<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813</id><updated>2011-07-07T20:13:52.870-07:00</updated><category term='Garden Party'/><category term='Fidget'/><category term='Kelas Pemeliharaan Satwa Gaib'/><category term='Riddle'/><category term='My Comment for Hanny&apos;s Fanfiction'/><category term='Pesta Awal Tahun'/><category term='This Is My Promise to You'/><category term='Rush Hour'/><category term='Small Trouble'/><category term='Highbury Crescent No. 4-Islington'/><category term='The Phoenix and The Turtle'/><category term='19.00'/><category term='Kelas Herbologi'/><category term='Gladstone'/><category term='Kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam'/><category term='State of Shock'/><category term='Kelas Sejarah Sihir'/><category term='Swimming Race'/><category term='Hello Flakier'/><category term='Blind Date'/><category term='Surat dari Hogwarts'/><category term='Shape of My Heart'/><category term='Kelas Ramuan'/><category term='4-4-2'/><category term='Meja Hufflepuff'/><category term='Sludge'/><category term='Sorry--Accidently'/><category term='Peron 9 3/4'/><category term='Steinhart'/><category term='Gone with The Wind'/><category term='Kelas Astronomi'/><category term='Pemakaman Ala Viking'/><category term='Snowball Fight'/><category term='Kelas Mantra'/><category term='Welcome to Leaky Cauldron'/><category term='The Comments'/><category term='FEB : Black pudding from blood? OMG'/><category term='The Saxophone'/><category term='Watching Movie'/><category term='Senbazuru : 1000 Bangau'/><category term='Leaky Cauldron'/><category term='Le Papillon'/><category term='Set Adrift on Symphony Bliss'/><category term='47 Queen&apos;s Road-London'/><category term='We All Burn Sometimes'/><category term='Kucek-Kucek Jahehe'/><category term='Seleksi Asrama'/><category term='Hogwarts Express'/><category term='Diagon Alley'/><category term='Preparing For...'/><category term='Kelas Transfigurasi'/><category term='The Amulet of Samarkand'/><title type='text'>Gladstone &amp; Steinhart's Blog</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>123</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-8654452046825788591</id><published>2009-09-02T22:20:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T22:28:36.308-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Pelayanan Pengambilan dan Penukaran Uang</title><content type='html'>[Smunx]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KLONTANG! KLONTANG!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah kaleng soda bergulir lincah menyusuri jalan berdebu Diagon Alley, pasrah saja ketika sepasang kaki menggelandangnya untuk berputar lebih jauh. Nathaniel melangkah santai, setengah melamun, kakinya secara bergantian menendang kaleng bekas malang tersebut sepanjang jalan menuju Gringotts. "Haduh, Nat! Stop, oke. Kau--berisik, tahu tidak," suara Amanda memaksanya menoleh dan menatap wajah gadis itu dengan seksama. Nathaniel nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda berambut hitam itu menghentikan langkahnya, memperhatikan dengan takjub ketika sang gadis cilik dengan cekatan menyambar kaleng tersebut dari tanah dan melemparkannya ke tempat sampah terdekat. Ah, sepupunya yang satu itu memang luar biasa baik. Ia tak habis pikir bagaimana mungkin ada seseorang yang amat peduli terhadap segalanya seperti Amanda. "Sori, deh," ujarnya seraya menyeringai, lengan kirinya mengacak rambut anak perempuan itu. Mereka kembali melanjutkan perjalanan--kali ini tanpa suara bising kaleng berkelontang--menuju Bank Sihir Gringotts. Pemberhentian pertama. Sepasang kaki Nathaniel berhenti sejenak di hadapan pintu perunggu mengkilap--pintu masuk utama. Mengerling sang goblin penjaga berkostum merah dan emas yang tengah berdiri dengan gagah di sebelah pintu, anak lelaki tersebut menarik napas sekali, dan setelah mengangguk pada Amanda untuk meyakinkan diri, ia pun mendorong pintu di hadapannya, melangkah masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, tak ada yang berubah, semua masih terlihat sama seperti tahun lalu. Untuk kali kedua Nat kembali menyusuri ruangan utama Gringotts, menatap para goblin di sekelilingnya dengan tatapan penasaran, menuju meja berplang 'Pelayanan Khusus Siswa Hogwarts' di sudut ruangan. Fine, akhirnya ia dapat merasakan perasaan yang dirasakan Amanda tahun lalu, perasaan dimana terjadi sebuah sensasi aneh di jantungnya, dan entah mengapa membuat lidahnya terasa kelu. Oh, c'mon Nat. Just take and leave. Tidak terlalu sulit, rite? Semoga saja. Kini ia telah berdiri di hadapan seorang goblin--salah satu yang cerdas, jika dilihat dari tampangnya--berjanggut runcing, terlihat jelas merupakan salah satu yang tengah bertugas melayani para siswa Hogwarts. Oke, here he go.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel menelan ludah, merogoh saku celana jeansnya, mengeluarkan kunci emas miliknya, lalu dengan sedikit ragu menyodorkannya pada sang goblin. "Saya ingin mengambil uang, 300 galleon. Ini kuncinya. Terima kasih banyak," ujarnya cepat. Done. Fiuh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-8654452046825788591?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/8654452046825788591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=8654452046825788591&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8654452046825788591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8654452046825788591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/pelayanan-pengambilan-dan-penukaran.html' title='Pelayanan Pengambilan dan Penukaran Uang'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3956542480411778039</id><published>2009-09-02T22:19:00.001-07:00</published><updated>2009-09-02T22:19:48.443-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peron 9 3/4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><title type='text'>Peron 9 3/4...Where?</title><content type='html'>Amanda mengetuk-ngetukkan jari ke dagu. Apakah masih ada yang ketinggalan? Ia menoleh ke arah tasnya, mengira-ngira apakah semuanya sudah lengkap. Amanda membongkar dan menyusun koper biru tuanya dua kali lagi, dan setelah benar-benar yakin semua barang telah dimasukkan, ia menghela nafas, mengangkat kopernya dengan susah payah, kemudian menyeretnya menuju pintu keluar kamar. Leaky Cauldron, tempat ini semakin ramai saja di saat-saat awal tahun ajaran baru Hogwarts akan dimulai. Amanda memandang tempat itu untuk terakhir kalinya, bergumam mengucapkan selamat tinggal, dan, dengan Nathaniel di belakangnya, melangkah keluar Leaky Cauldron menuju jalan utama Diagon Alley.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stasiun King's Cross&lt;br /&gt;Amanda memutuskan untuk mengambil jalan pintas, dan berjalan menuju Stasiun King's Cross. Selembar tiket kereta Hogwarts Express terselip dengan aman di sakunya. Peron 9 3/4. Amanda tidak lagi bertanya-tanya apakah sebenarnya yang dimaksud dengan 9 3/4, Paman Amethyst telah menjelaskan segalanya. Setelah lima belas menit berjalan terseok-seok kepayahan, menyeret koper di tangan kanan, menggenggam sangkar Proteus di tangan kiri, akhirnya ia sampai di stasiun. Dibelakangnya, Nathaniel membantu membawakan kuali Amanda yang tak muat dimasukkan ke dalam koper. Muggle-muggle berlalu-lalang, kelihatan terburu-buru. Porter-porter bersemangat terlihat melayani para calon penumpang. Amanda menghampiri salah satu dari mereka, menyewa sebuah troli, kemudian meletakkan seluruh barang bawaan kedalamnya. Fiuh. Bagus. Sekarang tinggal mencari peron 9 3/4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa Amanda dapat menemukannya hanya dalam beberapa detik. Beberapa anak terlihat sedang berdiri di dekat dinding kelabu, yang berdiri di antara peron 9 dan 10. Itu dia. Amanda berjalan dengan percaya diri mendekati dinding tersebut, kemudian berhenti beberapa meter jauhnya dari sana. Ia melihat jam stasiun. Sebentar lagi. Amanda berbalik, menatap Nathaniel. Saat-saat seperti ini amat sangat ia benci. "Jaga Paman baik-baik ya, Nat," ujar Amanda. Ia memeluk sepupunya dengan erat, "Kutunggu kau tahun depan, oke?" Tidak, Amanda, kau tak boleh menangis. Amanda melepaskan Nathaniel, menarik troli barang, kemudian bergegas menembus dinding di hadapannya. Ia tidak mau berlama-lama mengucapkan perpisahan, itu hanya akan membuatnya lebih sedih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3956542480411778039?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3956542480411778039/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3956542480411778039&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3956542480411778039'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3956542480411778039'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/peron-9-34where.html' title='Peron 9 3/4...Where?'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3517797958646962305</id><published>2009-09-02T22:18:00.001-07:00</published><updated>2009-09-02T22:18:55.805-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Masuki Atmosfer Kejahilanmu - 1978</title><content type='html'>Amanda mendecak-decakkan lidah. Es krim Florean Fortescue memang tiada duanya. Kini Amanda dan Nathaniel telah berada di gang utama Diagon Alley lagi, berjalan santai dengan perut kenyang. Hoahm. Sekarang Amanda mengantuk. Oh, tidak, jangan dulu. Masih ada satu toko lagi yang membuat Amanda penasaran. Toko Lelucon Gambol &amp; Japes. Yap, barang-barang disana pasti seru. Selain tomboi, kadang sifat jahil Amanda kumat. Oh ya, banyak teman-temannya yang telah menjadi korban. Tapi, satu hal yang perlu dicatat, Amanda selalu tahu situasi. Ia tidak senang melakukan segalanya secara berlebihan, termasuk dalam soal jahil-menjahili. Amanda akan segera berhenti jika ia menganggap sesuatu yang dilakukannya sudah keterlaluan. Itulah yang membuatnya tak pernah kesulitan mendapatkan teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa menit berjalan mondar-mandir, mencari-cari plang nama Toko Lelucon Gambol &amp; Japes--pertama kalinya Amanda dan Nathaniel pergi ke Diagon Alley, kau tahu-- akhirnya mereka berdua menemukannya, terpencil di sudut. Tanpa basa-basi, Amanda membuka pintu toko dan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wew. Apa Amanda bilang, toko ini punya barang-barang menakjubkan. Frisbee Bertaring, Bom Kotoran, Ramuan Cinta... ck, ck, keren. Di antara barang-barang yang terdapat dalam ruangan itu, hampir semua pernah Amanda coba. Bom Kotoran, bukan sering lagi. Topi Menghilang, pernah sekali, digunakannya untuk menjahili Nathaniel, hehe. Kacang Melambung, dicobanya di rumah Shirleen. Hm, Amanda jadi bingung hendak membeli apa. Tidak mungkin untuk membeli semuanya, lagipula Amanda yakin ia tidak akan sempat mencoba semuanya di Hogwarts. Akhirnya, setelah menentukan pilihan, Amanda berjalan menuju counter. "Permisi, saya ingin membeli 3 buah Bom Kotoran, 2 buah Pena Bulu Mengeja Sendiri, 1 Kalung Anti Kutukan, 1 botol Ramuan Cinta, dan 3 buah Permen Karet Api. Terima kasih banyak." Terlalu banyak tidak ya? Ah, biar sajalah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3517797958646962305?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3517797958646962305/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3517797958646962305&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3517797958646962305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3517797958646962305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/masuki-atmosfer-kejahilanmu-1978.html' title='Masuki Atmosfer Kejahilanmu - 1978'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-2089551776075680633</id><published>2009-09-02T22:17:00.001-07:00</published><updated>2009-09-02T22:17:51.758-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Hewan Sihir Fantastis Untuk Dibeli - #1</title><content type='html'>(OOC: Timeline : Dari Toko Kuali dan Ramuan)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fiuh. Akhirnya semua beres! Sekali lagi Amanda membuka daftar barang, mencermati kalau-kalau ada yang tertinggal. Tongkat, ada. Buku, sudah. Jubah, oke. Kuali dan bahan-bahan ramuan, sip. Amanda menghela nafas lega. Sekarang tinggal pergi mencari burung hantu. Dengar-dengar sih, seekor burung hantu merupakan salah satu hewan krusial untuk para siswa Hogwarts. Benar atau tidaknya Amanda tidak tahu pasti. Yah, tidak ada salahnya kan? Bisa menjadi sahabat serta pengantar surat jika ia rindu pada Nathaniel dan Paman Amethyst nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut matanya, Amanda melihat Nathaniel berjalan di sampingnya, sedikit gontai karena membawa buku-buku Amanda, beberapa memiliki tebal lebih dari 10 senti. Amanda merasa bersalah. Seharusnya ia tidak perlu mengajak Nathaniel, hanya membuat sepupunya lelah saja. Amanda menggigit bibir. Tapi sepupunya itu memaksa untuk membantunya, dan berkata ia akan kecewa jika Amanda menolak bantuannya. Dilema memang, di satu sisi Amanda tidak senang merepotkan orang lain, di sisi lain ia tidak akan mungkin membawa seluruh barang-barang ini sendirian. Amanda tak dapat membayangkan jika Nathaniel tidak ada. Beruntungnya ia memiliki saudara sebaik Nat. Tak beberapa lama setelah keluar dari Toko Kuali dan Ramuan, Toko Hewan Sihir menjulang di hadapan Amanda. Melalui kaca toko, Amanda dapat melihat berbagai macam hewan yang luar biasa unik. Mereka berdua pun bergegas masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toko itu amat sangat bising. Suara para pelanggan yang ingin dilayani bercampur baur dengan suara pekikan burung hantu, cicitan tikus dan eongan kucing. Amanda melihat ke sana kemari dengan takjub. Sejak hari pertama ia tinggal di rumah pamannya hingga kini, Paman Amethyst hanya memiliki seekor burung hantu hitam bernama Roscoe. Mungkin ia harus membelikan Nat burung hantu juga. Amanda melangkah menuju sangkar-sangkar burung hantu yang disusun berderet, mengamati satu persatu. Lima menit berlalu, Amanda memutuskan untuk membeli seekor burung hantu elang berwarna abu-abu kehitaman yang bertengger dengan penuh wibawa di dalam sangkar di sudut ruangan. Keren. Amanda menawarkan seekor burung hantu elang juga kepada Nathaniel, tetapi sepupunya itu menolak. Roscoe sudah cukup, katanya. Ya sudah. Amanda menghampiri counter. "Permisi, saya ingin membeli burung hantu elang itu," Amanda menunjuk ke sudut ruangan, "Beserta sangkar dan makanannya, please. Terima kasih banyak."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-2089551776075680633?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/2089551776075680633/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=2089551776075680633&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2089551776075680633'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2089551776075680633'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/hewan-sihir-fantastis-untuk-dibeli-1.html' title='Hewan Sihir Fantastis Untuk Dibeli - #1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-4142280640921906906</id><published>2009-09-02T22:16:00.001-07:00</published><updated>2009-09-02T22:16:44.177-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Hewan Sihir Fantastis Untuk Dibeli - #2</title><content type='html'>Nah, itu dia sang pegawai toko datang. Amanda nyengir senang, sebentar lagi ia akan mempunyai burung hantu sendiri. Burung hantu elang pula. Wih, keren. "Ini burung dan tetek-bengeknya. Semuanya 16 galleon dan 5 sickle." Untuk kesekian kalinya Amanda merogoh kantung uangnya, mengambil 16 galleon dan 5 sickle, kemudian menyerahkannya kepada pegawai toko di hadapannya. Setelah segala urusan bayar-membayar beres, Amanda berjalan menjauhi counter menuju pinggir ruangan, matanya menatap burung hantu elangnya lekat-lekat. Harus segera memberi nama nih. Nama yang bagus... apa ya? "Menurutmu burung hantu ini kuberi nama apa, eh, Nat?" Amanda menelengkan kepala ke arah Nathaniel, meminta saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel balas memandang Amanda dan berujar, "Hm... Bagaimana kalau... Proteus? Kedengarannya bagus." Bagus? Tidak, nama itu bukan hanya bagus, tapi luar biasa! Proteus. Gagah sekali. "Hebat sekali, Nat!" Amanda menganggukan kepala kepada burung hantu dalam sangkar yang tengah digenggamnya. "Nah, namamu sekarang adalah Proteus, oke? P-R-O-T-E-U-S. Jangan sampai lupa." Sebagai jawaban, Proteus memekik keras sekali, membuat Amanda terlonjak dan hampir menjatuhkan sangkar dalam genggamannya. Amanda tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas berkenalan dengan burung hantu barunya, Amanda memutuskan untuk melihat-lihat hewan-hewan sihir di sekelilingnya. Gees, di sana ada Fwooper. Amanda berjalan menghampiri burung berwarna hijau limau itu. Pastinya Fwooper yang satu ini telah dilengkapi dengan Mantra Pembisu, karena burung di hadapannya tersebut mengatup-ngatupkan paruh, tapi tak keluar suara apapun. Dari buku-buku yang telah Amanda baca, nyanyian Fwooper yang pada awalnya sangat enak untuk didengar, pada akhirnya akan mendorong pendengarnya jadi gila. Wew, bisa gawat jika suatu hari sang pemilik lupa menguatkan Mantra Pembisu. Bergeser ke sebelah kanan, kini Amanda berhadapan dengan seekor Kneazle. Wah, lucunya. Kneazle yang satu ini amat mirip dengan kucing dengan bulu berbintik-bintik, telinga berukuran besar, dan ekor seperti singa. Amanda menyesal mengapa tadi ia tak membeli seekor Kneazle juga. Kneazle merupakan hewan yang menarik, karena memiliki kemampuan aneh mendeteksi sifat buruk atau curiga dan dapat diandalkan untuk menunjukkan jalan pulang bagi pemiliknya yang tersesat. Keren. Kalau ada kesempatan, Amanda harus membeli satu. Setelah bosan melihat-lihat, akhirnya Amanda melangkah menuju pintu, memanggil Nat, dan berjalan keluar toko.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-4142280640921906906?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/4142280640921906906/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=4142280640921906906&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4142280640921906906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4142280640921906906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/hewan-sihir-fantastis-untuk-dibeli-2.html' title='Hewan Sihir Fantastis Untuk Dibeli - #2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-5837294149103110399</id><published>2009-09-02T22:14:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T22:15:51.351-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>"Worth To Try", Ice Cream Everyone</title><content type='html'>Selesai. Yeah. Semua perlengkapan sudah di tangan, ditambah seekor burung hantu elang baru. Proteus. Great. Hari yang melelahkan sekaligus menakjubkan, karena telah memberi Amanda lebih banyak informasi tentang dunia sihir. Amanda melangkah dengan hati ringan, tidak peduli dengan seluruh barang-barang di tangannya yang beratnya minta ampun. Selesai berbelanja bukan berarti perjalanannya di Diagon Alley juga berakhir. Wohoo, tidak, tidak. Tidak lengkap kalau belum makan es krim di Florean Fortescue, ditambah lagi ia telah berjanji dalam hati akan mentraktir Nathaniel es krim. Sepupunya itu telah sangat berjasa hari itu, dan Amanda ingin memberikan sesuatu padanya. Di Toko Hewan Sihir, Nat menolak ketika Amanda menawarinya untuk membeli burung hantu baru, kali ini ia tak bisa menolak. Setelah berjalan tersaruk-saruk, setengah menyeret barang belanjaannya, akhirnya mereka berdua sampai di depan toko Florean Fortescu's Ice Cream Parlour. Asyik. "Ayo kita mampir dulu, Nat." Amanda menarik baju Nathaniel. Wajah sepupunya itu berubah menjadi berseri-seri dengan tiba-tiba, membuat Amanda tersenyum geli. Nathaniel mengangkat barang-barang yang dibawanya dengan bersemangat, dan kali ini sama sekali tak menolak ketika Amanda menyuruhnya masuk duluan. Dasar Nat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kontras sekali dengan Toko Kuali dan Ramuan, aroma manis permen dan susu menguar memenuhi ruangan. Amanda menarik nafas dalam-dalam. Hm, enak sekali. Ia mengalihkan pandangan pada Nathaniel. Mata Nat berbinar-binar, kelihatan tak sabar. Oke, oke. Tanpa basa-basi, Amanda bergegas berjalan menuju counter. Di dinding sebelah, terpampang daftar pilihan rasa yang tersedia. Amanda yakin, rasa apapun itu, pastìnya lezat. Matanya bergerak menyusuri daftar, dan memilìh rasa favoritnya, Strawberry Cheesecake.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau pesan apa, Nat?" Untuk sejenak Amanda melihat keragu-raguan terpancar di wajah Nathaniel. Amanda menyipitkan mata, memberi tatapan cepat-pesan-kalau-tidak-berarti-cari-masalah kepada sepupunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan segera Nathaniel menangkap tatapan itu, dan setelah memandang daftar pilihan rasa selama kira-kira lima menit, akhirnya ia berkata, "Um, aku mau White Chocolate. By the way, Amanda, terima kasih banyak." Amanda tersenyum, kemudian berbicara cepat kepada sang pegawai toko, "Permisi, kami pesan satu Strawberry Cheesecake dan satu White Chocolate. Oh, dengan topping Choco Sauce untuk keduanya. Terima kasih banyak."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-5837294149103110399?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/5837294149103110399/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=5837294149103110399&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5837294149103110399'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5837294149103110399'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/worth-to-try-ice-cream-everyone.html' title='&quot;Worth To Try&quot;, Ice Cream Everyone'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-7822761789412181711</id><published>2009-09-02T19:38:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T19:39:23.609-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Need A Book? - 1978/1979 - #2</title><content type='html'>Amanda mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja counter dengan berirama, sambil menggumamkan lagu favoritnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I decided long ago&lt;br /&gt;Never to walk in everyone shadow&lt;br /&gt;If I failed, if I succed&lt;br /&gt;At least I live as I believe&lt;br /&gt;No matter what they take from me&lt;br /&gt;They can take away my dignity...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menghela nafas ketika akhirnya seorang pegawai toko memberikan paket buku pesanannya. "Dan, ini. 25 galleon." Tanpa basa-basi. Amanda mengambil 25 keping galleon, menyerahkannya kepada gadis di hadapannya, dan mengucapkan terima kasih. Lihat, kan? 25 galleon, jauh sekali berbeda dengan harga satu set seragam. Ck, ck. Buku, beres. Hm, berarti tinggal... kuali dan ramuan. Oh, hewan peliharaan juga. Tapi sebelum itu-- Amanda memandang ruangan toko tersebut dengan pandangan lapar-- ia tidak boleh melewatkan kesempatan emas menjelajah toko buku. Dengan semangat menggebu-gebu, Amanda menghampiri rak terdekat. Woa. Bukunya amat banyak, tentu saja. Amanda memandangi buku-buku tersebut satu persatu. Kebanyakan buku di situ juga telah berada di rak milik Amanda di rumah Paman Amethyst, tapì sebagian lagi belum. Sihir Gila untuk Penyihir Sinting, Bola Pecah : ketika nasib baik berubah menjadi nasib buruk, Pria yang Terlalu Mencintai Naga, wew, masih banyak ternyata buku yang belum ia miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mencolek bahu Nathaniel. "Bawa alat tulis tak?" Untuk sesaat Nathaniel sibuk mencari-cari alat yang dapat digunakan untuk menulis. Kemudian ia menyerahkan sebuah pena bulu kepada Amanda. Amanda menemukan beberapa carik perkamen kecil yang biasa digunakan untuk memo di meja counter, dan menuliskan judul-judul buku yang belum ia miliki. Setelah selesai, ia memberikan perkamen tersebut kepada Nathaniel. "Tolong berikan pada Paman ya Nat." Amanda nyengir, kemudian melanjutkan, "Ini buku-buku yang belum ada di rakku, mungkin Paman bersedia mencarikannya untukku." Aduh, jadi merepotkan. Tapi, mau bagaimana lagi. Tidak mungkin ia membawa buku sebanyak itu ke Hogwarts, ditambah pula buku-buku itu tak tertulis dalam daftar. Di tengah kesibukannya melihat-lihat, matanya tertumbuk pada buku favoritnya : Quidditch Dari Masa ke Masa. Wah. Ia telah membaca buku tersebut ratusan kali, hingga ia hafal isinya. Amanda berkunjung ke beberapa rak lagi sebelum beranjak pergi ke luar toko, sambil bersusah payah mengangkat buku-buku pelajaran yang banyak itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC: Credit : The Greatest Love of All - George Benson)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-7822761789412181711?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/7822761789412181711/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=7822761789412181711&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7822761789412181711'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7822761789412181711'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/need-book-19781979-2.html' title='Need A Book? - 1978/1979 - #2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3095753360543983012</id><published>2009-09-02T19:37:00.001-07:00</published><updated>2009-09-02T19:38:11.537-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Jubah Untuk Semua - 1978 - #2</title><content type='html'>Nice. Di Toko Jubah Madam Malkin Amanda dilayani dengan cepat. Tak berapa lama setelah ia memesan, sang pegawai toko segera kembali dengan membawa bungkusan satu paket seragam Hogwarts di tangannya. Andai semua toko di Diagon Alley seperti itu. "You're welcome. Seratus tiga puluh lima galleon, Ms Steinhart." Pegawainya juga ramah. Amanda tersenyum senang. Ia merogoh kantung uang miliknya, mengambil seratus tiga puluh lima galleon, dan menyerahkannya kepada pegawai di hadapannya. Setelah beres, Amanda berpaling pada Nathaniel. "Well, aku ingin berkeliling sejenak, Nat. Di luar panas." Nathaniel tersenyum simpul. Tanpa menunggu jawaban sepupunya, Amanda mulai melangkah, mengamati segala hal yang berada dalam ruangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama kali dilihatnya adalah sebuah jubah. Amanda menyentuh jubah itu, meraba bahannya. Kasar. Amanda membungkuk, membaca keterangan yang tertulis di bagian bawah jubah : Jubah bekas, 15 Galleon. Hm. Amanda mengerutkan kening. Heran. Untuk apa memajang jubah bekas? Selanjutnya, langkah Amanda terhenti di depan sebuah jubah mewah, berlabel 'Jubah pesta, Kualitas tinggi, 95 galleon.' Ck, ck... Untuk apa sih mengeluarkan uang begitu banyak hanya untuk satu stel baju? Tidak masuk akal. Lebih baik uangnya digunakan untuk membeli buku. Tapi, mau tak mau Amanda merasa penasaran juga dengan jubah pesta itu. Apa sih istimewanya? Amanda meraba tekstur luar jubah, di sana terukir berbagai macam pola rumit, menambah kesan glamor. Glamor, ih. Amanda jadi teringat kejadian beberapa minggu lalu, saat sahabat Mugglenya, Shirleen, berulang tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu rumah Shirleen amat sangat ramai sekali, semua orang yang hadir memakai pakaian mereka yang paling bagus. Kecuali Amanda, tentu saja. Di antara para undangan, terdengar suara seorang gadis membangga-banggakan gaun pestanya yang mahal. Amanda tidak mengenalnya. Dan, yang terjadi adalah, saat Amanda sedang mondar-mandir membawa nampan dengan gelas-gelas berisi cola, untuk membantu Shirleen, tak sengaja ia menabrak gadis itu. Gelas-gelas terbalik, menumpahkan seluruh isinya tepat ke atas gaun pesta yang katanya mahal itu. Amanda tidak sengaja, sungguh. Err... Yah, habisnya gadis itu menghalangi jalan sih. Amanda selalu tertawa geli jika mengingat ekspresi gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah puas berkeliling, Amanda melangkah menuju pintu, membukanya dan beranjak keluar, siap untuk berbelanja lagi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3095753360543983012?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3095753360543983012/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3095753360543983012&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3095753360543983012'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3095753360543983012'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/j.html' title='Jubah Untuk Semua - 1978 - #2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-2426162355319076893</id><published>2009-09-02T19:36:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T19:37:07.261-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Wand-ies - #2</title><content type='html'>Amanda berdiri di samping counter, menunggu. Debu beterbangan di sekitarnya, membuat Amanda terbatuk dan bersin berkali-kali. Aduh, tempat ini tidak baik untuk kesehatan. Amanda menggosok-gosok hidungnya yang gatal. Bertahan, tinggal sebentar lagi. Dengan gembira Amanda melihat sang pegawai toko kembali dengan membawa sebuah kotak persegi panjang. Kotak itu terlihat amat tua, sama seperti toko itu, dan dilapisi debu. Wii, keren. Amanda mengerjap-ngerjapkan mata, kemudian menatap kotak tersebut lekat-lekat. "Ini silahkan coba. Ini kayu elder, inti dari sisik naga ekor berduri dan panjang 28 centi. Harga tongkat itu 2 galeon." Pegawai magang itu menyodorkan kotak tersebut kepada Amanda. Amanda menerimanya dengan hati-hati. Sejenak ia tertegun. Sekarang ia punya tongkat sihir. Ya ampun. Wow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu ia sadar bahwa ia belum membayar. Amanda segera merogoh saku mencari kantung uang yang diberikan goblin Gringotts, mengambil 2 keping emas Galleon, dan menyerahkannya kepada pegawai toko. Setelah mengucapkan terima kasih, Amanda bergeser beberapa langkah dari counter, kemudian ia mengangkat kotak di tangannya hingga setinggi dagu. Ia menoleh ke arah Nathaniel. "Sihir, Nat. Tongkat. Err... maksudku tongkat sihir, Nat. Aku punya tongkat sihir! Aku tidak percaya..." Amanda mengguncang-guncang bahu Nathaniel saking gembiranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sst, Amanda, jangan berisik..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ups, sori," ujar Amanda. "Habisnya aku senang sekali. Coba kita lihat bagaimana rupanya." Dengan hati berdebar-debar, Amanda mengangkat tutup kotak. Dipandangnya sebilah tongkat yang tergeletak di dalamnya. Tongkat itu berwarna cokelat pekat, gagangnya memiliki ukiran-ukiran rumit. Well, 28 senti, ukuran yang ideal menurut Amanda. Dengan amat perlahan ia menggenggam tongkat tersebut. Sebuah sensasi menggelenyar menyenangkan mengalir di tubuh Amanda. Ia ingat, satu hal yang selalu ditekankan oleh pamannya tentang tongkat sihir adalah: tongkatlah yang memilih penyihir. Tidak mengherankan jika pada suatu saat seorang penyihir luar biasa mendapatkan tongkat yang sama sekali tidak ampuh, begitupun sebaliknya. Tapi, dari yang pernah Amanda baca, hal seperti itu amat jarang terjadi. Amanda sendiri tidak tahu apakah sensasi yang barusan ia rasakan merupakan pertanda baik atau tidak. Semoga saja baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo, Nat." Tanpa mencoba terlebih dahulu, Amanda melangkah keluar toko dengan hati bahagia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-2426162355319076893?