Sunday, May 10, 2009

Shape of My Heart-Finale

Fine. Tidak ada masalah, katanya?

Amanda menatap tajam lantai jembatan tanpa titik fokus yang jelas, hanya berusaha tak menoleh dan memandang wajah anak lelaki di hadapannya dengan berpura-pura tertarik luar biasa kepada tempatnya berpijak selama setengah jam terakhir. Tidak cukup membantu, sebenarnya. Ia dapat merasakan tatapan terpancang ke arahnya, namun ia bergeming. Tenggelam dalam kemarahan yang berkecamuk di dalam dada, keselarasan berpikir tingkat tinggi miliknya terpinggirkan untuk sementara. Terenyahkan tanpa alasan yang jelas. Sang egoisme sukses menyeruak ke barisan terdepan pasukan benak, mengalahkan akal sehat dan kesabaran yang biasanya bertugas sebagai pemimpin. Kenapa, eh, Amanda?

Tidak percaya. Kalimat pernyataan tak-ada-masalah yang dilontarkan Larry entah mengapa tak berhasil menyentuh tombol keyakinan miliknya. Ucapan hanya ucapan, hanya rangkaian kata yang tersusun tanpa konkrit nyata, tanpa bukti bahwa rangkaian tersebut benar adanya. Firasatnya melarang hatinya untuk percaya, maaf. Hanya pendapat semata, sebenarnya. Tetapi saat ini, detik ini pendapatnyalah yang paling benar, pemikirannyalah yang akan digunakan dan dilaksanakan sebagai undang-undang. Oke?

Astaga, Steinhart. KENAPA marah-marah sih?

Ya, ada apa denganmu, ha? Amanda memejamkan mata dan menelan ludah sekali, berusaha menstabilkan sensasi menyesakkan yang menggedor-gedor dadanya cepat. Ini--God, sabar. Gadis cilik itu menarik nafas dalam-dalam, menahannya sebentar dalam waktu sepersekian detik, kemudian merilis sang karbondioksida kembali lepas ke udara bebas. Ia mengulanginya dua kali berturut-turut, merealisasikan nasihat sang paman. Kurang berhasil rupanya. Gelenyar tak nyaman itu masih hinggap. Argh. Ia tak pernah tahu--kelelahan, rasa malu, frustasi, serta perasaan diabaikan dapat bereaksi dan menghasilkan produk berupa kemarahan. Ia baru tahu. Dan sayangnya sang gadis Ravenclaw tak tahu kalau seonggok luapan hati bernama kemarahan dapat meningkatkan tingkat keletihan beberapa level lebih tinggi. Bodoh.

Oh, sudahlah. Kembalilah menjadi dirimu, Amanda. Berpikirlah dari sudut pandang seseorang berakal jernih, please. Coba pikir--Jonathan Baned, bertindak tak sesuai harapanmu barusan, eh? Melenggang pergi dengan acuh. Apakah kau lupa bahwa memang begitu sifat sang anak lelaki yang menjadi sahabatnya? Tak ingatkah kau bahwa sikap seperti itu wajar dan biasa dilakukan dalam keseharian? Sadar. Kau payah dan egois. Benar. Dirinya hanya ingin diperhatikan lebih. Itu saja sebenarnya. Benar-benar naif dan tak dapat dipercaya, rite? Amanda tertegun saat menyadari fakta yang terlambat hadir tersebut, hatinya mendengus tertawa. Jangan menyalahkan orang lain atas apa yang kau lakukan, Amanda.

Ya. Ia harus minta maaf.

Kepalanya bergerak perlahan, hendak menoleh untuk melontarkan permintaan maaf yang terlambat. Kata-kata telah sampai di leher--namun terhenti dan tak mampu keluar. Terpaku, tertegun sekali lagi. Tubuh kecilnya tak lagi berdiri secara independen, seseorang di hadapannya, seseorang yang amat ia kenal--memeluknya. Baru mampu bergerak setelah lewat beberapa detik, Amanda menghela nafas samar, balas mendekap sahabatnya, kedua lengannya melintang di balik punggung sang anak lelaki. Helaan nafas itu... kelegaan. Ia mengangguk kecil saat kalimat yang dilontarkan Larry sampai ke telinganya. Berhasil. Jo memang hebat. Kemarahannya menguap begitu saja, seakan tersapu angin yang tengah berhembus, sementara rasa frustasinya runtuh. Ini--sama. Rasa nyaman saat Leander memeluknya di hari kakaknya pulang--rasa itu ia dapatkan saat ini. Singkat, tapi amat berarti baginya, sungguh.

Kembali berdiri bebas, Amanda menatap pemuda di hadapannya, melempar senyuman letih sebagai jawaban pertanyaan non-verbal yang tertangkap olehnya. Sudah lebih baik. Jauh lebih baik. Ia mengerjapkan mata saat mendengar kalimat berikutnya. Berantakan? Tak diragukan lagi. Amanda dapat merasakan matanya sembab, hidungnya memerah akibat menangis. Ck ck. Kembali ke asrama, tidak sendirian pula--ide terbaik hari ini. Sekali lagi kepalanya mengangguk, sepasang kakinya mulai bergerak--tunggu. Ia memberi isyarat kepada Larry untuk menunggu sebentar, kemudian beranjak menghampiri tepi jembatan, menatap jurang yang terhampar di bawah, dan senyuman itu kembali terukir. Hal terakhir sebagai penutup.

Amanda membuka genggaman tangannya, memandang gumpalan perkamen yang tanpa sadar masih berada disana. Menghela nafas, lagi, ia meraih tongkat Eldernya, berdeham kecil sebagai pengantar, kemudian berujar lirih seraya menunjuk sang perkamen dengan ujung tongkat, "Lacarnum Inflamarae." Merilis carik tersebut tanpa basa-basi, menjatuhkannya jauh menuju jurang dengan kobaran jingga menyelimuti benda itu secara keseluruhan. Selesai. Lupakan segalanya. Lupakan kebodohan yang telah ia lakukan. Lupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

Lupakan Lazarus.

