Thursday, April 9, 2009

Highbury Crescent No. 4, Islington-#6

Pernahkah kau mendengar suatu fakta yang kau tahu benar-benar mustahil? Mendapatkan informasi secara mendadak dan benakmu akan dipenuhi hal tersebut dalam jangka waktu yang lama, padahal semua itu bohong? Amanda pernah. Barusan.

Dan asal kau tahu saja, itu menyesakkan.

Gerakan tangannya terhenti, mengambang di udara saat kalimat yang diucapkan sang paman menelusup ke dalam telinganya, meresap ke dalam hati. Pemuda di hadapannya, Leander, adalah kakaknya? Oh, are you kidding me, Uncle? Amanda mendengus samar, tersenyum kecut sejenak kemudian melanjutkan apa yang telah ia mulai, menyeka luka yang tergurat di wajah Leander--perlahan dan penuh konsentrasi. Luka-luka itu jelas telah terukir di sana sejak lama meskipun memang ada beberapa yang tergolong baru. Ada apa sebenarnya? Mengapa Paman Amethyst mengatakan bahwa Leander adalah kakaknya? Amanda tidak bodoh, dan ia tahu apa yang diucapkan sang paman hanya kebohongan belaka. Bagaimana bisa ia memiliki seorang kakak padahal dirinya telah ditasbihkan sebagai Steinhart terakhir yang tersisa? Tolong jangan memberinya harapan kosong seperti itu, Paman, karena apa yang kau lakukan dapat mengiris hatinya menjadi serpihan.

"Kulihat kau tak percaya, dear, Amanda," tukas Paman Amethyst. Amanda terdiam, merendam sapu tangan dalam genggamannya ke dalam wadah untuk terakhir kali. Selesai. Wajah di hadapannya tampak lebih baik. Namun tidak dengan hatinya sendiri, rasa sesak memenuhi rongga dadanya sekarang. Tentu saja ia tak percaya, Paman Amethyst tersayang. Apa buktinya? Gadis itu mendongak sekilas--tak sengaja sebenarnya--namun tatapan yang tercermin dari kedua mata Leander membuatnya tertegun. Pandangan itu. Kecewa. Ya, yang terpasang di mata kecokelatan itu adalah tatapan kecewa. Karena apa, ia tak mengerti. Amanda memejamkan mata, berusaha menjernihkan pikiran. Semua hal yang diajukan kepadanya secara beruntun ini membuat kepalanya pening. God, ADA APA SEBENARNYA?

"Pa--paman... Benarkah gadis ini adalah Amanda? Ah, tentu saja, bodohnya aku," suara Leander terdengar lirih. Amanda membuka mata. Kini pemuda itu telah duduk, sepertinya kekuatan yang ia miliki telah kembali sepenuhnya. Sudut mata Amanda menangkap gerakan sang paman yang menganggguk, menjawab pertanyaan yang diajukan. "Apakah kau sama sekali tak ingat padaku?" bisik Leander. Menggeleng, Amanda--yang benar-benar bingung sekarang--memandang pamannya, Nathaniel, dan Leander bergantian, meminta penjelasan.

"Baiklah, baiklah. Agar semua menjadi jelas, dengarkan penjelasanku baik-baik," ucap Paman Amethyst seraya menghembuskan nafas melalui mulut. "Amanda, perkenalkan. William Leander Steinhart, 24 tahun, kakakmu, dan aku berani bersumpah bahwa apa yang kukatakan adalah fakta. Leander dinyatakan menghilang dan tewas oleh Kementerian Sihir--ia adalah seorang Auror--sejak tujuh tahun yang lalu, tetapi ternyata? Itulah yang sedari tadi ingin kutanyakan, Leander. Apa-yang-sebenarnya-terjadi?" Mendengar pernyataan sang paman, Amanda terkesiap, jantungnya seakan hendak meledak mendengar semua itu. Benarkah? Benarkah pemuda di hadapannya adalah kakaknya? Tunggu, tapi... Masih ada sesuatu yang tidak jelas...

Leander berdeham, lalu memulai penjelasannya, "Selama tujuh tahun ke belakang, sejak pertama kali bertugas untuk kementrian, dengan bodohnya diriku tertangkap, disekap dan diasingkan di suatu tempat. Well, tempat yang tak terdeteksi, tak tercantum di peta, dan dilindungi oleh proteksi sihir hitam yang luar biasa kuat, dan baru tadi malam, setelah penantian selama tujuh tahun, akhirnya kecerobohan itu terjadi, dan kesempatan untuk lolos terbuka lebar--err, bisakah kita membicarakan hal tersebut lain waktu? Seperertinya ada yang lebih penting yang harus diluruskan." Amanda dapat merasakan pandangan pemuda itu terpancang pada dirinya, namun ia tak berani mengangkat wajah, tertunduk.