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/2426162355319076893/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=2426162355319076893&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2426162355319076893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2426162355319076893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/wand-ies-2.html' title='Wand-ies - #2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3784203108891422788</id><published>2009-09-02T19:04:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T19:05:41.294-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surat dari Hogwarts'/><title type='text'>Mendapat Surat 1.7</title><content type='html'>Hari yang indah. Indah sekali, bagi Amanda. Amanda melenggang dengan hati bahagia bersama sepupunya, Nathaniel. Senyuman mengembang di bibirnya, dengan sedikit melompat-lompat ia berjalan pulang ke rumah. Sepupunya, Nathaniel, berjalan di sampingnya, berusaha mengimbangi langkah Amanda. Atap rumah pamannya yang berwarna biru tua telah terlihat di kejauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda baru saja pulang dari stadion klub sepak bola Muggle favoritnya sepanjang masa, Arsenal FC. Dan kali ini mereka menang lagi. Amanda tersenyum lebar, mengingat-ingat aksi para pemain sepak bola idolanya di lapangan hijau. Keren. “Oh, please, Amanda. Jangan senyum-senyum sendiri seperti itu. Mengerikan, tahu,” protes Nathaniel. Amanda mencibir. Biarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di depan pintu rumah, Amanda menggesek-gesekkan sepatunya ke rumput. Jalan-jalan becek dan berlumpur. Amanda tidak ingin mengotori ruangan depan. Setelah menurutnya cukup bersih, ia melangkah masuk, melepas sepatu dan meletakkannya di rak. Sip. Ia melangkah dengan santai ke ruang tengah, menyapa pamannya yang sedang duduk di sofa, dan bergegas menaiki tangga menuju kamarnya. Well, tidak mendapatkan respon apapun, langkah Amanda terhenti. Aneh. Biasanya Paman Amethyst selalu bersemangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda melongokkan kepala ke bawah, melihat kalau-kalau ada sesuatu yang salah. Nathaniel sekarang telah duduk di samping ayahnya, mereka berdua sedang mengamati secarik perkamen dengan amat serius. Ada apa sih? Amanda berbalik dan menuruni tangga. Kedua orang itu sepertinya tidak sadar Amanda berada di situ. Amanda menghampiri sofa, menelengkan kepala, menunggu mereka selesai membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat kemudian, Paman Amethyst menurunkan perkamen dalam genggamannya, menghela napas. Amanda memberanikan diri bertanya, “Apa sih itu, Paman? Serius sekali sepertinya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paman Amethyst menundukkan kepala. Aduh, ada apa sih? Amanda memutuskan untuk duduk di sebelah pamannya itu. Pria setengah baya itu mengangkat wajah, ekspresinya tidak terbaca. Ia menyodorkan perkamen itu kepada Amanda. “Sebaiknya kau baca sendiri,” ujar Paman Amethyst murung. Amanda mengerutkan kening bingung. Ia jadi takut melihat Pamannya seperti itu. Dengan sedikit ragu, Amanda mengambil perkamen itu. Ia mendelik ke arah Nathaniel, kemudian mengangkat alis, bertanya. Nathaniel diam saja. Tidak mendapatkan jawaban, Amanda mengalihkan perhatian kepada perkamen di tangannya, dan mulai membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Quote:&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;    SEKOLAH SIHIR HOGWARTS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kepala sekolah: Albus Dumbledore&lt;br /&gt;    (Order of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir, Konfederasi Sihir Internasional)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Miss Steinhart yang baik, Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan. Tahun ajaran baru mulai 1 September. Hormat saya, Minerva McGonagall Wakil Kepala Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    SEKOLAH SIHIR HOGWARTS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seragam&lt;br /&gt;    Siswa kelas satu memerlikan:&lt;br /&gt;    1. Tiga setel jubah kerja sederhana (hitam)&lt;br /&gt;    2. Satu topi kerucut (hitam) untuk dipakai setiap hari&lt;br /&gt;    3. Sepasang sarung tangan pelindung (dari kulit naga atau sejenisnya)&lt;br /&gt;    4. Satu mantel musim dingin (hitam, kancing perak)&lt;br /&gt;    Tolong diperhatikan bahwa semua pakaian siswa harus ada label namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Buku&lt;br /&gt;    Semua siswa harus memiliki buku-buku berikut:&lt;br /&gt;    Kitab Mantra Standar (Tingkat 1) oleh Miranda Goshawk&lt;br /&gt;    Sejarah Sihir oleh Bathilda Bagshot&lt;br /&gt;    Teori Ilmu Gaib oleh Adalbert Waffling&lt;br /&gt;    Pengantar Transfigurasi Bagi Pemula oleh Emeric Switch&lt;br /&gt;    Seribu Satu Tanaman Obat dan Jamur Gaib oleh Phyllida Spore&lt;br /&gt;    Cairan dan Ramuan Ajaib oleh Arsenius Jigger&lt;br /&gt;    Hewan-hewan Fantastis dan di Mana Mereka Bisa Ditemukan oleh Newt Scamander&lt;br /&gt;    Kekuatan Gelap: Penuntun Perlindungan Diri oleh Quentin Trimble&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Peralatan lain&lt;br /&gt;    1 tongkat sihir&lt;br /&gt;    1 kuali (bahan campuran timah putih-timah hitam, ukuran standar 2)&lt;br /&gt;    1 set tabung kaca atau kristal&lt;br /&gt;    1 teleskop&lt;br /&gt;    1 set timbangan kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Siswa diizinkan membawa burung hantu ATAU kucing ATAU kodok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ORANGTUA DIINGATKAN BAHWA SISWA KELAS SATU BELUM BOLEH MEMILIKI SAPU SENDIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menahan napas dan melongo. Benarkah ini? Benarkah? Tidak mungkin. Lalu, mengapa paman dan sepupunya… Ketika Amanda memandang keduanya lagi, cengiran lebar menghiasi wajah mereka. Ah, sial, dia tertipu. Kemudian, tanpa dikomandoi, Amanda mengepalkan tinjunya ke udara, ber-yes-yes ria. Ia berlari-lari mengelilingi ruangan, berteriak-teriak seperti orang gila, sambil mengacung-acungkan surat di tangannya. “Aku masuk Hogwarts, aku masuk Hogwarts…!” Paman Amethyst mengucapkan selamat, wajahnya kelihatan amat bangga. Amanda memeluk Nathaniel, bertanya, “Kau juga masuk kan? Ya kan? Ya kan?” Dengan kecewa Amanda melihat Nathaniel menggeleng. Kenapa? Dengan singkat Nathaniel mengatakan bahwa usianya belum genap 11 tahun, ia masih harus menunggu satu tahun lagi. Yah… tidak seru ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Orangtuamu pasti amat bangga padamu, Amanda,” ujar Paman Amethyst, menepuk punggung Amanda. Amanda terseenyum tipis. Ya, Paman, semoga mereka bangga. Itu harapan terbesarnya di dunia. “Oh, dan aku akan mengantarmu berbelanja di Diagon Alley,” lanjut pria itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak usah, Paman, terima kasih. Aku tahu Paman sedang sibuk. Nathaniel akan mengantarku, ya kan, Nat?” Amanda mencondongkan tubuh, menaik-naikkan alis, mengharapkan jawaban positif. Nathaniel mengangguk dan tersenyum. Yeah, bagus. Pasti akan seru. Kehidupan barunya akan segera dimulai.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3784203108891422788?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3784203108891422788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3784203108891422788&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3784203108891422788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3784203108891422788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/mendapat-surat-17.html' title='Mendapat Surat 1.7'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-8762170264909390653</id><published>2009-09-02T19:03:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T19:04:17.171-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Need A Book? - 1978/1979 - #1</title><content type='html'>(OOC: Timeline: Dari Toko Jubah Madam Malkin)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sip. Satu toko lagi telah selesai disatroni Amanda. Kini di sakunya terselip tongkat sihirnya, dan tangan kanannya menjinjing satu set jubah dan pakaian Hogwarts. Dan akan segera bertambah lagi pastinya. Semoga ia kuat membawa semuanya, Amanda tidak ingin merepotkan Nathaniel. Amanda melangkah kemana kedua kakinya membawa ia pergi. Kira-kira apa lagi ya sekarang? Untuk kesekian kalinya Amanda mengambil gulungan perkamen di salah satu sakunya, kemudian meneliti daftar barang yang masih harus ia beli. Tongkat, sudah. Jubah juga sudah. Sekarang tinggal... buku, kuali, ah, masih banyak. Amanda mengangkat tangan ke atas kening untuk menghindari silaunya matahari, mengedarkan pandangan kepada toko-toko di sekelilingnya. Plang nama sebuah toko menarik perhatiannya. "Toko Buku Flourish &amp; Blotts". Yeah. Toko buku. Tempat favorit Amanda sepanjang masa. Semangatnya kembali menggebu-gebu. Dengan pasti ia mengarahkan kaki ke sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda membuka pintu dan menyeret Nathaniel masuk. Here we go. Selama tinggal bersama pamannya, Amanda telah mengunjungi seluruh toko buku sihir di Inggris, membeli banyak sekali buku di setiap toko. Paman Amethyst memiliki perpustakaan pribadi raksasa di rumah, tempat Amanda menghabiskan waktu senggangnya, berkutat dengan buku-buku berdebu di antara rak-rak hitam yang menjulang sampai ke langit-langit. Amanda tidak akan pernah puas jika belum membaca semua buku yang ada di sana. Sayangnya, Paman Amethyst membatasi bahan bacaan Amanda, memberikannya rak hitam tersendiri, dan melarangnya menyentuh beberapa rak. Belum saatnya, ujar pamannya. Amanda tidak protes. Ia bertekad untuk menyelesaikan seluruh buku di rak milìknya, baru setelah itu membaca buku yang terdapat di rak terlarang. Ketika ia masih kecil pun, saat kedua orangtuanya masih ada, budaya membaca telah diterapkan dengan sungguh-sungguh di rumahnya. Keluarga besar Amanda memang amat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, terutama secara otodidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mengitari ruangan tersebut, terkagum-kagum dengan bermacam-macam buku yang ada disitu, yang belum pernah ia baca. Mau tak mau ia merasa sedih karena harus berpisah dengan buku-buku kesayangannya selama ia bersekolah di Hogwarts. Mudah-mudahan ia punya banyak kesempatan untuk pergi ke perpustakaan nantinya. Setelah puas melihat-lihat, Amanda berjalan ke counter. &lt;b&gt;"Permisi, saya ingin membeli 1 paket buku untuk tahun pertama atas nama Amanda Steinhart."&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-8762170264909390653?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/8762170264909390653/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=8762170264909390653&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8762170264909390653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8762170264909390653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/need-book-19781979-1.html' title='Need A Book? - 1978/1979 - #1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-8930652715712829553</id><published>2009-09-02T19:01:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T19:02:31.308-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hello Flakier'/><title type='text'>Hello! Flakier - #4</title><content type='html'>Yah. Tidak ada yang menyambut ajakannya untuk makan. Ya sudah. Mungkin mereka semua tidak lapar. Hm, beli apa ya? Amanda mengusap-usap dagu, berpikir. Dalam situasi sekarang, entah mengapa Amanda ingin makan bacon dengan telur, tapi waffle spesialnya pun layak dicoba. Hm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kesibukannya berpikir, Amanda mendengar suara anak perempuan berkata, "Err, hei, namaku Jane. Senang bisa bertemu kalian." Amanda memandang anak yang barusan berbicara. Wii, satu lagi teman baru. Amanda tersenyum dan melambaikan tangan. "Hai Jane. Senang bertemu denganmu juga. Mau gabung?" Amanda mengangkat alis, bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum selesai ia berbicara kepada Jane, seorang anak laki-laki bertanya, sepertinya kepada semua orang yang ada di kerumunan itu. "Hei kalian semua murid Hogwarts? Aku baru mau mulai bersekolah untuk tahun pertama," ucapnya. Amanda mengangguk dengan antusias. Yep, Hogwarts, tahun pertama. Anak laki-laki itu kemudian bertanya seperti apakah Hogwarts itu sebenarnya. Well, kali ini Amanda tidak bisa berkata apa-apa, karena ia pun sama, tidak tahu menahu tentang Sekolah Sihir Hogwarts, kecuali dari apa yang ia baca dari buku. Tidak, ia ingin melihat Hogwarts yang sebenarnya dulu sebelum berkomentar. Takut salah. Bisa-bisa ia terkena masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Carla kini sedang mengeluarkan sebuah kantong berwarna ungu dari saku jaketnya, kemudian menuangkan isinya ke meja. Galleon, Sickle, dan Knuts bergemerincing, saling beradu satu sama lain. Amanda melihat dengan heran. "Err, Amanda, bisakah kau jelaskan padaku apa ini?" Carla berkata dengan polosnya. Hah? Apakah orangtuanya sama sekali tidak pernah memberitahunya? Yah, tidak ada salahnya menjelaskan sedikit hal yang Amanda ketahui. Amanda memulai penjelasannya. Mula-mula ia menunjuk koin-koin di atas meja, "Yang emas itu disebut galleon, yang perak sickle, dan yang perunggu itu knuts." Kemudian ia menambahkan, "&lt;br /&gt;Satu galleon itu sama dengan 17 sickle, dan satu sickle sama dengan 29 Knuts. Sedangkan dalam perhitungan uang Muggle, satu galleon itu kira-kira setara dengan 4 poundsterling 93 sen, satu sickle sama dengan 29 sen, dan 1 knut berharga 1 sen. Kau bisa menukarkan uang Muggle dengan mata uang sihir di Gringotts. Err, begitulah kira-kira." Amanda menatap Carla. Apakah anak itu mengerti? Mudah-mudahan. Amanda senang bisa bermanfaat untuk orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OOC: Ada yang salah? PM, please...)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-8930652715712829553?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/8930652715712829553/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=8930652715712829553&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8930652715712829553'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8930652715712829553'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/hello-flakier-4.html' title='Hello! Flakier - #4'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-1705787703299803328</id><published>2009-09-02T18:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T19:01:21.743-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Jubah Untuk Semua - 1978 - #1</title><content type='html'>(OOC: Timeline: Setelah dari Toko Mr. Ollivander)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Perhentian selanjutnya. Amanda mengucek-ngucek mata, kemudian mengedarkan pandang ke seantero jalan. Enaknya ke mana dulu ya? Lihat nanti deh. Amanda kembali melangkah sambil bersiul-siul. Tiba-tiba Nathaniel mencolek bahunya. Amanda menoleh. "Kenapa?" Nathaniel menunjuk bagian belakang baju biru muda Amanda. "Kotor." Amanda memutar pinggangnya sejauh yang ia bisa, berusaha melihat bagian belakang kausnya. Yup, kotor. Terkena lumpur sepertinya. Kapan ya? Amanda berusaha mengingat-ingat. Ya sudahlah. Sama sekali tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarin saja deh, Nat." Malas kalau harus kembali ke Leaky Cauldron lagi. Nathaniel mengedikkan bahu. Amanda tahu, itu artinya terserah. Ia memang tak pernah peduli terhadap masalah penampilan. Tidak. Sebodo amat dengan semua jenis pernak-pernik, make up, baju-baju glamor. Idih. Ia lebih senang memakai topi, celana belel, dan T-Shirt kasual. Lebih nyaman dipakai. Tapi, demi berangkat ke Hogwarts, Amanda harus rela meninggalkan topi-topi kesayangannya, dan menuruti saran pamannya, memakai celana katun baru. Well, yang penting tidak pakai rok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah lamunannya, mata Amanda tertumbuk pada plang nama sebuah toko.&lt;br /&gt;Toko Jubah Madam Malkin. Ke sana dulu, Amanda memutuskan. "Kali ini kau yang masuk duluan, Nat. Tidak boleh protes." Amanda mendorong punggung Nathaniel, yang sudah membuka mulut untuk protes, membuka pintu, dan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woa. Ruangan penuh jubah menyambutnya. Gees, tinggal pilih. Sepertinya semua jubah sama saja, tidak ada yang lebih bagus. Amanda melepaskan Nathaniel, dan menghampiri counter, dan membaca daftar harga. Wew, mahalnya. Jubah pesta, jubah biasa, jubah... bekas? Mungkin yang bekas saja, toh akan sama, asal nyaman dipakai, Amanda tidak keberatan. Tidak, tidak. Amanda menggeleng-gelengkan kepala. Ini tahun pertamanya, ia tak boleh sembarangan. Lebih baik yang satu set saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Permisi, saya ingin membeli satu paket lengkap seragam Hogwarts, atas nama Amanda Steinhart. Terima kasih banyak..."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-1705787703299803328?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/1705787703299803328/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=1705787703299803328&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1705787703299803328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1705787703299803328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/jubah-untuk-semua-1978-1.html' title='Jubah Untuk Semua - 1978 - #1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-6764448758463161483</id><published>2009-09-02T18:58:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T18:59:22.317-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Wand-ies - #1</title><content type='html'>(OOC : Timeline : Dari Gringotts)&lt;br /&gt;Urusan di Gringotts beres. Kini Amanda melenggang di tengah hiruk pikuk jalan Diagon Alley, menderap-derapkan kaki dengan bersemangat. Amanda memang anak yang penuh semangat, kapanpun dan dimanapun. Hal itulah yang seringkali membantunya mendapatkan teman baru. Amanda melompat minggir ketika seekor kucing tiba-tiba muncul dan berlari melewati dirinya. Ramai sekali. Beberapa kali Amanda terdesak-desak tak tentu arah. Tubuhnya memang kecil untuk anak seumurannya. Untung ada Nathaniel yang selalu menolongnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan yakin Amanda menunjuk ke arah sebuah toko. "Itu dia, Nat! Toko Mr. Ollivander! Tempat di mana aku akan membeli tongkat sihirku yang pertama." Dengan sedikit berlari, Amanda melangkah ke arah pintu toko, dan, setelah memastikan Nathaniel mengikutinya, dengan cekatan membukanya. Senyum lebar menghiasi wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;(Marcel)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sudah banyak pengunjung di dalam toko tersebut. Amanda menarik napas dalam-dalam, kemudian mengamati sekitar. Toko yang kelihatan amat tua. Memberikan kesan telah beratus-ratus tahun didirikan. Sengaja berjalan dengan perlahan, Amanda dapat melihat rak-rak yang menjulang sampai ke langit-langit, berisi tumpukan kotak-kotak berbentuk persegi panjang. Pasti isinya tongkat sihir, Amanda yakin. Ia tersenyum-senyum sendiri. Seperti apa ya tongkatnya nanti? Tiba-tiba ia tersadar. Hei, ia tak boleh membuang-buang waktu. Dengan sigap Amanda melangkah menuju counter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Um, permisi. Saya ingin membeli tongkat sihir." Amanda terdiam sejenak. Apa yang dikatakan pamannya soal membeli tongkat sihir? Oh ya. Tanggal lahir. "Tanggal lahir saya 8 Desember. Terima kasih." Yeah. Tinggal menunggu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-6764448758463161483?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/6764448758463161483/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=6764448758463161483&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6764448758463161483'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6764448758463161483'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/wand-ies-1.html' title='Wand-ies - #1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-4082371225325296901</id><published>2009-09-02T18:56:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T18:57:41.798-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Diagon Alley'/><title type='text'>Ambil Uangmu Disini! - #1</title><content type='html'>(OOC: Timeline: Dari Leaky Cauldron)&lt;br /&gt;Smunx&lt;br /&gt;Amanda menguap. Huaahm. Uh, entah mengapa ia tak bisa tidur nyenyak semalam. Kontras dengan Nathaniel, yang mendengkur keras sekali. Dasar. Amanda dan sepupunya itu kini sedang berjalan menyusuri Diagon Alley. Perhentian pertama : Gringotts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangannya yang pertama ke Diagon Alley, membuat Amanda berkali-kali tercengang. Lautan manusia memenuhi tempat itu, ramai sekali. Toko-toko sihir berjejer tak beraturan. Toko-toko buku, kuali, tongkat sihir, toko kelontong, dan masih banyak yang lainnya. Amanda menunduk, memandang secarik perkamen di genggamannya. Daftar barang-barang yang harus dibeli. Well, sepertinya Amanda harus mengunjungi banyak toko. Semangat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata Amanda bergerak kesana kemari, berkali-kali ia menggumam takjub. Sebagai seorang darah murni, Amanda termasuk orang yang gagap sihir memang.Tergila-gila pada ratusan buku milik pamannya, Amanda hampir selalu membaca di waktu senggangnya, tak terlalu peduli pada tempat-tempat sihir. Heu. Karena itulah hari ini merupakan hari yang telah ia tunggu-tunggu sejak lama. Ah, bahagianya. Beberapa menit kemudian, Amanda berhenti. Di depannya menjulang bangunan putih bersih, makhluk-makhluk berseragam merah dan emas berdiri tegak di samping pintu. Goblin. Amanda pernah melihat makhluk yang satu ini di salah satu buku tebal pamannya. Menurut buku itu mereka bukan makhluk yang ramah. Hm, sebaiknya Amanda berhati-hati. Ia menggamit lengan Nathaniel. Mereka berdua pun melangkah menaiki undakan batu putih, dan berhadapan dengan sepasang pintu perak. Amanda ragu-ragu sejenak. "Kau duluan, Nat." Amanda melihat Nathaniel menggeleng. Huf, baiklah. Setelah menghela nafas keras-keras, Amanda melangkahkan kaki ke dalam ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kesekian kalinya, Amanda merasa takjub. Berpuluh-puluh goblin duduk berjejer, terlihat sibuk. Amanda menelan ludah. Nervous. Dengan perlahan Amanda berjalan menuju meja bertuliskan "Pelayanan khusus siswa Hogwarts. Setelah mengumpulkan kepercayaan diri, Amanda berkata kepada goblin di hadapannya, "Permisi, Sir. Sa, saya ingin mengambil uang. Um, 300 galleon sepertinya cukup. I... ini kuncinya. Terima kasih." Berhasil. Fiuh. Sejenak Amanda teringat cerita pamannya. Ayah dan ibunya telah menabung amat banyak untuk masa depannya sebelum mereka pergi. Dan Amanda sangat bersyukur karena itu. Fakta ini membulatkan tekad Amanda untuk melakukan yang terbaik di Hogwarts.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-4082371225325296901?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/4082371225325296901/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=4082371225325296901&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4082371225325296901'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4082371225325296901'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/ambil-uangmu-disini-1.html' title='Ambil Uangmu Disini! - #1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-8308870116007499645</id><published>2009-09-02T18:53:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T18:56:11.280-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Leaky Cauldron'/><title type='text'>Welcome to Leaky Cauldron 1979/1980 - #2</title><content type='html'>Akhirnya. Dia dilayani juga. Tidak ada kamar untuk dua orang? "Um, maaf, miss. Tadi ada yang bilang, tidak boleh pesan dua kamar untuk keluarga yang sama... Well, tapi tak apa kalau boleh. Atau satu kamar kecil juga tidak apa-apa deh. Terimakasih banyak." Amanda tersenyum senang. Pelayan yang ramah. Kemudian Amanda menoleh kepada sepupunya, dan meminta maaf karena telah meninggalkannya tadi. Nathaniel tersenyum. "Tidak apa-apa. Lagipula, aku sedang malas duduk," ujarnya. Aduh, betapa Amanda menyayangi sepupunya yang satu ini. Sejak tinggal bersama pamannya, Amanda dan Nathaniel menjadi sangat dekat. Sayang sekali Nat belum bisa masuk Hogwarts tahun ini. Pasti akan lebih menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, Amanda menunggu kunci kamar. Semoga tidak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Post yang bikin gue dapet surcin =)) *ngakak*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-8308870116007499645?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/8308870116007499645/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=8308870116007499645&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8308870116007499645'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8308870116007499645'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/welcome-to-leaky-cauldron-19791980-2.html' title='Welcome to Leaky Cauldron 1979/1980 - #2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-6889696938808879323</id><published>2009-09-02T18:51:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T18:52:12.678-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hello Flakier'/><title type='text'>Hello! Flakier - #3</title><content type='html'>Ternyata anak laki-laki itu bernama Jonathan Larson Baned. Dan ia bersedia untuk ditraktir, tentu saja. "Panggil Amanda saja. Um, bagaimana seharusnya aku memanggilmu?" tanya Amanda. Ia tersenyum. Senangnya punya teman baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, kericuhan di sekeliling Amanda masih berlangsung. Akhirnya, sebuah gelas berisi air bening disodorkan oleh seseorang, lebih tua daripada Amanda sepertinya, untuk menyelamatkan ikan dalam plastik bocor. Beruntungnya ikan itu, tidak tenggelam dalam alkohol. Hei, jangan kira Amanda tidak memperhatikan apa yang terjadi. Walaupun acuh tak acuh, telinganya tetap terbuka lebar. Amanda berharap semua orang dalam kerumunan ini mau menjadi temannya. Will they?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menengadahkan kepala ketika anak perempuan yang datang dan bertanya apa yang terjadi memperkenalkan dirinya. "Hei, aku Carla Guinliugi. Duh, bisa kasih tau tidak disinì ada makanan apa saja?" Amanda tersenyum dan mengulurkan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, Carla. Aku Amanda Steinhart. Senang berkenalan denganmu. Err, ngomong-ngomong soal makanan, kau bisa melihat daftarnya disana. " Amanda menunjuk ke arah bar, kemudian menyipitkan mata mencoba membaca menu dari kejauhan. Setelah berusaha sampai matanya sakit, Amanda menyebutkan harga-harga makanan yang menurutnya enak. Bacon dengan telur 9 sickle 20 knuts, Pai ayam 14 sickle 25 knuts, Waffle spesial 13 sickle. Kemudian, Amanda bertanya kepada Baned dan Carla apa yang ingin mereka pesan. Hm, sepertinya Baconnya enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda memandang gelas Butterbeer di hadapannya. Isinya tinggal setengah. Tidak apa-apalah, tidak usah beli lagi. Oh iya, Nathaniel. Amanda melongokkan kepala. Nathaniel masih berdiri di dekat bar. Ck, ck, pelayanan tempat ini buruk sekali. Kemudian, Amanda menolehkan kepala kembali ke arah kerumunan di depannya. Ia berdeham, lalu berseru lantang, "Um... Halo semua. Ada yang mau ikut makan?"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-6889696938808879323?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/6889696938808879323/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=6889696938808879323&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6889696938808879323'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6889696938808879323'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/hello-flakier-3.html' title='Hello! Flakier - #3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-7092162619340062315</id><published>2009-09-02T18:50:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T18:51:14.937-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hello Flakier'/><title type='text'>Hello! Flakier - #2</title><content type='html'>Cengiran Amanda lenyap ketika mendengar anak laki-laki itu mendengus keras. Well, sepertinya anak itu kesal. Amanda melirik stoples berisi kecebong di meja. Tutupnya basah. Ups. Kesalahan Amanda. "Kau, untung saja Flakier tidak kenapa-napa, ceroboh." Anak laki-laki itu menggerutu. Amanda menggaruk hidung, bingung mau berkata apa. Dia kan sudah minta maaf... Tidak, itu tidak cukup. Apa yang harus dia lakukan? Mencari musuh bahkan sebelum kau sampai ke tujuan bukan hal yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah kebingungannya, seorang anak perempuan berjalan ke arah Amanda dan si anak laki-laki. Yang kemudian dilakukan oleh gadis itu benar-benar membuat Amanda tercengang. Anak perempuan itu mengambil kecebong dalam toples, bertanya bagaimana jika ia memencet makhluk itu. Amanda melongo. Apa-apaan anak ini? Stres mungkin. Kemudian semuanya berlangsung cepat. Si anak laki-laki menepis tangan si anak perempuan stres, memungut kecebongnya yang jatuh ke lantai. Seorang anak perempuan lagi datang, bertanya apa yang terjadi. Disusul oleh seorang anak laki-laki yang tiba-tiba menggelitik si anak perempuan stres. Ck, ck, ada apa sih ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu orang lagi datang, membawa ikan dalam plastik yang bocor. Dan dalam sekejap kerumunan telah terbentuk, mengelilingi meja tempat si anak laki-laki empunya kecebong duduk. Wew, ramainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menyadari, mereka memang menghalangi jalan, si anak laki-laki yang ia tumpahi butterbeer barusan mengatakannya. "Duduk, kalau mau," ujar anak lelaki itu lagi. Pusing karena semua kejadian beruntun itu, Amanda tidak menolak. Ia bergeser ke samping, menarik kursi di sebelah anak laki-laki kecebong, dan duduk. Oh, Amanda baru sadar kalau Nathaniel sedari tadi tidak ada disitu. Amanda mengedarkan pandangan sejenak. Ternyata sepupunya itu masih berdiri di dekat bar, menunggu kunci kamar. Dasar, kok tidak bilang sih. Ya sudah, kalau itu maunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda memperhatikan orang-orang yang berkerumun di dekatnya. Ia senang dengan keramaian seperti ini. Siapa tahu ia bisa mendapatkan teman baru. Tidak peduli dengan kejadian yang sedang berlangsung, Amanda menoleh kepada korban tumpahan butterbeernya. "Maaf sekali lagi soal yang tadi. Begini saja, kau kutraktir, bagaimana? Hitung-hitung sebagai permintaan maafku." Amanda berkata dengan cuek. "Aku Amanda Steinhart, by the way. Kau?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Personil kerumunan itu bertambah lagi. Bodo ah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-7092162619340062315?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/7092162619340062315/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=7092162619340062315&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7092162619340062315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7092162619340062315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/hello-flakier-2.html' title='Hello! Flakier - #2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-8149202147650808066</id><published>2009-09-02T18:49:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T18:50:32.458-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hello Flakier'/><title type='text'>Hello! Flakier - #1</title><content type='html'>Huf... Lama sekali sih. Antrian di depan bar masih banyak. Kapan gilirannya mendapatkan kunci? Sedari tadi Amanda menunggu, kopernya tergeletak begitu saja di sampingnya. Amanda mengetuk-ngetukkan tangan ke meja. Sabar, sabar. Butterbeer pesanannya sudah di tangan, tapi untuk pesanan kamar, pegawai di belakang bar belum melayaninya. Amanda menghela napas. Dalam keadaan seperti ini, kebiasaan Amanda mengamati sekitar timbul. Matanya menyisir setiap sudut ruangan. Well, ruangan yang luas, tentu, jika tidak harus dikemanakan ratusan murid Hogwarts yang mampir ke sini tiap tahun? Di sekeliling ruangan Leaky Cauldron bertebaran berbagai macam dan jenis makhluk, dimulai dari seekor kucing yang terlihat mendengkur malas, sesosok peri rumah, anak-anak seumuran dirinya bersama ayah atau ibunya, yang, Amanda yakin, hendak berbelanja di Diagon Alley, dan masih banyak lagi. Amanda memperhatikan semua itu dengan sedikit iri. Ah, andai saja ibunya ada di sini sekarang, mengantarnya... Tidak, tidak, Amanda. Jangan seperti anak kecil begitu. Amanda mengalihkan pandangan dan kembali menatap bar, menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya bakal lama. Akhirnya ia mengangkat kopernya, menyikut Nathaniel, menyuruh sepupunya itu untuk mengikutinya. Lebih baik ia mencari tempat duduk dulu, kakinya sudah mulai pegal. Amanda menarik kopernya tanpa susah payah, isinya memang sedikit. Ia tidak punya banyak pakaian, karena menurutnya hal-hal seperti baju dan semacamnya itu tidak penting. Amanda berjalan diantara meja-meja dan kursi berdebu, mencari tempat yang kira-kira nyaman. Di mana ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali kaki Amanda terantuk permukaan lantai kayu yang tidak rata. Ia menggerutu. Tekstur lantai seperti itu bisa membahayakan orang yang lewat. Amanda menyeret langkah menuju meja kosong di pojok ruangan, tersenyum kepada seorang anak kecil yang memandanginya. Kemudian, mata Amanda tertumbuk pada sesosok anak laki-laki yang sedang mengamati sesuatu di toples. Sebuah kecebongkah? Mata Amanda berbinar-binar. Wah, lucu. Tiba-tiba, untuk kesekian kalinya kaki Amanda terantuk lekukan di lantai, tapi kali ini ia tidak bisa mempertahankan keseimbangan tubuhnya. Butterbeer di tangannya oleng, lalu, dengan terkejut Amanda melihatnya tumpah membasahi baju si anak laki-laki yang memegang toples. Aduh. Bodoh kau Amanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aduh, maaf, maaf, tidak sengaja. Maaf, maaf..." Dengan heboh Amanda mencari sesuatu di kantungnya untuk membersihkan tumpahan itu. Tidak ada apapun. Amanda nyengir bersalah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-8149202147650808066?