Ia kembali menghampiri Larry, mengangguk, memberi isyarat bahwa semuanya telah selesai. Saatnya kembali ke kastil. Kedua lensa beningnya meredup sesaat ketika menangkap dua sosok di depan, bersama, terlihat bahagia--hei, hei. Lupakan. Sudahlah. Ya. Hatinya lebih ringan saat ini, meskipun sesak itu masih tersisa. Life must go on, rite? Amanda menoleh, tersenyum kepada sahabatnya. "By the way, Larry," ucapnya mengiringi langkah yang terus beranjak.

"Terima kasih banyak."

Hm, FIN? Well yeaps, for NOW.




Thread officialy closed.

Labels: ,


3:10 PM

Sunday, May 3, 2009

Shape of My Heart-#6


Benar, kan? Dirinya merasa menjadi orang yang paling bodoh di jagat raya--saat ini.

Well, seperti yang telah ia duga sebelumnya, kemungkinan terburuk tengah berjaya di bawah naungan musim gugur tahun 1980. Khususnya bagi seorang gadis cilik empat belas tahun Ravenclaw bernama Amanda Steinhart. Di antara beragam kejadian yang tersedia sebagai opsi untuk dipilih, disusul keputusan akhir serta konsekuensi yang hadir, tak dapat dipercaya--yang terburuklah yang mendominasi. Segala hal yang tak diinginkan menyerangnya bagaikan air bah, menenggelamkannya dalam kenelangsaan tak bertoleransi yang menyesakkan. Tak ada yang berhak untuk disalahkan kecuali dirinya sendiri--tidak juga secarik perkamen yang telah teremas di tangannya. Tidak. Ia yang menciptakan surat tersebut, maka tak pantas jika ia menimpakan kemarahan kepada benda tanpa kehidupan alih-alih kepada dirinya sendiri. Tak pantas tangannya terkepal erat dengan benda itu dalam genggaman, tak lagi berbentuk. Dirinya yang salah. Jangan. Menyesal.

God. Apapun yang ia lakukan untuk menguatkan diri sendiri--sungguh, ia tak mampu tegar saat ini. Dan harus ia akui... sesal itu ada.

Sekarang punggung telapak tangannya turut basah. Amanda terisak lirih, masih menutup kedua matanya dengan satu tangan--tangan yang sama, yang menggenggam sang perkamen, sementara tangan pasangannya masih menggenggam lengan sahabatnya erat. Kalimat ayo-pergi-larry yang terucap dari bibirnya beberapa saat yang lalu tak jua menghendaki sepasang kakinya untuk bekerjasama, tetap melekatkan rasa lemas yang entah bagaimana caranya malah mematrikan bagian bawah tubuhnya di atas lantai jembatan tanpa mampu bergerak. Apa, Amanda? Masih tak mampu menerima kenyataan? Mati saja kalau begitu.

Tak ada tanggapan. Belum. Kedua matanya terpejam, masih menangis--benar-benar memalukan, ya--tetapi tanpa melihatpun Amanda dapat merasakan anak lelaki di hadapannya mulai bergerak. Dan, fine, Larry benar-benar melangkah, diiringi sepatah kalimat yang menghujam hatinya hingga ke dasar.

Untuk apa menangisi orang yang bahkan tak akan menangisimu?



Isaknya terhenti. Statement itu--luar biasa benar. Klise baginya, namun keakuratan tanpa keraguan yang terkandung di dalamnya membuat Amanda terhenyak, tubuhnya meremang. Yeah, untuk apa pula ia menangis? Untuk siapa tepatnya ia menangis? Lazarus. Kebodohan tingkat dewa, benar, karena--ia berani bertaruh nyawa untuk mengatakan bahwa pemuda yang menyebabkan ia menangis sama sekali tak peduli. Sama sekali. Bahkan melirik pun tidak. Jadi? Satu hal lagi, menguatkan keberadaan label 'bodoh' yang melekat pada dirinya. Sempurna. Amanda menyeka air matanya, tetap dengan punggung tangan yang sama, bertepatan dengan terlepasnya genggaman tangannya pada lengan sahabatnya--Larry. Pergi. Ia mengangkat wajah. A-apa?

Kedua lensa bening kecokelatan sang gadis menatap punggung sang anak lelaki Hufflepuff dengan sedikit kilatan tak percaya. Lagi? Kenyataan terhempas kepadanya--lagi? Larry tidak peduli. Sahabat yang paling ia sayangi pun tak peduli. Tak ada, memang. Ia memang ditentukan menjadi seseorang yang tak digubris, seseorang yang terlupakan, dan seseorang yang ditinggalkan. Tidak perlu protes, karena toh tak ada gunanya. Terima saja, Amanda. Lengkapi kepingan kehidupanmu, ya? Ya. With pleasure. Gadis itu menyeka keras-keras keseluruhan matanya yang basah, menghapus total jejak kelemahan yang terlanjur hadir beberapa saat yang lalu. Tidak. Boleh. Menangis. Lagi.

Lihat. Larry semakin jauh. Apakah kau akan diam saja, Amanda? Membiarkan anak lelaki itu pergi tanpa penjelasan sedikitpun mengapa sikapnya begitu tak peduli seperti itu? Ia tak mengerti mengapa benaknya menyatakan bahwa sahabatnya tak melakukan hal itu--meninggalkannya--tanpa sebab. Ada sesuatu. Dan kemungkinan besar adalah kesalahan Amanda. Akhirnya sepasang kakinya mengaktifkan kembali saraf mereka dengan seharusnya, sukses bergerak, melangkah cepat mengejar sahabatnya. Dengan sedikit terhuyung--kakinya masih lemas, FYI--Amanda setengah berlari, dan setelah berada dalam jangkauan ia menarik lengan sahabatnya sekuat yang ia mampu untuk menghentikan langkah sang anak lelaki, serta menyentakkannya agar Larry berbalik dan berhadapan dengannya. Bagaimanapun. Caranya. "Larry," ujarnya dengan nafas tersengal, imbas kolaborasi kelelahan dan emosi yang sesungguhnya. "Kau. Kenapa sih? Marah padaku? Ada masalah?" Nada tinggi itu tak seharusnya kau lantunkan, Amanda. Terserah, yang pasti kali ini kemarahan yang menguasainya. Ia sudah lelah diam saja. Ia capek menjadi pribadi lemah yang tak melakukan apapun di saat dirinya terpuruk. Sudah cukup. Kau harus menjelaskan, Jonathan L. Baned. Harus.