"Lalu bagaimana bisa selama ini aku tidak tahu?" tanyanya dengan suara tercekat, ia dapat merasakan kedua matanya memanas. Oh, yang benar saja Amanda. Hening. Selama dua menit tak ada yang bersuara, yang terdengar hanya detak jam dinding ruang keluarga. Cepat jawab, Paman. Ayolah...

"Aku memodifikasi ingatanmu."

Berjuta pisau seakan dihujamkan di sekujur tubuh Amanda, ia merasakan dirinya terjatuh ke dalam lubang tanpa dasar ketika akhirnya jawaban tersebut terucap. Paman... memodifikasi ingatannya? "Kau... tega sekali... sungguh..." tuturnya lirih, mata gadis itu berkaca-kaca.

"Hanya untuk kebaikanmu, Amanda, maafkan aku... Aku tak ingin kau menerima sebuah kesedihan lagi--" dan kalimat pamannya itu tak pernah selesai, karena tepat saat itulah tangis Amanda pecah, isakannya bergaung di seantero ruangan. Selama ini ia dibohongi... Selama ini ia punya seorang kakak, tetapi sama sekali tak ada yang memberitahunya... Sebenarnya ia tak sebatang kara... Sebenarnya--

Detik berikutnya bahunya telah direngkuh, Leander mendekap tubuh gadis cilik itu, erat. Amanda tertegun, air matanya tetap mengalir deras, membasahi kedua pipinya. "Hei, apakah semua itu masih menjadi sesuatu yang penting, Amanda?" bisik Leander--kakaknya, "Aku disini sekarang, rite? Dan aku berjanji tak akan meninggalkanmu lagi, apapun yang terjadi. Apakah itu belum cukup?"

Isakan itu tetap ada, namun kali ini dilengkapi dengan senyuman. God, terima kasih banyak...

Labels: ,


1:04 AM


Highbury Crescent No. 4, Islington-#5

Pemuda di hadapannya tak memberikan respon. Dengan sedikit takut, Amanda menyentuhkan jemari tangan kanannya pada bahu orang asing itu. Masih bernafas, syukurlah. God, siapa sebenarnya pria ini? Labirin dalam memorinya kembali hadir, jalan berliku yang selalu ia pertanyakan akhir rutenya kini bertambah rumit. Ia tengah berdiri di ujung jalan yang terputus, memandang jalan keluar di seberang sana. Sosok yang tengah terbaring di dekat lututnya itu entah mengapa terasa amat familiar--sesuatu yang kuat mencengkeram dasar hatinya saat melihat wajah babak belur tersebut. Tapi apa? Ia sama sekali tak mengerti. Tolong beri ia penjelasan agar jalan dalam labirin benaknya lengkap...

Derap langkah yang menghampiri lobi depan menghadirkan kelegaan luar biasa di hati Amanda, dihembuskannya nafas yang sedari tadi tertahan. Gadis itu menoleh, memandang pamannya--yang bergerak mendekat dan kini berjongkok--dengan tatapan cemas berkomplikasi dengan kengerian, dan ia sama sekali tak keberatan ketika sang paman mengisyaratkannya untuk mundur. Tetap dalam posisi yang sama, duduk bersimpuh dengan tumpuan pada lutut--hanya saja kini jarak antara dirinya dengan sosok itu lebih lebar--Amanda memperhatikan tanpa berkedip ketika Paman Amethyst membalikkan tubuh sang pemuda. Seruan yang terlontar kemudian benar-benar membuat gadis itu tertegun, terkejut menerima fakta bahwa pamannya mengenali tamu mencengangkan tersebut. Dan sebuah nama bergaung di dalam benaknya.

Leander.

Hati Amanda berdesir, sensasi aneh timbul, seakan sebuah batu besar mendarat di perutnya dalam satu hentakan tiba-tiba. Nama itu. Kelebatan-kelebatan simfoni kehidupannya tengah berputar, peristiwa-peristiwa masa lalu melintas dengan cepat, memori yang terdalam berusaha ia bangkitkan dari kuburnya. Aneh. Ia sama sekali tak mampu mengingat siapa itu Leander. Tetapi ada sesuatu yang meyakinkannya bahwa nama tersebut memiliki makna yang besar bagi dirinya. Sangat. Tapi apa? Mengapa ia tak mampu mengingatnya barang sedikitpun?