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/8149202147650808066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=8149202147650808066&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8149202147650808066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8149202147650808066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/hello-flakier-1.html' title='Hello! Flakier - #1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-5635640714327703333</id><published>2009-09-02T18:44:00.000-07:00</published><updated>2009-09-02T18:48:52.315-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Welcome to Leaky Cauldron'/><title type='text'>Welcome to Leaky Cauldron 1979/1980</title><content type='html'>Amanda berjalan santai di pinggir trotoar kota London yang bising, beriringan dengan sepupunya, Nathaniel. Ia menolak tawaran pamannya untuk mengantarnya berbelanja ke Diagon Alley, dan memutuskan mengajak Nathaniel bersamanya. Hitung-hitung agar sepupunya itu tidak canggung lagi bila berbelanja tahun depan. Di samping itu, Amanda telah terbiasa melakukan semua hal sendirian, dan ia tidak suka bila harus merepotkan orang lain. Tidak. Sejak kecil, saat kedua orangtuanya masih hidup, Amanda telah diajarkan untuk berdiri sendiri, untuk tidak bergantung pada orang lain. Dan hal itu telah melekat erat-erat di hatinya. Suatu saat ayahnya pernah mengucapkan sebuah harapan, yang tak akan pernah Amanda lupakan. Dengan sepenuh hati ia berjanji untuk berusaha mewujudkan hal tersebut. Harapan ayahnya tidak muluk-muluk. Ia hanya ingin Amanda menjadi seseorang yang bermanfaat bagi semua orang. Sederhana, tetapi tak mudah untuk melaksanakannya, kau tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya. Setelah berjalan selama kurang lebih 15 menit, Amanda kini berdiri di depan Leaky Cauldron, penghubung menuju Diagon Alley sekaligus tempat ia dan Nat akan menginap beberapa hari. Amanda membuka pintu tersebut perlahan, dan segera disambut hiruk pikuk para pengunjung dalam ruangan. Leaky Cauldron amat ramai di awal tahun ajaran baru Hogwarts, tentu, Amanda tahu itu. Ia mengedarkan pandangan, mencari meja kosong. Masih ada beberapa, syukurlah. Memutuskan untuk memesan kamar terlebih dahulu, Amanda melangkah menghampiri bar tempat seorang pelayan sedang berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Permisi, saya ingin memesan sebuah kamar atas nama Amanda Steinhart. Yang cukup untuk dua orang, please. Oh, dan 2 gelas Butterbeer. "&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-5635640714327703333?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/5635640714327703333/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=5635640714327703333&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5635640714327703333'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5635640714327703333'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/09/welcome-to-leaky-cauldron-19791980.html' title='Welcome to Leaky Cauldron 1979/1980'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-624664121496015512</id><published>2009-08-29T20:27:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T20:29:04.140-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Mantra'/><title type='text'>Mantra Kelas 1 - Semua Asrama - #1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Mantra Kelas 1 - Semua Asrama - #1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sulit punya ayah seorang penyihir hebat. Nathaniel menghela napas dan menggerutu sepanjang perjalanan menuju Kelas Mantra, sesekali mengacak rambut hitamnya dengan sembarangan. Pertemuan kesekian kalinya dengan mata pelajaran yang satu ini entah mengapa selalu membangkitkan persepsi suram, membangunkan sisi gelap hatinya--seakan ada mantra modifikasi yang membolak-balik benaknya dan mengirimkan impuls ke otaknya untuk mengurungkan niat melanjutkan langkah menghadiri kelas kali ini. Tidak, ia bukannya tidak senang pada pendidikan mantra memantrai, hanya sedikit malas. Itu saja. Apakah belum cukup pelajaran mantra selama dua belas tahun ke belakang bersama ayahnya tercinta--yang seringkali menghabiskan waktu terlalu lama sehingga ia tak sempat berlatih sepak bola? Bosan, tahu tidak. Dad memang selalu meninggikan kepintaran akademik di atas hal lain, bahkan sedikit mengabaikan keinginan Nat dan Amanda untuk bermain bersama teman sebaya. Dan sialnya--atau untungnya?--Dad memiliki ilmu seluas dunia, seakan tak pernah habis. Fakta tersebut berarti mereka pun sepertinya harus terus belajar dan belajar, no matter what happen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, itu terjadi sebelum mereka berdua terdaftar sebagai siswa Hogwarts. Setelah terdaftar? Ck, tidak jauh berbeda. Hampir setiap hari ia ditempa dengan hal-hal yang 'katanya' amat penting untuk diketahui dan dipelajari seorang penyihir, hal-hal yang berkaitan dengan masa depan. "...agar kau dapat tumbuh menjadi seorang penyihir hebat, Son." Ya, hanya itu. Hanya kalimat itu yang menjadi bekal Nat untuk melawan segala kemalasan dan ketidakinginannya mempelajari sihir. Huft, mimpi besar memang membutuhkan kerja keras dan kesungguhan yang besar pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai. Nat melangkah memasuki ruangan kelas, menjawab dalam hati ketika Profesor Flitwick mengucapkan selamat pagi. Sebuah kursi paling depan di bagian terkanan ruangan kelihatan strategis. Ia menghenyakkan diri di atas kursi yang dimaksud, merogoh saku dan mengeluarkan tongkat Eldernya. Firasat barusan melintas. Bakal praktek. "Nah, nah, anak-anak... Seperti telah kujanjikan pada pertemuan sebelumnya, hari ini kita akan mencoba mantra-mantra yang telah kalian pelajari teorinya. Masih ingat?" ujar sang Profesor. Oke, ternyata bukan firasat. Alam bawah sadarnya hanya mengantarkan memori samar tentang sesuatu yang ia lupakan. Jadi hari ini praktek? Bagus. Tidak akan semembosankan biasanya. Silangkan jari, Nat, dan berharaplah. Matanya mengerjap ketika sebuah gembok dan sehelai bulu angsa mendarat dengan mulus di atas meja di hadapannya. Sebentar. Mantra yang diajarkan pada pertemuan sebelumnya adalah... Err...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baik, kita akan melakukan praktik hari ini secara bertahap. Jangan ada yang mencoba mantra lain selain yang aku perintahkan! Atau-" Nat terbatuk pelan ketika melihat perubahan mimik sang profesor saat mengucapkan kalimat tersebut. Matanya yang salahkah atau memang ada sebersit seringai mengerikan di wajah itu? "-kalian akan dihadiahi ganjaran setimpal untuk yang tidak patuh, apalagi berbuat onar." Fine. Lagipula ia tidak berniat untuk membuat onar. Tak ada gunanya. Anak laki-laki berambut hitam itu memasang telinga baik-baik, mencermati tiap-tiap instruksi dengan seksama. Baiklah, mari kita coba. Ia menggulung lengan jubahnya sedikit, memantapkan genggaman tangannya pada sang tongkat, berusaha berkonsentrasi. Colloportus. Mantra Pengunci, rite? Sudah pernah diajarkan kalau tidak salah. Tinggal mempraktekkan saja, tidak sulit. Nat mengangkat tongkatnya, kemudian dalam sekali helaan napas ia menyerukan mantra yang diinstruksikan tepat ke arah gembok di hadapannya, "Colloportus!" Secara perlahan gembok tersebut melakukan pergerakan, besinya bergeser ke arah yang semestinya, dan... Locked. Suara berdecit keras membuat Nat sedikit berjengit, namun jengitan tersebut berubah seketika menjadi senyuman puas. Done. What's next?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-624664121496015512?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/624664121496015512/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=624664121496015512&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/624664121496015512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/624664121496015512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/mantra-kelas-1-semua-asrama-1.html' title='Mantra Kelas 1 - Semua Asrama - #1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-5798923633278274469</id><published>2009-08-29T19:29:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T19:34:23.684-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Herbologi'/><title type='text'>Kelas 1 - Semua Asrama - #2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Kelas 1 - Semua Asrama - #2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengajakku sekelompok? Oke, tapi kita masih kurang dua anak lagi—“ Oke. Itu kata yang sedari tadi Nat tunggu. Dua orang lagi, eh? Tidak harus, kan? Profesor Sprout menjelaskan bahwa kelompok terdiri dari 2 sampai 4 orang, tidak lebih, tetapi boleh kurang dari empat. Ia tidak mau menunggu lebih lama la--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, ada Sullivan. Anak laki-laki itu mengajukan diri untuk turut bergabung. Bagus. Entah mengapa setelah bertemu untuk pertama kali dengan Sullivan pada saat insiden gadis-berambut-api-jatuh-dari-langit di danau, Nat seringkali bertemu lagi dengannya di waktu dan tempat yang berbeda. Yang kedua di halaman, bahkan mereka sempat bertanding sepakbola 5 on 5, dan kali ini adalah yang ketiga. Bukannya keberatan, tidak sama sekali, ia hanya heran atas kebetulan yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis lain--Maraschine memanggilnya dengan sebutan Glo--juga turut bergabung. Sudah cukup, rite? Ayolah, ia ingin cepat-cepat menyelesaikan kelas Herbologi. Nat mengerling Maraschine ketika gadis itu bertanya mengenai Jerat Setan. Jerat Setan. Anak laki-laki berambut hitam tersebut menunduk, memandang perkamen dari Amanda, mencari tahu apakah informasi mengenai Jerat Setan tertulis disana. Yeah, ada. “Ini, dan kali ini ayo kerjakan sama-sama.” Sebuah perkamen disodorkan. Ia turut melempar senyum pada Maraschine. Hm, sepertinya kesan pertama yang didapatkan Nat mengenai gadis yang satu ini tidak salah. Maraschine merupakan tipe anak perempuan baik-baik, suka menolong, tidak sombong dan rajin menabung. Tidak ada alasan untuk waspada terhadapnya. Dengan begitu Nat bisa lebih bersahabat dan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel berdeham, tak ingin membuang waktu, ia mulai membaca barisan kalimat yang tertera di perkamen pemberian sepupunya, &lt;b&gt;"Jerat Setan, salah satu tumbuhan paling fenomenal di dunia sihir, memiliki kemampuan untuk membatasi pergerakan mangsanya dengan cara membelit atau mencekik menggunakan sulur-sulurnya. Tanaman ini menganut prinsip 'serang-balik', dalam artian akan mengencangkan belitannya jika mangsa atau sesuatu yang berada di atasnya melakukan perlawanan.&lt;br /&gt;Jerat Setan amat sensitif terhadap cahaya dan api--akan berhenti bergerak di lingkungan yang penuh dengan cahaya terang, dan akan mundur jika bertemu dengan api."&lt;/b&gt; That's it. Ia memicingkan mata, menelusuri perkamen sekali lagi dari atas sampai bawah, mencoba mencari apakah ada yang terlewat. Tidak ada. Well, masih kurang ia rasa. Nat mengangkat alis kepada ketiga teman kelompoknya, mengajukan pertanyaan 'bagaimana, eh?" non-verbal. Atau mungkin untuk Jerat Setan dicukupkan sajalah. Masih ada topik lain yang harus dibahas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nat mendekatkan perkamen kosong pemberian Maraschine ke arah ketiga personil kelompok. "Ada yang bersedia menulis?" Serius, ia capek. "Ngomong-ngomong, mengenai Aconyte dan Eucalyptus, mungkin aku bisa sedikit membantu," ujar Nat, kemudian ia meletakkan perkamen dari Amanda di atas meja, sedemikian rupa sehingga mereka berempat dapat membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Quote:&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Eucalyptus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    Eucalyptus merupakan penghuni asli benua Australia, namun dapat juga ditemukan di belahan dunia selatan, seperti di Filipina, Indonesia, dan Papua Nugini.&lt;br /&gt;    Berguna sebagai pewangi dan pembersih karpet, makanan koala, bahan furnitur mini, serta minyak essens untuk disinfektan. Nektar dari daun Eucalyptus berguna untuk menghasilkan madu monofloral berkualitas tinggi. Kayu Eucalyptus dapat digunakan sebagai hiasan rumah di dalam maupun di luar, timer, kayu bakar dan kayu pulp.&lt;br /&gt;    Minyak Eucalyptus yang telah didistilasi kukus dari daunnya bahkan dapat digunakan sebagai suplemen makanan (dalam jumlah yang sedikit tentunya). Minyak tumbuhan ini juga memiliki sifat menolak serangga, dan telah digunakan sebagai bahan dari penolak nyamuk komersial.&lt;br /&gt;    Tanaman ini sangat mudah terbakar. Dalam cuaca panas, tanaman ini dengan mudah terpanggang sinar matahari dan terbakar. Dan apinya dengan mudah menyebar. Beberapa jenis pohon Eucalyptus dapat meledak. Di dalam cuaca panas itu pula, minyak Eucalyptus yang menguap dapat memberi kesan kabut biru.&lt;br /&gt;    Satu hal penting yang harus diingat, tanaman ini beracun. &lt;b&gt;&lt;u&gt;Dilarang keras&lt;/u&gt;&lt;/b&gt; melahap Eucalyptus mentah-mentah, kecuali kau terserang depresi akut dan ingin mati cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup sepertinya, rite? Mari bahas tiga yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Credit to wikipedia, Sellabloompicers, dan banyak sumber lain. Esai mengenai Aconyte dapat dilihat di postingan Nathaniel sebelumnya. CMIIW =9)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-5798923633278274469?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/5798923633278274469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=5798923633278274469&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5798923633278274469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5798923633278274469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/kelas-1-semua-asrama-2.html' title='Kelas 1 - Semua Asrama - #2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-172794898331131734</id><published>2009-08-29T19:07:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T19:09:20.559-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Snowball Fight'/><title type='text'>Snowball Fight!</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Snowball Fight!&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[Invited]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;"Ayo cepat buka, Nat."&lt;br /&gt;Nathaniel melempar tatapan sabar-woi kepada sepupunya, sementara kedua tangannya sibuk membuka bungkusan di hadapannya dengan perlahan--tidak ingin merusak bungkusnya. Jeh. Lama. Akhirnya ia mempercepat gerakan, membiarkan kertas yang membungkus benda itu terkoyak menjadi serpihan. Peduli amat. Sebuah kotak. Hitam, seratus persen kayu dengan pengait keemasan di bagian luar. Nat bertukar pandang dengan Amanda, kedua alisnya terangkat, mencari tahu apakah sepupunya tahu apa itu. Gadis itu mengangkat bahu. Well, jadi satu-satunya cara untuk tahu adalah dengan membukanya, rite. Baiklah. Nat menatap kotak itu sejenak, meraba tekstur yang berseliweran abstrak di seluruh permukaan kotak, kemudian setelah sekali lagi mengerling Amanda sekedar untuk meminta persetujuan, tangan kanannya melepaskan pengait--tanpa sadar ia menahan napas--dan membukanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hening. Ini--apa sih ini? Di dalam kotak tergeletak sebuah benda bulat keemasan, empat besi kecil menahan keempat sisi--tiap seperempat diameter maksudnya, lingkaran tidak punya sisi--seakan untuk mencegah benda tersebut terbang dan kabur. Anak laki-laki berambut gelap itu memutar posisi kotak seratus delapan puluh derajat agar Amanda dapat melihat, siapa tahu gadis itu tahu apa sebenarnya it--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya ampun, Nat!" Nat mengerutkan kening ketika melihat sepasang mata sepupunya berbinar, kelihatan senang sekali. Kenapa sih? "Ah ya, aku yakin kau tak tahu apa ini. Ini Snitch, Nat. S-N-I-T-C-H." He? Apa pula itu? Ia mendengarkan dengan seksama saat Amanda mulai berceloteh menjelaskan. Oke, Snitch itu bola. Digunakan dalam permainan Quidditch. Bisa terbang. Menyadari mulutnya sedikit terbuka, Nat cepat-cepat mengatupkan bibir, kemudian menunduk untuk mencari surat, kartu, atau apalah itu dari sang pengirim. Siapakah yang kurang kerjaan mengirimkan benda--ah ini dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Quote:&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bermain Quidditchlah sekali-sekali.&lt;br /&gt;    JANGAN SAMPAI HILANG. MAHAL.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Your Dad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idih. Tidak jelas amat sih Dad. Bermain Quidditch, eh? Tidak tertarik, tuh. Nat melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Wogh, terlambat. Diaconu pasti marah deh, ck. Ia bangkit, mengantungi kotak pemberian ayahnya, menghabiskan jus labu, kemudian berujar pada Amanda bahwa ia harus segera pergi. Kedua kakinya melangkah lebar-lebar melintasi Aula Besar. Ke halaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Halaman&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya apa sih tujuan ayahnya memberikan Snitch padanya? Nat tahu ayahnya tahu bahwa ia tidak peduli pada olahraga lain selain sepakbola. So? Mungkin Dad ingin agar ia bisa melupakan olahraga favoritnya, menggantikannya dengan Quidditch. Kalau benar begitu--well, jangan harap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata kecokelatannya menangkap siluet kedua temannya, Diaconu dan Ravn, tengah... err, melempar bola salju? Beberapa anak lain--kelihatannya sepantaran--entah, sepertinya semua sedang sibuk sendiri. Satu hal yang bisa Nat tangkap. Perang bola salju. Tangan di saku, ia melangkah menghampiri Diaconu, sedikit berjengit, khawatir terkena lemparan, dan berujar, "Memanggilku ke halaman, eh, Diaconu? Ada apa?" Dari sudut matanya ia melihat seorang anak laki-laki menabrak anak laki-laki lain. Nat menggelengkan kepala--kalau jalan lihat ke depan, boy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Lemparin Nat donk =9)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-172794898331131734?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/172794898331131734/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=172794898331131734&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/172794898331131734'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/172794898331131734'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/snowball-fight.html' title='Snowball Fight!'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-6058649451225816009</id><published>2009-08-29T18:47:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T19:29:15.744-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Herbologi'/><title type='text'>Kelas 1 - Semua Asrama</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Kelas 1 - Semua Asrama-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tongkatnya bagus, ia baru sadar. Nathaniel memelintir tongkat kayu eldernya, mengamati setiap lekuk yang terpeta di kulit cokelat kehitamannya. Elegan. Kelihatan hebat dan tak terkalahkan. Wohoo, sejak kapan ia jadi perhatian terhadap sesuatu begini? Tangan kanan Nat memutar tongkat dalam genggamannya ke segala arah. Tongkat sempurna untuk penyihir sempurna. Ia menyeringai, kedua kakinya melangkah santai memasuki Rumah Kaca nomor 1, secara spontan berbelok ke kanan dan duduk di tempat yang kosong. Kelas Herbologi. Sudah tentu sama tak menariknya dengan Kelas Ramuan. Nat menguap, dengan mata sedikit berair--ngantuk--ia menatap ke depan sambil bertopang dagu setelah sebelumnya menyelipkan tongkat miliknya ke balik jubah. Entah mengapa otaknya menjadi tertarik dengan masalah pertongkatan--tidak penting, ya, terlebih lagi jika dikaitkan dengan kelas hari ini. Tidak perlu bawa tongkat juga sebenarnya, mengingat presentase digunakannya benda tersebut tak akan lebih dari lima puluh persen. &lt;i&gt;Sok tahu kau, Nat.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Profesor, yang memperkenalkan diri dengan nama Pomona Sprout, mengucapkan selamat pagi dan selamat datang, kemudian menjelaskan pengertian serta hal-hal dasar dalam pembelajaran Herbologi secara panjang lebar. Selesai dengan pidatonya, Profesor Sprout melambaikan tongkat ke arah papan tulis, tulisan terukir begitu saja seakan digoreskan dengan kapur tak kasat mata. Mendeskripsikan, eh? Jeh. Kalimat tersebut sama saja dengan 'baca sampai rabun lalu salin ulang' hanya saja diungkapkan dengan cara lebih halus. 6 jenis tanaman pula. Nat memandang tangan kanannya. Oh, &lt;i&gt;tanganku sayang, tanganku malang&lt;/i&gt;--well, fine, ternyata berkelompok, berempat. Mungkin tidak akan terlalu buruk. Nathaniel merogoh saku, mengeluarkan pena bulu, botol tinta dan dua buah perkamen kusut. That's it, hanya itu yang ia bawa ke dalam rumah kaca. No book, no other things. Bukan apa-apa, masalahnya adalah tas yang biasa ia gunakan sedang dipinjam Amanda dan sialnya--sepertinya hilang. Jadi beginilah. Tapi ia tidak perlu cemas sih, karena sebagai permintaan maaf, sepupunya telah 'mewariskan' materi pelajaran Herbologi tahun lalu miliknya, yang notabene sama persis dengan materi Nat sekarang. So, he is a lucky boy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarkah? Lihat saja. Yow, mari kita mulai. Nat membentangkan perkamennya di meja--yang kosong tentu saja, membuka tutup botol tinta, mencelupkan pena bulunya ke dalam botol tersebut dan dengan berisik membuka perkamen yang satu lagi. Ah. Dasar Amanda. Materi yang tertulis di atas perkamen ternyata tidak lengkap. Masih banyak yang kurang. Ck. Ya sudahlah. Berarti ia memang harus mencari kelompok. Tangan kanannya mulai bergerak, menggores perkamen dengan pena bulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quote:&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;b&gt;Aconyte&lt;/b&gt;&lt;br /&gt; &lt;i&gt;Aconyte&lt;/i&gt;, sering juga disebut &lt;i&gt;Wolfsbane, Monkshood, Blue Rockets, Friar's Cap, Auld Wife's Huid&lt;/i&gt;, atau &lt;i&gt;Devil's Helmet&lt;/i&gt;, merupakan sejenis tumbuhan beracun, terkenal karena merupakan bahan utama ramuan Wolfsbane, ramuan khusus para manusia serigala. Daunnya berbentuk mengari dengan tiap daun terdiri dari 5-7 bagian. Mereka dapat dibedakan dengan adanya satu dari lima kelopak daun yang berada di bagian belakang yang biasa disebut Galea yang berbentuk helm berbentuk silinder. Aconyte mempunyai 2-10 daun bunga, 2 di bagian atas berbentuk besar. Memiliki sebuah taji cekung yang berada di puncak paling atas yang memuat nektar. Tumbuhan ini akan terbelah dua jika sudah matang. Aconyte memiliki batang di bawah tanah yang lancip di bawah akar. Mahkotanya atau sebagian dari bagian atasnya merupakan cikal bakal dari tanaman yang baru. Jika tersentuh ujungnya akan mengakibatkan keadaan mati rasa dan perih.&lt;br /&gt;    Tanaman ini menjadi makanan dari sebagian spesies &lt;i&gt;Lepidoptera&lt;/i&gt; seperti ngengat tikus. Akar Aconitum ferox menjadi bahan dari racun Nepal yang disebut Bikh, Bish, atau Nabee. Beberapa spesies Aconyte digunakan sebagai racun pada anak panah.&lt;br /&gt;    Sedangkan di dunia sihir, seperti yang telah saya sebutkan di atas, Aconyte terkenal sebagai bahan utama ramuan Wolfsbane. Ramuan tersebut membantu para manusia serigala untuk tetap berpikiran dan berhati manusia saat bertransformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Eucalyptus&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;    Eucalyptus merupakan penghuni asli benua Australia, namun dapat juga ditemukan di belahan dunia selatan, seperti di Filipina, Indonesia, dan Papua Nugini.&lt;br /&gt;    Berguna sebagai pewangi dan pembersih karpet, makanan koala, bahan furnitur mini, serta minyak essens untuk disinfektan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar. Pegal. Nathaniel meluruskan tangan kanannya ke depan, sekedar beristirahat sejenak. Huah, masih banyak. Tidak boleh buang-buang wak-- Argh! Ia berseru kaget ketika melihat tangannya tanpa sengaja mendepak botol tintanya. Botol itu terguling, menumpahkan isinya tepat di atas perkamen yang telah ia tulisi dengan susah payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shocked. Yang. Benar. Saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh permukaan perkamen telah hitam seluruhnya. Oh my. Nat memejamkan mata kesal, kemudian menarik perkamennya dan mengibaskan benda itu kuat-kuat, siapa tahu tinta yang menyelimuti masih bisa terhapus. Alhasil, cipratan tinta melesat kemana-mana, juga ke perkamen milik seorang anak di sampingnya. Nat menoleh. Well, anak itu ternyata Izarra. Ia mengerang kesal, dan tanpa basa-basi berujar, "Punya perkamen lagi tidak, eh?" Semoga Izarra punya. Masalah minta maaf nanti sajalah. Oh. Ia punya ide yang lebih bagus. "Err... Begini deh, keberatankah jika aku sekelompok denganmu?" Jawab tidak, please. Ia tidak mampu menulis ulang. Capek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Credit to Wikipedia dan Sellabloompicers. Izarra, sekelompok ya?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-6058649451225816009?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/6058649451225816009/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=6058649451225816009&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6058649451225816009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6058649451225816009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/kelas-1-semua-asrama.html' title='Kelas 1 - Semua Asrama'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-2793783958436618190</id><published>2009-08-29T18:24:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T18:28:58.356-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='4-4-2'/><title type='text'>4-4-2-#5</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;4-4-2-#5&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[Wasit]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;"Tidak, Amanda." He? Tidak boleh? Dia tidak boleh ikut main? Amanda membuka mulut untuk protes, namun segera mengatupkannya kembali saat mendengar Nathaniel melanjutkan kalimatnya, "Dan please, aku sedang tidak ingin berdebat, oke?" Gadis itu memandang sepupunya tak percaya. Kenapa tidak boleh? Ia merengut, melipat kedua tangan di dada, kaki mengetuk-ngetuk rerumputan. Kesal. Kemampuannya bermain sepakbola tidak jelek-jelek amat. Well, tapi begitulah. Ia tidak pernah mampu membantah Nat. Ralat, bukan tidak mampu, hanya saja ia memang sudah terbiasa mengalah. Ya sudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda melempar pandang ke sekeliling lapangan. 5 anak laki-laki termasuk Nat. Seorang anak lelaki berbaju biru dan celana pendek putih datang, berkata bahwa ia ingin ikut serta. Mata Amanda melebar tak percaya ketika mendengar Lazarus mengucapkan 'aku ikut'. Serius nih? SERIUSS? Oke, berlebihan. Tidak mengherankan sih jika seorang anak laki-laki berminat untuk bermain sepakbola. Yang akan membuat permainan sepakbola kali ini akan menjadi seru adalah keikutsertaan Larry dan Lazarus. Apa jadinya ya? Prediksinya, mereka berdua tidak akan mau bekerja sama. Eh, ataukah sebaliknya--seperti di kelas astronomi? Kita lihat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada Arvid. Mallandrt. Ah, senior Theo juga. Ditambah Marius. Great. Amanda mengulum senyum. Sepertinya bakal seru. Dalam waktu singkat para pemuda cilik di hadapannya telah membentuk tim dan formasi. 5 orang tiap tim, eh? Cukup, mengingat ukuran halaman berumput yang terhampar tak terlalu luas, bahkan sepertinya tidak mencapai 25 kali 15 meter--ukuran standar minimal sebuah lapangan futsal. Tak lama kemudian seluruh personil pertandingan telah mengambil posisi masing-masing, Nat dan Arvid sebagai sentral. Fine, let's see. Jika dilihat dari sini, yang dapat Amanda tangkap adalah : sepupunya akan bertanding bersama Arvid, Lazarus, Mallandrt, dan senior Theo. Ck ck, Slytherin mendominasi. Sementara tim seberang terdiri dari sahabat baiknya, Larry; dua orang berparas Asia, junior dan senior; anak lelaki berbaju biru dan Marius. Gadis itu terdiam, memperhatikan Nat yang terlihat bersiap melakukan kick off. Ah, ia iri. Ia ingin ikut main...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keningnya berkerut saat melihat sepupunya berlari ke arahnya alih-alih memulai pertandingan. Ada yang tertinggal? "Amanda. Kau. Jadi wasit, oke? Oh, but please, just stay here." Wasit? Dia? Jadi wasit? Amanda bengong, menatap peluit hitam yang kini berada di tangannya. Yang benar saja. Sejak kapan Nat jadi otoriter begini sih? Sama sekali tak memberi kesempatan padanya untuk menolak. Huft, calm down, Amanda. Lagipula kekecewaan Nathaniel adalah hal terakhir yang ingin ia lihat. Menyadari bahwa para pemain sudah siap, ia mengangkat peluit, menghela napas pasrah, dan meniup benda itu keras-keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PRIIIITT!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Just let the match begins. Para pemain bersenang-senang, sedangkan ia susah. Huh. Bukan, bukan karena ia tak mengerti peraturan sepakbola, atau kesulitan karena harus memancangkan mata mengamati pertandingan tanpa berkedip, bukan itu. Lebih cenderung kepada tekanan batin sebenarnya. Ditilik dari pembagian tim, satu statement sudah jelas. Nat versus Larry. Kalau begini yang akan terjadi adalah Amanda akan diam saja, berpura-pura jadi patung. Daripada dianggap memihak dan di akhir pertandingan harus menerima tatapan sinis dari salah satu dari mereka. Atau bahkan dari keduanya. Argh, Amanda tidak akan tahan jika benar itu yang akan terjadi. Tapi. &lt;i&gt;Nathaniel sudah memberikan kepercayaannya&lt;/i&gt;, rite? Otomatis anak laki-laki tersebut telah memikirkan akibat baik dan buruk yang akan timbul atas keputusannya menjadikan Amanda wasit. Yah, baiklah. Do her best saja deh. Doakan agar ia tidak memihak. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, kembali ke pertandingan. Operan pertama diberikan kepada Arvid, dan diteruskan kepada Mallandrt. Ah. Amanda hampir saja meniup peluit ketika melihat sang senior Asia men-tackle Mallandrt, membuat bola terlepas dari penjagaan siswa Slytherin itu untuk sesaat. Ternyata tacklenya bersih. Bukan pelanggaran. Bagus. Entah bagaimana caranya kini bola telah berada di kaki Lazarus, pemuda tersebut menendang--asal-asalan, mengharuskan Nat kembali ke belakang untuk menjemput bola. Dan... sepupunya menendang. Ditangkap dengan mudah oleh Marius. Sial. Hei, hei, tuh kan. Ya, ya, tidak boleh memihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marius menggiring bola--membuat Amanda menaikkan kedua alisnya, tidak menyangka--dan melakukan tendangan lambung. Yang menerima adalah... Larry. Wohoo. Sahabatnya menendang, tepat menuju gawang. Oh. So, what's next? Semuanya kini ada di tangan senior Theo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Maaf, Amanda nggak merhatiin penonton =9)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-2793783958436618190?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/2793783958436618190/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=2793783958436618190&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2793783958436618190'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2793783958436618190'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/4-4-2-5.html' title='4-4-2-#5'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-7041827610364295162</id><published>2009-08-29T16:26:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T17:26:49.147-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='4-4-2'/><title type='text'>4-4-2-#4</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;4-4-2-#4&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[Tim &lt;s&gt;Myself&lt;/s&gt; Nat - Midfielder]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nostalgia. Hm... Apakah benar dapat dikatakan begitu? Well, yang pasti semangat yang tengah dirasakan Nathaniel saat ini hampir sama dengan semangatnya saat bertanding dan berlatih di akademi--dulu. Catat, hanya &lt;i&gt;hampir&lt;/i&gt;, tak ada yang dapat menggantikan saat-saat berharga tersebut, apapun itu. Ia tersenyum puas ketika melihat operannya diterima dengan baik oleh seniornya--si pegawai magang--dan diteruskan kepada rekannya yang lain--seorang gadis kelihatan berseru memanggil namanya. Mallant, eh? Atau Mallandrt? Masa bodohlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah. Sial. Nat mendecakkan lidah ketika melihat Chiaki berhasil memotong pergerakan Mallandrt dan menguasai bola--untuk sesaat. Seringai kembali bertengger di wajah anak laki-laki itu saat bola entah bagaimana caranya sukses digulirkan tepat menuju Lazarus. Fine, sampai sini sudah benar. Sekarang masalahnya adalah, mampukah senior ular tersebut mengontrol bola dengan baik? Tampang datarnya amat tidak meyakinkan. Nat memicingkan kedua matanya, mengamati dengan sedikit harap-harap cemas. Oh ya, Lazarus mampu, ia dapat melihat itu. Tapi--for God's sake--kemampuan menendang bola pemuda tersebut ternyata lebih buruk dari kemampuannya menerima. Bola meluncur menyusur rumput tak jelas tujuannya. Gawat. Nat mendesah, menyadari bahwa ia harus kembali ke belakang lagi untuk menjemput bola. Ia berlari menghampiri bola yang tak bertuan, kemudian tanpa basa-basi kaki kanannya menyambar sang benda keramat dengan cekatan, bersyukur tak ada seorang pun yang mendahuluinya. Dari sudut matanya Nat melihat siluet beberapa gadis tengah berdiri di tepi area permainan, dekat pohon, salah seorang dari mereka mengangkat sebuah--kertas? Tidak, ia tak sempat membaca tulisan yang tertera disana. Wohoo, banyak yang menonton, eh? Ia baru sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nat memutar tubuh. Dan memulai sprint seraya mendribbling bola. Yeah, this is what he call football, dude. Dengan lincah ia bergerak, berlari dengan cepat sementara kedua kakinya sibuk memberikan sentuhan putus-putus pada bola, mempertahankan agar kuasanya terhadap benda itu tak hilang. So, what's next? Kedua matanya bergerak liar mencari celah di antara para pemain lawan, celah untuk... meneruskan bola. Sayangnya striker timnya, sang pegawai magang--Corleone namanya, ia baru ingat--tengah dijaga ketat oleh Joong dan Sullivan. Mau ambil resiko? Jadikan itu pilihan terakhir. Coba cari opsi lain. Mallandrt tengah bebas, namun posisinya tak menguntungkan, terlebih lagi Chiaki masih eksis di dekatnya. Nat mengerjapkan mata, menatap penjaga gawang lawan dengan tatapan setengah bingung. Berpikir cepat, Nat. Lawan dapat mengambil tindakan tak terduga kapan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=333333&gt;"Dengarkan aku, Gladstone. Pengambilan keputusan adalah kemampuan dasar yang harus dikuasai oleh para pemain, dalam kasus ini adalah dirimu. Dalam permainan sepakbola, pemain yang dengan cepat mengambil keputusan dan benar, akan menjamin aliran bola yang cantik dan cenderung akan menyulitkan lawan. Apakah kau mengerti, Nak?"