringkali mengatakan Nat itu terlalu Muggle, terlalu jauh dari kehidupan penyihir normal, tidak menjunjung dunia perolahragaan sihir, bla bla bla. Well, ia sama sekali tak bermaksud seperti itu, sungguh. Hanya saja ia memang dilahirkan di komunitas Muggle, menetap di teritori Muggle hingga saat ini. Wajar jika ia terbiasa dengan sepak bola yang notabene merupakan olahraga terfavorit mereka, right? Apa yang salah? Karena ia darah murni maka ia dicap abnormal? Yang benar saja. Jika memang orang-orang berkata seperti itu, Nat pun tak mau ambil pusing sih. Terserah.

Nathaniel bangkit, mengeluh. Bosan. Ia memungut bola sepaknya, kemudian melakukan juggling sederhana sambil menunggu. Bola bercorak segi enam hitam putih itu terlempar ke udara, kemudian ia pantulkan kembali dengan menggunakan lutut kiri sebelum bola itu menyentuh tanah. Satu, dua... Berpindah ke lutut kanan, kemudian melambung tinggi dan mendarat di kepalanya, bola tersebut kembali terpantul-pantul beberapa kali. Bagus. Kemahirannya mengontrol bola belum pudar. Hari ini ia bersama Joong akan melakukan sesuatu yang luar biasa menarik. Bermain sepak bola. Great. Semoga anak itu cepat datang. Nat sudah tak sabar.

(OOC : No one repp before Kim JoongBo. Oke, let me tell you about the rules of the game :
- Pertandingan akan dimulai setelah terbentuk dua tim, masing-masing tim terdiri dari lima orang termasuk Nat dan Joong.
- Pertandingan hanya untuk para anak lelaki. Anak perempuan silahkan masuk, tetapi hanya untuk menonton.
- No harmful, dan sebisa mungkin jangan menggunakan mantra, please.
- Bagi yang ingin join, PM or IM dulu ya... ^_^
- Jika ada yang kurang jelas, silahkan PM or IM.
EDIT TO ADD : Full untuk pemain :3
)

Labels: ,


4:13 PM

Thursday, April 9, 2009

4-4-2-#6

Right or wrong, at least he trust himself.

Nat mendarat dengan kaki kanan, kedua matanya menatap lekat pada sang benda hitam putih--ia tidak berkedip, serius--dengan harap-harap cemas. Perasaan ini--ah. Ia rindu akademi sepakbolanya. Ia rindu gemuruh penonton saat ia bertanding, terlebih lagi ketika ia mencetak gol. Ia rindu... Well, well, cukup. Perasaanmu kayak cewek, Nat, tahu tidak.

Ditangkap dengan mudah ternyata. Nat mendesah, memejamkan mata. Sial. Tanpa sadar ia melirik ke bawah, ke arah sepatunya, ke arah kaki kirinya. Sudah mulai tumpul rupanya, eh? Tiga musim tanpa sepakbola sepertinya sedikit berdampak buruk pada kemampuannya dalam penyelesaian akhir. Ck. Hal tersebut bukannya tidak mungkin, rite? Tidak ada latihan rutin, olah fisik, coaching clinic--tentu saja, apa yang kau harapkan dari Hogwarts jika berbicara mengenai sepakbola? Lapangan saja tidak punya.Yah, semoga asumsi bahwa kemampuannya mulai menurun itu tidak benar. Semoga itu hanya sebuah kepesimisan tak berdasar. Amin.

Fine, konsentrasi. Kali ini tim lawan akan mengambil alih, bisa gawat kalau--Goddamit, benar kan, kiper lawan menggiring bola, maju ke depan. Sendirian. Kepercayaan diri yang tinggi. Dan--oh, ia tak percaya--tidak ada yang menghadang. Great, apa fungsi ketiga teman Nat yang lain, eh? Ia berlari menghampiri senior Slytherin yang punya rasa percaya diri tingkat dewa itu, melebarkan kaki hendak merebut bola, atau setidaknya meloloskan bola dari penguasaan sang kiper--terlambat. Bola terlanjur melambung, dan dengan sukses diterima si Baned. Nat menyeringai. Apa sih yang bisa 'sahabat' Amanda itu lakukan, eh? Prediksinya : satu, mengoper. Dua, menendang bola dan out. Wohoo, seniornya itu ternyata memutuskan untuk menendang langsung, berarti yang akan terjadi adalah pilihan kedua. Lagipula, dilihat dari postur tubuh Baned, cara menendang dan lengkungan bola, mustahil deh kalau bola itu bisa ma--

No. Way.