"Ya, Paman. Aku kembali, sesuai janji." Amanda melempar tatapan miris, menggigit bibir bawahnya saat melihat pemuda yang disebut Leander tersebut berbicara dengan susah payah dan nafas terputus-putus. Dengar, eh? Lelaki itu juga memanggil seorang Amethyst Gladstone dengan sebutan 'paman', berarti kemungkinan besar ia adalah keponakan pamannya--err... sepupu Amanda. Begitukah? Entah. Tak ada alasan untuk mengatakan statement itu salah, begitupun sebaliknya, rite?

Well, mungkin akan lebih baik jika Paman Amethyst mengantarkan Leander ke rumah sakit, segera. Ah, ya, Amanda lupa. Kakak dari ibunya itu sangat anti pada rumah sakit muggle--lebih baik membuat ramuan sendiri katanya. St. Mungo? Huft, lebih baik jangan, hanya akan menambah masalah, mengumbar kesedihan, dan membuka luka lama yang mulai tertutup--hal terakhir yang ingin ia jumpai. See? Kata-katanya terbukti, seakan mampu melancarkan legilimens dan ingin mengungkapkan persetujuannya, sang paman memerintahkan Nathaniel untuk membantunya memapah Leander, membawanya ke ruang keluarga. Baiklah, sudah diputuskan. Amanda bangkit, hendak mengekor di belakang mereka, namun urung ketika suara berat khas Amethyst Gladstone menuturkan instruksi lain.

"Amanda, dear, bisakah kau turun ke ruang bawah tanah? Tolong ambilkan botol perak di rak hitam kedua di dekat pintu, juga satu botol Wound-Cleaning Potion. Cepat, Nak." Amanda mengangguk paham, tanpa membuang waktu ia segera berlari secepat yang ia mampu, melewati koridor demi koridor, menuruni tangga batu dan melesat memasuki ruangan suram dengan pintu terbuka. Botol perak, botol perak, dimanakah kau... That's it. Disambarnya botol perak kecil tanpa label berisi cairan kebiruan, setelah itu kedua matanya kembali bergerak lincah mencari satu ramuan lagi. Rak pertama, nope. Kedua, tidak ada. Ketiga... yap, got it. Mengantungi keduanya, ia mengayunkan langkah keluar dari ruangan, meniti jalan yang sama yang telah ia lalui tadi, namun saat tiba di depan pintu dapur Amanda mengubah haluan, menghampiri lemari dapur, mengambil sebuah wadah, dan mengisinya dengan air hangat. Yap, done.

Berjalan lebih perlahan karena membawa wadah di kedua tangan, gadis berambut kecokelatan itu akhirnya tiba di ruang keluarga, di mana Leander telah berbaring di atas sofa, Paman Amethyst dan Nathaniel di satu sisi. Astaga, apakah ia terlalu lama? Amanda meletakkan wadah di atas lantai, kemudian menyerahkan kedua botol ramuan kepada pamannya, memperhatikan dengan was-was ketika secara bertahap kedua botol mulai kosong, cairan didalamnya telah diteguk habis. Dan--God, amat pantas sang kepala keluarga Gladstone menyandang gelar master di dunia sihir, karena hanya dalam hitungan detik terlihat dengan amat jelas luka terbuka di bagian samping tubuh Leander mulai tertutup, berangsur sembuh. Sementara secara keseluruhan, rona merah kembali hinggap di wajah pemuda itu, membuatnya tampak ratusan kali lipat lebih sehat. Fine, sekarang gilirannya.

"Maaf, bolehkah aku..." Amanda mengeluarkan selembar sapu tangan dari saku, membasahinya dengan air hangat, lalu setelah mendapatkan anggukan dari pria paruh baya di hadapannya, ia mulai membersihkan luka di wajah Leander, perlahan. Dalam posisi seperti itu, mau tak mau rasa gugupnya timbul. Duh.

"Um, kalau boleh tahu, siapa Anda... err... Leander?" tanya Amanda, penasaran.

Jawaban sang paman membekukannya di tempat.

"Leander itu... Kakakmu, Amanda."