&lt;br /&gt;"Ya, Pelatih. Tapi, Sir... Bukankah keadaan akan menjadi sulit saat pemain lawan menghadang?"&lt;br /&gt;"Semua tergantung padamu. Percayakah kau pada dirimu sendiri? Keragu-raguan sama dengan sebuah kekalahan telak, camkan baik-baik kata-kataku, Gladstone."&lt;br /&gt;Nat terpekur, mengangguk. Right, that's the question. Percayakah ia?&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;He must make a desicion&lt;/i&gt;. Nathaniel melempar pandang bergantian ke arah penjaga gawang beberapa meter jauhnya di depan sana dan bola di kakinya. Come on, mana yang kau pilih? Pass? Or... Shoot? Pilihan tak pernah tidak berkawan dengan resiko, begitupun kedua pilihan tersebut. Pass memiliki resiko yang lebih tinggi, mengingat bek lawan sepertinya telah menguasai peran mereka dengan baik. Sedangkan shoot? Oh, well, ia ingin--tapi bagaimanana kalau...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Menghela napas, Nat mendribble bola dua langkah ke depan, berkonsentrasi pada area di sekeliling kiper, mencari titik yang dapat dituju. Ah, gawang tidak tersedia. Hal ini sungguh mempersulitnya untuk memprediksi jangkauan tendang, keraguan menelusup jauh lebih dalam. Tetapi bagaimanapun situasinya, he must do this. Kaki kanannya menjejak rerumputan dengan kuat, kaki kirinya terangkat ke belakang--oh ya, ia pemain kidal. Ancang-ancang telah diambil, mate. Dan detik berikutnya, tendangan melambung telah dilaksanakan, bola meluncur lurus ke arah sang penjaga gawang. Nathaniel menahan napas. Masuk-kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Menendang langsung ke gawang, dari jarak sekitar 8 meter.&lt;br /&gt;Mengenai gawang: &lt;s&gt;maap, gw baru inget&lt;/s&gt; meskipun tidak ada gawang, area gawang adalah 2,5 meter panjang alas, 2 meter tingginya. Silahkan bayangkan sendiri. Atau mungkin bagi para penjaga gawang dapat menciptakan gawang sendiri atau memberikan batas? =9 CMIIW)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-7041827610364295162?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/7041827610364295162/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=7041827610364295162&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7041827610364295162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7041827610364295162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/4-4-2-4.html' title='4-4-2-#4'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-431228228519448191</id><published>2009-08-29T16:20:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T16:26:30.216-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='4-4-2'/><title type='text'>4-4-2-#3</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;4-4-2-#3&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha--hai--Naaat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nat menoleh. Ah, akhirnya datang juga. Ia mengangguk ketika Joong meminta maaf karena terlambat. Well, ya sudah, mau bagaimana lagi memangnya? Marah-marah? Buang tenaga. "Yakin bisa memasukkan bola ke gawangku hari ini?" ujar Joong lagi. Nat mendengus, kemudian menyeringai dan melempar tatapan lihat-saja-nanti kepada teman Asianya itu. Belum tahu saja kau, Joong. Ia meneruskan juggling yang sempat tertunda karena kedatangan Joong, bahkan bersikap acuh ketika seorang anak lelaki berparas asia lain menghampiri, memperkenalkan diri sebagai Chiaki Lin, bertanya apakah ia boleh ikut bermain sepak bola. Nat mengacungkan ibu jari tangan kanannya tanpa menoleh. Silahkan saja kalau mau ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jugglingnya baru benar-benar terhenti ketika sebuah seruan mampir di telinganya, "OI KALIAN-- Sepak bola, hm? Aku ikut." Nat memutar leher mencari sang pemilik suara. Dan apa yang ia lihat? Hell. Jonathan L. Baned. Teman Amanda. Ralat. Sahabat Amanda. Oh, bukan. &lt;i&gt;Pacar Amanda&lt;/i&gt;. Ngarang kau, Nat. Si Baned itu hanya teman biasa gadis itu, tidak lebih. Ya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Cemburu, eh, Nat?&lt;/i&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel menggelengkan kepala, berusaha mengusir pikiran yang-benar-saja itu dari kepalanya. Tidak, dia tidak cemburu--enak saja--ia hanya peduli pada sepupunya, khawatir jika gadis tersebut memilih teman yang salah. Itu saja. Anak lelaki berambut gelap itu mengangkat dagu, memandang Baned dengan sinis, tak terlalu memperhatikan saat seniornya tersebut mengatakan sesuatu seraya menunjuk pemuda lain di sampingnya. Ah. Nat tahu siapa pemuda lain itu. Tak dapat dipercaya memang, tetapi Amanda membawa banyak foto saat libur musim panas lalu, mayoritas merupakan foto-foto teman-temannya, dan diantara sekian banyak lembar foto yang ia tunjukkan, yang paling membuat Amanda bersemangat saat membicarakannya--setelah Baned tentu-- adalah pemuda yang satu ini. Sylar Lazarus. Cih, apa sih kelebihan ular satu itu sampai-sampai Amanda pernah bilang bahwa gadis itu su--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PUK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh? Nat tersentak, sadar dari lamunan, dan mengerjapkan mata saat menyadari siapa yang kini berada di hadapannya sambil berkacak pinggang. Wohoo, sepupunya tercinta. Amanda Steinhart. Mata Nat berbinar ketika gadis itu mengangsurkan majalah yang telah lama ia tunggu. Great, akhirnya. "By the way, main bola? Aku ikut," ucap gadis itu. What? Ikut main? Wow, wow, tunggu dulu, ia tak ingin mengambil resiko sepupunya akan terluka, terlebih lagi yang akan menjadi lawan Amanda adalah para anak lelaki. No way. "Tidak, Amanda. Dan please, aku sedang tidak ingin berdebat, oke?" ujar Nat, kemudian ia segera melihat ke arah lain, benar-benar tak ingin melihat raut wajah gadis tersebut yang pastinya kecewa. Untuk kebaikanmu, Amanda, mengertilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu orang lagi--ah, Sullivan, anak yang pernah ia lihat di danau--datang dan ingin turut bergabung. Welcome, deh. "Aku ikut. Aku setim denganmu." Sebentar. Itu tadi... benar-benar Lazarus yang berbicara? Well, tidak ada salahnya juga sih. Fine, he got one. Seorang anak lelaki lain--oke, si pegawai magang di toko tongkat, Nat ingat--juga turut berminat setim dengannya. Got two. 2 orang menyusul, yang satu membicarakan tentang dua orang perempuan--Diana dan Susan--apa sih? Masa bodohlah. Yang satu lagi secara tiba-tiba merangkul bahunya, memperkenalkan diri sebagai Theo--jujur, Nat terkejut, but he got three. Or four? Terserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu orang lagi datang, menggenapkan jumlah mereka menjadi sepuluh. Enough, sudah terlalu banyak nih. Nathaniel mengangguk setuju ketika Joong menyarankan agar mereka bertanding lima lawan lima. Nice idea. Nat memungut bolanya, mengedarkan pandang ke seantero halaman. Hm, tidak terlalu luas, tetapi cukup untuk dijadikan tempat bermain bola meskipun dengan konsep futsal. Ia mengedikkan kepala kepada seluruh anak laki-laki yang telah sepakat untuk turut bermain, mengisyaratkan mereka untuk beranjak ke tengah lapangan. Biarlah mereka menentukan sendiri posisi yang mereka inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah yakin semuanya telah menempati posisi masing-masing, Nat menahan bola dengan bagian bawah sepatu kanannya, menoleh kesana kemari, mencari tahu apakah ada yang keberatan jika timnya yang memulai terlebih dahulu. Tidak ada? Bagus. Ayo kita mulai. Are you ready guys? Ah, tunggu. Ada yang terlewat. Nat berlari ke sisi lapangan--ke arah Amanda berdiri--merogoh saku, kemudian menyerahkan peluit yang telah ia siapkan kepada sepupunya. "Amanda. Kau. Jadi wasit, oke?" Ia mengedipkan sebelah mata, kemudian menambahkan, "Oh, but please, just stay here." Ia memberi tatapan tolong-jangan-membantah kepada Amanda sebelum kembali ke tengah lapangan, mengambil posisi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siap? Baiklah. Setelah terdengar suara peluit, Nat melakukan first pass. Kick off!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : First pass to Arvid :3 Anggap Amanda sudah meniup peluit&lt;br /&gt;&lt;font color=blue&gt;- Tim Nat :&lt;br /&gt;1. Arvid E. Corleone (striker)&lt;br /&gt;2. Dean L. Mallandrt (striker)&lt;br /&gt;3. Sylar Lazarus (Defender)&lt;br /&gt;4. Theo P. Collin (Keeper)&lt;br /&gt;- Bagi para personil tret ini, diharap menuliskan status di bagian atas post. Contoh, [Tim Nat] atau [Tim Kim] atau [Penonton], biar gak bingung, okeh...&lt;br /&gt;- Alur : let it flow, skor pertandingan juga... =9&lt;br /&gt;- Ketentuan dan peraturan lain lewat conf ^_^&lt;/font&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-431228228519448191?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/431228228519448191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=431228228519448191&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/431228228519448191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/431228228519448191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/4-4-2-3.html' title='4-4-2-#3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3295269823065811324</id><published>2009-08-29T16:16:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T16:20:11.568-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='4-4-2'/><title type='text'>4-4-2-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;4-4-2-#2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini-- Ah, mana sih Nat? Amanda mengedarkan pandang ke seantero Aula Besar, mencari wajah sepupunya. Tidak ada, yeah, seperti dugaannya. Semenjak tiba di Hogwarts, anak itu amat sulit ditemui, seakan melupakan Amanda. Gadis itu menghela napas, kemudian menatap tabloid Weekly Football di hadapannya dengan heran. Sepertinya pamannya salah kirim deh. Seharusnya majalah ini ditujukan untuk Nat--well, anak itu langganan kalau tidak salah. Ia menatap sampul depan majalah--menampilkan skuad tim nasional Jerman Barat--dengan antusias, kemudian membuka halaman demi halaman, mencari tahu apakah ada yang menarik. Oke, Piala Eropa, Piala Eropa dan Piala Eropa. Wajar sih, mengingat event besar tersebut akan diselenggarakan sebentar lagi, di pertengahan tahun 1980 di Italia. Semoga ia bisa menonton pertandingan final. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudahlah. Lebih baik sekarang ia mencari Nat, firasatnya mengatakan anak lelaki itu telah lama menunggu sang edisi terbaru. Amanda membelai burung hantu pamannya, Perseus, membiarkannya minum dari gelas miliknya sebelum burung itu pergi. Fine, saatnya berkeliling Hogwarts mencari sepupunya tersayang. Amanda menghabiskan sarapannya--jika bisa disebut sarapan, sekarang sudah pukul sepuluh--dengan cepat, bangkit, dan melangkah santai menuju pintu Aula Besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=blue&gt;Halaman&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;Bagus sekali. Capek. Nat tidak ada dimana-mana. Di perpustakaan--tentu saja tidak ada, Amanda kurang kerjaan mencoba mencari kesana, di ruang rekreasi atau di kamar juga tidak ada--kata seorang junior kelas satu. Ia dengan bodohnya menyusuri tiap lantai dan juga jembatan sampai kakinya pegal, dan hasilnya nihil. Ah, masa bodoh kalau begitu. Majalah ini untuknya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halaman tampak lengang. Amanda berjalan perlahan sambil mendekap majalah di dada, mengamati aktivitas para siswa Hogwarts. Sedang tidak berminat untuk beraktivitas sih. Ia hanya ingin istirahat di bawah sebuah pohon jika mungkin, menuntaskan membaca tabloid dalam dekapannya tersebut. Kedua kakinya melangkah ke bagian jauh halaman, mencari tempat yang enak. Ah. Kan. Ck. Itu dia Nat. Mengapa tidak dari pertama saja ia mencari di halaman? Payah kau, Amanda. Sepupunya itu sedang ber-juggling ria, dengan dua anak lelaki berparas asia di dekatnya, serta 4 orang lain yang tengah berbincang tak jauh dari mereka bertiga. Tunggu. Sepertinya ia kenal...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larry, Sylar, senior Carrera, dan Prefek McAfferty. Wow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Well, aku turun dari pohon di atas sana--karena telingaku menangkap beberapa suara yang mengatakan bahwa Jonathan dan Lazarus akan bermain Soccer bersama mereka." Eh? Amanda tertegun ketika mendengar ucapan sang prefek, terlebih lagi saat seniornya itu menunjuk ke arah Nat dan kedua temannya, mengindikasikan kata 'mereka' yang ia ucapkan. Oh my--serius? Larry dan Lazarus akan bermain sepak bola bersama Nat? Well, alamat bakal terjadi Perang Dunia ke-3. Prefek McAfferty mengatakan bahwa ia akan menemani senior Carrera menonton. Menonton. Menonton? Tidak, Amanda tidak mau menonton. Ia mau ikut main.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu menghampiri mereka berempat, mengangguk kepada kedua seniornya, menatap Lazarus dengan sedikit salah tingkah--ya Tuhan, yang benar saja Amanda--kemudian nyengir kepada Larry, mengacak rambut sahabatnya. "Kau akan bermain sepak bola, eh? Great, Larry. Aku juga," ujarnya, mengedipkan sebelah mata, lalu mulai berjalan menjauh, kini menghampiri Nat. Amanda menepuk kepala sepupunya dengan majalah, berkacak pinggang, kemudian berkata, "Nat, kemana saja sih kau? Ini. Majalahmu. By the way, main bola? Aku ikut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Tenang, Amanda ga beneran ikut kok =9 FYI, setau gue, di Inggris itu sepak bola disebut 'football'. Soccer itu istilah di Amerika, sengaja supaya g ketuker dengan 'football America'. But, it's okay sih. CMIIW :3)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3295269823065811324?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3295269823065811324/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3295269823065811324&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3295269823065811324'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3295269823065811324'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/4-4-2-2.html' title='4-4-2-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3763131344699502177</id><published>2009-08-29T16:13:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T16:16:06.936-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='4-4-2'/><title type='text'>4-4-2-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;4-4-2-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;You must let it go, Nat.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cih, kalimat macam apa itu. Nathaniel mendecakkan lidah jengkel, tangan kanannya melambung-lambungkan bola sepak kesayangannya sementara tatapannya menerawang jauh tak terfokus. No, he can't and won't let it go. Dalam berbagai situasi, Nat selalu setuju kepada apa yang Amanda ucapkan, sepupunya itu selalu benar, ia akui. Tapi tidak kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sepak bola. Bagian terpenting dari hidupnya itu kini harus ia tinggalkan begitu saja demi sekolah ini. Demi Hogwarts. Pantaskah, eh? Entah. Ia belum yakin. Apa yang dapat Hogwarts tawarkan untuk mengganti hal berharga itu? Teman-teman akademi, keceriaan saat bertanding. Well, tentunya ia tak dapat menerima saat Amanda berujar just-let-it-go padanya, dengan kata 'it' sama dengan sepak bola dan karirnya di akademi. Is she kidding him? Tentu saja ia tak akan membiarkan sepak bola berlalu dan pergi dari kehidupannya. Tidak akan pernah. Apalagi hanya untuk sebuah sekolah sihir yang sama sekali tak sebanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini anak lelaki berambut gelap itu tengah duduk di bawah pohon Chestnut di bagian timur halaman dengan raut wajah jenuh. Di hadapannya terbentang rerumputan yang cukup luas. Sepi. Hanya ada beberapa orang berjalan di kejauhan. Mana sih Joong? Sudah lima belas menit beranjak dari pukul sepuluh, waktu yang mereka tentukan untuk bertemu. Ck, Nat paling benci jika harus menunggu. Ia menyandarkan kepala ke batang pohon di belakangnya, lutut kanannya ditekuk ke atas sementara tangannya menepuk-nepuk bola sepak yang kini berada di samping sepatu putih kanannya. Waiting is the worst thing ever. Tak ada kerjaan, pikiran Nat melayang, kalimat Amanda lagi-lagi terngiang di benaknya. "Calm, Nat. Kau akan mendapatkan pengganti sepak bola di Hogwarts. Quidditch. No doubt."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Quidditch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, menurut Nathaniel olahraga kebanggaan kaumnya tersebut amat jauh berbeda jika dibandingkan dengan sepak bola Muggle. Baginya, sepak bola lebih menantang dan menarik meskipun lebih menguras tenaga. Fine, mungkin argumen satu ini terlihat berat sebelah karena ia selalu berkutat dengan dunia sepak bola, tak pernah sekalipun ia melirik olahraga lain, termasuk Quidditch. Bermain pun tidak. Bahkan Nat menolak dengan halus saat sepupunya mengajak ia menemani gadis itu bermain Quidditch musim panas lalu, karena final Liga Champion Eropa tengah ditayangkan di televisi. Intinya, ia menjunjung tinggi sepak bola di atas olahraga lain, whatever other people say. Teman-teman penyihirnya seringkali mengatakan Nat itu terlalu Muggle, terlalu jauh dari kehidupan penyihir normal, tidak menjunjung dunia perolahragaan sihir, bla bla bla. Well, ia sama sekali tak bermaksud seperti itu, sungguh. Hanya saja ia memang dilahirkan di komunitas Muggle, menetap di teritori Muggle hingga saat ini. Wajar jika ia terbiasa dengan sepak bola yang notabene merupakan olahraga terfavorit mereka, right? Apa yang salah? Karena ia darah murni maka ia dicap abnormal? Yang benar saja. Jika memang orang-orang berkata seperti itu, Nat pun tak mau ambil pusing sih. Terserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel bangkit, mengeluh. Bosan. Ia memungut bola sepaknya, kemudian melakukan juggling sederhana sambil menunggu. Bola bercorak segi enam hitam putih itu terlempar ke udara, kemudian ia pantulkan kembali dengan menggunakan lutut kiri sebelum bola itu menyentuh tanah. Satu, dua... Berpindah ke lutut kanan, kemudian melambung tinggi dan mendarat di kepalanya, bola tersebut kembali terpantul-pantul beberapa kali. Bagus. Kemahirannya mengontrol bola belum pudar. Hari ini ia bersama Joong akan melakukan sesuatu yang luar biasa menarik. Bermain sepak bola. Great. Semoga anak itu cepat datang. Nat sudah tak sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : No one repp before Kim JoongBo. Oke, let me tell you about the rules of the game :&lt;br /&gt;&lt;font color=green&gt;- Pertandingan akan dimulai setelah terbentuk dua tim, masing-masing tim terdiri dari lima orang termasuk Nat dan Joong.&lt;br /&gt;- Pertandingan hanya untuk para anak lelaki. Anak perempuan silahkan masuk, tetapi hanya untuk menonton.&lt;br /&gt;- No harmful, dan sebisa mungkin jangan menggunakan mantra, please.&lt;br /&gt;- Bagi yang ingin join, PM or IM dulu ya... ^_^&lt;br /&gt;- Jika ada yang kurang jelas, silahkan PM or IM.&lt;br /&gt;EDIT TO ADD : Full untuk pemain :3&lt;/font&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3763131344699502177?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3763131344699502177/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3763131344699502177&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3763131344699502177'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3763131344699502177'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/4-4-2-1.html' title='4-4-2-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-4817442951553635297</id><published>2009-08-29T15:56:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T15:59:36.980-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Ramuan'/><title type='text'>Semua Asrama. Kelas 1. 1979-1980</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Semua Asrama. Kelas 1. 1979-1980&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh suatu kebetulan yang menjengkelkan. Mengapa harus Ramuan yang menjadi mata pelajaran pertama sih? Pada tahun pertama ia menjadi siswa Hogwarts pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel mendesah, mengacak rambut seraya menghenyakkan tubuh ke atas sofa ruang rekreasi Gryffindor. Ia memejamkan mata, mencoba membuat keputusan. Masuk kelas, tidak. Masuk kelas, tidak. Masuk kelas, tidak. Hatinya yang terdangkal tentu menolak mentah-mentah ide 'menjadi anak baik' dan memilih untuk tetap tinggal di sini atau pergi ke halaman untuk bermain sepak bola. Nice decision, of course. Namun sisi terdalam hatinya akan merasa bersalah jika ia membolos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki berambut hitam itu membuka mata, kemudian melirik mencemooh ke arah buku Cairan dan Ramuan Ajaib oleh Arsenius Jigger yang tergeletak begitu saja di atas karpet di samping kaki kirinya. Satu-satunya hal yang ia senangi dari buku itu hanyalah kemiripan nama sang author dengan nama klub sepak bola pujaannya, Arsenal. Selain itu, nothing. Segala hal, apapun itu, yang berhubungan dengan ramuan, selalu membuat Nat mengerutkan kening dan memalingkan wajah. Tindakannya tersebut sesungguhnya hanyalah peralihan dari perasaan aneh yang melanda hatinya, seakan sesosok Troll meninju dadanya berkali-kali. Trauma, eh? Ia harap bukan. Peristiwa 4 tahun yang lalu seringkali kembali hadir di otaknya, membangkitkan rasa bersalahnya. Ah, Mum. Wanita yang paling disayanginya itu harus berada di St. Mungo hingga hari ini, semua gara-gara dirinya. Semua salahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan Nathaniel menerawang. Tidak, ia harus mulai berpikir dewasa. Ia harus berhenti menyalahkan dirinya sendiri, mulai saat ini. Nat berdiri, membungkuk dan menyambar buku panduan ramuannya, kemudian beranjak menghampiri lukisan wanita gemuk, mendorongnya hingga terbuka, dan menyusuri tangga menuju ruang bawah tanah. Well, mengikuti kelas ramuan mungkin bisa menjadi awal usahanya. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas Ramuan&lt;br /&gt;Pukul sebelas lewat lima belas. Sial. Nat mempercepat langkahnya, bergegas memasuki ruang kelas dan mengambil tempat di sudut, tepat saat sang profesor berujar, "Untuk hari ini, membuat Ramuan Penyembuh Bisul sepertinya cukup. Kumpulkan dalam botol kristal kalian jika sudah selesai dan bawa ke depan." Bagus. Ramuan Penyembuh Bisul. Tidak terlalu sulit. Ia beruntung karena Dad pernah mengajarkan cara membuat ramuan yang satu ini, lima tahun yang lalu. Well, mudah-mudahan ia masih ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nat membolak-balik perkamen bukunya satu demi satu, dan tepat sebelum kedua matanya sakit melihat tulisan kecil-kecil di seantero buku, halaman yang dicari akhirnya terbuka. Ia membaca sekilas halaman tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Quote:&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bahan :&lt;br /&gt;    Jelatang yang sudah dikeringkan&lt;br /&gt;    Taring ular yang sudah dihaluskan&lt;br /&gt;    Siput bertanduk yang sudah direbus&lt;br /&gt;    Duri landak&lt;br /&gt;    Air&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Cara Membuat :&lt;br /&gt;    1. Siapkan alat dan bahan.&lt;br /&gt;    2. Isi kuali dengan air, kira-kira setengah kuali. Rebus sampai mendidih.&lt;br /&gt;    3. Masukkan 450 gram siput bertanduk ke dalam kuali.&lt;br /&gt;    4. Selagi menunggu rebusan, tumbuklah taring ular sampai halus. Kemudian, takarlah bubuk taring ular itu 6 gram.&lt;br /&gt;    5. Setelah rebusan mendidih, masukkan taring ular dan 3 lembar jelatang.&lt;br /&gt;    6. Aduk ramuan 15 kali searah jarum jam. Ramuan akan berubah warna menjadi hijau tua.&lt;br /&gt;    7. Tambahkan adukan berlawanan arah jarum jam 3 kali, ramuan akan memucat. Teruskan hingga ramuan menjadi encer dan berwarna hijau amat pucat.&lt;br /&gt;    8. Matikan api. Diamkan sebentar, lalu masukkan duri landak.&lt;br /&gt;    9. Dinginkan ramuan. Setelah didinginkan, ramuan siap digunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fine, let's do it fast, kumpulkan, keluar. Done, right? Nat mengambil seluruh bahan dan alat yang diperlukan dari atas rak-rak di sisi kelas, kemudian mengisi kuali dengan air dan menjerangnya di atas kompor. Tunggu mendidih. Ck. Lebih baik ia menumbuk taring ular sambil menunggu. Diraihnya alat penumbuk, lalu dibenturkannya kuat-kuat ke arah si taring ular. Namun, alih-alih hancur, taring ular tersebut bergeming, sementara tangan kanan Nat terasa dialiri listrik. Refleks, ia terlonjak, meringis dan memijat tangannya yang kebas. Damn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendecakkan lidah kesal, ia membanting taring ular tersebut ke lantai, kemudian menginjak-injaknya. Oke, cukup berhasil. Tanpa membuang waktu, ia beralih pada timbangan, menakar 450 gram siput bertanduk dan 6 gram bubuk taring ular--well, miliknya tidak berbentuk bubuk juga sih--kemudian menceburkan kedua bahan tersebut ke dalam kuali, disusul 3 lembar jelatang. Ia mengaduk 15 kali searah jarum jam sesuai instruksi, dan menyeringai puas saat melihat warna ramuan miliknya perlahan berubah menjadi hijau tua. Great. Sampai sini sukses. What's next?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matikan api. Nat mematikan kompor, menunggu sebentar sebelum memasukkan duri landak. Ramuan di hadapannya berdesis, menguarkan asap kelabu. Tunggu. Sepertinya ada yang janggal. Nat membaca ulang instruksi. Ah. Langkah nomor tujuh terlewat. Bodoh kau Nat. Dengan cuek Nat menambahkan 3 kali adukan berlawanan arah jarum jam. Apa jadinya, eh? Masa bodohlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asap kelabu semakin menjadi, membuatnya terbatuk, matanya perih. Argh. Nat menyambar botol kristalnya, kemudian memasukkan sampel ramuan ke dalamnya secepat yang ia bisa. Setelah beres, ia menutup botol dengan tutup gabus, melangkah ke depan kelas, mencari celah di antara kerumunan siswa lain yang tengah berdiri di sekeliling meja Profesor Slughorn, dan meletakkan ramuannya di meja. Done. Nat menghela napas lega. Huft. Omong-omong, warna ramuannya tadi kuning, bukan hijau pucat. Well, tidak peduli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Credit to Potion Cauldron)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-4817442951553635297?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/4817442951553635297/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=4817442951553635297&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4817442951553635297'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4817442951553635297'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/semua-asrama-kelas-1-1979-1980.html' title='Semua Asrama. Kelas 1. 1979-1980'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3672503322996400133</id><published>2009-08-29T15:50:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T15:56:43.260-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Small Trouble'/><title type='text'>Small Trouble</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Small Trouble&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langit biru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel membuka bungkus permen karet miliknya, kemudian melemparkan isinya ke dalam mulut, mengunyahnya sembari memelintir bola sepak di tangan kirinya dengan kelima jari. Hogwarts. Pendapat Amanda mengenai sekolah ini tak dapat dikatakan salah sepenuhnya. Kira-kira satu minggu ia berada di sini, cukup untuk mengerling pribadi macam apa sajakah yang terdaftar di akademi sihir tersebut, mengisi otaknya dengan segala argumen yang tak tersampaikan. Sepupunya selalu bilang, Hogwarts-lah yang terbaik, Nat, kau akan menemukan buktinya bahkan saat kau baru menjejakkan satu kakimu di halamannya. Satu-satunya respon yang terlontar dari Nat adalah sebuah dengusan tak percaya. Gadis itu memang senang mengungkapkan segala sesuatu secara berlebihan. Fine, di luar segala kesinisan yang selalu dilemparkan Nat kepada sekolah yang satu ini, benarkah apa yang diucapkan Amanda itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, sampai saat ini ia masih belum yakin. Apa yang ia lihat, apa yang ia tangkap, dan apa yang ia dengar, secara keseluruhan hanya mampu membuat kedua alisnya menghilang dan menyatu dengan rambut hitamnya, atau sebelah sudut bibirnya terangkat, menyeringai. Penyihir cenderung memiliki satu karakter khusus dalam masing-masing diri, membedakan mereka dengan penyihir lainnya, dan terlebih lagi--membedakan mereka dari Muggle, tentu. Sayangnya--entah karena kebetulan atau apa--kebanyakan siswa yang Nat lihat dan amati hingga hari ini, laki-laki maupun perempuan, beberapa diantaranya memiliki kepribadian yang membuatnya sedikit muak. Perlu dicatat, yang ia maksudkan disini adalah beberapa anak, bukan seluruhnya. Oke, Nat akan menyebutkan secara spesifik jika tak ada yang keberatan--para pure-blood, darah murni itu, entah mengapa seakan-akan menganggap diri mereka paling tinggi, meremehkan mereka yang tak memiliki status yang sama, apalagi terhadap makhluk yang diberi label Muggle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki bermata cokelat itu meneruskan langkah menuju danau, kepalanya sedikit terangkat, pandangannya menerawang menatap langit biru di atas sana. Ya, langit biru itu. Langit biru yang sama, warna menyejukkan yang seringkali ia lihat bersama teman-temannya saat mereka berlari dengan bersemangat dalam sesi latihan di lapangan milik akademi sepak bola tempat Nat bernaung. Teman-teman Mugglenya. Kau tahu? Seluruh keluarga Gladstone dan keluarga Steinhart adalah darah murni. Tetapi ia tak pernah keberatan bersahabat dengan Muggle, toh baginya tak ada bedanya. Bahkan, suasana riang dengan komunitas non-penyihir itulah yang selalu Nat rindukan, alih-alih berada di tengah sekumpulan penyihir yang sibuk membusungkan dada untuk membanggakan darah mereka, repot memilah-milah teman yang mereka inginkan. Cih, apa-apaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, sudahlah Nat. Tak akan ada habisnya jika ingin membahas masalah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Danau terlihat ramai, tak seperti kehendak anak laki-laki itu. Ia menghela napas. Berlatih sepak bola di tempat ini sepertinya bukan ide cemerlang. Tapi, well, sudah terlanjur, biarkan saja. Siapa tahu ia bisa menemukan raut wajah sepupunya yang belum Nat lihat lagi hingga detik ini. Ah, kemana sih anak itu? Menghilang tanpa terdengar lagi kabarnya. Bikin khawatir saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel kini mengedarkan pandang ke seantero area danau mencoba menemukan satu tempat yang--mungkin--tepat dan nyaman. Langkah kakinya telah sampai di bawah sebuah pohon rindang, matanya mengerling seorang gadis yang tengah berdiri serta seorang anak laki-laki yang tengah berbaring, buku menutupi sebagian wajahnya. Tidur siang, eh? Suara berkeresak nyaring membuat kepalanya mendongak, menatap bagian atas pohon, mencari tahu... What the-- Sesosok gadis terlihat meluncur ke bawah dengan cepat, tepat menuju ke arah si anak laki-laki yang tengah berbaring. Refleks, Nat melangkah cepat, dan menangkap tubuh gadis tersebut dengan kedua lengan. Wew, ia tak menyangka tindakan spontannya akan berhasil, but--yeah, ia berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berat tubuh gadis itu menyentakkan lengannya ke bawah, membuat luka di bahunya--akibat peristiwa di kereta--kembali berdenyut. Nathaniel meringis. Sial. Kemudian, ia bergegas menurunkan tubuh gadis tersebut ke tanah dan bergumam, "Lain kali hati-hati, Nona."