Hei, apa-apaan sih, Steinhart?



Amanda mendesah frustasi. "Salahku, kan? Tentu saja. Aku salah--lagi." Ia memejamkan mata sekali, kemudian melempar pandang ke arah lain, enggan menatap wajah pemuda di hadapannya. "Maafkan aku, kalau begitu."

Sudah. Tak menjawab juga tak apa, Larry. Langkahkan kakimu tanpa sepatah katapun, ia pun tak keberatan. Gilirannya untuk tak peduli, ya?

Labels: ,


7:28 PM

Saturday, April 25, 2009

Shape of My Heart-#5


Apa lagi sekarang? Silahkan permainkan jalan hidupnya, wahai angin. Mengapa tak sekalian saja terbangkan dirinya--terjunkan ke jurang. Habis perkara, dan bahkan hal tersebut terlihat begitu menyenangkan saat ini, menawarkan solusi termudah untuk masalahnya.

Solusi terbaik bagi pribadi yang putus asa.



Teduh. Mega beriak, berformasi rapat dalam rangkaian elemen putih bergelombang, membentuk serakan abstrak tanpa cela. Kawanan tersebut berkompromi satu sama lain, bekerjasama dengan kooperatif--mengkover bumi dalam beberapa lapis, mengenyahkan sebagian sinar matahari pagi. Pukul sembilan lewat sekian waktu Inggris Raya, musim gugur 1980. Hu-uh, musim gugur, dilengkapi angin yang hiperaktif. Herannya, saat ini sebulir kristal bening mengalir perlahan melintasi pelipis sang gadis cilik, turun ke sisi wajah hingga leher. Peluh berlatarbelakang kesejukan pagi, eh? Tidak wajar. Gadis itu mengangkat lengannya, mengusap peluh tersebut--refleks. Tampaknya rasa lelah telah menyeruak keluar, terealisasikan dengan gamblang tanpa basa-basi dan pendahuluan. Capek. Ingin rasanya ia mengundang bumi untuk menelannya. Menghilangkannya dari muka dunia.

Amanda menggigit bibir bawahnya, kilatan redup di sepasang kelereng cokelatnya menyorot lurus, lagi-lagi memvisualisasikan kepasrahan kuadrat maksimal saat menatap carik perkamen tersebut mendarat amat dekat dengan seorang anak lelaki dan sesosok gadis senior disana. Dan--tak ada yang mampu ia harapkan lagi, Larry meraih lembaran tersebut, melanjutkan dengan tindakan yang tidak mungkin tidak dilakukan--melihat dan membaca. Apa yang akan dilontarkan sahabatnya itu sebagai respon? Apa? Terserah, apapun yang akan ia terima, tak peduli. Masa bodoh. Ia pun hanya terdiam, bergeming ketika pemuda musang itu bergerak menghampiri, menyodorkan perkamen si-biang-keladi.

"Selesaikan urusanmu."

Guratan samar terbentuk di kening Amanda. Urusan... apa? Berhubungan dengan isi perkamen? Itu berarti satu. Menyelesaikan urusan dengan Lazarus. Oh. Larry mendengar ucapannya, pengakuannya kepada anak lelaki Slytherin tersebut, tak diragukan lagi. Tetapi Amanda yakin, sahabatnya tak mendengar jawaban yang terlontar sebagai balasan. Tidak, tentu. Ia menerima perkamen tersebut, tertarik luar biasa untuk meremasnya detik itu juga. Urusannya disini telah selesai, mate. Mencapai titik akhir. Amanda ingin berbicara. Tapi untuk apa? Lihat. Bahkan sahabatnya--Jonathan Larson Baned--sama sekali tak perduli, membalikkan tubuh begitu saja. Tak ada yang perlu diperdulikan sih, benar. Tak ada yang penting mengenai dirinya. Sedikitpun. Sadar diri, lebih baik ketimbang tidak--hanya akan menyakiti diri sendiri. Namun, entah, tetap saja ada siluet kekecewaan yang menyerang hatinya.

"Kau tahu, Larry?" ujarnya lirih, "Urusanku sudah selesai." Yeah, tetap terucap. Tak tahu Larry akan peduli atau tidak, yang penting ia telah menjelaskan. Amanda menghela nafas lesu. Pertahanannya akan runtuh total kalau begini terus. Usaha untuk memaksa diri untuk kuat, untuk tak putus asa, untuk bersikap dewasa dan mandiri, segalanya mulai sia-sia. Gawat.

Ia... butuh Nathaniel. Ia butuh Leander. Butuh Paman Amethyst. Butuh--ia butuh seseorang... siapapun. Trixie mungkin. Vincent. Atau Phoebus, peri rumah kesayangannya pun ia tak keberatan. Namun lagi-lagi, tak ada seorangpun, rite?

Sebenarnya... ada. Seseorang di hadapannya. Tetapi seseorang itu tak tahu kalau ia membutuhkannya saat ini. Apakah ia harus mengucapkannya? Harus? Lagi-lagi dengan resiko yang terpampang jelas di depan mata. Resiko tetap dianggap tak penting. Bahkan lebih buruk, resiko menyadari bahwa tak ada yang memperdulikannya. Does she want to take the risk? Tergantung. Hati dan benaknya yang menentukan. Sanggup berdiri sendiri? Ya sudah, tidak perlu berbicara kalau begitu.