Labels: ,


12:53 AM


Highbury Crescent No. 4, Islington-#4

Bara api meretih dan berderak. Asap kelabu membumbung, menerobos barisan dedaunan yang menggantung rapat, terbawa angin menuju langit. Polusi. Nathaniel terbatuk, mengibaskan tangan kanannya di depan wajah untuk menghalau gas menyesakkan yang tercipta dari pemanggang di hadapannya. Payah. Ia melirik sang ayah yang terlihat begitu asyik mengutak-atik bagian bawah pemanggang, sembari sesekali mengayunkan tongkat, menjaga agar bara tak padam. Duh, jadul banget sih, Dad. Mengapa tak membeli pemanggang listrik saja, eh? Mahal tentu bukan alasan, tak ada yang berani membantah bahwa keluarga Gladstone merupakan keluarga terpandang yang memiliki banyak aset di seluruh Inggris dan uang bukanlah suatu masalah besar bagi mereka. Satu hal yang ia prediksi menjadi latar belakang mengapa segala barang yang terdapat di rumah ini selalu berlabel 'kuno' hanya satu : kesederhanaan. Ya, sederhana, poin kesekian dalam daftar prinsip keluarga Gladstone. Maaf, bukannya ingin membantah, tentu saja tidak. Hanya saja, mengenai kasus pemanggang ini, benaknya bertanya mengapa harus merepotkan diri sendiri jika kemudahan telah tersedia. But, well, Dad memang tak pernah mau mengerti.

Sudut matanya menangkap siluet sang sepupu, gadis itu bangkit, menghampiri 'senior' Baned dan menarik lengan anak lelaki tersebut, membawanya mendekat. Tidak heran. Begitulah seorang Amanda Steinhart bersikap, selalu tahu apa yang harus dilakukan dalam situasi seperti ini, tak pernah canggung dalam bersosialisasi. Amat bertolak belakang dengan Nat, yang notabene berteman dengan kekakuan dan ketidakluwesan dalam berbicara, imbas dari sikap waspada yang menguar dari dalam hati. Mungkin.

Bunyi 'tar' familiar terdengar, Phoebus muncul dengan kotak plastik berisi daging di tangan, menyerahkannya pada Amanda, kemudian menghilang lagi dalam waktu singkat setelah membungkuk dalam-dalam--tipikal peri rumah. Semuanya sudah siap kalau begitu? Bagus. Sinyal baik bagi perutnya. Nat hanya terdiam memperhatikan ketika sepupunya mulai melaksanakan kegiatan panggang-memanggang, aroma nikmat membuatnya menelan ludah. Lapar. Dan saat itulah bel berbunyi.

Ada tamu lagi? Memangnya berapa orang yang Amanda undang, eh? Kedua manik kecokelatannya menatap punggung sepupunya saat gadis itu berlari ke arah pintu belakang, mengajukan diri untuk membukakan pintu. Yah, terserah juga sih. Semakin ramai semakin seru. Well, kepergian Amanda ke pintu utama mengartikan satu hal. Nat-lah yang sekarang harus bertindak sebagai tuan rumah yang baik. Ba--bagaimana caranya? "Um, silahkan makan--err... Jangan sungkan--" Halah, sial. Ia tak mahir memilih kata-kata. Sebuah tepukan di bahunya menggerakkan engsel lehernya ke samping. Senyuman simpul tersungging di wajah Dad, sepertinya sang ayah ingin menertawakannya. Ck. Fine, silahkan deh.

"Kau harus belajar lebih keras untuk menjadi tuan rumah yang baik, Nak," ujar Amethyst Gladstone, untuk kesekian kalinya di hari ini tongkatnya terangkat, melambai beberapa kali lagi. Piring-piring memposisikan diri di atas meja, barbekyu yang sudah matang melayang dari panggangan menuju masing-masing piring. "Silahkan, Anak-Anak. Jangan sungkan," ujar pria itu kepada ketiga teman keponakannya, dan jentikan selanjutnya menghadirkan tiga gelas es krim yang menggiurkan, mendarat di hadapan tiap-tiap anak.

Nat memandang segalanya dengan takjub. Kepingin. Ia baru saja hendak bergumam, meminta es krim juga pada sang ayah, ketika sebuah teriakan membelah siang, membuatnya tersentak. Amanda? "PAMAN AMETHYST! Cepat kemari, Paman!" Nathaniel bertukar pandang dengan ayahnya, dan seakan dapat membaca pikiran satu sama lain, mereka berdua melesat menuju pintu belakang, bergegas melintasi ruangan-ruangan besar di dalam rumah. Terkesan tidak sopan memang, meninggalkan tiga orang tamu tanpa basa-basi. Maaf. Tetapi firasat Nat mengatakan, toh ketiga orang tersebut kemungkinan besar juga turut pergi ke pintu utama. Intonasi panik yang terdengar dari suara Amanda membangkitkan rasa khawatir di hatinya. Ada apa?

Nat menubruk punggung sang ayah ketika pria itu berhenti secara amat tiba-tiba. Uh. Ada sesuatu di dekat pintu, ia tahu, tapi ap-- Anak lelaki dua belas tahun itu tertegun, sensasi meremang merambati tubuhnya saat menyaksikan sesosok tubuh terbaring begitu saja, dengan Amanda berlutut di dekatnya. Nat bergerak hendak maju, namun Dad merentangkan tangan kanannya, memberi isyarat agar ia tetap di tempat. Oh, baiklah.