"Haha, cara menendangnya seperti itu, Pelatih. Mana mungkin bisa masuk."
"Menurutmu begitu, hm, Gladstone?"
Nathaniel mengangguk yakin, senyuman meremehkan tersungging di wajahnya, matanya tak luput memandangi pemain amatir di tengah sana.
"Apa yang membuatmu berprediksi seyakin itu?"
"Tentu saja aku yakin! Pasti skillnya lebih buruk dariku. Aku bisa menendang jauh lebih baik, anak itu tidak pernah ikut akademi."
"Begitu."
Nathaniel mengangguk, tatapannya tetap lurus ke depan. Kedua matanya melebar tak percaya ketika menyaksikan peristiwa yang terjadi. Gol.
"Itu--pasti kebetulan, Pelatih--" ujarnya gugup.
"Dalam sepakbola tidak ada yang namanya kebetulan, Nak."
"A-aku... Berarti itu keberuntungan saja."
Ia benar, rite? Buktinya Pelatihnya tersenyum.
"Kau tidak akan menjadi seorang pemain sepakbola yang hebat, Gladstone."
Nathaniel tersentak, menoleh cepat, memandang sang pelatih tak percaya. "Pa-pardon?"
"Kau tak pernah mau mengingat prinsip ilmu padi yang selalu kutekankan. Mulai sekarang lupakan semua piala yang kau incar."
Anak laki-laki berambut hitam itu menelan ludah, menunduk menatap sepatunya. Ilmu padi?


"GOLL!!" Kedua manik kecokelatan Nat bergerak menyeberangi lapangan, memandang sinis seorang gadis di tepi lapangan yang barusan berteriak. Berisik. Ia terdiam melihat kegembiraan tim lawan. 1-0. Ia mendecakkan lidah dan berkacak pinggang, tersenyum kecut pada senior Theo saat sang kiper berkata bahwa ia kurang maksimal menjaga gawang. Jengkel. Bukan pada skor pertandingan, tapi pada dirinya sendiri. Ia selalu lupa pada ilmu padi. Semakin berisi semakin merunduk. Kalau begini terus ia tak bisa menjadi seorang pemain sepakbola yang hebat. Gawat. Introspeksi diri, Nat.

Ah, ya. The match must go on. Nat berlari menghampiri Corleone, berbisik di telinga seniornya tersebut, "Jadi begini, Senior. Strategi kita kali ini..." Selama beberapa detik ia menjabarkan salah satu strategi favoritnya, mengacungkan ibu jari setelah selesai, kemudian bergegas menuju tengah lapangan untuk melakukan kick off kembali. Di hadapannya telah berdiri Lazarus. Eh? Dimana striker satu lagi? Nat menoleh kesana kemari. Itu dia. Mengapa bukan dia yang--oh, ya sudahlah. Tidak ada salahnya juga.

Nat memutar leher, memberikan tanda pada Amanda untuk meniup peluit. Peluit berbunyi. First pass dilakukan oleh Lazarus, bola kini berada di kaki kanan Nat, ia menggulirkannya sedikit ke kiri. Tanpa basa-basi ia memberikan passing kepada Corleone, kemudian berlari ke depan, menghindari beberapa pemain lawan untuk mencari tempat yang tepat. Well, kali ini tidak boleh gagal lagi. Dan satu hal yang akan berusaha ia ingat. Jangan meremehkan orang lain.

(OOC : Berinteraksi dan mengoper bola pada Arvid. Anggap Amanda sudah meniup peluit. CMIIW =9)


Aih, reppan yang ini ketinggalan T_T

Labels: ,


3:51 AM

Wednesday, April 8, 2009

4-4-2-#9

Ini-- De ja vu. Sungguh.