Pada kenyataannya ia tak sanggup. Tangan kanannya meraih lengan sahabatnya, sementara kepalanya menunduk dan ia menelan ludah dengan susah payah. "Jangan pergi, kumohon," suaranya berbisik serak dengan nada putus asa. Ia lemah. Payah. Cengeng. Memang. Tak sengaja sebenarnya--matanya mengerling ke samping, menatap tempat dimana Lazarus--

--dan Prefek Aza. Itu--mereka--

Tubuhnya terasa gamang. Terpaku. Tanpa tahu alasannya, nafasnya tersengal, dan secara spontan genggaman tangannya pada lengan sahabatnya mengerat. Bodohnya ia. Semuanya benar-benar jelas. Sejelas pandangan di musim panas. Seterang pencahayaan saat siang hari menjelang. Mengapa ia tak pernah tahu? Seorang Azaria McCafferty--tentu saja. Gadis yang begitu sempurna, begitu tak sebanding dengan dirinya. Karena itu, terimalah, Amanda. Terima kenyataan. Su... lit. Tapi harus. Perasaannya tak keruan, dan kakinya lemas, wajar. Imbas dari kenelangsaan, mungkin. Begitulah.

"A-ayo kita pergi, Larry," ujarnya terbata, masih tetap menggenggam lengan anak lelaki tersebut. Tak ada gunanya pula ia berada di sini. Hanya mencabik-cabik hatinya, menoreh benaknya. Pulang ke kastil, tidur. Simpel. Asal tidak lagi di tempat ini.

Yah. Pertahanannya sungguh-sungguh terjatuh. Menangis, kan. Amanda menutup matanya yang basah dengan sebelah tangan. Untuk yang terakhir kali, izinkan bagian terapuh dirinya menerobos keluar. Terakhir kali. Janji.

Labels: ,


10:49 PM

Saturday, April 18, 2009

Shape of My Heart-#4


Bagi sang gadis cilik berambut kecokelatan itu--saat ini jurang yang terhampar di bawah jembatan terlihat begitu menarik.

Kelihatannya menerjunkan diri ke bawah sana tak akan terlalu menyakitkan. Setidaknya ia akan mati secara langsung. Terserah, Amanda tak keberatan. Apapun. Apapun asal ia dapat keluar dari situasi dimana dirinya terjebak saat ini. Apapun yang mampu menolongnya untuk pergi dari kungkungan rasa malu yang menghujam ulu hatinya. Apapun yang bisa menghilangkannya dari muka bumi.

For God's sake, apa yang telah ia lakukan? Apa yang telah ia katakan barusan, hah? Tolong beritahu padanya bahwa tiga kata itu tak pernah meluncur keluar dari bibirnya, tak pernah bergaung di udara, dan Lazarus tak pernah mendengarnya. Ya, kan? Beritahu dirinya bahwa itu tak pernah terjadi.

Well, Steinhart. Pada kenyataannya itu semua benar terjadi. Kau telah mengucapkannya, anak malang.

Lidah, kau jahat. Sangat. Kau juga, akal. Kau diam. Tak bertindak. Tak kuasa mengontrol sang batin yang tengah berada pada tingkat kewarasan di bawah nol. Memaksa Amanda untuk menghadapi konsekuensi yang tengah menghampirinya, seorang diri. Memaksanya bertahan menunggu tanggapan--entah apa--yang akan terlontar dari mulut pemuda di hadapannya. Menunggu dengan perasaan tak keruan dan galau, komplikasi antara rasa kesal terhadap diri sendiri dengan kekhawatiran luar biasa. Sudah terlanjur, kawan-kawan, mau bagaimana lagi. Yang bisa ia lakukan hanya diam. Pasrah. Menunggu. Tanpa harapan, kalau ia boleh jujur.

Dengusan, dengar? Pertanda buruk. Amanda tak berani bergerak, tangan kirinya mencengkeram pagar jembatan dengan erat. Ia tak lagi mampu berpikir saat ini. Benaknya kosong, sepasang kelereng kecokelatannya balas menatap manik cemerlang milik Lazarus dengan hampa. Tepatkah apa yang telah dilakukannya barusan--mengatakan secara lugas? Tidak tahu. Tidak tahu. Yang ia tahu hanya satu : tak peduli tindakannya beberapa detik yang lalu itu benar atau tidak, yang pasti keberaniannya mulai bangkit. Sebuah beban telah terangkat dari lubuk hatinya, menghadirkan rasa nyaman yang begitu melegakan. Ba-baguslah. Dan satu lagi. Ia bukan pengecut, see?

Jantungnya seakan berhenti berdetak saat Lazarus mencondongkan tubuh, mempersempit jarak di antara mereka. Amanda merasakan tubuhnya meremang, sensasi menggelitik merambati telinganya saat bisikan tersebut akhirnya terdengar. The answer?

"I wish I can feel the same."

Guratan samar terbentuk di kening sang gadis. A... pa maksudnya itu? Positif? Ataukah negatif? Mulutnya telah terbuka beberapa inci, hendak merilis pertanyaan, namun urung ketika--

"-but I'm not."

But I'm not. But he's not. But Lazarus's not. Begitu. Jawaban yang telah Amanda duga sejak lama. Segalanya sudah jelas. Great.

Sudah menduganya, eh? Lalu KENAPA saat ini ia merasakan langit runtuh dan menimpanya? MENGAPA tubuhnya seakan kehilangan pijakan dan sepasang kakinya lemas? APA yang kini menyebabkan relung hatinya sesak dan mencelos? Hati tak dapat berbohong, Amanda. Hatimu tak mampu berbohong. Apapun sugesti yang berusaha ia tanamkan ke dalam hatinya untuk 'menerima' kenyataan, buktinya ia tak bisa. Penolakan terang-terangan telah dihempaskan kuat-kuat, menghantam dirinya tanpa toleransi. Tetapi bagaimanapun, betapa sulitnya, ia harus mampu. Harus. That's the final decision.

Amanda mengangkat wajahnya, mengangguk samar seraya melempar senyum lemah kepada Lazarus. "Terima kasih," ucapnya lirih, "dan maaf." Berhasil mengaktifkan kembali neuron geraknya, gadis itu memutar langkah, membalikkan tubuh dan berjalan dengan sedikit terhuyung, menjauhi sang anak lelaki Slytherin, sekaligus turut mati-matian mengenyahkan kenelangsaan yang melanda. Kepalanya menunduk--dan kristal bening itu hadir juga di kedua pelupuk matanya tanpa mampu dicegah, mengaburkan pandangan. Hei, apa-apaan, ha? Jangan cengeng, Amanda. Terima segala konsekuensi, ingat? Ia ingat. Ia tahu, itu janjinya. Tapi merealisasikan apa yang telah diucapkan tak semudah yang kalian duga. Sungguh.