Dad melangkah perlahan, kemudian berjongkok di samping Amanda, memberi gestur dengan tangan agar gadis itu menjauh. Menahan nafas, pria itu menyentuh bahu sang pemuda yang terbaring, dalam satu gerakan cepat ia mengangkat tubuh tersebut dan membalikkannya agar dapat mengenali siapa sebenarnya yang secara tiba-tiba datang dan menggemparkan seisi rumah. Dengan heran Nat melihat ayahnya terkesiap, kedua matanya terbelalak tak percaya. "For God's sake, LEANDER!" seruan Dad membuat kening Nat berkerut. Leander?

"Ya, Paman. Aku kembali, sesuai janji," bisik pemuda yang masih terbaring, dengan nafas terengah. Paman. Orang itu memanggil ayahnya paman? Pemuda yang disebut Leander oleh Dad tersebut mengerang, Nat dapat mendengar nafasnya yang putus-putus. Benar-benar tercengang, ia hanya terpaku, tersadar saat ayahnya berseru, "Nathaniel, bantu aku untuk membawa Leander ke sofa ruang keluarga. Cepat!"

Ah ya, tentu saja Dad. By the way, siapa sih Leander?

Labels: ,


12:36 AM


Highbury Crescent No. 4, Islington-#3

...this sweet relief, unexpected things
Is this the end or only the beginning?


Sayap lembut itu mengepak anggun. Semilir angin berbisik, menghembus perlahan, menyentuh sang elemen rapuh kebiruan dengan bijak. Lihat.

Kupu-kupu.

Amanda mengerjapkan mata sekilas, terpana. Cantiknya. Makhluk Tuhan berwarna kebiruan tersebut tengah melintas di depan mata sang gadis tiga belas tahun, menebarkan pesona tak terduga, membawa sesuatu yang tak biasa. Aneh, sungguh. Hadirnya seekor kupu-kupu bukanlah hal yang lumrah terjadi di Highbury Crescent nomor empat. Serius. Pertanda? Perhaps. Mungkin. Jika benar begitu ia berharap yang akan terjadi adalah sesuatu yang baik, amin.

Well, ya, semoga.



Apparate. Jadi begitu. Amanda nyengir ketika mendengar Prefek McAfferty berujar bahwa ia tak terlalu menikmati perjalanan akibat cara yang ditempuh. Binar di mata Amanda berubah meredup saat mendengar Trixie berbicara, mengungkapkan bahwa gadis unik itu mabuk udara. Astaga. "Minumlah, Trix. Kau butuh istirahat, segera," tuturnya. Apakah temannya tersebut tak apa-apa jika ikut memanggang barbekyu terlebih dahulu? Mudah-mudahan tidak.

Sebuah suara yang amat familiar mendarat di telinganya, menghantarkan lehernya untuk menoleh. Nah, ini dia. Amanda tersenyum pada sepupunya, menyambut sejumlah piring yang anak lelaki itu serahkan, kemudian berujar kepada kedua tamunya, "Prefek McAfferty, Trixie, perkenalkan sepupuku, Nathaniel Gladstone. Naik kelas dua, Gryffindor." Sudah kenalkah mereka? Entah. Namun sepertinya Nat bukan tipe orang yang mudah membuka diri sehingga kemungkinan besar namanya tak terdengar di Hogwarts. Kecanggungan jelas tampak dari raut wajah Nat, juga dibuktikan dengan sikapnya yang segera berbalik dan lebih tertarik untuk bergabung bersama Paman Amethyst. Ho, ya sudah, tak apa-apa. Anak itu memang sulit beradaptasi dengan orang asing. Suara retihan api menyentakkannya. Apa i-- Sudah siap? Bagus. Lebih baik kita mulai.

Amanda bangkit dari duduknya, namun gerakannya terhenti di tengah-tengah. God, bagaimana ia bisa lupa? Larry belum datang. Tidak, tidak, tidak akan dimulai jika sahabat terbaiknya itu belum hadir. Gadis berambut kecokelatan tersebut memutar tubuh ke belakang, berharap pintu belakang terbu--

Ternyata anak itu sudah datang.