Awan terus membuka lebar-lebar sekat bendungannya, mengguyur segala sesuatu yang tegak berdiri di atas permukaan bumi dengan curahan sang air bening. Nathaniel mengusap wajahnya berulang kali, berusaha menjernihkan pandangan yang berulang kali dikaburkan tetesan hujan, meskipun sebenarnya ia tak terlalu peduli. Sekujur tubuhnya telah basah kuyup. T-Shirt dan celananya menempel di kulit, membuatnya sedikit jengah. Cuaca sial. Nat melirik rerumputan yang terhampar, tempat ia berpijak. Genangan air kini bertebaran tak terhingga, membuat sepatu ketsnya tenggelam sebagian--air merembes masuk dan membasahi kedua kakinya. Masuk angin will coming soon.

Ngomong-ngomong de ja vu, statement tersebut sama sekali bukan basa-basi, FYI. Kedua mata anak lelaki dua belas tahun itu bergulir ke kanan mengiringi tolehan kepalanya, menatap sekilas pada formasi pertandingan. Posisi tim lawan ditambah strategi timnya sendiri, cuaca, lapangan--secara keseluruhan amat mirip dengan pertandingan setahun yang lalu. Pertandingan dalam turnamen divisi tingkat junior, salah satu turnamen paling bergengsi di ranah Inggris terutama para klub junior London--it's professional, not amateur. Ketika itu rasa menyesal luar biasa menghujam jantungnya, deras hujan yang turun melengkapi kegalauan yang menyerbu sang benak. You bet. Mereka kalah. Akibat hujan kurang ajar yang datang di waktu yang amat sangat tidak tepat, gara-gara tubuh mereka tak terbiasa dan tak mampu beradaptasi dengan cuaca buruk, dan penyebab utama kegagalan dirinya tentu saja : Dad.

Ah. Nat menghela nafas. Perasaan itu hadir lagi. Please, Gladstone, jernihkan pikiranmu. Fokuslah. Lupakan hal-hal menyesakkan yang telah berlalu, sama sekali TIDAK PENTING, tahu? Secara samar kepalanya mengangguk, menyetujui nuraninya--tentu saja. Terkadang rasa heran menyergap benaknya akan kekontrasan kedua belah hatinya, bahkan mungkin ia tak akan heran jika suatu saat vonis menyatakan bahwa seorang putra keluarga Gladstone memiliki kepribadian. Wohoo, ngelantur kemana sih? Coba kembali perhatikan apa yang terjadi dengan bola kesayangannya--

Ck. Joong. Entah perasaannya saja atau bagaimana, anak laki-laki benua Asia itu selalu berada di tempat dan waktu yang pas. Beruntung saja sepertinya. Bola digulirkan, arah pastinya Nat tak dapat memprediksi, just take a look--bagus Lazarus. Sebuah seringai mendarat di sudut bibirnya saat sosok senior ular tersebut memotong operan Joong dan segera menembak ke arah gawang. Right decision. Nat berlari mendekat, kecipak air berlangsung seirama. Kedua matanya melebar saat menyaksikan sang bola memantul kembali dan sang kiper sedang berada dalam keadaan yang jauh dari kata menguntungkan.

K. E. S. E. M. P. A. T. A. N.

Berlari menyambut bola liar--sedikit terhambat oleh pakaiannya yang berat--Nat melompat, tanpa berpikir panjang menyundul benda bulat hitam putih tersebut menuju titik gawang yang terbuka lebar tak terkawal. Ia membiarkan seluruh kausnya kotor saat tubuhnya mendarat dengan sukses di atas rerumputan banjir--bagian perut terlebih dahulu--peduli amat. Yang ia pedulikan saat ini adalah kenyataan : berhasil atau tidak? Nat mengangkat wajah, merasakan dentuman harapan di dalam dadanya.

Well, YES. Masuk.

Tersenyum lebar--jangan tercengang begitu kawan-kawan, serius, ia tersenyum lebar--Nat bergegas bangkit, menggumamkan seruan 'yeah' lirih, kemudian berlari untuk mengambil sang bola. 1-1. Great. Ditepuknya pundak Lazarus, senyum kepuasan ia umbar begitu saja, dengan begitu mengisyaratkan kalimat 'bagus sekali' versi nonverbal. Imbang, rite? Tak ada yang lebih bagus lagi.