Ada seseorang di sampingnya. Eh? Gadis itu menoleh beberapa derajat, cukup untuk mengenali siapa gerangan orang tersebut. Larry? Ga-gawat. Cukup sekali sahabatnya itu melihatnya menangis. Tidak untuk kedua kali. Amanda memodifikasi gerakan menghapus air mata dengan gerakan mengucek, berpura-pura menyalahkan para debu. "Hai, Larry," serunya dengan suara serak, kakinya tetap melangkah silih berganti. Ada perasaan lega yang mendarat di hatinya saat mengetahui sahabatnya berada disini, mengindikasikan bahwa dirinya tak sendiri. Amanda butuh seseorang. "Apa kabar?" Jangan salahkan keminiman kosakatanya, please. Otaknya tak dapat bekerja dengan benar saat ini. Sebuah seruan familiar terdengar, menghentikan laju sepasang kakinya. Amanda menoleh, mendapatkan senior McCafferty telah berada didekatnya, memanggil Larry, menyodorkan... buku. Oh. Sepertinya Larry punya urusan lain. Mungkin memang sebaiknya ia pergi. Mungkin memang sebaiknya ia melewati ini semua sendirian.

"Sampai jumpa, Larry," gumamnya lirih, kepalanya kembali tertunduk, kakinya kembali bergerak. Namun lagi-lagi terhenti saat sang angin sekali lagi menginterupsi, menerbangkan 'lagi' perkamen dalam genggamannya, berlawanan arah dengan arah kemana kakinya menuju. Perkamen itu terbang dengan anggun, menghampiri... Senior McCafferty. Perfect. Seniornya itu akan tahu. Atau jangan-jangan Larry dan sang senior telah mendengar ucapannya pada Lazarus, eh?

Matilah Amanda.

Labels: ,


9:42 AM

Wednesday, April 15, 2009

Shape of My Heart-#3

Benci. Satu kata, mewakili segalanya. Satu kata, dan elemen bahasa tersebut berhasil mendeskripsikan serta menyentak keluar seluruh aspirasi hatinya. Ya, gadis itu benci--pada dirinya sendiri, untuk saat ini. Benci karena lidahnya selalu enggan berkompromi dan bermufakat dalam situasi menyesakkan seperti ini. Kedua kakinya turut bersekongkol, memutuskan untuk melipatgandakan bobot mereka seratus kali lipat, kemudian memakukan diri di atas lantai jembatan. Bagian intern dari sang leher terasa kering, memaksa gadis cilik tersebut untuk mengaktifkan kelenjar saliva setidaknya sekali per tiga puluh detik. Kardionya terus menerus menggedor dadanya tanpa ampun, begitu keras hingga detaknya tersampaikan kepada sang telinga. Jadi begitu, eh? Fine. Kalian semua... benar-benar tak setia kawan, wahai tubuh.

Ah, dan--ya. Amanda benci. Ia benci--tatapan itu. Tatapan yang terlontar dari kedua manik pemuda di hadapannya. Tatapan angkuh yang selalu serupa dalam setiap kesempatan. Tatapan yang seringkali membuat Amanda tak berkutik dan terkesiap. Ia sudah bilang, kan? Tolong. Tolong jangan menatapnya seperti itu, Lazarus. Please

"Apa lagi, Steinhart?"

Apa lagi? Tidak tahu. Dirinya tak tahu. Jangan tanya. Amanda melempar pandang kosong ke arah jurang jauh di bawah jembatan sekaligus membebaskan diri dan menghindari tatapan Lazarus. Benar, lalu apa sekarang? Salahkan dirinya yang begitu bodoh, tak mampu mengontrol sang mulut, mengundang kembali masalah yang hendak beranjak pergi beberapa detik yang lalu. Bodoh. Bodoh. Lihat, kan. Kini ia hanya mampu terdiam, terapung dalam penyesalan dan tenggelam dalam keputusasaan karena tak mampu mengulang kembali waktu yang telah berlalu dan membatalkan segala hal yang telah ia lakukan. Penyesalan--is nothing. Tak ada gunanya.

Amanda memiliki dua pilihan. Pertama, kembali memasang sang kedok, menuturkan jawaban serta alasan palsu sama seperti sebelumnya--dengan konsekuensi : menemukan guratan ketidaksabaran di wajah pihak di hadapannya tertoreh lebih dalam, dan menerima makian, mungkin? Opsi kedua, pilihan sinting--go ahead. Lanjutkan apa yang telah kau mulai, Amanda. Ralat, lanjutkan apa yang telah terlanjur kau mulai, sengaja atau tidak. Terima segala apa yang akan terjadi. Silangkan jari dan berharaplah untuk yang terbaik.

So. Pilih yang mana?

Kalimat berikutnya yang terucap dari bibir sang anak lelaki membuat engsel lehernya kembali berputar. Menjelaskan tentang isi perkamen, hm? Jika ia boleh berkata jujur... well, ia tak berani. Katakan saja ia payah, silahkan. Yang pasti, Amanda masih waras dan tentu, yang akan terpilih adalah pilihan pertama. Lupakan perkamen biang keladi tersebut, lupakan bahwa mereka pernah bertemu di tempat ini, lupakan bahwa ia pernah melontarkan kalimat 'tunggu, Lazarus'--ITU jalan terbaik. Amanda telah membuka mulut, mencoba menuturkan permintaan maaf, memberi penjelasan bahwa tak ada apapun, bahwa rangkaian kata yang tertulis di atas perkamen sama sekali tak berarti apa-apa... tetapi tak ada yang keluar. Suaranya tercekat bahkan sebelum tiba di leher, sesuatu menghambat perjalanannya. Oh, apa lagi sih? God, tolong ia, kali ini saja. She begs you.

Hei. Masih pagi. P-A-G-I. Oh, well, yeah. Pagi musim gugur. Identik dengan dedaunan yang meranggas, meninggalkan tempatnya bernaung, melambai dan meliuk menghampiri siapapun yang beruntung tengah berada tepat di bawahnya. Sang angin berbisik, berhembus dalam tempo tak terprediksi dan bermain-main dengan segenap komposisi bumi yang terserak. Burung gereja bercengkerama seperti biasa. Seperti biasa--tidak, tunggu.