Senyuman lebar merekah, Amanda melambaikan tangan dengan antusias ke arah sosok yang dimaksud. Mengapa Larry tidak langsung menghampiri meja saja sih? Ia berlari ke arah sang remaja berambut ikal, nyengir dan berkata, "Hei, kenapa tak langsung kesana, Larry?" Setelah itu, tanpa ragu-ragu dan tanpa kata menggamit lengannya, kemudian menariknya--menyeret lebih tepat--menuju meja piknik. "Baiklah, ayo kita mulai, kawan-kawan." Ia melepaskan genggamannya pada lengan Larry, lalu menjentikkan jari sekali. Sesosok peri rumah muncul dengan membawa kotak plastik berukuran sedang, berisi daging. Hmm... Great. Menit berikutnya Amanda telah sibuk berkutat dengan panggangan, repot membolak-balik daging, diiringi oleh sang paman yang bertugas menjaga bara api. Well, panggangan tua, benar-benar tua. Ia pun tak habis pikir mengapa Paman Amethyst tak membeli pemanggang listrik saja. Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba sebuah suara bergema berulang-ulang dari dalam rumah.

Bel berbunyi.

Siapa gerangan? Amanda memberi isyarat dengan tangan kepada kelima orang disana, mengisyaratkan biar-ia-saja yang membuka pintu dan mencari tahu. Langkah kaki kecilnya berderap melintasi rerumputan, melewati ambang pintu belakang, melintasi dapur, ruang keluarga, hingga akhirnya tiba di lobi depan, berhadapan dengan daun pintu utama. Suara bel masih bergaung, seakan ditekan berulang-ulang tak wajar. Eh? Siapa sih? Ia mengerutkan kening. Sabar, woi. Tangan kanannya bergerak, menyentuh gagang pintu, kemudian menariknya hingga terbuka. Dan tersentak.

Amanda terkesiap, kedua matanya melebar dan mulutnya terbuka saat melihat sosok yang tengah berdiri di hadapannya. Seorang pemuda, berpakaian lengkap ala penyihir, namun jubahnya telah benar-benar terkoyak tak beraturan, dan wajahnya--yang benar-benar membuat hati Amanda mencelos--terluka parah. Lebam biru menghiasi mata kiri sang pemuda, sementara salah satu sudut bibirnya mengeluarkan darah merah pekat. A--astaga, siapa orang ini? "Amethyst, Amethyst Gladstone... ada?" pemuda itu bergumam lirih dengan suara serak, erangan samar terlontar pula dari mulutnya. Amanda, syok luar biasa, dapat merasakan tangannya mulai gemetar, namun tubuhnya tak mampu bergerak. Ia menatap lelaki paruh baya di hadapannya dengan tatapan ngeri, nafasnya tercekat saat melihat sosok tersebut mulai melangkah maju. Ba... bagaimana ini, apa yang harus ia lakukan? Tetap bergeming di tempatnya seraya merutuki kedua kakinya yang tak bersedia bekerja sama, ia membuka mulut untuk berteriak memanggil sang paman, tetapi suaranya terhenti di kerongkongan saat menyaksikan hal yang terjadi berikutnya.

Pemuda itu ambruk, jatuh bersimpuh tepat di depan kaki Amanda, membuat gadis itu terpekik dan secara refleks mundur selangkah ke belakang. Jantungnya berdebar begitu cepat dan keras sekarang, berdentum-dentum memukul dadanya bagai godam. Terlihat jelas pinggang pria itu juga terluka parah. Gawat. Akhirnya, menemukan suaranya kembali, Amanda berteriak, "PAMAN AMETHYST! Cepat kemari, Paman!" Cepatlah, tolong...

Masih gemetar, ia kemudian berlutut, sedikit membungkuk, lalu berbisik, "Si... siapa kau?"

Labels: ,


12:02 AM


Highbury Crescent No. 4, Islington-#2


"Biar Phoebus saja, Tuan."

Gelengan mantap diberikan sebagai respon. Nathaniel menatap peri rumah berkain cawat di hadapannya dengan pandangan tajam, kilatan di matanya mengisyaratkan arti tak-menerima-protes. Mengalihkan pandang kembali pada cermin 'seluruh-badan' yang terpasang pada dinding di depannya, anak lelaki dua belas tahun itu melanjutkan kesibukannya yang sempat terhenti, berkutat dengan kerah kemeja hitam yang ia kenakan. Ck, pakaian baru ini terasa tak nyaman. Untuk apa pula Amanda membuang-buang uang untuk membeli benda tak berguna ini?

"Apakah Tuan yakin tak butuh bantuan Phoebus, Sir? Mungkin akan lebih baik jika..."