Ada apa dengan matahari siang ini, eh? Sedang vakuumkah? Atau memakan gaji buta? Yang pasti, Nat merasakan tubuhnya mulai menggigil, tangannya kaku. Se-sepertinya firasat tak baik mulai menghampiri. "Kawan-kawan!" Ia berseru sekeras mungkin hingga batas maksimum pita suaranya, berusaha mengalahkan rintihan hujan. "Kurasa lebih baik kita sudahi dulu." Ya, end of the game. Terserah sih, yang pasti dirinya keluar, tak ingin sesuatu buruk terjadi. Skor imbang, adil baginya.

(OOC : Intinya, thread closed. Bagi yang ingin repp setelah saya, go ahead. Silahkan.)

Labels: ,


11:14 PM


4-4-2-#8

Dasar anak perempuan. Setelah menjalankan strategi alias mengoper bola kepada senior Corleone, Nathaniel mengerling tepi halaman, menaikkan kedua alisnya. Banyak yang menonton ternyata. Dan mayoritas, well you know, cewek. Hanya ada seorang anak lelaki nyasar di sana, senior. Ralat, tidak nyasar sih. Sah-sah saja jika ada seorang anak lelaki menyaksikan pertandingan sepak bola, amat wajar. Yang menjadikan hal ini tak biasa hanya kekontrasan serta presentase gender penonton. Satu, dua... Genap enam orang gadis--Amanda tidak masuk kuota--ditambah itu tadi, satu orang pemuda. Apakah memang sepakbola lebih digemari oleh kaum hawa, eh? Oh, please. Cukup membahas sesuatu yang tak penting.

Well, well, coba tebak siapa yang berdiri di tepi halaman sana, turut mendaftarkan diri dalam daftar penonton. Gadis di kompartemen. Gadis egois dan seenaknya sendiri. Nat meraba bahu kirinya, berjengit saat menyadari bahwa bagian tubuhnya tersebut belum sembuh sepenuhnya. Ya, gara-gara cewek itu, yang karena kecerobohan bodohnya menyebabkan koper-koper terjatuh dari tempat penyimpanan kompartemen, salah satunya menimpa bahu Nat dengan keras, membuat tulangnya di area tersebut ngilu hingga saat ini. Sial. Semoga anak perempuan itu tak mencari gara-gara kali ini.

Suara benturan nyaring mampir di telinga, membuatnya terlonjak. Apa yang-- Di hadapannya terlihat sang senior Corleone bertubrukan dengan Baned, membuat striker timnya itu jatuh terjungkal. Ck, ada-ada saja. Peluit ditiup. Bagus, Amanda kompeten sebagai wasit. Setengah berlari, Nat bergerak menghampiri kedua murid satu tahun di atasnya tersebut, sedikit membungkuk untuk mencari tahu apakah ada yang gawat. Jika ada, wah, bisa timbul masalah. "Kalian tidak apa-apa?" Bukan pertanyaan sebenarnya--lebih menjurus kepada pernyataan berbau harapan. Ayolah, hal-hal di luar rencana bukan hal yang ia inginkan. "Sepertinya kalian harus mencari pengganti. Kakiku terkilir." Kalimat yang terlontar dari mulut sang senior membuat tubuh Nat statis dalam posisinya, kedua mata kecokelatannya terpancang pada pegawai magang di hadapannya. Terkilir? Apakah itu berarti pertandingan harus berakhir sekarang? Ia menegakkan tubuh, mendesah bingung ketika senior Corleone mulai beranjak pergi. Entah apa yang terjadi dengan Baned, ia tak terlalu peduli.

Tersisa empat. Nat menatap para pemain yang berdiri di seluruh penjuru lapangan, satu persatu dengan pandangan bertanya. Jadi? Bantu ia untuk memutuskan. Apa mungkin harus diundi ulang? Jika ya, itu berarti harus ada salah seorang dari tim Joong yang turut terdepak--terpaksa ataupun tidak. Ia akan merasa tidak enak hati jika mengambil opsi yang satu ini. Well, kalau begitu, permainan memang lebih baik dihentikan, mungkin? Tidak adil apabila mereka tetap bermain sementara timnya pincang. Hell--enak saja.