Suara itu--berbeda sama sekali. Itu... tawa? Dedaunan melintas, merapat di telinga gadis Ravenclaw, bergesek dan terkekeh. A-apa? Bagaimana mungkin? Tuan angin menggelitik pipinya seraya mendesis lembut, menghantarkan ucapan menghujam.

Poor you, chicken Steinhart...



Ia bukan PENGECUT. Jangan. Pernah. Berani--

Burung gereja mungil itu menghampiri, menceracau ribut, seakan memberikan... semangat?

Selangkah lagi, gadis manis, ayo.



Bahkan dunia bekerja sama untuk mempermainkannya.

FINE. Hati terdalamnya memang tak pernah kalah. Hati kecilnya selalu berhasil mengambil alih, bahkan sukses menyingkirkan akal. Ya, dan kali ini mereka curang. Menggunakan fantasi tak berdasar, tak tercerna tetapi entah bagaimana berhasil menarik tuas yang tepat di pusat hati. Amanda menyerah. Ia akan melaksanakan apa yang telah ia mulai. Masa bodoh apapun yang akan terjadi. Terserah.

I'm here with my confession...



Menghela nafas berat, ia menatap lekat pemuda di hadapannya. Sebuah tindakan yang secara otomatis memicu sindron nervous, dan kali ini Amanda dapat merasakan telapak tangannya berkeringat. Cepatlah. Lima detik, dan semuanya selesai. "Err... sebenarnya..."

Got nothing to hide no more...



Kedua tangannya kini berada dalam saku, salah satunya menggenggam sang arloji kesayangan. Lehernya tercekat lagi, jantungnya kembali beraksi, menabuh dadanya dengan keras. Beri ia keberanian, God. Tolong. "A... Aku..."

I don't know where to start...



Apa yang harus ia katakan? Demi Leander, demi Nathaniel, dan demi semua orang yang ia sayangi, APA yang harus ia UCAPKAN? "Lazarus, a-aku..."

But to show you the shape of my heart...



"Aku suka padamu."

(OOC : Song credit to Shape of My Heart - Backstreet Boys)

Labels: ,


1:52 PM

Saturday, April 11, 2009

Lidahnya masih kelu. Sedari tadi yang mampu ia lakukan hanya membuka dan menutup mulut berkali-kali, tergagap seraya menelan ludah serta menahan nafas, mencoba meredakan detak jantung yang mulai tak normal. Di hadapannya kini telah berdiri sosok yang entah--memang ia inginkan berdiri di sana atau sebaliknya, amat ia inginkan kepergiannya. Seperti yang biasa Amanda saksikan di berbagai kesempatan bertatap muka dengan pemuda itu, alis Lazarus kali ini tak ayal kembali terangkat, sepasang kelereng gelapnya menghujam tepat di titik fokus kedua lensa kecokelatan milik sang gadis. To-tolong jangan menatapnya seperti itu, Lazarus. Ia mohon...

Tatapan khas seseorang yang tak percaya. Amanda tahu. Ia dapat melihat itu. Kalimatnya yang mendeklarasikan bahwa tidak ada yang perlu dijelaskan memang hanya merupakan sebuah kebohongan belaka, kedok payah yang sengaja ia pasang di bagian muka agar pemuda tersebut tak mengetahui apa yang sebenarnya hendak diutarakan olehnya saat tangan kanannya bergerak perlahan untuk menulis surat itu--tadi malam. Tetapi sepertinya sang kedok tak terpasang dengan sempurna, sehingga celah-celah berhasil terbentuk, mengizinkan Lazarus melihat apa yang berada di baliknya dan melontarkan terkaan. Ya kan? Well, bagaimanapun terkaan tetaplah terkaan, kecurigaan semata, tak terbukti, tak dapat dikatakan benar sebelum pemeran utama mengangguk dan mengiyakan. Kelas tiga--sekitar tiga belas tahun, dan bisa dikatakan hampir mustahil jika Slytherin di hadapannya mampu menguasai Legilimens. Amanda tak perlu khawatir kalau begitu. Rahasianya akan tetap terkubur dalam-dalam, tak akan ada yang mampu menemukannya, asal--pikiran nekat yang akhir-akhir ini seringkali menyergap benaknya mampu dienyahkan. Pikiran nekat dan sinting untuk mengungkapkan segalanya.

No way. Itu. Tidak. Boleh. Terjadi.

Pertanyaannya sekarang adalah, mampukah Amanda bertahan dengan rahasia itu? Bertahan selamanya, berkawan dengan perasaan tertekan yang menyesakkan? Alam sadarnya menyatakan bahwa ia mampu. Pasti mampu. Harus mampu. Namun ia sadar, hati kecilnya tak setegar itu. Sugesti yang terus terdoktrin sepanjang hidupnya bahwa seorang Steinhart tak boleh lemah dan harus memiliki keyakinan di setiap hal yang ia lakukan, kemungkinan besar tak akan mempan terhadap bagian terdalam hatinya. Kalau sudah begitu bisa gawat.


"Siapa namanya? Siapa? Oh, ayolah, beritahu kakakmu ini, Amanda."
"I-itu... tidak penting, Leander. Lupakan."
"Beritahu saja, Amanda. Apa susahnya sih."
"Oh, diamlah, Nathaniel," ujar Amanda, kedua matanya mengerling sepupunya penuh arti.
"Ah ya, Nathaniel. Kau bisa memberitahuku, rite? Siapa?" tanya Leander seraya mencondongkan tubuh ke arah anak lelaki dua belas tahun di seberang meja, wajahnya memajang mimik penasaran.
"Nathaniel Gladstone," desis Amanda, "Don't."
Nat menyeringai jenaka, menjulurkan lidah kepada sang gadis, kemudian berkata, "Lazarus. Sylar Lazarus, Leander."
Sebuah bantal melayang, dengan sukses menimpa kepala anak lelaki Gryffindor yang kini tengah tertawa terpingkal itu, disusul pukulan bertubi-tubi di bagian punggung.
"Ya ampun, kenapa harus marah, dear, Amanda?" ucap Leander dengan tawa berderai, menghentikan gerakan Amanda yang tengah bersiap dengan pisau dapur--wohoo, bercanda. "Memiliki perasaan spesial pada seseorang bukanlah suatu kesalahan," lanjut Leander lagi. Amanda tertegun. Benarkah? Benarkah hal tersebut bukan suatu kesalahan?
"So--mengapa tak kau katakan saja padanya?"