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari bahwa bola sepaknya telah raib dari genggaman, dengan panik Nat mencari, matanya melebar ketika melihat bola itu meluncur dengan mulus, bergulir turun... dan dengan sukses masuk ke dalam danau. Nat mengerang, mendelik ke arah gadis yang 'tanpa sengaja' ditolongnya, menatapnya dengan dingin. Nice. Sekarang ia harus bersusah payah mengambil benda kesayangannya. Damn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Ah, maaf, gak baca reppan Vanessa. Aneh? PM aja)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3672503322996400133?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3672503322996400133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3672503322996400133&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3672503322996400133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3672503322996400133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/small-trouble.html' title='Small Trouble'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-8101031354051092048</id><published>2009-08-29T15:44:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T15:49:21.835-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Seleksi Asrama'/><title type='text'>Seleksi Asrama (1979-1980)</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Seleksi Asrama(1979-1980)&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai ketemu di kastil, Nat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel membalas lambaian tangan Amanda, matanya terus menatap sepupunya hingga gadis itu menghilang di kejauhan. Menghela napas, ia kemudian bergabung ke dalam barisan para calon siswa kelas satu berjalan, membiarkan dirinya terseret arus. Anak-anak sebayanya, laki-laki dan perempuan berdesak-desakan, berkompetisi untuk saling mendahului. Well, akhirnya sampai. Nat menguap. Great, entah mengapa ia merasa amat lelah, sepanjang perjalanan ia tak bisa tidur, situasi dalam kompartemennya amat sangat tak mendukung. Ia menyentuh bahu kirinya--yang dengan suksesnya tertimpa kopernya yang luar biasa berat, meringis ketika merasakan nyeri menjalari tangannya. Fine, unfortunate day for him. Untung saja bukan kakinya yang terluka. Kaki adalah bagian tubuh paling berharga bagi dirinya--mengingat karirnya sebagai seorang atlet sepakbola Muggle.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya turut terhenti ketika iring-iringan mendadak berhenti. Mata kecokelatannya membesar ketika melihat sebuah sosok menjulang di hadapannya, sebuah sosok raksasa. Well, kata 'raksasa' terasa berlebihan sih, lagipula dalam benak Nat, seorang raksasa pastinya memiliki postur yang lebih besar. Apapun itu, sosok tersebut memimpin mereka semua--para calon siswa tahun pertama--menuju tepi danau dimana berpuluh-puluh perahu telah menanti. Naik perahu ke kastil. Nice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, Nathaniel termangu, pikirannya menerawang. Hogwarts. Sekolah yang menghujaninya dengan dilema. Memilih untuk menerima bahwa ia adalah seorang siswa Hogwarts dan berangkat kesini, itupun berarti ia harus mengorbankan banyak hal. Karirnya di tim nasional junior Inggris, teman-teman Mugglenya, dan--yah, meninggalkan ayahnya sendirian di rumah. Dalam situasi dunia sihir seperti ini. Ah, benar-benar pilihan yang sulit. Di sisi lain, jika ia memutuskan menolak bersekolah di Hogwarts, itu berarti ia harus membiarkan Amanda sendirian di Hogwarts. Well, tidak sendirian juga sih--tetapi tetap saja rasa cemas akan menggelayuti hatinya. Baginya, gadis itu adalah segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak 6 tahun yang lalu, dimasa kelam saat Amanda harus menjadi seorang yatim piatu, Nat telah bertekad dan berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menjaga sepupunya tersebut, apapun yang terjadi. So, bagaimana ia bisa merealisasikan janjinya tersebut jika ia tak turut berangkat ke Hogwarts? Dan satu lagi, bersekolah di sebuah sekolah sihir yang--katanya sih--luar biasa hebat, merupakan satu jalan yang dapat ditempuh untuk meningkatkan dan mengembangkan kemampuan sihirnya, menjadikannya seorang penyihir yang hebat, yang dapat melindungi seluruh anggota keluarganya dari hal-hal yang tak diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel terus termenung, sehingga saat ia sadar, dirinya ternyata telah berada di sebuah koridor, di hadapannya menjulang pintu kayu besar. "Selamat datang di Hogwarts!" Nat menjulurkan kepala, berusaha menemukan sang pemilik suara. Seorang wanita tua, tipikal penyihir sejati dengan jubah hitam menutupi tubuhnya. Wanita itu mengenalkan dirinya sebagai Profesor Minerva McGonagall, wakil kepala sekolah. Tak berapa lama kemudian, pintu kayu di hadapan Nat terbuka dengan suara debam yang membahana, mempersilahkan mereka semua untuk masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercengang melihat pemandangan yang tersaji di dalam ruangan tersebut, Nat cepat-cepat menutup mulutnya ketika menyadarinya terbuka. Amanda benar, dunia sihir yang sesungguhnya memang luar biasa. Di rumah, yang notabene terletak di komunitas para Muggle, tak akan pernah ia menemukan ratusan lilin melayang tanpa suatu apapun menahannya. Panji-panji bergambar singa, musang, gagak dan ular terbentang di belakang para guru duduk. Keren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Profesor McGonagall memerintahkan mereka semua untuk berhenti, kemudin ia mengeluarkan sebuah bangku kecil berkaki tiga dan meletakkan sebuah topi kerucut lusuh berwarna hitam di atasnya. Nathaniel memicingkan mata, berusaha melihat lebih jelas apa tepatnya benda itu. Dan tersentak ketika secara tiba-tiba sebuah robekan membuka dari topi tersebut, dan benda itu mulai bernyanyi. Nat tahu apa yang dinyanyikan topi itu. Keempat asrama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah nyanyian selesai, sang profesor kembali maju, mengatakan bahwa kini saatnya acara seleksi. Ia memanggil nama tiap anak satu persatu, mendudukkannya di kursi dan meletakkan topi di atas kepala mereka secara bergantian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gladstone, Nathaniel."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Great. Sudah tiba gilirannya. Nat melangkah maju dan duduk. Ia menahan napas. Dimanakah ia akan ditempatkan? Well, dimanapun itu, semoga pilihan sang topi tepat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-8101031354051092048?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/8101031354051092048/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=8101031354051092048&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8101031354051092048'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8101031354051092048'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/seleksi-asrama-1979-1980.html' title='Seleksi Asrama (1979-1980)'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-275302648423547755</id><published>2009-08-29T15:42:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T15:44:42.940-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hogwarts Express'/><title type='text'>Kompartemen 15-#3</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Kompartemen 15-#3&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Nat masih terulur, menunggu sambutan dari si gadis egois. Well, sebenarnya ia optimis anak perempuan itu akan menolak. Pemuda berambut hitam itu menoleh ketika menyadari anak laki-laki yang membuat ledakan juga meringsek masuk ke dalam kompartemen, seraya mengatakan pada sang gadis bahwa ia cerewet dan tak akan mendapatkan teman jika memiliki sikap seperti itu. Yeah, he is absolutely right. Nathaniel setuju padanya. Seratus persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga tidak butuh uluran tanganmu, tidak perlu berpura-pura baik seperti itu. Aku benci orang munafik," kalimat sinis terlontar dari gadis di hadapan Nat. What the-- Rahang Nat mengeras, tangannya yang terulur ia tarik secepat kilat. Anak perempuan ini benar-benar tidak tahu sopan santun. Rasa optimisnya terbukti, dan ia menyesal--amat menyesal mengapa tadi ia bersusah payah mengulurkan tangan. Dadanya bergolak akibat rasa kesal yang luar biasa, tatapannya menghujam kedua mata anak perempuan itu. Nat menghembuskan napas dan memejamkan mata untuk meredakan amarahnya. Sabar, Nathaniel. Ingat ucapan Amanda, ia harus menahan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang gadis lain--senior sepertinya, melangkah memasuki kompartemen, menaruh barangnya di tempat penyimpanan, kemudian mengulurkan sehelai sapu tangan kepada anak laki-laki yang duduk di pojok. Fine, gadis yang baik, bukan tipe orang yang senang mencari keributan, semoga. Nathaniel menyandarkan punggungnya pada kursi kompartemen. Tidur sajalah. Ia tak ingin menghadapi sesuatu yang aneh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru dua detik Nat memejamkan mata, sebuah suara gaduh membuatnya tersentak, matanya kembali terbuka. Di hadapannya kini, si gadis egois telah terjatuh kembali, sebuah koper--bertuliskan Isla Holmquist-- menimpanya. Hah, jangan harap ia akan kembali membantu gadis itu lagi. Dengan sigap Nat bangkit dan berusaha menahan koper miliknya sendiri dan sebuah koper lain yang telah meluncur jatuh dari tempat penyimpanan. Damn, mengapa masalah selalu mendatangi kompartemen ini, eh? Namun usahanya tersebut tak berhasil sepenuhnya--koper entah-milik-siapa berhasil ia tangkap, tetapi tidak dengan koper miliknya. Ia mengaduh dan meringis ketika koper yang luar biasa berat itu menimpa bahunya dengan keras, kemudian terjatuh dengan mulus... dan menimpa anak lelaki lain di sudut. Great. Bahunya pasti kini telah terkilir--atau patah mungkin--dan kemungkinan besar anak laki-laki yang turut tertimpa itu juga akan terluka. Argh. Benar-benar kompartemen sial.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-275302648423547755?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/275302648423547755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=275302648423547755&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/275302648423547755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/275302648423547755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/kompartemen-15-3.html' title='Kompartemen 15-#3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-6309773683948961371</id><published>2009-08-29T15:41:00.001-07:00</published><updated>2009-08-29T15:42:45.053-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hogwarts Express'/><title type='text'>Kompartemen 15-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Kompartemen 15-#2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nat menggerak-gerakkan kaki tak sabar, tangannya terlipat di dada. Oh, cepatlah, ia sudah lelah berdiri. At last, pintu kompartemen di hadapannya terbuka--tak sepenuhnya, hanya terbentuk sebuah celah kecil, wajah sang gadis menyembul keluar, sementara tubuhnya tetap memblokir jalan masuk. Nat mengangkat kedua alisnya, dan tercengang ketika anak perempuan itu mulai menyemburnya dengan kata-kata, "Kau tahu bahwa mengganggu orang yang sedang beristirahat itu tidak sopan, kan? Aku tidak peduli kau mau berkata bahwa kompartemen lain sudah penuh atau apapun, tapi kompartemen ini sudah tidak menerima pengunjung lainnya." Nat mendengus. Apa-apaan sih perempuan ini? Kompartemen ini sudah tidak menerima pengunjung lainnya? Sigh, are you kidding me? Seenaknya saja. Apa dia pikir kereta ini milik nenek moyangnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu terus berceloteh panjang lebar, menyuruh Nat untuk mencari kompartemen lain, dan bla bla bla, apapun itu, kalimat terakhir yang terdengarlah yang membuat pemuda itu memicingkan mata, memandang lurus, tepat ke arah mata anak perempuan itu berada. Lemah dan manja dia bilang? Well, gadis ini benar-benar cari gara-gara. Nat mengubah posisi tubuhnya. Tangan kanannya bertolak di pinggang, sedangkan tangan yang kiri ia tumpukan pada pintu kompartemen. Ia menatap wajah menantang di hadapannya dengan lekat, kemudian berujar, "Well, Miss 'Egois', jika kau mengira aku akan pergi setelah mendengar seluruh omong kosongmu--kau salah besar. Sekarang minggir, atau aku akan menerobos masuk..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimatnya terhenti ketika sebuah ledakan terjadi tepat di sampingnya, membuatnya terhuyung ke samping. What the-- Seorang anak laki-laki dengan tongkat teracung telah berdiri di hadapannya. Oke, pastinya dialah penyebab ledakan tersebut. Ini--oh, masa bodoh, ia tak peduli. Ia mengerling ke arah pintu kompartemen, melihat bahwa sang gadis telah terjatuh. Nat menyeringai, mengambil kesempatan itu untuk membuka pintu kompartemen lebar-lebar, lalu menyeret kopernya masuk, mengacuhkan teriakan pengusiran si anak perempuan. Terserah, terserah, gadis itu mau bilang apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nat mengangkat kopernya ke tempat penyimpanan barang, dan tanpa basa-basi menghenyakkan tubuh di tempat duduk. Nice. Akhirnya. Tak dapat sepenuhnya mengacuhkan seorang anak perempuan yang terjatuh, Nat mendengus kecil, mengulurkan tangannya ke arah gadis itu. "Butuh bantuan?" ujarnya dingin. Perlu dicatat, ia membantu hanya karena ia masih punya etika. Itu saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-6309773683948961371?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/6309773683948961371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=6309773683948961371&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6309773683948961371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6309773683948961371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/kompartemen-15-2.html' title='Kompartemen 15-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-2719744969172032706</id><published>2009-08-29T15:35:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T15:41:16.530-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hogwarts Express'/><title type='text'>Kompartemen 15-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Kompartemen 15-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cool. He made it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel meraba dinding yang baru saja ia lewati. Padat. God, keren. Tiga detik yang lalu ia baru saja melewati sebuah tembok batu begitu saja, like a ghost. Sesuatu yang tak masuk akal seperti ini bukan hal yang mustahil dilakukan jika kau berada di dunia sihir. Setelah puas dan benar-benar yakin bahwa tembok yang baru saja ia lewati terbuat dari batu, Nat membalikkan tubuh dan melangkah menuju kereta, mendorong troli dengan perlahan. Di sekelilingnya, di pelataran stasiun, berbagai macam penyihir berlalu-lalang. Anak kecil dan orang dewasa, semuanya bercampur baur layaknya sebuah komunitas, terlihat jelas bahwa sebagian besar anak-anak dan remaja yang berada di sana merupakan siswa Hogwarts.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nat melongokkan kepala kesana kemari, mencari Amanda. Dimana gadis itu? Tak juga berhasil menemukan sepupunya, akhirnya ia memutuskan untuk naik kereta lebih dulu. Firasatnya mengatakan bahwa Amanda telah berada di atas kereta. Yah, semoga saja. Setelah menurunkan segala barang bawaannya dari troli, Nat pun mengayunkan kaki menuju Hogwarts Express, menyeret kopernya di belakang dan menenteng sangkar Zenas di tangan kiri. Damn, kopernya terasa amat berat, dalam waktu singkat ia telah merasakan pegal di tangan kanannya. Tak heran sebenarnya, mengingat segala macam barang yang ia bawa. Bola sepak dan saxophonenya menjadikan kopernya menggembung, overload.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas kereta keadaannya tak jauh berbeda seperti di bawah. Ramai. Bising. Beberapa kali ia mencondongkan tubuh ke samping untuk menghindari orang-orang yang mondar-mandir di koridor, seenaknya saja berlarian sambil berteriak-teriak. Cih, apa-apaan. Nat mengacak rambutnya, kakinya mulai menyusuri koridor sempit yang diapit oleh berpuluh-puluh kompartemen, mencari satu yang mungkin masih menyisakan tempat. Sebenarnya ia lebih suka mendapatkan satu kompartemen kosong, terlebih lagi ia harus mendapatkan tempat untuk Amanda juga. Well, tapi sepertinya sepupunya itu telah melupakannya, meninggalkan Nat begitu saja tanpa bilang sesuatu apapun. Anak lelaki berambut hitam itu menggerutu dan bersungut-sungut kesal. Fine, kalau begitu untuk apa pula ia mencarikan tempat untuk gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nat melihat ke sebuah kompartemen--melalui jendelanya. Great. Kompartemen tersebut baru terisi oleh seorang gadis. Tapi--terkunci, eh? Ia mengetuk pintu kompartemen seraya berseru, "Hei, boleh aku masuk? Tempat lain sudah penuh." Ck, seenaknya saja mengunci pintu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-2719744969172032706?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/2719744969172032706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=2719744969172032706&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2719744969172032706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2719744969172032706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/kompartemen-15-1.html' title='Kompartemen 15-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-9159967139167193144</id><published>2009-08-29T15:31:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T15:34:56.018-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Peron 9 3/4'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><title type='text'>Just Walk Through</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Just Walk Through&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jubah?"&lt;br /&gt;"Sudah."&lt;br /&gt;"Kuali?"&lt;br /&gt;"Sip."&lt;br /&gt;"Tongkat?"&lt;br /&gt;"Beres."&lt;br /&gt;"Zenas?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel bersiul lantang. Seekor elang terbang melintasi ruangan kemudian hinggap di bahu Nat, melipat kedua sayapnya dengan anggun. Great. Sepertinya anak lelaki itu mendapatkan burung elang yang tepat. Zenas--nama yang diberikan bagi sang elang--amat patuh, selalu berlaku sesuai perintah Nat seakan mengerti bahasa manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nat. Tinggalkan benda itu. Dan itu juga. Kau mau membawa keduanya ke Hogwarts? Oh, yang benar saja," ujar Amanda. Sepupunya itu menunjuk dua benda kesayangannya. Bola sepak. Dan saxophone. Tentu saja ia akan membawa dua barang tersebut, terserah apa kata orang. Nat menggeleng, memasukkan seluruh perlengkapannya ke dalam koper, termasuk kedua benda favoritnya tersebut. Sedari tadi ia dan sepupunya tengah memeriksa ulang segala hal yang akan mereka bawa ke Hogwarts, menyisihkan yang tak perlu. Done. Nat menarik resleting kopernya hingga menutup, kemudian ia bangkit dan mulai melangkah menuju pintu. "Sepertinya kita harus bergegas, Amanda. Setengah jam lagi keretanya berangkat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Peron 9 3/4&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Stasiun King's Cross amat bising. Pria dan wanita berlalu lalang dengan terburu-buru seakan takut kehabisan waktu. Nathaniel mendorong troli miliknya, menguntit langkah Amanda. Ia mengedarkan pandang ke seantero pelataran, memperhatikan tiap-tiap wajah dengan seksama, bertanya dalam hati apakah seseorang itu merupakan siswa Hogwarts seperti dirinya atau bukan. Sepupunya berhenti secara mendadak, membuat troli Nat berdecit nyaring karena direm tiba-tiba. Ada ap-- Oh, rite. This is it. Di hadapannya kini telah menjulang sebuah dinding--pemisah peron 9 dan 10.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa suara ia mengangguk ketika Amanda mengedikkan bahu, memberi isyarat pada Nat untuk mengikutinya. Ia memperhatikan dengan seksama ketika Amanda mulai mempercepat langkah, dan dalam hitungan detik, gadis itu telah menghilang dari pandangan. Fine. Berarti sekarang gilirannya. Ia menghela napas dan mengacak rambut. Tenang saja, batinnya berujar. Perlahan, anak laki-laki itu mendorong trolinya, entah mengapa hatinya lebih nyaman jika kedua kakinya berlari. Maka ia pun meningkatkan tempo langkahnya, menghampiri dinding, semakin dekat, semakin dekat, selangkah lagi... Dan saat ia membuka mata, di hadapannya telah berdiri tegak Hogwarts Express. Cool. He made it.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-9159967139167193144?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/9159967139167193144/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=9159967139167193144&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/9159967139167193144'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/9159967139167193144'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/just-walk-through.html' title='Just Walk Through'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-4847733575064300991</id><published>2009-08-29T15:26:00.000-07:00</published><updated>2009-08-29T15:30:15.946-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Surat dari Hogwarts'/><title type='text'>Mendapat Surat 1.8</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Surat dari Hogwarts&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pagi, semua." Nathaniel menguap kemudian mengucek matanya. Dua buah suara membalas sapaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Morning, Son."&lt;br /&gt;"Lama sekali sih. Jangan biasakan bangun siang, Nat. Tidak baik untuk kesehatan. Dimana jam wekermu, eh? Sudah kubilang, kan, kalau...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel mencubit pipi 'sang pemilik suara kedua' agar gadis tersebut berhenti berceloteh. Ya, pemilik suara tersebut, siapa lagi kalau bukan Amanda Steinhart, sepupunya tercinta yang bawel minta ampun. Amanda menepis tangan Nathaniel, menjulurkan lidah, dan balas mencubit tangan anak lelaki itu. Nat mengaduh, mengusap-usap tangannya yang sakit. Ia meringis, kemudian melempar serbet di hadapannya ke arah Amanda, tepat mengenai wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda bersungut-sungut, meraih serbet miliknya, dan bersiap melempar ketika sebuah dehaman mengurungkannya. "Anak-anak, please." Nathaniel nyengir ketika mendengar seruan ayahnya, melempar pandang penuh kemenangan kepada Amanda. Sepupunya turut nyengir. Oke, waktu bertengkar sudah habis. Saatnya makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti telah diberi aba-aba, ketiga orang tersebut secara serempak menyambar sepotong sandwich yang telah tersedia di meja, kemudian melahapnya dalam keheningan. Tak ada yang berbicara saat makan, peraturan nomor tujuh di kediaman keluarga Gladstone. Seluruh anggota keluarga telah terbiasa mematuhi segala peraturan yang berlaku, sehingga keadaan selalu tertib. Well, ralat, tidak selalu. Seringkali Nat 'secara mendadak' lupa akan peraturan yang ada. Kalau sudah begitu Mr. Gladstone, Sr. akan menegurnya, menatap Nat dengan pandangan menusuk selama beberapa detik. Sebenarnya trik seperti itu sudah tidak mempan, Nathaniel tahu ayahnya tidak bisa marah. So, ia cukup memasang tampang menyesal dan mendengarkan dengan sopan teguran yang hinggap di telinganya, dan setelah itu, done, masalah selesai. Ck, dasar Nat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara sarapan beres. Nat menepuk perutnya yang kenyang. Ah, sandwich buatan Amanda memang yang terbaik. Selama ini, ketika sepupunya itu bersekolah di Hogwarts, Nat dan ayahnya selalu mendapatkan hidangan ciptaan si peri rumah, Phoebus. Rasanya tak terlalu nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada yang bersedia mengambil surat hari ini?" Nathaniel menoleh ketika ayahnya bertanya. Ia kemudian memandang Amanda, melempar tatapan kau-saja-yang-ambil, namun segera menghela napas ketika menyadari sepupunya itu pura-pura tak melihat. Fine, ia yang mengalah. Nat bangkit dari kursi, kemudian menyeret langkah melintasi ruangan makan, melewati ruang keluarga menuju pintu depan. Beberapa surat terserak begitu saja di atas karpet dekat pintu. Ia memungut semuanya dalam sekali sambar, dan segera berbalik, berjalan kembali menuju meja makan. Diletakkannya seluruh berkas-berkas dalam genggamannya ke atas meja, tepat di hadapan ayahnya, lalu duduk di kursinya semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tabloid Weekly Football--majalah mingguan Muggle yang khusus membahas mengenai sepak bola-- telah berada di atas meja, sepertinya Amanda telah selesai membaca majalah tersebut. Dengan antusias Nat menarik tabloid itu, mengerling sampulnya sekilas. Kevin Keegan. Great. Hanya dalam beberapa detik, anak laki-laki berambut hitam itu telah tenggelam dalam dunianya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kesibukannya, sebuah amplop terjatuh tepat di atas halaman yang terbuka, membuatnya tersentak. Nathaniel mengangkat wajah, terkejut ketika menemukan Amanda dan ayahnya tengah menatapnya lekat, senyuman tersungging di bibir mereka. Nat mengerutkan kening. Ada apa sih? Ia menunduk, memandang benda di hadapannya. Tangannya bergerak perlahan, membalik amplop tersebut, mengamati emblem yang menyertainya. Ah, akhirnya datang juga. Ia berteriak dan memukul meja makan dengan girang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"APA KUBILANG, Amanda! Pasti aku akan menyusulmu! Dan kata-kataku terbukti, right?" Ia tersenyum lebar dan memeluk sepupunya erat. Tahun ini ia akan menemani Amanda bersekolah di Hogwarts. Yeah. Nat membuka segel amplop dan dengan bersemangat membaca surat tersebut. Well, persis sama seperti tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Quote:&lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    SEKOLAH SIHIR HOGWARTS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kepala sekolah: Albus Dumbledore&lt;br /&gt;    (Order of Merlin, Kelas Pertama, Penyihir Hebat, Kepala Penyihir, Konfederasi Sihir Internasional)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mr. Gladstone yang baik, Dengan gembira kami mengabarkan bahwa kami menyediakan tempat untuk Anda di Sekolah Sihir Hogwarts. Terlampir daftar semua buku dan peralatan yang dibutuhkan. Tahun ajaran baru mulai 1 September.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hormat saya,&lt;br /&gt;    Minerva McGonagall&lt;br /&gt;    Wakil Kepala Sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    SEKOLAH SIHIR HOGWARTS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seragam&lt;br /&gt;    Siswa kelas satu memerlikan:&lt;br /&gt;    1. Tiga setel jubah kerja sederhana (hitam)&lt;br /&gt;    2. Satu topi kerucut (hitam) untuk dipakai setiap hari&lt;br /&gt;    3. Sepasang sarung tangan pelindung (dari kulit naga atau sejenisnya)&lt;br /&gt;    4. Satu mantel musim dingin (hitam, kancing perak)&lt;br /&gt;    Tolong diperhatikan bahwa semua pakaian siswa harus ada label namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Buku&lt;br /&gt;    Semua siswa harus memiliki buku-buku berikut:&lt;br /&gt;    Kitab Mantra Standar (Tingkat 1) oleh Miranda Goshawk&lt;br /&gt;    Sejarah Sihir oleh Bathilda Bagshot&lt;br /&gt;    Teori Ilmu Gaib oleh Adalbert Waffling&lt;br /&gt;    Pengantar Transfigurasi Bagi Pemula oleh Emeric Switch&lt;br /&gt;    Seribu Satu Tanaman Obat dan Jamur Gaib oleh Phyllida Spore&lt;br /&gt;    Cairan dan Ramuan Ajaib oleh Arsenius Jigger&lt;br /&gt;    Hewan-hewan Fantastis dan di Mana Mereka Bisa Ditemukan oleh Newt Scamander&lt;br /&gt;    Kekuatan Gelap: Penuntun Perlindungan Diri oleh Quentin Trimble&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Peralatan lain&lt;br /&gt;    1 tongkat sihir&lt;br /&gt;    1 kuali (bahan campuran timah putih-timah hitam, ukuran standar 2)&lt;br /&gt;    1 set tabung kaca atau kristal&lt;br /&gt;    1 teleskop&lt;br /&gt;    1 set timbangan kuningan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Siswa diizinkan membawa burung hantu ATAU kucing ATAU kodok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    ORANGTUA DIINGATKAN BAHWA SISWA KELAS SATU BELUM BOLEH MEMILIKI SAPU SENDIRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fine. Rasa senangnya menyusut seketika saat ia teringat sesuatu. Sepak Bola Muggle. Menjadi seorang murid Hogwarts berarti mau tak mau ia harus meninggalkan akademi sepak bolanya. Selama tujuh tahun ke depan. Bagaimana ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan dapat membaca pikirannya, Amanda menepuk bahu Nat dan berujar, "Kau tahu, Nat? Hidup adalah pilihan. You must make a right decision." Ya, gadis itu benar. Amat benar. Tapi apa yang harus ia pilih? Menjadi seorang penyihir sejati atau mendedikasikan diri pada dunia Muggle? God, kedua pilihan tersebut dapat dikatakan sebanding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pilihan pertama merupakan keinginan seluruh penyihir di dunia, rite? Begitupun dirinya. Dan Hogwarts merupakan tempat paling tepat untuk mengasah diri menjadi seorang penyihir hebat. Akankah ia menyia-nyiakan kesempatan ini? Namun di sisi lain, sepak bola adalah hidupnya. Kesempatan menjadi pemain tim nasional junior Inggris yang telah ia peroleh dua tahun yang lalu tak akan datang untuk kedua kalinya. Jika ia memutuskan untuk memilih Hogwarts, maka di saat yang sama ia harus merelakan karirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel menghela napas. Bingung. Oke, coba pikirkan baik-baik. Lihat dari aspek yang berbeda. Apabila ia menolak bersekolah di Hogwarts, maka Amanda akan tetap berangkat, sendirian. Lagi. Untuk enam tahun ke depan pula. Damn, tidak, tidak lagi. Keadaan sekarang tak seaman dahulu, jauh lebih berbahaya dengan Kau-Tahu-Siapa berkeliaran dengan bebas di luar sana. Kemungkinan terjadi sesuatu terhadap diri sepupunya tentu lebih besar. Dan ia tak mau itu terjadi. Nat telah bertekad untuk menjaga Amanda apapun yang terjadi. Itu janjinya. Fine, sekarang ia harus memilih, melanggar janji atau mempertahankan karirnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya. Ia memilih untuk menepati janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah, Amanda. Sebaiknya kita segera bersiap. Besok kita berangkat ke Diagon Alley," serunya. Nat tersenyum melihat sepupunya mengangguk dengan bersemangat. Tak apalah ia mengorbankan keinginanya, toh ia akan tetap berusaha mengakses segala informasi mengenai sepak bola Muggle. Huft, beginilah nasib seorang penyihir yang selalu berinteraksi dengan komunitas Muggle sepanjang hidupnya. Sejak saat ini hidupnya akan berubah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-4847733575064300991?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/4847733575064300991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=4847733575064300991&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4847733575064300991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4847733575064300991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/08/mendapat-surat-18.html' title='Mendapat Surat 1.8'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-6879233368624399393</id><published>2009-07-15T04:25:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T17:20:34.723-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='19.00'/><title type='text'>19.00-#6</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;19.00-#6&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang takdir bisa menjadi begitu aneh. Di lain waktu mampu berubah menjadi tak terduga, dan di lain kesempatan dapat menghadirkan sesuatu yang begitu tak dapat dipercaya, sesuatu yang kau pikir tak akan pernah mungkin terjadi. Elemen kejutanlah yang membuat sesuatu bernama takdir menjadi amat unik, amat tak terprediksi, amat misterius dan memancing rasa penasaran, menuntun tiap-tiap pribadi menuju destinasi masing-masing. Tak terkecuali bagi setiap orang, termasuk bagi seorang gadis lima belas tahun bernama Amanda Steinhart. Malam ini, malam bersalju di awal bulan Desember, beberapa hari setelah ulang tahunnya tiba, sang takdir memutuskan untuk memberikan selarik nada kehidupannya dengan cara yang bahkan tak pernah terlintas di benak kecilnya. Aneh, ya. Mencengangkan. Namun juga menggembirakan. Sebuah permainan kehidupan dimana ia menjadi pemeran utama, memainkan lakon tanpa skrip terencana, tanpa persiapan dan tanpa aba-aba. Dimainkan begitu saja, seperti air sungai, tak tahu kemana menuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih terkepung sang waktu yang terus bergulir. Dalam diam. Hening lagi setelah pernyataan lugas tanpa pikir panjang terucap dari bibirnya. Apa yang Larry pikirkan? Apakah lagi-lagi ia melakukan kesalahan, eh? Seperti tahun lalu? Apakah sebenarnya anak lelaki di hadapannya memang bercanda? Hanya melontarkan lelucon tanpa maksud? Dan mungkin tengah tertawa dalam hati ketika mendapatkan kalimat aku-juga-suka darinya? Apakah begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong jawab dengan kata tidak. Ia mohon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, siapa yang menyangka akan terjadi seperti ini? Mengingat awal mula dirinya menjejak menara tertinggi Hogwarts tak lebih dari dua puluh menit yang lalu--berawal dari teropong sang kakak, pencarian konstelasi bintang di langit kelabu yang tak menemukan hasil, kemudian melintasnya sebuah pesawat berbahan perkamen, disusul gerakan langkah yang membawanya berpindah tempat, keluar dari keremangan menara Ravenclaw dan menjejak di sini--dengan niat hanya untuk bertemu sang sahabat. Sesimpel itu. Siapa yang menyangka gurat ganjil kesedihanlah yang menyambutnya, berlanjut dengan percakapan absurd yang ia lontarkan mengenai ikatan kovalen dativ, lalu--begitulah. Begini. Tidak, sama sekali tidak protes. Terserah kalian akan berpikir apa, yang pasti adalah suatu kebohongan jika ia menyuarakan bahwa dirinya tak senang. Hanya belum bisa percaya. Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara khas seorang Jonathan Larson Baned tak terdengar. Belum. Gadis Ravenclaw itu menarik nafas dalam, bersiap untuk segala kemungkinan--yang terburuk sekalipun. Jantungnya telah berdegup normal, namun kini mulai menunjukkan pertanda hendak berderap lagi. Sedekat ini, dear, dan yang timbul adalah kecanggungan, wajah yang memanas, lalu--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikirannya buyar. Benaknya mendadak kosong saat tubuhnya ditarik--dan sekali lagi, seperti saat di jembatan setahun yang lalu, ia tertegun ketika menemukan dirinya telah didekap, menjalarkan sensasi hangat dari kepala hingga kaki. For Merlin's sake, ini... Kembali terserang kestatisan total, Amanda terpaku untuk beberapa saat, kedua lengannya tetap berada di samping tubuh. Sebuah pelukan--lagi, menghadirkan rasa tercekat juga rasa nyaman dan aman, sama seperti waktu itu. Layaknya yang pernah benaknya ucapkan, hanya dua orang yang mampu menghadirkan ketiga perasaan itu. Leander--dan Larry. Mengapa bisa seperti itu, eh? Tidak tahu. Jangan tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika kesadarannya telah kembali, gadis itu menghembuskan nafas lega, kedua lengannya bergerak--balas memeluk anak lelaki Hufflepuff di hadapannya dengan sedikit ragu. Sudah cukup menjadi jawaban, ia rasa. Larry tidak sedang bercanda atau mengajukan lelucon. Tidak. Syukurlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh? Benarkah, katanya? Amanda tersenyum tipis. Tentu saja benar, astaga. Ah. Larry meragukannya? Seorang Steinhart pantang untuk berbohong, juga pantang untuk menjadikan sesuatu seserius ini sebagai bahan lelucon. Kata-katanya barusan diucapkan dengan amat sungguh-sungguh, dan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan berikutnya yang bergaung hampir membuatnya tersedak. &lt;i&gt;Be my girl, then&lt;/i&gt;--? Benaknya berputar cepat, abstrak, lagi-lagi tak terfokus, sementara rona merah mulai merambati wajahnya untuk kesekian kali. Mulai tak tahu mana yang nyata mana yang tidak. Amanda melepaskan pelukannya, perlahan, merutuki suaranya yang kembali pergi entah kemana. Tanpa alasan yang jelas, entah mengapa rasanya ia ingin menangis. "Err..." Ia membetulkan letak syal kuning-hitam yang membelit lehernya, menarik nafas dalam dan menelan ludah sekali. Tak ada keraguan sebenarnya, hanya saja ia butuh keberanian dan ketetapan hati untuk menjawab kali ini. Dirinya pun tak mengerti mengapa terasa begitu sulit. Menarik nafas. Lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"With pleasure."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keputusan yang tak main-main, dear. Amanda tahu. Apa kira-kira yang akan Leander dan Nathaniel katakan jika mendengar semua ini, hm? Bagaimana reaksi mereka? Well, tidak tahu, dan apapun yang akan mereka katakan-jika keegoisan diizinkan untuk berbicara saat ini-ia tetap tak akan berubah pikiran. Mengerling Larry dengan salah tingkah, ia tersenyum canggung. Ini aneh. Mengapa sikap mereka jadi begini? Tertawa kecil, Amanda kemudian bersuara. "Hei. Kenapa jadi canggung begini, eh?" Mengumpulkan segenap kesadarannya lagi, sang gadis masih tetap tersenyum simpul, kali ini memberanikan diri untuk menegakkan tatapan, memandang balik hazel milik sang anak laki-laki. Perasaannya bercampur aduk detik ini, tak terdefinisi dan sulit terdeskripsi. Kakinya lemas, ngomong-ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Um..." Penutup? "Terima kasih banyak-" Tangan kanannya bergerak, menyentuh lengan pemuda di depannya, "-Jonathan Larson Baned."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Terima kasih. Untuk seluruh yang telah dilakukan. Untuk kebaikan hati yang telah diberikan. Karena selalu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan--untuk segalanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-6879233368624399393?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/6879233368624399393/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=6879233368624399393&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6879233368624399393'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6879233368624399393'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/07/1900-6-part-1.html' title='19.00-#6'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-1133929493729552505</id><published>2009-07-15T03:58:00.002-07:00</published><updated>2009-08-22T18:38:20.506-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Transfigurasi'/><title type='text'>Transfigurasi Kelas 3</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Transfigurasi Kelas 3&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spanyol?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti salah baca. Ha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;Dapat enam tiket final Piala Dunia FIFA, ngomong-ngomong. Awal juli kita berangkat ke Spanyol. Lebih dua tiket, ajak temanmu kalau mau. Aku mau nilaimu bagus, Gladstone, kalau tidak batal saja.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau surat ini lelucon, sama sekali tidak lucu, Dad. Anak laki-laki itu masih terdiam dalam ketidakpercayaan, sejak pagi hari sejak sang perkamen surat melesat memasuki kamarnya hingga detik ini dimana ia terduduk kaku di dalam kelas transfigurasi. Ini--mustahil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baca baik-baik. Mungkin ada kata-kata yang salah ia mengerti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada. Nathaniel menghembuskan nafas, berusaha meredakan kardionya yang bergemuruh, tangan kanannya terangkat secara tak sadar, mengacak rambut hitamnya. Sebuah fakta mencengangkan sekaligus luar biasa menggembirakan. Ke Spanyol? Final Piala Dunia? Tidak dapat dipercaya. Anak lelaki empat belas tahun itu menghenyakkan punggungnya--membenturkan, lebih tepatnya--ke sandaran kursi, sepasang matanya berkilat cemerlang, tertumbuk pada satu titik di depan kelas, pada satu sosok wanita bernama Profesor McGonagall. Menatap, memang, namun tak terfokus sama sekali, benaknya melayang ke berbagai tempat dan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar tersebut dapat mengartikan amat banyak hal. Mendapatkan enam tiket tentu bukan hal yang mudah, dan kemungkinan besar didapatkan sang ayah berkat relasinya dengan beberapa kolega--well, keluarganya memang berkecukupan, tetapi bukan termasuk ke dalam jajaran marga yang mampu mendapatkan apapun yang mereka inginkan hanya dengan menjentikkan jari. Lagipula taruhan, ia yakin seorang Amethyst Gladstone lebih senang berjerih payah dibandingkan berpangku tangan dan menitah orang lain. Kembali kepada tajuk semula, mungkin juga Leander yang memegang andil, entah. Kakak sepupunya itu tentu tak akan sungkan melakukan apapun untuk merealisasikan permintaan seorang Amanda Steinhart--keuntungan baginya, yeah. Mengakhiri perasaan was-was yang melanda selama sebulan belakangan akibat kepesimisan dominan mengenai berhasil atau tidaknya ia menyaksikan pertandingan puncak piala dunia, permohonan terbesarnya. Bahkan pemuda Gryffindor itu tak lagi mengindahkan segala rasionalisme yang selalu ia junjung, dan mempraktekkan mitos 'Senbazuru' di danau. Ck. Whatsoever, satu hal hadir dan sedikit menyentak hatinya. Satu bukti, Dad masih peduli pada apa yang ia inginkan, ternyata. Tak dapat dipungkiri, kelebatan kemungkinan tersebut menghadirkan setitik impuls kegembiraan baginya, meskipun sedikit tertekan oleh kalimat terakhir yang tergurat di dalam surat. Nilai bagus, atau batal. Hah. Tak tahukah kau betapa sulitnya merealisasikan hal tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunannya buyar dalam sepersekiam detik ketika suara khas wakil kepala sekolahnya bergaung, merilis rangkaian kata penanda kelas dimulai. Memaksa sarafnya untuk bersatu dan berkonsentrasi penuh, Nathaniel menegakkan tubuh di tempat raganya duduk, sepasang hazelnya telah bertemu dengan sang fokus. Benaknya tak boleh berkeliaran lagi, tidak. Ia punya kewajiban untuk meraih poin memuaskan, dan ia sadar akan hal tersebut. Harus. Bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan materi apa hari ini? &lt;i&gt;Inanimate to animate, she said&lt;/i&gt;. Kebalikan dari tahun lalu. Mengubah benda mati menjadi makhluk hidup yang bernafas--tampak lebih rumit. Eh? Harus Nat akui, ia terkejut saat mendengar penjelasan tak ada mantra yang digunakan, hanya membutuhkan konsentrasi. Ah, tidak, tentu akan lebih rumit tanpa mantra, tak akan ada indikator yang menjelaskan dimana letak kesalahan yang ia lakukan jika nanti transfigurasinya tak berhasil. Terserahlah, apapun bisa terjadi, dan tak ada yang bisa ia lakukan selain mencoba. Nathaniel membungkuk, menyambar piala jatahnya dari bawah dan meletakkannya dalam satu gerakan ke atas meja. Let's try. Konsentrasi. Menggenggam eldernya lebih erat, ia menatap piala di hadapannya lekat-lekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;b&gt;Konsentrasi. Piala--dunia. Harus bisa. Spanyol.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah. Bukan itu yang harus kau pikirkan, bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;b&gt;Konsentrasi. Piala. Harus bisa. Jadi marmut. Piala. Jadi marmut. Piala--dunia. Spanyol.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa bodoh dengan apa yang ia pikirkan. Nat melambaikan tongkatnya, dengan yakin menunjuk objek pelajarannya hari ini--tidak terjadi apapun. Menghela nafas jengkel, ia memilin sang tongkat sihir dengan sorot mata bingung. Kan. Ada yang keliru, dan ia tak tahu apa. Lagi, deh. Sang tangan kembali terangkat, bersamaan dengan memicingnya sepasang manik kecokelatan miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;b&gt;Marmut. Marmut. Marmut. Piala jadi marmut. Mar--&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;KABOOM!&lt;/font&lt;br /&gt;&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga. Kali ini engsel lehernya berputar, mencari sumber suara pemecah konsentrasi. Mobbrenette. Sigh. Tak perlu dihiraukan, Gladstone. Buang seluruh elemen yang berpotensi mengganggu, tutup telinga rapat-rapat. Nilai bagus. Keberhasilan. Harus. Untuk yang ketiga kalinya Nathaniel mengeratkan genggaman pada sang elder, menghela nafas--jangan panik. Coba sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;b&gt;Piala itu adalah marmut. Marmut. Marmut dari piala. Piala jadi marmut. Piala-dunia.&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhasil, ngomong-ngomong. Lensa cemerlangnya mengerjap tak percaya saat piala di depannya mulai melentur, berputar di tempat dan menghilang pada detik berikutnya. Sebagai pengganti, kini telah bergelung seonggok kelinci--serius, kelinci, bukan marmut. Amat mirip dengan kelinci milik Amanda, Mimzy, namun ini... bermotif. Bulunya bercorak segi enam hitam putih. Oh &lt;i&gt;man&lt;/i&gt;. Sepakbola. Luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ia berhasil. Bahkan lebih baik. Seekor kelinci, &lt;i&gt;mate&lt;/i&gt;, lebih besar dari marmut. Mendengus tertawa, ia bangkit, membawa kelinci ciptaannya ke depan kelas dan memasukkannya ke dalam kandang. Puas, lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai nilai--berharap saja.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-1133929493729552505?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/1133929493729552505/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=1133929493729552505&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1133929493729552505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1133929493729552505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/07/transfigurasi-kelas-3-nathaniel.html' title='Transfigurasi Kelas 3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-1349194522270934847</id><published>2009-07-15T03:50:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T17:22:30.282-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='19.00'/><title type='text'>19.00-#5</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;19.00-#5&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah tadi ia berkata 'sama'?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ralat. Berbeda. Tentu saja. Entitas utamanya memang sama, tetapi--rasa yang timbul tidak serupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menunggu dan bergeming. Nafas berembun terhembus tak nyaman melalui rongga faringnya, jemarinya saling bertaut satu sama lain. Musim dingin tengah tak bersahabat, dear. Lebih tajam dari biasanya. Amanda mengerling sekilas ke arah lautan pekat di luar sana, ke arah langit mendung tak berkonstelasi. Salju benar-benar telah menampakkan diri, bergulir dalam kawanan dan berputar lembut menghujani ambang jendela, menjejak, merebahkan diri, menciptakan hamparan karpet polos. Sang gadis kali ini menarik nafas dalam-dalam, berusaha mengenyahkan rasa tercekat yang memenuhi rongga dadanya akibat hembusan angin utara tanpa toleransi, juga mencoba mengusir rasa kebas dari kedua lengannya. Bertahanlah, Amanda. Sebentar saja, tak lama, hanya untuk mendengarkan alasan apa sebenarnya yang mendasari masalah besar yang tengah terangkat ke udara. Setelah itu ia dapat melangkahkan kaki menuruni tangga pualam sang menara tertinggi, kembali menuju asramanya, menghampiri perapian dan menghangatkan diri disana. Juga kembali menata hatinya lagi, mungkin--well, semua tergantung Larry. Apakah persahabatan mereka akan berakhir hari ini? Hanya sampai disini dan selesai begitu saja? Oh my. Tidak mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu begitu. Mengapa selalu membiarkan kepesimisan tertawa lebar, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang manik kecokelatannya bergerak canggung, tak tahu harus memandang kemana. Dan saat sorot cemerlang itu bertemu dengan hazel di hadapannya, tak sengaja--ia tahu. Berbeda, seperti apa yang telah ia katakan di awal. Jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan tahun lalu. Saat itu tatapan yang ia terima begitu dingin, begitu datar dan kaku, menusuk--milik seorang Lazarus. Membuatnya selalu dirundung kecemasan ketika memandangnya. Tidak kali ini, yang ia temukan adalah tatapan teduh yang selalu menemaninya selama empat tahun terakhir, tatapan yang selalu membuat hatinya nyaman dan tenang saat melihatnya. Mengapa ia baru sadar? Mengapa impuls sarafnya baru menyentaknya detik ini, dengan informasi sederhana yang seharusnya sudah ia ketahui sejak lama? Kau memang bodoh, Amanda Steinhart. Ya, ia memang pantas dirutuki. Segalanya terlihat begitu terang dan jelas saat ini dalam benaknya, dan gadis itu luar biasa heran mengapa fakta itu baru menghampiri saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sadarkah kau selama ini, Steinhart? Seorang Jonathan Larson Baned, yang kini tengah berdiri di depannya--anak laki-laki Hufflepuff itulah yang selalu ada untuknya. Selalu. Benaknya terjungkir ke masa lalu, membuka kembali album memorinya empat tahun terakhir. Diawali dengan insiden butterbeer featuring kecerobohannya--hal bodoh pertama yang ia lakukan di dunia sihir, tetapi kau tahu apa? Dirinya amat mensyukuri kebodohannya ketika itu, karena itulah kali pertama sosok Larry terekam dalam hidupnya, dalam ingatannya, mengawali persahabatan yang sebelumnya tak pernah terprediksi akan tercipta. Bergulir kembali, flashback kehidupannya di Hogwarts ditayangkan,kelebatan-kelebatan tanpa warna memenuhi kepalanya. Peristiwa aneh di danau--saat itu Larry menawarkan jubahnya, yang dengan bodohnya ia tolak. Nice. Kemudian, pesta dansa--event pertama yang sukses membuat kardio gadis sebelas tahun bermarga Steinhart berderap abnormal. Apa lagi? Peristiwa konyol di kelas transfigurasi, saat tikusnya tak berubah menjadi cangkir yang sempurna; setahun lalu, peristiwa jembatan, yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup; menginap di rumah Larry karena bahaya yang mengincar Leander; menonton Superman II di bioskop--siapakah yang berperan disana? Siapa? Jonathan Baned, dear, bukan Sylar Lazarus. Dan apa yang merasuki dirinya hingga sang hati berbisik bahwa ia menyukai sang pemuda Slytherin, seseorang yang bahkan sama sekali asing baginya? For Merlin's sake, hal tersebut merupakan kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan selama lima belas tahun ia hidup. Terbesar. Dan terbodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazarus, sebuah nama di masa lalu, penuh kebodohan, yang seharusnya tak pernah terjadi. Telah ia lupakan dan ia buang jauh-jauh, ngomong-ngomong. Yang ada saat ini hanyalah perasaan sebenarnya, perasaan yang memang seharusnya timbul sejak dulu, namun baru ia sadari belakangan ini. Untuk seorang Jonathan. Dan ia harap ia tak lagi melakukan kesalahan. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, meskipun amat mustahil sang sahabat memiliki rasa yang sama dengannya. Ya kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Kau mau tahu, kan?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda tersentak. Jiwanya kembali ke masa kini, terbangun dari lamunan, album kenangan miliknya kembali tertutup. Kedua matanya terkerjap, sementara bibirnya tetap terkatup. Rasanya ia tak perlu menjawab. Ia amat tahu Larry tahu apa jawabannya. Detik berikutnya efek luar biasa ganjil itu lagi-lagi memeluk segenap tubuhnya--hatinya mencelos, jantungnya menggedor dadanya keras-keras saat pemuda di hadapannya kembali meminimalisir jarak, melangkah maju. Oh my, kenapa harus mendekat? Amat sulit mengatur kardionya agar berjalan normal serta mengukung rasionalisme agar tetap berada dalam benak jika Larry berada sedekat ini. Ah, astaga. Gadis Ravenclaw itu menunduk, tak berani mengangkat wajah--lagi. Dan tertegun saat merasakan bahan lembut perlahan mendarat di sekeliling tengkuknya, berhasil membuat wajahnya memanas. Tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disusul sebuah gumaman samar. Eh? Apa? Mendongak, kali ini. Amanda mengerutkan kening, tak mampu menangkap rangkaian huruf yang diucapkan barusan. Bahkan kerutan itu tergurat lebih dalam saat suara Larry kembali meluncur dengan terbata. Suka? Suka ap--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Firasatnya berteriak. Tidak, tidak, Amanda, tidak mungkin. Sudah seringkali diperingatkan, bukan? Jangan berharap. Singkirkan pikiran konyol itu dari benak. Realistislah. Mustahil. Haha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Aku-suka-kau. SALAH-Aku suka kau."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terperangah. Tak lagi berderap, kali ini sebaliknya, sang kardio seakan berhenti berdetak. Sebongkah batu besar terjun bebas dan mendarat di perutnya, merambatkan sensasi menyenangkan ke seluruh tubuh. Tidak mungkin salah dengar. Sejelas itu, dua kali. Amanda menghela nafasnya yang tercekat, cepat-cepat menutup mulutnya yang ia sadari sedikit terbuka, menelan ludah. Larry pasti bercanda. Pasti. Ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;Hei. Memangnya kapan Larry pernah bercanda?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ti-tidak pernah, sejauh ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Kau suka Lazarus. Aku tahu. Haha."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercampur aduk detik ini. Ia sama sekali tak menyangka akan mendengar pengakuan seperti itu, malam ini. Sama sekali tidak. Bagaimanapun, ia berbohong jika mengatakan dirinya tak senang mendengarnya. Ia senang. Sangat. Kenelangsaan itu tak terulang lagi, terima kasih banyak. Tetapi--kenapa harus menyebut nama itu, eh? Kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menemukan suaranya kembali, Amanda menelan ludah sekali lagi, mengatur nafasnya agar terhela normal dan menahan diri untuk tak berteriak. Tolong beritahu apa yang harus lakukan. Tolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga-"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"-suka." Sempurna. Tak ada rasionalisme saat ini. Hati tengah berbicara. "Larry," nafas yang terhembus kali ini cenderung merealisasikan rasa putus asa ketimbang gembira, "Lazarus sudah kubuang jauh-jauh. Seluruhnya. Tak berbekas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyelipkan helai kecokelatan miliknya ke belakang telinga sebelum melanjutkan dengan lirih, "Tolong jangan sebut nama itu lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seperti musim gugur. Musim dingin adalah sahabatnya. Sahabat penuh senyum, memberikan hal terbaik bagi hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi--terima kasih banyak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-1349194522270934847?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/1349194522270934847/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=1349194522270934847&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1349194522270934847'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1349194522270934847'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/07/1900-5-part-1.html' title='19.00-#5'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-6889341986605075258</id><published>2009-07-14T22:46:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:50:16.232-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Senbazuru : 1000 Bangau'/><title type='text'>Senbazuru : 1000 Bangau</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Senbazuru : 1000 Bangau&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mustahil, kata Amanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaung langkahnya bergerak. Menjejak menjauhi dapur dalam jarak teratur, siluet bayangnya mengiringi dalam diam. Sarapan eksklusif--terlambat bangun lagi untuk kesekian kalinya. Sigh. Kenapa jadi tak disiplin seperti itu, eh, Gladstone? Tidur pagi, seperti biasa. Entah mengapa itu menjadi kebiasaan akhir-akhir ini, padahal tak ada kegiatan yang berarti. Membaca buku panduan Rune Kuno tanpa mengerti benar apa yang sesungguhnya ia baca, atau membaca &lt;i&gt;Weekly Football&lt;/i&gt; untuk entah keberapa belas kali, mencoret-coret perkamen bekas tanpa tujuan, atau hanya menatap langit-langit kamar asrama tak terfokus. Tak dapat dipercaya, memang. Tak berguna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tebak, opsi terakhirlah yang menjadi biang keladi hari ini. Tak dapat memejamkan mata hingga pukul tiga pagi hanya karena satu hal yang bersarang di pikirannya semenjak seminggu yang lalu. Seperti apa yang dituliskan dalam &lt;i&gt;Weekly Football&lt;/i&gt; secara berulang-ulang, menjadi topik utama yang paling dibahas di dunia persepakbolaan muggle--prediksi, namun tanpa konfirmasi pun ia yakin perkiraannya benar--Piala Dunia akan segera bergulir. Di Spanyol. Event yang begitu ia tunggu bahkan sebelum tahun baru hadir, dan sekarang telah mengambang di depan mata, membangunkan segenap antusiasme dan harapan. Selama ini keinginannya tak pernah terpenuhi--menyaksikan langsung pertandingan pamungkas, final, FYI, dan itu terasa begitu mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini harus bisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi statement yang dilontarkan sepupunya berhasil menguapkan sang harapan. Mustahil. Oh yeah, Amanda terlalu pesimis. Dan sialnya pesimisme tersebut mulai menggerogoti keyakinannya secara perlahan, meluapkan keraguan yang luar biasa menjengkelkan. Sepanjang yang seorang Nathaniel ketahui, ayahnya amat tak peduli dengan sebuah olahraga terbaik di dunia bernama sepakbola, sementara Leander tak mampu mengalihkan wajah dari tugasnya sebagai auror lebih dari dua hari. Lengkap sudah. Amat kecil kemungkinannya mereka berdua rela mengorbankan waktu untuk menonton pertandingan yang selama ini selalu mereka acuhkan, di luar negeri pula. Masalah dana tak pernah menjadi persoalan--bukankah ia sudah berkali-kali bilang?--karena itulah harapan itu masih ada. Dan segalanya kini bergantung kepada kemurahan hati sang ayah. Ck. ITU masalah terbesarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel mengacak rambutnya, memicingkan mata sejenak saat sepasang kakinya tiba di Aula Depan. Kontras dengan keremangan ruang bawah tanah, dan pupilnya harus beradaptasi selama beberapa detik. Tak ada yang istimewa dengan hari ini, sama sekali, hanya satu hari biasa sama seperti hari-hari yang telah ia lalui. Monoton. Lurus-lurus saja, tak ada yang menarik, tak ada yang mencengangkan, tak ada yang keluar dari jalur. Seperti keinginan Dad, tentu saja. Well, dan saat ini langkahnya kembali berderap, melintasi jembatan, halaman, menuju danau. Tak ada tujuan pasti, hanya bosan mendekam di dalam kastil, terkepung dinding batu suram disana sini. Meretas rerumputan, kini pemuda itu telah berdiri di tepi danau dengan kedua tangan terbenam dalam saku, wajah kusut terpampang. Harus cari cara untuk membujuk sang Gladstone senior, apapun itu. Mengetahui keinginan terbesarnya kemungkinan besar akan gagal terpenuhi terasa amat sangat menyesakkan, kalau kau belum tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengerling, sudut matanya menangkap siluet sekumpulan benda, terserak begitu saja di atas hamparan hijau di tepi danau. Eh? Penasaran memimpin, dan disinilah ia sekarang, bersila sementara lapis hazelnya berkerjap heran. Kertas lipat--origami? Aneh. Siapa pula yang tanpa sengaja-atau mungkin sengaja-meninggalkan tumpukan kertas tersebut disini, hm? Dilengkapi botol tinta pula. Guratan kalimat tertulis di salah satu kertas, ia baru sadar. Nat mengerutkan kening, membaca satu persatu rangkaian kata disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senbazuru? Seribu bangau. Permohonan akan dikabulkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Pernah dengar mengenai Senbazuru kalau ia tak salah ingat. Mitos, kawan-kawan. Namun kali ini tak ada dengus tak percaya yang terilis, yang tercipta malah kilasan antusiasme. Ini yang ia butuhkan. Permintaannya akan terkabul, kan? Seperti anak perempuan, memang, percaya kepada hal-hal seperti ini, tetapi benaknya saat ini tengah menjunjung tinggi sang hati, bukan rasionalisme. Ia memang menginginkan sesuatu, tak perlu mengelak, dan baginya berdoa itu tak ada salahnya. Coba saja. Nathaniel meraih secarik kertas lipat, mengambil pena bulu dan mencelupkannya ke dalam tinta, kemudian berpikir selama beberapa detik sebelum mulai menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;Semoga Dad memberiku kesempatan untuk menonton final Piala Dunia sepakbola muggle di Spanyol bulan Juli nanti.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah? Begitu saja. Ha, tidak, mengapa tak sekaligus saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;Semoga Dad memberiku kesempatan untuk menonton final Piala Dunia sepakbola muggle di Spanyol bulan Juli nanti.&lt;br /&gt;Semoga aku bisa menjadi seorang Gladstone sesuai harapan.&lt;br /&gt;Semoga aku bisa menjaga Amanda dengan baik.&lt;br /&gt;Semoga Marvil memiliki perasaan yang sama denganku.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga, yang terakhir terdengar begitu konyol. Masa bodoh. Sudah terlanjur, dan tak tersedia penghapus. Tangannya kemudian bergerak cepat, sedikit ragu saat mulai melipat sang kertas menjadi bentuk bangau--sesuai instruksi, dan ia bersyukur langkah-langkah membuatnya pun tersedia. Done, sama sekali tak sempurna. Sekali lagi, ia tak peduli. Toh yang akan dilihat bukan bentuk, tetapi isi--itupun jika benar akan dikabulkan. Sigh. Detik berikutnya sang bangau telah berlayar, diiringi dengan seringai tipis di wajah pemuda empat belas tahun itu. Siapapun pemilik origami ini, orang itu pintar. Kertasnya tak basah? Great.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah diatur. Ha.&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[out]&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-6889341986605075258?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/6889341986605075258/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=6889341986605075258&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6889341986605075258'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6889341986605075258'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/07/senbazuru-1000-bangau-part-1.html' title='Senbazuru : 1000 Bangau'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-1570983176057517523</id><published>2009-06-28T22:13:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T17:39:28.689-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='19.00'/><title type='text'>19.00-#4</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;19.00-#4&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;font color=#333333&gt;&lt;i&gt;What's wrong with me?&lt;br /&gt;What's wrong with us?&lt;br /&gt;What's wrong with we?&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tidak beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kedua kalinya harus terucap di dalam hati--ada yang salah disini. Bukan hanya satu hal, lebih, dan sama sekali tak terdefinisi apakah kesalahan itu buruk atau sebaliknya. Salah, ya--dua poin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin satu. Ada yang mampu menjelaskan mengapa hatinya mencelos terus menerus? Mencelos saat menyadari seorang Jonathan Larson Baned berada di dekatnya, beriring dengan berlarinya sang kardio tanpa aba-aba disertai desiran asing yang anehnya terasa--menyenangkan. Apa sih ini? Seseorang, siapapun, tolong beritahu gadis itu, karena ia tak mengerti. Sindrom penyakit baru, mungkin, muncul jika bertemu dengan pribadi tertentu. Atau ada masalah dengan sistem sarafnya, mengakibatkan gejala peningkatan tempo detak jantung dan menimbulkan desiran abnormal dalam aliran darah. Atau, kemungkinan lain, diafragmanya tak bekerja dengan baik, menghadirkan efek paralel menuju organ lainnya, mencelos disana, berderap disini, berdesir di tempat lain. Tidak tahu, dan ia sama sekali tak berpura-pura bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=#333333&gt;Hah. Bohong.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fine, benak, kau menang. Ia bohong? Sebenarnya tidak tepat jika dikatakan seperti itu. Yang benar adalah, dirinya menyanggah. Ya, karena jika gadis lima belas tahun itu boleh mengungkapkan kejujuran, perasaan seperti ini pernah ia rasakan, sekali. Perlukah ia membahasnya lagi? Rasanya tidak, sudah cukup. Perasaan ini--sama seperti setahun yang lalu. Sayangnya, apa yang ia lakukan saat itu dengan gemilang telah berhasil menghujamkan kenelangsaan menyesakkan. Sang perasaan telah berkhianat, dear. Dan setelah semua fakta yang telah menghampirinya, apakah kalian pikir ia mampu untuk jatuh sekali lagi, mengundang seluruh elemen bumi untuk menertawakannya, dan terperangkap dalam kepungan kesedihan--lagi? Tidak, terima kasih banyak. Karena itu, bukankah lebih baik jika ia memilih untuk tertawa saja ketika rasa itu hadir? Mengasumsikan bahwa apa yang merambati hatinya hanya ilusi belaka, berbisik kepada sang benak untuk sadar... bahwa Larry hanyalah teman dekatnya, sahabat baiknya. Tidak lebih, dan amat tidak pantas jika ia berharap begitu. Sanggah. Itu yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda masih bergeming dalam posisinya, menyodorkan syal kuning-hitam dalam genggaman sementara tatapannya tetap tertuju lurus, tak berani mengangkat wajah. Angin tajam kembali menyapa, bertiup kejam. Tengkuknya meremang, tetap ngilu, menjalar menuju seluruh tubuh hingga kepala. Pening. Ravenclaw macam apa ia, pergi keluar asrama di malam bersalju dengan hanya mengenakan sehelai kaus tipis, dan dengan bodohnya menolak secarik syal dari sahabatnya, hm? Tipikal Amanda Steinhart, keras kepala dan amat enggan terlihat lemah. Berujar kepada diri sendiri bahwa tubuhnya tak kedinginan, tak perlu syal, tidak sama sekali. Tampaknya pemuda di hadapannyalah yang membutuhkan sang syal--pendapat. Karena itu ia ingin Larry saja yang mengenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usah, terima kasih, katanya? Sudah Amanda duga. Kali ini ia mengerling sang anak lelaki, menghela nafas. Sama-sama keras kepala. Sama-sama menampik fakta bahwa udara begitu dingin. Nice. Kompak sangat. Jadi, apa yang harus dilakukannya? Mengenyahkan kekeraskepalaannya dan mengenakan syal tersebut, atau menjunjung tinggi rasa gengsinya dan menyerahkan kembali benda itu kepada pemilik asli?