"Okay, Senior. Boleh kugantikan?" Serius, kalimat yang terucap entah-oleh-siapa itu seakan menjatuhkan sebuah kunci dari langit, mendarat dengan mulus di lubang kunci pintu kelegaan yang otomatis terbuka, meloloskan kelesuan yang mulai menyerang. Dia. Masih. Ingin. Bermain. Sepakbola. Hanya karena seseorang cedera dan momen langka ini terhenti? No way. Katakan ia egois, bilang ia tak punya hati. Bukan begitu. Ayolah, apakah kau tak dapat mengerti bahwa ia amat rindu pada olahraga yang satu ini? Engsel leher Nat berputar seratus delapan puluh derajat, menemukan pemilik suara. Seorang anak lelaki, sebaya dengannya jika ditilik dari postur tubuhnya. Tersenyum dan mengangguk, Nathaniel menyahut, "Kau datang di saat yang tepat, Mate. Kau masuk timku." Beres seketika. Keberuntungan masih menyertainya rupanya.

Seringai puas terpasang, bertambah lebar saat keputusan sang wasit telah dideklarasikan. Tendangan bebas langsung. Great, tidak ada yang lebih baik daripada itu. Nat memandang sepupunya dengan tatapan bagus-sekali-terima-kasih-banyak, tanpa ragu membungkuk untuk menyambar sang bola, menempatkannya di tempat yang semestinya. Satu peluang emas. Kali ini tak boleh dan tak akan gagal lagi. Anak lelaki berambut hitam itu mundur dua langkah, mengambil ancang-ancang, menentukan titik tujuan di kejauhan. Tunjukkan kemampuanmu, my feet... Lengkingan peluit yang ditunggu akhirnya terdengar. Hold a second. Kakinya urung menjejak ketika sesuatu membasahi kepalanya secara tiba-tiba, membasahi lengannya, bahunya--

Ah, hujan.

Tetesan air semakin intens, tempo dan frekuensinya bertambah cepat dan banyak. Ditingkahi oleh hujan yang menjadi deras secara tiba-tiba, Nat berlari, kaki kanannya menjejak dengan mantap, ia mengeksekusi tendangan bebas dengan sang kaki kiri. Bola meluncur menuju gawang. Fine, anggap saja umpan lambung.

Ini--terlalu deras, serius. Nathaniel mengusap wajahnya yang benar-benar basah, air mengalir turun dari kepala, menetes dari dagu dan hidungnya, jatuh ke rerumputan. Gemuruh pasukan hujan seakan membekap telinganya, mengaburkan pandangan pula. Astaga, Amanda. "AMANDA! Berteduh, CEPAT!" Ia berteriak, berusaha mengalahkan gemuruh. Gawat, jangan sampai gadis itu sakit. By the way, bagaimana nasib tendangannya tadi, eh?

Labels: ,


7:23 PM


4-4-2-#7

[Wasit]
Sepoi-sepoi saja. Menggelitik bulu kuduk. Namun sekarang berderu. Eh?

Gadis cilik itu mendongak ke atas. Mendung. Siluet cahaya matahari memudar, seakan ada yang menurunkan tingkat kontras halaman kastil secara berangsur-angsur. Latar cuaca sepertinya akan segera berubah. Amanda menyelipkan rambut kecokelatannya ke belakang telinga, memicingkan mata menahan hembusan angin yang tiba-tiba menguat. Ya, berderu bahkan. Aneh. Ia merogoh saku, mengambil arloji kesayangan. Setengah sebelas. Hampir siang hari, namun sang matahari malah hendak menyembunyikan wajah, mengalah pada sang awan, membiarkan sahabatnya tersebut menyeruak ke barisan terdepan. Well, cuma prediksi. Yang ia lihat seperti itu.