"For God's sake, Phoebus. Kubilang tidak usah, berarti tidak usah," tukas Nat sengit, sekali lagi memancangkan kedua kelereng kecokelatannya pada wajah tirus kumal dengan bola mata besar dan hidung panjang runcing yang dimiliki si peri rumah cebol. Seakan baru mengerti, makhluk itu cepat-cepat mengangguk, kemudian membungkuk begitu rendah hingga ujung hidung tongkatnya menyentuh lantai kayu sebelum menghilang pergi dengan bunyi 'tar' nyaring. Nathaniel menggelengkan kepala dan menghembuskan nafas. Benar-benar peri rumah bebal. Semua akibat Amanda terlalu memanjakan makhluk itu, selalu bersikap ramah dan tak pernah mau melontarkan intonasi kemarahan--bahkan saat sang peri melakukan kesalahan sekalipun. Yang benar saja.

Sudah beres? Ia menyeringai kepada bayangannya sendiri, menggulung lengan kemeja sebagai penutup, diiringi gerakan mengacak rambut. Well, let's go. Dengan hati-hati Nat meraih tumpukan piring beragam ukuran dari atas meja, memegangi tepinya erat sementara langkahnya mulai berderap melintasi koridor lantai dua menuju tangga. Mengapa dirinya jadi repot begini, eh? Tak keberatan sebenarnya, toh tugas membawa piring ini merupakan permintaan tolong sepupunya, yang tentu tak akan ia tolak. Hanya saja benaknya terus menggumamkan kalimat 'malas' berulang kali, mempersulit sang hati untuk mencetuskan semangat yang dibutuhkan. Huft. Acara penting di tengah liburan musim panas.

Barbekyu. Ya, ya. Bukan ide buruk--serius, Nat tak akan pernah melontarkan protes jika sudah menyangkut masalah perut--dan wajar-wajar saja dilaksanakan mengingat waktu terus bergerak dan Hogwarts akan berada di depan mata sebentar lagi. Tetapi akan menjadi berbeda ketika event di halaman belakang itu dihadiri orang luar--alias stranger, tiga orang yang tentu tak tampak familiar akan turut datang. Dua gadis, entah siapa, dan satu pemuda. You bet, Baned, siapa lagi? Anak lelaki yang notabene merupakan seniornya itu berada dalam baris teratas dalam daftar 'orang-orang terpenting' bagi Amanda, Nat akan amat heran jika Baned tak diundang. So, biarkan sajalah. Ia tengah berusaha menerima kehadiran seorang Jonathan Larson, berusaha untuk menekan keegoisannya dalam mendapatkan perhatian Amanda.

He's not a kid anymore.

Melangkah melalui pintu belakang, halaman berumput kini terhampar di hadapannya, tersirami cahaya matahari yang, entah karena keberuntungan atau apa, bersinar teduh. Kedua matanya melirik kepada sosok yang tengah berdiri tak bergerak. Sedang apa pula 'senior' Baned disana? Tak terlalu peduli, Nat terus berjalan menghampiri meja piknik yang telah tersedia di tempat strategis, kemudian meletakkan seluruh piring dalam genggamannya. Here it is. "Maaf lama," cetusnya singkat, tatapannya bergerak mengamati kedua gadis yang telah duduk manis. Gadis yang pertama terlihat begitu dewasa, dan kalau ia tak salah ingat selalu mengenakan badge keemasan pada seragamnya saat berada di Hogwarts. Ho, prefek, right? Dan gadis satu lagi-- Wew.

Cantik.

Menahan nafas sesaat, Nathaniel segera memalingkan pandangan dan berdeham samar, berusaha menyembunyikan raut terkesima yang ia yakin sempat terpasang di wajahnya barusan. Apa-apaan sih kau, Gladstone. Jangan bertindak konyol. Mengangguk kaku kepada tamu-tamu kehormatan Amanda--sekedar untuk berlaku sopan sesuai peraturan keluarga--ia lalu membalikkan tubuh, memutuskan untuk menghampiri ayahnya saja. Topik yang dibicarakan para gadis tak terlalu ia minati.

"Dad, bagaimana kalau kita mulai saja? Sepertinya sudah hadir semua," ujarnya datar seraya menunjuk ke belakang bahu. Sang ayah melempar senyum, mengangguk, kemudian melambaikan tongkat kebanggaannya. Sejumlah arang melayang dari dalam karung, mendarat di tempat pemanggangan, dan detik berikutnya bara api telah terbentuk. Great. Semoga hari ini berjalan lancar.

Well, lagipula apa sih yang bisa terjadi?

Labels: ,


12:00 AM

Wednesday, April 8, 2009

Highbury Crescent No. 4, Islington-#1

"Di tengah-tengah saja, Paman. Dekat pohon Chestnut itu."