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Kau-belum mengerti?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendongak secara keseluruhan kali ini. Ah, ya. Kembali kepada masalah awal, lupakan tentang syal sejenak. Menahan diri untuk tak mengerjap, ia memberanikan diri untuk menatap dua lapis hazel milik sahabatnya, menelan ludah saat menangkap gurat kekecewaan disana. Ah, maaf, seorang Amanda Steinhart memang bodoh. Perlahan dengan ragu, ia menggeleng. Poin kedua, apa yang telah ia lakukan sehingga pertanyaan bagaimana-kalau-aku-tidak-mau-lagi-jadi-sahabatmu terilis, eh? Jika mengangkat tajuk mengerti atau tidak, secara samar yang dimengertinya hanyalah, Larry tak ingin menjadi sahabatnya lagi karena dirinya telah melakukan suatu kesalahan fatal--ya kan? Tentu saja, apa lagi. Mungkin karena Larry bosan bersahabat dengannya, atau akibat Amanda meminta anak lelaki itu untuk menceritakan masalahnya-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-atau...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang melesat di benak detik berikutnya sukses membuat sang gadis terperangah. Melihat dari sudut pandang positif. Mungkinkah...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahahaha. Pikiran macam apa itu? Sinting. Kau terlalu berharap, Amanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarlah. Ia tertawa dalam hati, mencemooh dirinya sendiri yang dengan 'cerdasnya' mampu menghadirkan kelebatan spekulasi seperti itu. Tak perlu diungkapkan, sungguh. Toh itu mustahil. Menghela nafas lagi, ia bersyukur suaranya telah pulang. "Ada apa sih, Larry?" Masih menatap manik cemerlang itu sejenak. Hanya sejenak, kemudian berpaling. Amanda menggigit bibir, tangannya bergerak, terangkat dan dengan cepat menyampirkan syal dalam genggaman ke atas bahu sahabatnya. So, sang gengsi menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau saja yang pakai." Ia mundur selangkah, berharap dengan begitu dentum kardionya dapat mereda. Tetap tidak, astaga. Bagaimanapun, ia memutuskan untuk bergeming di tempatnya, menanti penjelasan. Penjelasan mengapa Larry tak mau lagi menjadi sahabatnya, itu satu-satunya hal yang ia butuhkan saat ini, tak peduli seburuk apapun jawaban yang akan terlontar ke udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga yang terbaik. Amin.&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;(c) What's Wrong (Go Away) by Jennifer Hudson&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-1570983176057517523?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/1570983176057517523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=1570983176057517523&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1570983176057517523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1570983176057517523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/1900-4.html' title='19.00-#4'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-7738831739378741965</id><published>2009-06-28T21:52:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T19:15:35.995-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Watching Movie'/><title type='text'>Watching Movie-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Watching Movie-#2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar tidak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih penasaran triple kuadrat, sungguh. Sekali lagi, terkalahkan oleh rasa ingin tahunya, sang gadis turut menoleh kembali--bersamaan dengan anak lelaki di sampingnya. Kedua lapis cerulean miliknya bergerak abstrak, menembus kepekatan remang yang menyelimuti, mengandalkan siluet cahaya yang terpancar dari layar super besar yang terpampang di sisi depan. Pupilnya mengecil, kedua sisi kelopaknya menyempit. Tidak diragukan lagi, keriting gimbal itu hanya milik seorang Danielle Monteraz. Dan--bahkan dirinya pun heran akan kemampuan sang indera penglihatan yang mampu merekam siluet-siluet pribadi lain di baris atas, wajah-wajah yang tak asing tersapu oleh pandangannya, sedikit membuatnya tercengang. Let's see... Siapa lagi, eh? Sekali lagi matanya memicing, berusaha mengenali--oke, ada dua orang junior lainnya, seorang gadis dan--itu, Drake Lazarus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percaya tidak? Nama belakang itu tak berarti apa-apa lagi. Seriously.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang rasanya ia kenali lagi--Mallandrt. Kali ini mulutnya terbuka beberapa inchi, imbas dari rasa tak percaya yang menghampiri. Istvan, Lazarus, Mallandrt, Danielle, juniornya yang lain, dan mungkin ada lagi? Hm, Sloane Square, Royal Court Theatre lebih tepatnya, telah menjadi tempat liburan para siswa Hogwarts, eh? Tidak akan menimbulkan keheranan jika memang mereka telah mengadakan perjanjian satu sama lain, membuat rencana untuk menghabiskan masa-masa akhir liburan bersama--entah, namun baginya kemungkinan tersebut tak memiliki presentase keakuratan yang tinggi, melihat kombinasi jenis pribadi yang mengambil peran. So, ambil kemungkinan dari sisi lain--pertemuan, gathering hari ini &lt;i&gt;tidak disengaja&lt;/i&gt;. Jika memang benar itu yang terjadi, well... luar biasa. Tujuh siswa Hogwarts bertemu muka di Sloane Square tanpa rencana--wajar. Tujuh murid Hogwarts memiliki pikiran yang sama, pergi ke Royal Court Theatre? Tidak aneh. Tujuh penyihir muda memutuskan untuk pergi menonton sekuel kedua Superman pada waktu yang bersamaan tanpa sengaja--err... oke. Ketiga fakta diatas masih berada di garis rata-rata kewajaran, fine. Tetapi, lihat--tujuh pelajar Hogwarts, atau mungkin ada lagi, entah, berada di studio yang sama, duduk di baris yang SAMA dan berdekatan--kenyataan yang mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hogwarts itu kompak. Wow.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Nonton saja, Amanda."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Gadis cilik itu menghenyakkan tubuh dengan semestinya di atas tempat duduk, tertawa kecil. Nonton bareng--sama sekali tak menolak. Dikelilingi sekumpulan orang yang ia kenal selalu menghadirkan rasa nyaman tersendiri, kembali membawa angin semilir menyejukkan yang berbisik--ia tidak sendirian. Statement yang selalu membesarkan hatinya saat kelebatan Mum dan Dad mengukung benak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei. Mikir apa sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda melirik bungkusan yang baru ia sadari masih tergenggam di tangan kiri, mengeluarkan isinya--popcorn ukuran besar dan sekaleng soda, kemudian menyerahkan keduanya kepada Larry sementara kaleng miliknya diletakkan begitu saja di bagian kiri tempat duduk. "Kau--yang pegang popcorn-nya, ya?" ujar gadis itu, melempar cengiran khasnya kemudian bergegas mengalihkan pandangan ke depan, menantang layar. Sudah sampai mana? Sepertinya kesibukan memperhatikan pengunjung sekitar--dengan kata lain teman-temannya--memberi konsekuensi ketinggalan bagian awal film. Ia bersandar, membenamkan diri ke punggung kursi, berusaha mencari posisi yang nyaman, serta melepas topi birunya. Topi--kemungkinan besar akan mengganggu ruang lingkup penglihatannya, rite? Akan menjadi durasi yang panjang, menurut prediksinya, so, menontonlah senyaman mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah ya, sebelum lupa. Amanda menelengkan kepala ke kanan, berbisik kepada sahabatnya, "Larry. Seandainya aku tertidur di tengah-tengah film, bangunkan ya." Tersenyum sepintas, ia meraup segenggam popcorn, lalu kembali memfokuskan perhatian pada film di hadapannya. Hari ini, kali ketiga bagi seorang Amanda Steinhart bertandang ke bioskop, dan kebiasaan buruknya tak akan terulang. Dua kesempatan sebelumnya, ia sama sekali tak pernah tuntas menonton seluruh durasi film--selalu tertidur di tengah penayangan. Payah. Tetapi tidak kali ini. Tidak akan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena film kali ini adalah Superman.&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Memangnya seru, Paman?"&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Seru, menurutku."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Gadis cilik itu mengerutkan kening, tidak terlalu tertarik. Apa yang seru dari sebuah kisah fantasi tak berdasar seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Mau ikut nonton Superman tidak, Amanda?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;"Superman itu apa sih? Film muggle, aku tidak terlalu tertarik, Nathaniel."&lt;br /&gt;Ia mendongak menatap pamannya, kemudian hanya mengangkat bahu.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Well, itu film favorit kedua orangtuamu, lho."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Tersentak. Gadis itu terdiam, memandang sang paman yang barusan berbicara. Benarkah?&lt;br /&gt;"Aku ikut."&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;Karena itu film favorit kedua orang tuanya. Ia tidak tahu sesungguhnya Superman itu makhluk apa. Bahkan dirinya tak dapat menyingkirkan dengusan tak percaya saat melihat adegan tak realistis yang diangkat dalam film tersebut. Tetapi, bagaimanapun ia ingin mengetahui sisi menarik dari film yang satu ini, ia ingin memahami alasan Mum dan Dad memilih sang Superman sebagai tokoh favorit mereka. Apa? Jujur, selama ini ia selalu gagal menemukannya. Coba kita lihat, apakah kali ini ia berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Backsound berdentum, durasi berderap melintasi waktu. Amanda bergeming, begitu serius memperhatikan alur, seraya berkali-kali merogoh popcorn di samping. Astaga, tetap saja ia tak mampu menemukan sesuatu yang spesial dari tayangan film yang tengah terpantul di lensa kecokelatannya. Hanya seorang--atau apa? Entah--yang mampu terbang tanpa sapu, baik hati, suka menolong dan rajin menabung--oke, yang terakhir tidak serius. Tolong beritahu ia dimana letak keistimewaannya, please.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, setidaknya sudah setengah jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya lama sekali Amanda telah duduk di dalam sini, berkutat dengan ketidakmengertian yang menderanya. Gadis cilik itu memeluk tubuhnya sendiri. Dingin. Temperatur di dalam sini berbeda jauh dengan di luar, dan faktor ini turut mendukung kebodohannya untuk hadir--lagi. Ia merutuki diri, saat sinar lensa kecokelatannya mulai meredup, matanya berulangkali tertutup. Ayolah, Amanda. Tuntaskan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tahu ia tak akan pernah berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala gadis itu terkulai ke samping kanan--ke atas bahu sahabatnya, nafasnya terhela teratur sementara sepasang matanya tertutup. Salahkan keegoisan tubuhnya yang letih, yang sukses mengalahkan keinginannya. Terulang lagi, kan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-7738831739378741965?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/7738831739378741965/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=7738831739378741965&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7738831739378741965'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7738831739378741965'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/watching-movie-2-part-1.html' title='Watching Movie-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3266021648051535682</id><published>2009-06-26T07:16:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T19:14:01.150-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Saxophone'/><title type='text'>The Saxophone-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;The Saxophone-#2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang hazelnya kembali mengerling sang alat musik disana, tangan dalam saku. Antik, terlihat jelas dalam sekali pandang, dan itu menjadi daya tarik lebih baginya. Nathaniel bergeming di tempat dalam diam, mencermati tiap jengkal struktur yang mampu tertangkap oleh indera penglihatannya. Saksofon milik Holmquist--bagus. Kali ini ia tak berkeberatan untuk berkata jujur, sungguh. Saksofon miliknya juga tak kalah bagus, tentu saja, namun sebuah kata 'antik' mampu menambah esensi keindahan sang alat musik, menyiratkan nilai tambah--dan ia yakin gadis Slytherin di hadapannya tak mengetahui hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengar kan? Nat mengangkat sepasang alisnya, menahan diri untuk tak mendengus. Ya, tentu saja, bahkan Holmquist tak tahu bagaimana cara memainkannya. Tak perlu heran kalau begitu. Sebentar--rongsokan? Kau pasti bercanda. Ia hanya melempar senyum tipis, sedikit tak percaya akan apa yang telinganya tangkap barusan. Sebuah saksofon tak akan pernah bisa menjadi rongsokan, nona manis, kau saja yang tak mengerti. Dan menilik kalimat terakhir yang terilis, benaknya dengan mudah mengambil dua kesimpulan. Pertama, saksofon tersebut merupakan sebuah &lt;i&gt;pemberian&lt;/i&gt;, tak mungkin sang gadis membeli jika ia tak mengerti sama sekali--apa itu saksofon pun mungkin ia tak tahu. Benar atau tidak, well, tak terlalu peduli juga, &lt;i&gt;whatever&lt;/i&gt;. Kesimpulan kedua, sebenarnya tak perlu diungkapkan pun telah banyak yang mengetahuinya, ia yakin--Slytherin memang cerdik, harus ia akui. Mengambil keuntungan dalam tiap kesempatan yang hadir dan mampu menelisik celah yang tercipta. Tak berbeda dengan seorang Isla Holmquist, nampaknya. Memasang plang 'DIJUAL' dan duduk menunggu pembeli, eh? Lucu. Serius. Tidak pernah melihat pemandangan unik seperti ini sebelumnya, ngomong-ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kardionya sejenak terlonjak saat secara tiba-tiba sebuah tangan mengait lehernya dari belakang--seseorang yang tak asing, bisa ditebak. Pemuda empat belas tahun itu memutar leher, mengalihkan kedua matanya dari objek terdahulu. Kim, siapa lagi. Nat mengedikkan kepala dan menyeringai samar, melepaskan diri dari teman seasramanya. "Oi, Kim," ucapnya singkat, kemudian kembali menumbukkan tatapan ke arah gadis dan alat musik di hadapannya. Sejak kapan Kim memanggilnya anak muda? "Tidak sedang ngapa-ngapain." Tetap menatap lurus saat kalimat kembali terdengar dari mulut Kim, dan kali ini kening Nat berkerut. Apa maksudnya menggantungkan ucapan seperti itu, ha? "Tidak mengerti maksudmu," ujarnya kepada anak laki-laki berparas Asia di sampingnya, mengerling dengan kerutan masih tergurat di dahi. Aneh. Bagaimana kalau apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Holmquist pun berpikiran sama dengannya. Seorang JoongBo terkadang memang memiliki pikiran yang sulit dipahami--atau memang dirinya yang payah? Terserahlah. Pertanyaan konfirmasi dari gadis di hadapannya terlontar. Ada yang mau membeli saksofon tersebut--tua namun kualitas bagus, harga bisa nego. Oh, &lt;i&gt;man&lt;/i&gt;. Masih bersikukuh untuk menjual, rupanya, sama sekali tak mengindahkan sarannya. Membeli saksofon itu? Tertarik, sebenarnya. Hanya saja, sayang sekali saksofon perak miliknya masih baik secara keseluruhan, sama sekali tak menunjukkan tanda perlu digantikan oleh benda sejenis yang baru. Saksofon antik tak dapat ditemui dengan mudah di tepi jalan atau toko loak di London, ia amat tahu itu, dan toh masalah uang tak perlu dipermasalahkan. Sialnya, yang jadi permasalahan--satu-satunya dan yang terbesar--adalah : Dad. Apa yang akan dilakukan sang ayah jika mengetahui alat musik yang paling ia hindari untuk dilihat malah berkembang biak menjadi dua alih-alih menghilang sesuai keinginannya? Kemarahan tingkat tinggi, tak diragukan lagi. Dan kemarahan seorang Amethyst Gladstone merupakan hal terakhir yang ia cari. So-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-lupakan ide untuk membeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah kubilang, kan-" Nathaniel membungkuk, meraih saksofon yang tergeletak begitu saja di atas rerumputan, "-jangan dijual." Detik berikutnya sang alat musik mulai bersenandung, melontarkan nada-nada sebagaimana mestinya. Edelweiss, lagu favoritnya juga Mum. Kali kedua ia melantunkan nada yang sama di dalam Hogwarts--tetap saja hatinya mencelos selama beberapa saat, teringat lagi akan seorang wanita bernama Antoinette Gladstone. Ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sesaat, lalu berhenti. "Saksofon itu menarik, Holmquist, kalau kau belum tahu." Nat turut mengambil tempat duduk di bawah pohon, bersila. "Well, kelihatannya kau memang tak tahu."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3266021648051535682?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3266021648051535682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3266021648051535682&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3266021648051535682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3266021648051535682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/saxophone-2.html' title='The Saxophone-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-5538232331667172099</id><published>2009-06-25T02:34:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T17:39:47.029-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='19.00'/><title type='text'>19.00-#3</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;19.00-#3&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia cerdas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Selalu terlontar dari berbagai penjuru, namun mereka tak tahu bahwa kalimat tersebut tak tepat jika ditujukan padanya. Tidak cerdas. Pintar--sebagai seorang Ravenclaw, mungkin. Hanya pintar dalam mengingat, dear. Namun tak cerdas dalam bertindak. Tak pandai dalam memilih kata-kata yang terucap. Tak handal berpikir cepat maupun mengontrol benak, selalu mengalah kepada perasaan. Itulah Amanda Steinhart. Dan itu--fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah peristiwa yang telah terjadi selama ini tak cukup untuk menunjukkan sang elemen bertajuk bukti? Ia rasa cukup. Setahun lalu--jika ia diizinkan untuk kembali membahas insiden 'aneh' di jembatan--semua terjadi akibat kebodohannya, kelalaiannya dalam menahan ucapan, hati kecil yang begitu mendominasi, dan lain-lain, dan lain-lain. Tanpa keraguan, dan apakah kalian masih menganggapnya gadis Ravenclaw yang pintar? Jangan, sarannya. Ia bukan Ravenclaw sejati, dan nampaknya tak akan pernah bisa. See, dan malam ini kebodohan itu terjadi lagi. Terjadi lagi akibat kelugasan sang indera bicara, dan tercipta tanpa membolehkan saraf otaknya berpikir dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;Kuharap persahabatan kita juga seperti itu.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naif. Gadis itu masih terpaku di tempat, sorot matanya kini terpancang tanpa fokus ke arah kepekatan di luar sana, membiarkan desau angin menusuk kulitnya dan menghempas helai kecokelatan yang jatuh di pipinya. Menggigit, nyaris beku. Namun bergeming, tak ada keinginan untuk menggubris syal dalam genggaman. Bukan enggan dan tak menghargai, bukan itu. Hanya saja benaknya terlalu sibuk tertawa, menertawakan sang diri atas statement yang meluncur begitu saja beberapa saat yang lalu. Kuharap--kata pengantar yang merujuk kepada harapan dan permintaan. Entah, ia sama sekali tak mampu memprediksi bagaimana tanggapan Larry, tetapi rasanya kalimat yang ia ucapkan barusan, yang kini berulang di dalam kepalanya, terdengar amat konyol. Terdengar memaksa, ya. Maaf, dirinya sama sekali tak bermaksud memaksa anak lelaki di sampingnya untuk berbagi, tidak--terserah Larry. So, mengapa pula ia melontarkan penjelasan panjang lebar layaknya tadi, hm? Dasar bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum tentu juga sahabatnya mengerti. Dan... belum tentu juga seorang Jonathan L. Baned berpikiran sama dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya khawatir. Itu saja. Tak bolehkah? Salahkah ia jika mencemaskan sahabatnya? Salahkah jika hatinya hendak menawarkan bantuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya ngilu, ngomong-ngomong. Amanda mengangkat kedua tangannya, kembali menghembuskan nafas tepat ke arah jemarinya, berusaha mengenyahkan rasa dingin yang mengekang. Ck, payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersentak, kali ini. Respon itu akhirnya datang, berupa kalimat yang membuatnya terpaku di titik ia berdiri. Tak mau lagi... membentuk ikatan kovalen dativ? Amanda memutar tubuh sembilan puluh derajat, sepasang hazelnya mengerjap tak mengerti sementara guratan samar terbentuk di keningnya. Tertegun sejenak saat menyadari jarak antaranya dengan pemuda Hufflepuff telah bertambah dekat tanpa peringatan, ia merasakan dentum kardionya berjalan tak wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=#333333&gt;Eh? Kenapa, Amanda?&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya Larry, dear, tak perlu gugup begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Sang gadis menatap sepasang manik redup milik seseorang di hadapannya, melempar pandangan tak mengerti. Apa maksud pertanyaan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu berspekulasi terlalu lama, ternyata. Penjelasan konkrit mendarat bersamaan dengan pertanyaan kedua yang bergaung di udara. Dan hatinya mencelos. Pertanyaan yang satu ini--benar-benar terhempas kuat ke arahnya, membuat tubuhnya meremang, sensasi menyesakkan memenuhi rongga diafragmanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ke-kenapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spontan. Tak terpikir kata lain dalam benak. Kenapa? Ada apa? Kenapa Larry berkata seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku--salah apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungnya kian berderap cepat. Amanda menelan ludah, merilis nafas berembun yang tanpa sadar tertahan sejak tadi. Ada yang salah. Ia telah melakukan suatu kesalahan, ya kan? Sialnya, ia tak tahu apa. Ia tak sadar atau bagaimana--ia pun tak mengerti. Gadis Ravenclaw itu kini menunduk, menatap sepatunya sementara benaknya berputar cepat, membuka arsip memori yang tersimpan. Apa yang salah? Apa yang telah ia lakukan hingga Larry enggan bersahabat lagi dengannya? Terpekur, Amanda memilin syal dalam genggamannya, berbagai macam hal berkelebat dalam kepalanya. Ayolah, temukan satu alasan yang kira-kira menjadi penyebab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, tampaknya kesalahannya memang banyak. Ingat--insiden di jembatan, yang nampaknya membuat Larry berubah sikap, entah mengapa. Dan ia baru sadar, dirinya telah banyak menyusahkan sahabatnya yang satu ini, merepotkan selalu. Atau mungkin, kesalahan utama terletak pada penjelasan ikatan kovalen dativ yang terpapar beberapa saat lalu? Mungkinkah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama sekali tak tahu. Oh my. Ini buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku... minta maaf kalau begitu, Larry," ujarnya lirih, masih menunduk menatap sepatu olahraganya, dan detik berikutnya sang tangan kiri telah terayun, menyodorkan syal kuning-hitam kepada pemilik aslinya. "Ini. Kau saja yang pakai."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Action block. Tak tahu apa yang harus dilakukan. Maaf.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-5538232331667172099?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/5538232331667172099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=5538232331667172099&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5538232331667172099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5538232331667172099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/1900-3.html' title='19.00-#3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3382570649010117946</id><published>2009-06-23T07:31:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T17:44:17.204-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Blind Date'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><title type='text'>Blind Date-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Blind Date-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=#333333&gt;&lt;i&gt;"SERIUS?!"&lt;/i&gt; Dan tawa berderai, melukis tekstur jengkel di raut sang pemuda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tertawa?" tanyanya cepat, sarkastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini tak ada jawaban. Hanya terdengar suara tawa yang ditahan--namun tak terlalu berhasil. Sang anak laki-laki empat belas tahun mengerling sepupunya dengan jengah. Ah. Dugaannya tepat, kan. Tawalah yang akan timbul pertama kali sebagai respon. Sudah pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iseng, Amanda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis di hadapannya mencibir, menyikut rusuknya pelan. &lt;i&gt;"Hm? Yakin? Ah, sepupuku sudah dewasa rupanya."&lt;/i&gt; Sebuah tepukan di pucuk kepala. &lt;i&gt;"Apa yang kira-kira akan Paman Amethyst katakan jika tahu sang Gladstone junior ikut kencan buta ya?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel mengerang. "Oh, please, Amanda--"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidak, tidak, tenang saja. Rahasia. Janji."&lt;/i&gt; Gadis itu mengedipkan sebelah mata, mengambil sekotak cokelat kodok lagi. &lt;i&gt;"Ngomong-ngomong, Nat, kukira kau hanya akan bersedia kencan dengan Marvil."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No response. Kalimat telak. Pemuda Gryffindor itu tertegun sejenak, menelan ludah sebelum mengangkat bahu. "Well... tidak tahu."&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan malas menyusuri koridor lantai empat, ia menatap batu pualam tempatnya berpijak, mengamati dengan seksama kemana langkahnya hendak bergerak dalam setiap jengkal, setiap depa. Ragu? Ya, saat ini rasa bimbang mengetuk benaknya, mempertanyakan keputusan yang telah dibuatnya. &lt;i&gt;Blind date? Oh, man&lt;/i&gt;. Apa yang dipikirkannya waktu itu, sih? Siapa yang mengambil alih impuls sarafnya dan membuat tangannya bergerak, mendaftarkan diri? Tidak ada. &lt;i&gt;It's just him&lt;/i&gt;, tetapi ketika saat yang ditentukan tiba, yang ada hanya kebingungan akut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;His first date is blind date&lt;/i&gt;. Dan itu terdengar buruk. Baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tak ada yang bisa dilakukan, ha. Langkah enggannya terhenti tepat saat pintu tujuan telah terpampang di hadapannya, nafasnya terhela dengan berat. Hadapi saja--siapapun yang menjadi pasangannya, apapun yang akan terjadi, tak perlu terlalu dipikirkan. Toh hanya event iseng biasa, event asrama kebanggaannya, sekedar mengusir kepenatan dan rasa jenuh yang akhir-akhir ini sukses mendominasi. Rite? Benar begitu. Hanya begitu saja, Gladstone, tak perlu khawatir. Perlahan, masih dengan keraguan yang memeluk batin--serta keinginan kuat untuk memerintah kakinya agar berbalik dan berderap kembali menuju ruang rekreasi--ia membuka pintu kelas kosong. Dan masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remang. Sapuan cahaya hanya menari di titik-titik tertentu, membentuk siluet-siluet yang saling menyapa abstrak, melayang dalam satuan jajar berpola. For Merlin's sake--apa yang ia saksikan, eh? Tak perlu bertanya, sebenarnya--&lt;i&gt;candle light dinner&lt;/i&gt;. Very nice. Dirinya berbohong jika mengaku tak terkejut. Diluar prediksinya, jika boleh jujur, dan fakta ini membuat rongga diafragmanya kembali mencelos tak nyaman. Makan malam dengan gadis yang ia tahu-saja-belum-tentu sudah tampak buruk, dan sekarang ditambah dengan properti bercahaya redup dan setting tempat bak roman picisan? Great. Pasrah, Nat mulai bergerak gontai, manik kecokelatannya menelusuri tiap kartu yang melayang beberapa sentimeter di atas masing-masing meja, mencari nomor yang tertera dalam undangan miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga. Disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=#333333&gt;&lt;i&gt;Hanya kegiatan iseng, Gladstone, tenang saja.&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fine. Berterimakasihlah pada sang benak yang senantiasa mengingatkan, mengizinkan hatinya untuk merilis tawa tertuju kepada dirinya sendiri. Nathaniel mengambil posisi duduk dalam satu gerakan, kemudian bersedekap tanpa suara. Siapapun junior yang menjadi 'partner'-nya malam ini, gadis itu belum datang. Pandangannya kembali berputar, menatap satu persatu pribadi yang hadir--dan secara refleks mengerling setelan yang ia kenakan. Kontras. Salah kostum nampaknya--well, tak peduli. Nat mendengus samar saat menyadari pakaian apa yang ia pilih untuk event kali ini, so simple. Celana jins kelabu dengan T-shirt dan jaket hitam. Tak berlebihan. Sama sekali tak terlintas di kepalanya untuk mengenakan pakaian resmi--tidak, tentu saja tidak, ia tak seniat itu. Katakan ia payah, terserah. Toh tak ada yang spesial, dan hanya dilakukan hari ini, untuk Gryffindor. Sekali-sekali keluar dari jalan pemikirannya yang kaku dan monoton, tak ada salahnya, rite?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Tak menerima bantahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, relakan diri kepada sang aktivitas menjengkelkan. Menunggu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3382570649010117946?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3382570649010117946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3382570649010117946&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3382570649010117946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3382570649010117946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/blind-date-1.html' title='Blind Date-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-7640281528567979876</id><published>2009-06-16T15:36:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T17:40:07.355-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='19.00'/><title type='text'>19.00-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;19.00-#2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat yang berbeda, sudut pandang turut berbeda. Berdiri pada koordinat yang berbeda pula. Kerlingan matanya kini terarah pada kepekatan sang penaung bumi di atas sana, berusaha mengabaikan para bulir putih bersih yang jatuh bebas, masih berharap dapat melihat setitik pendar keemasan mengerjap. Sama saja. Nihil. Perbedaan itu sama sekali tak berpengaruh. Bahkan menjejak di atas menara tertinggi pun tak mampu merealisasikan harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei. Itu tidak penting sekarang, Amanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar. Perhatiannya kali ini tertuju lurus, masih dan belum berubah, kepada wajah di hadapannya. Tidak suka. Gadis itu tak senang melihat relief wajah seperti itu. Katakan ia sok tahu, silahkan--tetapi seandainya kalian semua bersedia untuk percaya, gadis lima belas tahun yang tengah berdiri disana itu memiliki kemampuan untuk membaca mimik secara akurat. Dan tak ada gunanya kau berbohong--tertebak. Serius. Amanda mengerjap, menegakkan kepalanya dan menunggu. Ada apa dengan sahabatnya, hm?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oho, kedutan di bibir seperti itu tak perlu kau lontarkan, Jonathan. Sang gadis tertegun sejenak, sepasang alisnya merapat saat melihat sosok di hadapannya melepas syal yang dikenakan kemudian-- memberikannya? Eh? Selama beberapa detik ia hanya terdiam, menatap syal dan pemiliknya secara bergantian, lensa kecokelatannya berpendar tak mengerti. Apakah barusan ia mengungkapkan bahwa dirinya kedinginan? Rasanya tidak. So, dua  kemungkinan, Larry berspekulasi, atau--gestur tubuhnya menunjukkan seperti itu? Ia tak merasa, sungguh. Well, apapun itu, ada yang aneh--kegugupan itu hadir. Tanpa alasan yang jelas dan tanpa bisa dicegah. Amanda menunduk, menatap sepatunya sekilas, kedua tangan di dalam saku. Jadi, hendak membiarkan saja tangan Larry terulur, dear? Atau bahkan menolak? Ia tahu, itu bukan sikap yang baik. Menolak niat baik seseorang itu bukan sikap yang tepat--tetapi benaknya terus berbisik, memberi sebuah sugesti yang telah seringkali timbul di beberapa momen dan telah terpatri dalam. Jika dirinya menerima syal tersebut... ia akan terlihat lemah. Payah, dingin pun mampu mengalahkannya. Tapi--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Oh ayolah, Amanda. Akankah kau menolak untuk kedua kali? Seperti saat insiden di danau tiga tahun yang lalu?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Larry, err--maaf... Aku... sudah mengenakan jubah... um, see?"&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti itukah? Tidak. Tidak lagi. Amanda menggerakkan tangannya perlahan, menerima benda khas asrama musang tersebut dengan sedikit ragu. Senyum lemah terlukis. "Terima kasih." Kemudian diam. Hanya digenggam, tak dipakai. Ia tidak kedinginan, kok. Tidak terlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Aku oke. Kenapa ada disini?