"GOLL!!" Tersentak, ia mengerling ke arah teriakan--yang dilengkapi dengan suara tepuk tangan heboh-- tersebut berasal, sebelum berusaha menajamkan pandangan menatap pertandingan beberapa meter jauhnya di depan. Gol? Ah ya, benar. Bola lambung hasil tendangan Larry dengan sukses masuk ke gawang yang dijaga oleh senior Theo--bukan--lebih tepatnya berhasil masuk ke dalam area yang telah ditentukan merupakan gawang, meskipun tak kasat mata. Great. Sahabatnya berhasil. Senyum tersungging di wajah Amanda, mulutnya terbuka, hendak meneriakkan ucapan selamat--Hei, hei, ingat, mana ada wasit seperti itu? Kalimatnya terhenti di tengah perjalanan. Bodoh. Jangan memihak. Gadis itu berdeham, mengatupkan bibir saat melihat senior Theo memukul tanah kesal dan Nathaniel terdiam, sementara di sisi lain junior Asia dari tim lawan menepuk bahu Larry, terlihat senang. See? Amat sangat tidak nyaman menjadi wasit dalam pertandingan yang satu ini. Dilema.

Astaga, lupa. Amanda mengangkat peluit dan meniupnya, menandakan perubahan skor. 1-0 untuk tim Larry, 0-1 untuk Nat. "Hm, ada yang mau jadi komentator?" Suara seorang gadis membuat kepalanya menoleh. Komentator? Well, baru sekarang ia menyadari bahwa tim penonton telah bertambah anggota. Dua orang junior, satu senior, dan--ah, Duske. Ia melambai kepada Sienna, kemudian kembali berpaling kepada sang gadis yang barusan bertanya, menyahut seraya tersenyum, "Bagaimana kalau kau saja yang menjadi komentator, eh?" Hm, tetapi kalau dipikir-pikir, seorang komentator kemungkinan besar membutuhkan mantra Sonorus agar suaranya dapat terdengar dengan jelas. Agak sulit, terlebih lagi di dekat sini tak ada murid tahun keenam atau ketujuh. Tapi tidak ada salahnya sih, sekedar untuk para penonton sepertinya menarik. Kedua mata kecokelatannya menangkap isyarat dari Nat, saatnya meniup peluit. Sekali lagi peliut hitam ditiup, suaranya melengking membelah udara.

PRIIIIT!

Wow. Lazarus yang memulai? Serius nih? Entah mengapa Amanda sedikit terpaku melihat strategi tim Nat kali ini. Tidak, bukan karena Lazarus yang menjadi starter, ehm, tentu saja tidak. Seorang bek melakukan first pass terbilang unik, karena amat jarang dilakukan. Lazarus memberikan sentuhan pertama kepada sang bola, Nat bertindak sebagai penerima. Dan bisa diduga, selanjutnya benda hitam putih tersebut diberikan kepada Arvid--ya ampun. Amanda terkerjap. Itu--wah. Pelanggaran. Peluit kembali melengking.

PRIIIT!

Ia bergerak maju, menghampiri TKP--err, maksudnya titik dimana entah bagaimana terjadi insiden : Arvid dan Larry bertubrukan. Dengan cemas ia menatap kedua anak lelaki itu, menghela nafas berat ketika mendengar Arvid mengatakan bahwa kakinya terkilir. Duh. Ya, sepertinya Nat butuh seseorang sebagai pengganti. Pandangannya beralih, kali ini menatap Larry. Well, dapat disebut pelanggarankah yang barusan terjadi itu? Amanda menggigit bibir bawahnya, mencoba memutuskan. Hm... Baiklah.

"Tendangan bebas langsung, kawan-kawan. Untuk tim Arvid," putusnya, tanpa berani memandang siapapun. Semoga apa yang ia pilih tidak salah. Semoga. Gadis cilik tersebut mundur perlahan, melirik Arvid, siapa tahu anak itu membutuhkan bantuan--sepertinya tidak, ada Sienna. Secara tiba-tiba seorang anak laki-laki datang, bertanya apakah ia boleh menggantikan Arvid. Wew, super kebetulan. Sepasang alis Amanda terangkat, heran. Darimana anak ini muncul? Ya sudahlah, yang penting permainan bisa tetap berlanjut. Kedua kakinya terus melangkah mundur hingga tiba di tempat semula, dan sang peluit lagi-lagi ditiup--waktunya tendangan bebas dilaksanakan. Jeritan peluit terhenti tepat bersamaan dengan jatuhnya setetes air, menimpa hidungnya. Satu tetes lagi, kali ini untuk kepala. Tiga menyusul. He?

Hujan.

Labels: ,


6:22 PM