Itu dia. Cikal bakal yang menghadirkan pikiran-pikiran nekat di benaknya. Kalimat yang diucapkan dengan begitu ringan oleh Leander, terdengar bagai petir di siang bolong bagi Amanda, kalau kau mau tahu. Gila--tapi sialnya--juga masuk akal. Katakan saja. Haha. Tidak mungkin.

Amanda terpaku saat Lazarus meraih tangannya, mengembalikan lembaran perkamen yang menjadi biang keladi, kemudian memutar langkah setelah mengucapkan sebuah statement penuh ketidakpedulian. Terserah katanya. Dengar, kan? Lazarus sama sekali tak peduli, Amanda. Apa lagi yang kau harapkan? Bagus. Pergi saja sana.

Hei. Sadar, gadis kecil. Kesempatan seperti ini tak akan datang dua kali.


Apa? Kesempatan apa? Bertemu Lazarus dan tak ada orang lain sehingga ia dapat mengutarakan isi hatinya? Dirinya masih waras, maaf saja.

Oh, tidak berani? Betapa pengecutnya kau, Steinhart.


Jangan. Pernah. Menyebutnya. Pengecut.

Kenapa? Memang benar kan?


Frustasi. Marah kepada dirinya sendiri, tanpa sadar dan tanpa berpikir lagi, detik berikutnya Amanda telah berseru, "Tunggu sebentar, Lazarus."

Fine. Pelatuk telah dipicu, kawan-kawan.


Yang pernah baca tulisan di atas, komen donk :| Emang ngena banget? Bukannya narsis, gue cuma bingung. *yang bikin sama sekali gak ngeh*

Labels: ,


7:24 AM

Thursday, April 9, 2009

Shape of My Heart-#2

Kebetulan itu--nothing. Tidak ada.

Percayakah kau ketika sebutir apel jatuh dari pohon induknya dan menimpa kepalamu, itu bukanlah kebetulan? Atau ketika kau berpapasan dengan Filch dan kucingnya di koridor lantai tujuh saat kau memutuskan untuk mengabaikan peraturan dan berkeliaran di atas jam malam, hal tersebut juga bukan kebetulan semata? Atau ketika kau terkena mantra nyasar saat tengah berkonsentrasi merapal di dalam kelas mantra, itupun tak tepat jika disebut kebetulan?

Amanda tak percaya akan adanya sebuah situasi berlabel kebetulan. Tidak, tak ada yang namanya kebetulan dalam hidup--setidaknya begitulah doktrin yang telah tertanam dan berakar di benaknya sejak menginjak usia belia. Begitulah cara Paman Amethyst mendidiknya, mengajarkannya untuk senantiasa menangkap arti sesungguhnya dari suatu peristiwa yang terjadi, mempelajarinya, mencari sesuatu yang dapat memberi makna pada kehidupan serta agar kesalahan yang ada tak terulang lagi di kesempatan berikutnya. Camkan baik-baik, kawan-kawan. Kebetulan itu : tidak ada. Segala hal yang terjadi di kehidupan kita, secara keseluruhan telah diatur sejak awal. Orang-orang lebih senang menyebutnya dengan satu kata. Takdir.

Desau angin terus menerabas tubuh sang gadis, membuat rambut kecokelatannya terangkat dan menari abstrak. Menghela nafas, kedua matanya bergerak mengikuti perkamen surat yang masih berkutat dengan angin, pasrah kemanapun dirinya terbawa. Amanda tetap diam di tempat, tak ada niatan untuk mengekori benda tersebut ataupun mengejarnya--toh tak ada siapapun di tempat ini selain dirinya seorang, rite? Jadi tak perlu khawatir, hanya tinggal berharap perkamen itu diangkat oleh angin, berubah haluan sedikit ke timur, kemudian jatuh ke bawah jembatan. Nice, bahkan ia tak perlu melakukan hal itu sendiri. Masih menggenggam daun kering yang telah baik hati menemaninya saat ini, posisinya kini berbalik, punggung bersandar pada pembatas jembatan, tatapan tetap pada lembaran kecokelatan yang mengangkasa menjauhi dirinya. Kemana kau akan pergi, dear perkamen? Kemanapun, please asal jangan--

Takdir. Apa benar namanya takdir? For God's sake, kalau begitu saat ini sesuatu bernama takdir itu tengah mempermainkannya. Totally. Kejam, dan tanpa ampun.

Si daun kering jingga kembali terhempas ke udara, terombang-ambing dan jatuh perlahan ke lantai jembatan--terlepas dari genggaman tangan sang gadis berkaus biru. Daun itu bergeming, melekatkan diri pada kayu yang menjadi tempatnya berbaring, seakan memutuskan untuk setia berada di samping gadis Ravenclaw, menemaninya menghadapi kenyataan yang terpampang jelas di depan mata. Ya, kenyataan yang benar-benar tak dapat dipercaya. Kenyataan yang membuat Amanda kesulitan bernafas.

Murid Hogwarts tak mungkin kurang dari lima ratus orang, isn't it? Ratusan. Atau bahkan ribuan. Lalu--mengapa harus DIA yang datang? Mengapa harus anak lelaki ITU yang menampakkan batang hidung dan menjejakkan kaki di tempat dan waktu yang sama dengan sang gadis?

Kenapa harus Lazarus?