Amanda menghela nafas dan tersenyum puas ketika menyaksikan sebuah meja piknik beserta dua kursi panjang melayang dan mendarat di bawah Pohon Chestnut yang paling rindang di seantero taman. Menyusul setelahnya, satu panggangan hitam legam dengan sepuluh baris besi keperakan di bagian atas dan sekarung arang terbang menyeberangi rerumputan, mengambil posisi beberapa meter jauhnya dari sang meja. Sip. Saatnya ber-barbeque ria. Gadis itu tersenyum dan mengacungkan ibu jari kepada Paman Amethyst, bibirnya menyerukan 'terima kasih' dengan lantang. Syukurlah sang paman bersedia menyempatkan diri untuk tetap di rumah hari ini, karena entah bagaimana jadinya jika sama sekali tak ada penyihir dewasa yang mampu menjadi sukarelawan pelancar mantra untuk keperluan penataan formasi pesta barbeque di taman belakang. Well, bukan pesta juga sih. Hanya ada satu, dua, tiga, err... empat orang yang eksis. Ia melambaikan tangan ke arah kedua tamu 'kehormatannya' yang telah menempati kursi panjang kelabu.

"Sudah semua, Amanda?"

"Belum, Paman. Um, satu orang lagi." Amanda menjawab pertanyaan pamannya seraya melempar cengiran bermakna tunggu-sebentar-lagi kepada pria di sampingnya. Ya, satu lagi. Dimana anak itu, eh? Dengan langkah lebar-lebar ia berjalan menghampiri meja, kemudian mengambil tempat duduk di samping sahabatnya. Mau tahu? Coba kita lihat. Di sampingnya kini telah duduk--mudah-mudahan--dengan santai, teman seasrama, seangkatan, seperjuangannya di Hogwarts. Trixie Resthaven, tak pernah berkurang kecantikannya. Sedangkan di seberang meja, di hadapan Amanda, telah hadir seseorang yang amat spesial, yang bahkan hingga detik ini pun Amanda masih belum percaya bahwa undangannya dipenuhi. Yeah, Prefek Azaria McAfferty, salah satu senior yang paling ia kagumi sejagad Hogwarts, bersedia meluangkan waktu untuk mampir ke suatu rumah biasa di ranah London. Bayangkan.

Amanda tersenyum lebar kepada keduanya, rasa senang merambati sumbu hatinya. Libur musim panas, hanya beberapa minggu dalam setahun, momen tak tergantikan dalam hidupmu, dan hanya dihabiskan dengan mengurung diri di kamar dan berkawan dengan kebosanan akut? Wohoo, maaf saja. Karena itulah sejak jauh-jauh hari dirinya telah merencanakan segala sesuatu secara keseluruhan agar hari ini dapat berlangsung dengan sempurna, agar momen langka satu ini tak berlalu sia-sia. Akan berhasilkah? She hopes so.

Ah ya. Sampai lupa. Dalam sebuah gerakan cepat, tangannya melambai kepada sang paman yang kebetulan tengah berjalan menuju ke arahnya dari bangunan rumah utama, memanggil secara nonverbal. Amethyst Gladstone berjalan menghampiri, tersenyum ramah dan mengangguk seraya berujar dengan suara ringan, "Selamat datang anak-anak, dan jangan sungkan, please." Kemudian tongkat Hawthorn hitam kebanggaannya melambai tiga kali berturut-turut, membentuk pola rumit tanpa jeda. Detik berikutnya tiga gelas limun dingin telah muncul di hadapan tiap gadis, menerbitkan dahaga. Amanda berdecak senang, sekali lagi mengucapkan terima kasih pada pamannya, lalu memberi gestur pada Trixie dan Prefek McAfferty, mempersilahkan mereka untuk minum.

"Well, ladies, excuse me a second," tutur Paman Amethyst. Pria itu membungkukkan badan sedikit disertai anggukan, kemudian berbalik dan berjalan tegap menuju panggangan tua beberapa meter di sebelah selatan meja. Ada sesuatu yang harus diperbaiki, Amanda tahu itu. Kedua matanya kembali memandang wajah dua gadis di samping dan di hadapannya, iseng-iseng berdeham, lalu membuka mulut untuk membuka percakapan, "Well, bagaimana perjalanan kemari, menyenangkan?" Basa-basi ketinggalan jaman, ck ck.

Sesekali ia mengerling pintu belakang rumah, berharap benda itu terbuka dan kedua orang yang telah ditunggu muncul. Dengan begitu acaranya bisa dimulai. Hm, dimana sih mereka--Larry dan Nathaniel?

(OOC : Telah diberi izin untuk memposisikan Trixie dan Aza. Open untuk siapa saja yang berkenan mampir atau menulis surat, baik mereka yang diundang maupun tidak.)

Labels: ,


11:45 PM