Amanda memandang ngeri ketika perkamen surat miliknya mendarat persis di wajah pemuda Slytherin tersebut. Oh, sungguh tak dapat dipercaya. Ga--gawat. Ia harus pergi, sekarang juga. Amanda mencoba melangkah mundur, berniat membalikkan tubuh, berlari sekencang-kencangnya, kemanapun. Asal ia tak berada di sini. Tetapi--tentu saja, kedua kakinya tak mau bekerja sama, seakan dipakukan di atas kayu secara permanen. Oke, sudah terlambat. Lazarus telah berdiri tepat di hadapannya, melontarkan kalimat yang telah ia duga akan bergaung di udara. Penjelasan.

Demi Leander yang benar-benar ia sayangi, bagaimana caranya Amanda dapat menjelaskan?

Ia telah berubah pikiran--tak ada pertemuan, tak ada yang perlu dibicarakan, rite? Dan keputusan itu tak berubah. Setidaknya untuk saat ini. Menelan ludah seraya memasang sikap datar seakan tak ada apa-apa--padahal kardionya berderap dalam satuan kecepatan cahaya--Amanda tergagap sejenak sebelum berujar dengan leher tercekat, "Ti... tidak ada yang perlu dijelaskan, Lazarus. Percayalah."

Labels: ,


4:45 AM


Shape of My Heart-#1

She hates dilemma.

Daun yang satu itu terkepak. Sekujur tubuhnya bergetar, terombang-ambing oleh desauan angin pagi, berkibar serempak bersama teman-temannya di dahan yang sama, pada tangkai yang identik. Jingga yang menyelimutinya berkilat terbias tetesan embun, menimbulkan kemilau abstrak yang melebar. Bertahan. Bertahan. Setidaknya untuk sesaat. Namun harapan tetaplah harapan, kenyataannya sang daun menyerah begitu saja. Pasrah saat angin menebas leher tangkai, melepaskan dirinya dari kesatuan Oak yang berdiri tegak dan kokoh, membiarkannya terombang-ambing di udara. Sendirian. Berputar, terlipat, melenting, meliuk gemulai atas kuasa sang angin, melayang tanpa tujuan. Dan mendarat.

Amanda meraih sehelai daun kering yang mampir di pucuk kepalanya, melirik sekilas ke arah pohon Oak angkuh tak jauh dari tempatnya berdiri. Musim gugur. Saatnya pepohonan meranggas sesuka hati mereka, menanggalkan apa yang harus mereka tanggalkan. Saatnya pasukan angin menghadirkan hembusan keruh, kering tak bertoleransi. Saatnya langit meredup, bunga-bunga memudar. Ditimpali dengan kejayaan Kau-Tahu-Siapa, lengkaplah sudah kenelangsaan dunia sihir. Gadis itu menghela nafas. Mungkin deskripsinya berlebihan. Memang. Komplikasi dari suasana hatinya, seems to be.

Ia menatap daun kering yang tergenggam di tangan kanan, terpekur tak terfokus seraya membelai sang daun perlahan dengan ibu jari. Detik berikutnya kedua matanya beralih, kini menatap secarik perkamen di tangan yang lain. Ya, dilema. Berikan atau tidak? Nekat sajakah? Amanda mendecakkan lidah, kesal pada dirinya sendiri karena tak mampu membuat keputusan. Hanya membuat keputusan, apa yang sulit?

Sulit, bodoh. Yang dihadapinya saat ini bukanlah hal yang mudah, asal kau tahu. Setidaknya baginya. Huft, maaf dunia, saat ini sang gadis cilik sedang berubah menjadi orang lain, bukan seorang Amanda Steinhart yang ceria seperti biasanya. Hatinya sedang kalut, kalau ia boleh jujur. Hanya karena sebuah alasan sepele. Ia sendiri tak percaya ketika menyadari penyebab utama dirinya sering melamun akhir-akhir ini. Mau tahu? Fine.

Satu kata. Cowok.

Tertawalah. Haha. Memang menggelikan melihat seorang Amanda tenggelam dalam kegalauan hanya karena seseorang. Anak laki-laki pula. Sulit untuk diterima, bahkan oleh dirinya sendiri. Namun kenyataan tak mampu diprediksi, dan mau tak mau ia harus menerima bahwa ia memang terpuruk gara-gara seorang pemuda. Terpuruk karena ia kini tahu apa yang selama ini ia rasakan, tetapi dengan terpaksa harus menguburnya dalam-dalam, hingga detik ini. Menyesakkan, tahu? Amanda membuka perkamen itu, membaca sekali lagi guratan-guratan pena bulu yang telah tertoreh.


To : Sylar Lazarus
Ada yang ingin kubicarakan. Danau, pukul 10 hari ini.

Amanda Steinhart




Singkat. Tetapi untuk menuliskan dua kalimat tersebut dibutuhkan waktu semalaman. Dan seharusnya perkamen a.k.a surat itu sudah sampai kepada sang penerima jika saja ia tak secara tiba-tiba berubah pikiran. Tadi malam ia telah membuat keputusan, ya, keputusan sinting dan nekat. Keputusan yang mungkin akan mengubah hidupnya. Keputusan yang ia anggap tepat untuk mengenyahkan sesak di hatinya. Tetapi lagi-lagi benaknya yang menang. Tidak, Amanda tak akan memberikan surat tersebut. Tidak akan ada pertemuan. Tidak ada yang perlu dibicarakan.

Karena ia terlalu pengecut. Katakan saja begitu. Karena ia belum siap menerima yang terburuk. Karena dirinya payah. Karena... Oh, terserahlah.

Amanda bersiap melepaskan perkamen itu, berniat untuk menjatuhkannya, membuang surat itu jauh-jauh ke bawah jembatan. Tak perlu ada yang tahu. Biarlah perasaan ini ia simpan sendiri, mengendap, dan perlahan menguap hilang. Amin. Harapan terbesarnya. Namun tepat pada saat itu angin memutuskan untuk berhembus, lebih kencang dari biasanya. Terkejut, ia tak mampu mencegah perkamen tersebut terbang, lepas dari genggamannya dan melayang ke tengah jembatan, ke arah jalan menuju kastil alih-alih jatuh ke bawah.

Oh my. Tolong jangan buat mood-nya bertambah buruk lagi. Please.

(OOC : Timeline : akhir pekan pukul 9. Judul credit to Shape of My Heart-Backstreet Boys)


One of my favorite post :x

Labels: ,


4:40 AM