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, katanya. Sang gadis memperkecil pupil miliknya, melempar tatapan menyelidik. Oh my, Larry, kau bohong. Seorang Amanda Steinhart tak dapat dibohongi, dear. Ia menghela nafas, membiarkan keheningan kembali memimpin sejenak. Kau tahu apa artinya itu? Bahkan sahabatnya tak percaya padanya. Hal yang wajar--ia bukan pendengar terbaik. Bukan tempat yang tepat untuk menumpahkan segala keluh kesah. Juga bukan sahabat yang baik. Begitukah? Ah, ya, dan mengenai pertanyaan yang terlontar... Kenapa, Amanda? Kenapa kau kesini? Itu--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=#333333&gt;&lt;i&gt;Untuk bertemu denganmu, Larry, apalagi.&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Err... Langit disini... sepertinya bagus." Apakah benar ia yang berbicara barusan, ha? Terdengar aneh, sangat, nada gugup itu masih melekat. Ia tak pandai berbohong, ternyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Bisa tolong temani-sebentar? Ahaha."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mengerjap, menatap manik sang pemuda Hufflepuff, tak kuasa menahan senyum heran. "Tentu. Mengapa tidak?" ujarnya gamblang, kemudian langkahnya berputar menuju ambang jendela. Boleh jujur? Ia tengah merutuki dirinya sendiri detik ini. Bertanya dan protes karena tak menemukan jawaban mengapa sensasi berdesir itu merayapi hatinya. Sensasi menyenangkan--jangan tanya kenapa. Gadis dengan surai kecokelatan itu mengangkat wajah, untuk yang kesekian kalinya menelusuri langit malam penuh kesuraman tanpa titik cerah, sadar sepenuhnya bahwa peneropongan bintangnya hari ini gagal total, berganti tujuan. Menemani sahabatnya. Hm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada yang mengganjal di hati. Ia belum tahu ada apa dengan Larry, rite? Tidak bisa begitu. Sama sekali tak bisa. Namun dirinya juga tak memiliki hak untuk memaksa--terlebih jika menilik sikap sang sahabat yang terlihat begitu enggan memaparkan dan menjelaskan. Ya... oh, Larry harus dengar sesuatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei, Larry," panggilnya lirih, pandangan tak beralih, tetap lurus ke atas sana, kepada sang maha langit. Ada sesuatu--yang tiba-tiba terlintas. "Apakah kau pernah mempelajari kimia? Materi muggle, yeah, memang. Menarik tapi, bagiku." Jeda sejenak, menarik nafas dan menghembuskannya cepat. "Ada satu... yang selalu kuingat hingga detik ini sejak pamanku menjelaskan panjang lebar--satu, yang selalu kujadikan perbandingan." Amanda menunduk, tercenung sebentar, kemudian menoleh dan menatap sahabatnya, lagi. "Apakah kau pernah mendengar istilah... ikatan kovalen dativ, eh, Larry?"&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Ti...dak mengerti, Paman. Haha."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ck. Mudah kok. Dua molekul saling berikatan, erat, dan menggunakan elektron secara bersama-sama. Itu saja."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu... namanya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ikatan kovalen."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis cilik itu mengangguk, mulutnya membulat. "Yang ini? Sama saja, ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidak. Berbeda, dear. Itu ikatan kovalen dativ."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bedanya?"&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak menunggu jawaban. "Kovalen dativ, istilah yang seringkali membuatku tersenyum--well... Persahabatan itu ibarat ikatan kovalen dativ, Larry--" Engsel lehernya kembali berputar, menatap keluar jendela tanpa fokus yang jelas, kemudian melanjutkan, "--mengikat, namun tak mengekang. Dan yang membuat mereka unik, berbeda dan menyenangkan--" Amanda menyelipkan rambut kecokelatannya ke belakang telinga, tersenyum, kali ini lebih kepada dirinya sendiri. "--mereka selalu berbagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Hei. Melantur.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kuharap persahabatan kita juga seperti itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengertikah? Tidak juga tak apa. Detik berikutnya gadis itu tersentak, mendengus tak percaya. Untuk apa ia berujar seperti itu? "Ah, maaf, Larry. Lupakan."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-7640281528567979876?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/7640281528567979876/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=7640281528567979876&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7640281528567979876'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7640281528567979876'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/1900-2-part-1.html' title='19.00-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-1976081956223988729</id><published>2009-06-15T01:46:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T18:36:57.060-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Sejarah Sihir'/><title type='text'>Kelas 4-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Kelas 4-#2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=#333333&gt;&lt;i&gt;Sometimes--we guard people from the truth to protect them from being hurt, but by doing that we only hurt them more in the long run...&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat. Kutipan itu--bagus. Tercetak dalam huruf tebal di halaman pertama novel muggle favoritnya. Menjadi kalimat yang secara spontan terlintas dalam benaknya saat ini, terkondisikan dan terpatri dalam, mengiringi rasa kesal yang masih hinggap. Bisikan 'sudahlah-Amanda' terus bergaung, namun kejengkelan itu tak jua surut. Ck. Seorang gadis bernama Amanda Steinhart memang memiliki kesabaran di atas garis normal--ia harap begitu--tetapi jika dirinya terlanjur dibuat kecewa, akan sulit meredakannya kembali. Sulit untuk memanggil kepercayaannya lagi--jika ia dibohongi. Dan emosinya tengah berada pada tingkatan tersebut saat ini. Bukan sesuatu yang baik. Percayalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menggelengkan kepala samar, benaknya berteriak, sugesti dilancarkan melalu impuls menuju sang batin--lupakan sejenak, dear. Waktunya belajar. Waktunya berdiskusi, lebih tepatnya. Jawaban yang terlontar dari pemuda di sampingnya secara otomatis menggerakkan tangan kanannya, mengangkat pena bulu, menggoreskan tinta di atas perkamen, memulai. Apa katanya? Departemen Hubungan Sihir Internasional? Gerakan tangan terhenti, benaknya berputar. Benar, lantai lima, dan mengurusi kerjasama sihir internasional di berbagai bidang, tentu saja. Apa lagi yang pernah dijelaskan Leander mengenai kementrian, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Sekarang giliranmu, babe!"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha? Dengusan terilis--oh my, tak bermaksud, sungguh. Amanda berusaha menahan tawa juga ketercengangan yang melanda saat kalimat tersebut tiba di telinganya. &lt;i&gt;Babe&lt;/i&gt;? Oh, &lt;i&gt;ridiculous&lt;/i&gt;. Sebenarnya tak akan menjadi sesuatu yang mengherankan jika kata itu terlontar dari mulut orang lain. Tapi ini? Seorang Fabios Dutie--aneh. Padahal Amanda telah mempersiapkan diri menghadapi kalimat sarkasme yang terbiasa diucapkan anak laki-laki Gryffindor tersebut, berjanji tak akan menggubrisnya seperti saat di kelas Pemeliharaan Satwa Gaib setahun lalu. Tapi--well, di luar prediksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"Oke. Yang kutahu--Departemen Hubungan Sihir Internasional..."&lt;/b&gt; Gadis itu mengetuk-ngetukkan pangkal pena bulu dalam genggamannya ke dagu, mencoba mengingat. Leander telah menjelaskan panjang lebar mengenai kementrian sihir, kalau ia tak salah ingat--dan fakta tersebut sungguh ia syukuri saat ini. &lt;b&gt;"...terdiri dari 3 sub departemen, yaitu Badan Standar Perdagangan Sihir Internasional; Kantor Hukum Sihir Internasional dan Konfederasi Sihir Internasional, Kantor Pusat Inggris. Anggota sub departemen Konfederasi Sihir Internasional dipilih oleh sang menteri sihir dengan persetujuan Wizengamot, dan dikepalai oleh seseorang dengan gelar "&lt;i&gt;Supreme Mugwump&lt;/i&gt;" atau pemimpin tertinggi. Yang pertama kali ditunjuk sebagai &lt;i&gt;Supreme Mugwump&lt;/i&gt; adalah Pierre Bonaccord, namun penunjukkannya sempat ditentang oleh para penyihir di Liechtenstein, berkaitan dengan pendapatnya mengenai penghentian perburuan-Troll dan penentuan hak Troll. Err..."&lt;/b&gt; Amanda mengerling Dutie, sedikit merasa tak enak karena bicara panjang lebar. Hm, tak terlalu panjang lebar juga sebenarnya--banyak kalimat Leander yang tak mampu ia ingat. Fine, sepertinya cukup untuk departemen yang satu itu. Ia membubuhkan titik di akhir kalimat yang tertulis di atas perkamen, menghela nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;"Next. Departemen Transportasi Sihir."&lt;/b&gt; Semakin cepat selesai semakin baik. Ia mencelupkan pena bulu ke dalam botol tinta, seiring dengan gerakan menyelipkan rambut ke belakang telinga. Siap menulis lagi. &lt;b&gt;"Yang kutahu, departemen ini mengatur segala hal yang berhubungan dengan transportasi sihir, baik itu hal-hal mengenai regulasi maupun aplikasi. Berada di lantai keenam kementrian, dan memiliki empat sub departemen."&lt;/b&gt; Berhenti sejenak untuk menarik nafas, gadis itu kemudian melanjutkan, &lt;b&gt;"Yang pertama, Autoritas Jaringan Floo, mengatur dan mendata perapian mana sajakah yang terhubung dengan jaringan Floo. Hal ini tak dapat dilakukan bahkan oleh seorang penyihir berkualifikasi tanpa akses istimewa dan/atau peralatan sihir spesial. Pegawai Autoritas Jaringan Floo memiliki kemampuan untuk memonitor koneksi Floo dan mampu mendengar percakapan yang berlangsung melalui jaringan tersebut. Hm... Well, bagaimana menurutmu, Dutie?"&lt;/b&gt; Menoleh ke arah pemuda di sebelahnya, Amanda kini memuntir sang pena bulu, memainkan dengan jemarinya. Giliranmu, Dutie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong, ia baru sadar--ada Larry. Amanda menatap anak lelaki Hufflepuff di kejauhan, matanya mengerjap. Hari ini memang sedikit berbeda, dengan kekesalan yang telah muncul sejak awal, bahkan dirinya lupa mencari sahabatnya terlebih dahulu saat langkahnya menjejak kelas. Terbiasa berpartner dengan seorang Jonathan L. Baned, kau tahu. Tapi--ya, lagipula sahabatnya sudah dengan Windstroke. Ya sudah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perutnya terasa aneh. Sensasi ini--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Kenapa dear? Hm?&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ti-tidak. Hanya lapar. Mungkin.&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;Credit to http://www.hp-lexicon.org/about/books/op/rg-op28.htmlthis &amp; http://harrypotter.wikia.com/wiki/Ministry_of_Magic&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-1976081956223988729?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/1976081956223988729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=1976081956223988729&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1976081956223988729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1976081956223988729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/kelas-4-amanda-2.html' title='Kelas 4-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-8674641595570077913</id><published>2009-06-13T20:41:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T17:40:25.983-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='19.00'/><title type='text'>19.00-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;19.00-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Here&lt;/i&gt;. Menara Ravenclaw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sirius? Nope.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu--lapisan kepekatan tanpa pendar. Sigh. Gadis cilik itu menghela nafas, menurunkan sang properti utama. Benar, tidak ada Sirius. Canopus, Arcturus, atau Alpha Centauri mungkin? Tidak juga. Mereka kompak hari ini atau bagaimana? Detik berikutnya, sang telapak tangan kanan dengan patuh melaksanakan tuganya, menopang dagu gadis itu, gadis di tepi jendela, sikunya bertumpu pada ambang lengkung tanpa kaca di salah satu sisi menara. Payah. Benar-benar payah. Prediksinya salah--tak beruntung, ya, terlebih lagi disertai fakta bahwa sesungguhnya ia tak mengerti sama sekali mengenai konstelasi dan perbintangan. Sedikit mengangkat wajah, lensa kecokelatannya bergulir, berusaha menemukan setidaknya sesuatu--sesuatu yang dapat ia amati di atas sana. Tetapi tampaknya sang langit tetap bersikukuh menyembunyikan para pencipta cahaya yang biasa menyapa. Kecuali satu, tentu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, teruntuk personil langit yang satu itu, alat dalam genggamannya tak begitu diperlukan. Amanda mengerling--teropong, atau teleskop, entah--apapun itu, yang berada di tangan kanannya, kemudian kembali melayangkan pandang ke luar jendela. Teleskop bintang, dear, benar, hadiah ulang tahun dari sang kakak yang tiba dua hari yang lalu. Hitam, dengan panjang awal sekitar sepuluh sentimeter namun dapat diperpanjang hingga satu meter, dan hanya diperuntukkan bagi satu sisi mata--nice, dan bukan teleskop biasa, tentu. Ia sama sekali tak mampu memprediksi apa yang berada di benak Leander hingga pemuda itu memilih sebuah teleskop sebagai hadiah, bukan sesuatu yang lain. Dirinya tak merasa pernah mengatakan bahwa ia penggemar mata pelajaran astronomi, atau seseorang yang senang memandang langit malam dengan seksama, tidak. Rasa bingung masih terselip di hati, namun rasa penasaran juga turut menyeruak ke baris terdepan, meyakinkan benaknya untuk berkompromi dengan sang raga--berangkat ke salah satu jendela di menara asrama, berharap dapat melakukan observasi singkat setelah berspekulasi asal bahwa malam ini adalah malam yang tepat. Tapi ternyata justru langit di atas sanalah yang enggan tersenyum saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab utama kegagalan telah ditemukan. Amanda membuka telapak tangan kirinya, menjulurkannya keluar--dan merasakan titik-titik lembut merebahkan diri dengan nyaman disana. Salju. Tak heran kalau begitu. Gadis itu mengangkat sang teleskop sekali lagi, mendekatkan mata kanannya dan menutup yang sebelah kiri--jangan putus asa. Dalam surat yang ditulis Leander, deskripsi serta cara penggunaan terjabarkan dengan jelas, membantunya memahami tiap-tiap bagian yang eksis pada tubuh sang teleskop. Dijelaskan, keterangan detail mengenai benda langit, apapun itu, akan muncul begitu sensor menangkap keberadaan sesuatu, memberikan informasi bagi penggunanya dengan akurat. Well, mungkin setidaknya benda ini dapat digunakan untuk mengangkat nilainya dalam mata pelajaran astronomi. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bergerak--menjelajahi kepekatan tanpa titik cahaya. Amanda menggeser benda tersebut perlahan, meniti tiap jengkal langit yang terbentang jauh di hadapannya. Sudah lima belas menit, omong-omong, dan lehernya mulai pegal. Memutuskan untuk mengganti haluan, ia menurunkan sang teleskop, mengarahkannya ke objek yang berdiri dalam hening di bawah sana. Terlihat jelas dari sini--gubuk Hagrid dan hutan terlarang, desau angin teriring menghembus pucuk pepohonan. Lagi, bergeser lagi tanpa tujuan yang jelas. Tidak menarik. Tidak ada sesuatu yang dapat diama--eh? Sebentar. Itu--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesawat kertas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahinya berkerut. Bukankah seharusnya tiap siswa tengah berada di Aula Besar untuk makan malam, hm? Ya, seharusnya sih begitu, termasuk dirinya--tidak lapar, dan Amanda enggan meneropong bintang jika banyak pribadi yang berlalu lalang di belakang punggungnya. Karena itulah, pukul tujuh dirasa tepat. Ternyata tidak. Siapa gerangan yang tidak lapar juga? Lipatan perkamen sedemikian rupa itu terus turun, turun, menghampiri hamparan pepohonan yang telah menunggu. Detik berikutnya fokus teleskop kembali berpindah. Kali ini mengarah tepat ke arah menara tertinggi--menara astronomi, &lt;i&gt;there&lt;/i&gt;. Siapapun, atau apapun yang bertindak sebagai pencipta pesawat tersebut kemungkinan besar berada di sana, menurutnya. Tak perlu menekan tombol &lt;i&gt;zoom&lt;/i&gt; seperti sebelumnya, menara astronomi telah terperangkap jelas dalam pandangannya, menampakkan sesosok anak laki-laki di salah satu jendela... dan gadis itu tersenyum lebar. Kenyataan yang sedikit mengherankan. Juga menggembirakan. Amanda melipat kembali teleskop hitam miliknya, memasukkan ke dalam saku, kemudian mulai melangkah. Ke menara astronomi, hendak menemui sang sosok disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Larry. Great.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;[Menara Astronomi]&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Satu hal lagi yang ia sesali. Tak ada jaket. Tak ada syal. Ck ck, Amanda. Derap langkahnya bergaung samar, meniti tiap anak tangga batu dalam keremangan. Gadis lima belas tahun itu menghembuskan nafas tepat ke arah kedua telapak tangannya, berusaha mengusir rasa dingin pekat yang menusuk. Perbedaan suhu disini dan di menara Ravenclaw cukup mencolok--tempat ini tak memiliki perapian, benar--sehingga ide untuk mengenakan baju hangat terlintas dengan amat terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjejak anak tangga terakhir, lengkung samar kembali terpeta di kontur wajahnya. Entah apa yang mendorongnya untuk hadir disini, ia pun tak mengerti. Mencari teman untuk meneropong bintang, mungkin? Ti--dak juga. Ingin bertemu sahabatnya, itu saja. Sepasang kakinya melangkah menghampiri sosok lain di salah satu ambang jendela, mengambil posisi di samping sang anak lelaki tersebut sebelum mengacak rambut sahabatnya--kebiasaan. "Hai, Larry." Senyumnya perlahan memudar, matanya mengerjap. Manik kecokelatannya berpendar, menatap lekat wajah pemuda Hufflepuff di sebelahnya. Boleh berpendapat? Ada sesuatu di relief wajah itu, guratan yang amat jarang ia temukan selama ini. Dan saat guratan itu hadir, rasa khawatir selalu memeluk hatinya. Larry--sedang sedih? Amanda menelengkan kepala. "Hei. Kau--" suaranya terilis lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"--kenapa?"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-8674641595570077913?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/8674641595570077913/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=8674641595570077913&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8674641595570077913'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8674641595570077913'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/1900-1-part-1.html' title='19.00-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-8414325385292466197</id><published>2009-06-11T15:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:48:35.063-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Preparing For...'/><title type='text'>Preparing For...</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Preparing For...&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"...yang mana? Yang itu atau yang ini?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angkat bahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Anak pintar, jangan sungkan. Ayolah. Phineas atau Armando? Atau mungkin Albus?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, astaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghela nafas sekali lagi, disertai gerakan memejamkan mata sekilas. Berapa menit? Tiga menit. Sudah tiga menit berlalu semenjak sepasang kakinya menjejak di atas lantai pualam ini, disini. Ck. Kelereng kecokelatannya kembali terfokus, menatap satu titik di hadapan--&lt;i&gt;Fat Lady&lt;/i&gt;. Lukisan itu--tengah dalam keadaan abnormal, kalau kau mau tahu. Nathaniel bersedekap, menyandarkan sebelah bahunya ke dinding terdekat, bola sepak di kaki. Sampai kapan ia harus menunggu, ha?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsi--baik. Pigura tak asing. Singgasana terbaik sang Nyonya Gemuk tentu tak pernah berubah dalam hal latar belakang. Hanya saja, saat ini personil karya seni itu telah bertambah. Seorang wanita usia lima puluh tahun-an dengan setelan zaman Perang Dunia kedua tengah bertamu, dan telah berceloteh tanpa henti semenjak lima menit yang lalu, memberi imbas luar biasa menjengkelkan bagi si anak lelaki Gryffindor disana. Kata kunci yang digaungkannya lebih dari tiga kali tak mendapatkan gubrisan sedikitpun. Nice. Dan detik ini sang wanita jaman-dulu itu melempar pandangan lekat ke arahnya, menunggu jawaban. For Merlin's sake, yang benar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berdeham. "Madam--"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Ya? Ya?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desahan kecewa terdengar dari dua sisi bibir bergincu tebalnya. &lt;font color=#333333&gt;"Kalau begitu, jangan izinkan ia masuk, dear &lt;i&gt;Fat Lady&lt;/i&gt;."&lt;/font&gt; Wanita tua itu melengos, dan taruhan, Nat melihat cibiran samar terpampang di wajah keriputnya. &lt;font color=#333333&gt;"...tidak ketiganya, mungkin, Lady. Hm, dengar-dengar sih, Sir Cadogan punya wajah jauh lebih tampan--"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah. Cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel mencabut tongkat sihirnya, berdeham sekeras yang ia mampu dan mengangkat Elder dalam genggamannya sejajar dengan dada, menatap tajam penuh arti ke arah kedua wanita dalam lukisan--ia sedang tak ingin bercanda. Dan ia benci menunggu. Serius. "Scaramoure." Bersyukurlah karena password asrama tak identik dengan mantra pengubahan dalam transfigurasi--jika tidak, mungkin tongkatnya telah bereaksi saat ini. Well, apapun. Yang terpenting, gertakannya mempan. Ia kembali menyelipkan tongkatnya ke balik saku, memungut bola dan melangkah seraya menyeringai saat lukisan di hadapannya--akhirnya--mengayun terbuka, disertai teriakan 'tidak-sopan-dasar-anak-zaman-sekarang' yang melengking membahana di belakangnya. Tidak dengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memanjat lukisan dan mengacak rambut hitamnya, ia menghela nafas perlahan, merilis rasa lelah yang melanda--&lt;i&gt;fatigue&lt;/i&gt;. Sedikit mengherankan, harus diakui. Hanya berlatih, FYI, juggling dasar, disertai percobaan &lt;i&gt;swerve shot&lt;/i&gt; berulang kali. Itupun tak pernah ia kuasai dengan baik bahkan hingga senja menyentuh bumi--tetapi kakinya mulai memberontak, pegal luar biasa. Karena tak pemanasan atau bagaimana, eh? Tidak tahu. Yang ia tahu saat ini hanyalah tubuhnya berbisik ingin tidur, tak peduli dengan jam makan malam yang akan menyambut sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jejaknya melambat. Satu lagi yang membuat kejanggalan hari ini berada di atas titik normal--ruang rekreasi ramai. Penuh sesak. Ia ketinggalan sesuatu? Memutuskan untuk mematuhi rasa penasarannya, Nat melempar pandangan ke seantero ruangan dengan kerutan di dahi, mencoba menemukan sesuatu yang mampu memberinya informasi. Dan disana--siluet secarik perkamen terekat diatas sebuah lukisan layaknya pengumuman eksklusif, menawarkan apa yang dicarinya. Melangkah mendekat, matanya bergerak cepat membaca tiap-tiap kalimat yang tergurat, diiringi gerakan mengangkat kedua alis, semakin lama semakin tinggi. Ditutup dengan dengusan tak percaya. &lt;i&gt;Blind date&lt;/i&gt;? Wohoo. Tersirat, semua warga Gryffindor wajib ikut. Hm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;Yang terpikir dalam benak? Marvil.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mengapa hanya Gryffindor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh my. Kau mulai sinting, Gladstone. Anak lelaki empat belas tahun itu menggelengkan kepala, menertawakan diri sendiri. Marvil tidak ada disini, bodoh. Sayang sekali. Ia berputar, bersandar pada dinding di belakangnya sementara jemarinya memutar sang bola sepak. Berpikir, Nak. Ikut, atau tidak? Well, kira-kira apa yang akan ia dapatkan jika tidak turut serta? Sebuah kerlingan lagi-lagi mendarat di atas perkamen di dinding--dan Nat menelan ludah. Ciuman senior Claymer? Oke, berpartisipasi dalam kencan buta nampaknya tak terlalu buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengamati selama beberapa saat, Nat mengeluarkan selembar robekan perkamen kusam dari saku, juga sebatang pena bulu--kebiasaan buruk yang menguntungkan, menyimpan sampah perkamen dan lupa membuangnya--kemudian mengikuti apa yang orang-orang lakukan. Menulis. Dengan presentase keraguan lima puluh persen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;Nama : Nathaniel Gladstone&lt;br /&gt;Gender : Male, of course&lt;br /&gt;Kelas : Tiga&lt;/hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekali sentak melemparkannya ke dalam kotak. Done. Mencoba sesuatu yang berbeda di tahun ketiga sepertinya menarik. Hope... so. Toh tidak akan melakukan apa-apa, rite? Keluar dari jalur pemikirannya yang kaku akan memberikan sesuatu yang tak mampu diprediksi. Dan itu yang tengah ia cari, mengenyahkan hari penuh kebosanan dan hal-hal datar. However--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Amanda pasti menertawakannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-8414325385292466197?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/8414325385292466197/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=8414325385292466197&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8414325385292466197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8414325385292466197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/preparing-for.html' title='Preparing For...'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-7088031180643623976</id><published>2009-06-09T23:24:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T19:09:18.568-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Amulet of Samarkand'/><title type='text'>The Amulet of Samarkand-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;The Amulet of Samarkand-#2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepatkah pendapatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini tuan angin yang hadir untuk bermain. Hembusan, desau abstrak mengacak rambut kecokelatannya, membuat tangannya sesekali sibuk menyelipkan sang gerai ke belakang telinga atau sekedar merapikan helainya ke belakang. Dingin. Indah, harus ia akui, menyaksikan visualisasi hujan daun kering di depan mata, merasakan sensasi ketenangan yang berbisik di telinga serta gesekan elemen lembut di pipi--namun tetap, pendapat mengenai sang musim tak akan berubah. Indah, tapi menyembunyikan kenelangsaan di baliknya. Baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih bersimpuh, sepasang lensa kecokelatannya terpancang lurus ke arah permukaan danau. Ke sana, tepat ke arah titik dimana prefek MacKenzie terlihat menceburkan diri. Menunggu. Sudah berapa lama, eh? Tujuh detik, mungkin. Atau mungkin sepuluh. Dan bahkan prediksi yang telah terlontar dari bibirnya barusan--prefek MacKenzie menyelam, ya kan?--tak mampu mengenyahkan rasa cemas yang mulai merambati benak. Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tak ada. Apakah senior tersebut benar-benar tenggelam atau hanya menyelam--mungkin mendapatkan kesulitan? Sigh, ketidakpastian akan suatu fakta penting jauh terasa lebih menyesakkan dibandingkan saat kau tahu apa yang kau hadapi. Satu alasan--kau tak tahu apa yang harus kau lakukan. Apa yang harus ia lakukan? Hanya diam menunggu disini, duduk di atas rerumputan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa berenang itu sungguh menjengkelkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis Ravenclaw tersebut menggigit bibir bawahnya, berpikir. Apa? Jujur, kecemasan itu telah hadir, kawan. Kepalanya tertoleh spontan, titik fokus tatapannya berpindah saat selarik mantra panggil bergaung di udara. Ah, ada senior Vandrea. Amanda tersenyum simpul, menatap gadis dewasa itu dengan binar tak terdefinisi di kedua hazelnya. Selalu ia kagumi, seorang Wina Vandrea itu. Gadis anggun yang luar biasa menarik--namun sayangnya kesan terakhir yang didapatkannya mengenai sang senior sedikit bergeser setelah peristiwa yang ia saksikan di pesta awal tahun. Tidak, tetap, kekaguman itu masih ada. Salut. Pandangannya masih terpancang pada objek yang sama, mengekori saat sosok itu terbang menghampiri Windstroke, berbincang sejenak--tidak terdengar dari sini, mate--dan detik berikutnya Amanda kembali tercengang saat menyaksikan sang senior terjun tanpa basa-basi dengan menggunakan sapunya sebagai pijakan awal. Eh? Turut juga? Well, sepertinya memang ada yang tidak beres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan senior Vandrea pun ikut menghilang dari pandangan, meninggalkan riak lembut di titik dimana ia menceburkan diri beberapa saat lalu. Tebak? Irvine juga melakukan hal yang sama. Menghilangkan diri dari permukaan, ikut menyelam. Ah, kali ini Amanda benar-benar dibuat bingung. Apa yang bisa ia lakukan? Diam tanpa tindakan hanya membuatnya merasa amat tak berguna--terlebih jika ternyata memang benar ada &lt;i&gt;sesuatu&lt;/i&gt; di bawah sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkerjap. Sepasang alisnya meninggi saat melihat Windstroke terbang menghampirinya. Lagi-lagi mantra panggil kembali berperan. Gillyweed? Oh my. Dan betapa herannya ia saat dua bungkus flora yang dimaksud datang menghampiri. Bukankah tumbuhan tersebut tak tersedia dengan mudah. Oh, ayolah, Amanda. Bukan waktu yang tepat untuk berspekulasi. Mungkin Windstroke memang memiliki Gillyweed? Tidak protes, ia &lt;i&gt;bersyukur&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Oke, Amanda. Naik."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Na-naik? Untuk apa? Ragu, namun sugesti akal sehatnya kali ini terjalahkan oleh dorongan untuk berbuat sesuatu--Amanda bangkit, dengan perlahan menaiki sang sapu dan menempatkan diri di belakang teman seangkatannya itu, masih tanpa keyakinan. Firasatnya sih--duh. Membiarkan dirinya diterpa angin sejenak saat dirinya mengudara, kardionya berdentum keras, tanpa sadar ia menahan nafas. Berhenti. Jaga sapu? Well, mungkin hanya itu yang mampu ia lakukan. Menjaga sapu. Tak... ada salahnya. Ia memperhatikan dalam diam saat Windstroke menelan separuh bagian Gillyweed dalam genggaman, kemudian menyerahkan separuh yang tersisa kepada dirinya. Kalimat yang kemudian bergaung di udara harus ia akui berhasil membuat hatinya tersentak sejenak. Karena, pertama, ia amat sangat tak yakin dirinya mampu bertahan lama di dalam air. Seorang Amanda Steinhart tak bisa berenang. Payah. Namun dengan Gillyweed dalam genggaman dan penuturan aku-akan-menjagamu-di-dalam-sana yang diucapkan Windstroke, kelegaan perlahan timbul. Amanda melempar senyum dan mengangguk, tatapannya mengikuti siluet sosok itu saat sang gadis Gryffindor terjun. Baik. Pilihan kini berada di tangannya. Putuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Pertama-tama--ia mengambil alih sapu, terbang menuju sampan, yang kini dihuni oleh anak perempuan yang tadi dilihatnya berada di tepi danau dan--wew, ada senior Horowitz. Amanda mendarat, mengangguk seraya tersenyum kepada keduanya kemudian meletakkan sapu milik Windstroke di dasar sampan. "Mau turut menyelamkah, Senior? Sepertinya di bawah sana... ada sesuatu," ujarnya kepada pemuda di sampingnya, dengan selipan keraguan masih menemani. Tidak, sudah diputuskan. Egolah yang berbisik keras di benaknya saat ini--ia penasaran, sungguh, dan tentu saja tak akan puas hanya dengan berdiam diri di atas perahu. Akal sehatnya berusaha menyeruak mati-matian, mengingatkannya akan ketidakmampuannya untuk mengarungi perairan--ia tahu, amat tahu. Tapi lagi-lagi sosok Gillyweed dalam genggaman kembali mendorong keraguan ke pinggir. Bisa. Jika benar benda dalam genggamannya adalah Gillyweed, maka setidaknya ia dapat bernafas selama setengah jam di dalam sana. Tak perlu khawatir, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap saja khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi pilihan telah menjadi keputusan. Menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri, Amanda mengunyah Gillyweed--tidak enak, astaga--dengan sedikit susah payah, sementara tangannya berkutat melepas kedua sneaker yang membalut kakinya. Sulit, kalau kau mau tahu. Sampan itu oleng beberapa kali, membuat jantungnya berderap tak nyaman. Kau membuat terlalu banyak gerakan, dear Amanda. Ya, ia sadar. Sepasang sepatunya telah terlepas--bertepatan dengan guncangan yang menghapus keseimbangannya--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BYUR!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jatuh ke belakang, dan detak kardionya seakan terhenti. Buih-buih liquid menyambutnya dengan riang, tak peduli akan hatinya yang mencelos dan sepasang matanya yang membesar. Pada detik ini tubuhnya telah jatuh sepenuhnya, kepekatan menekan, mengaburkan pandangannya hanya dalam waktu sepersekian detik. For God's sake, ia akan tenggelam. Ia akan mati. Amanda menghentakkan kaki dengan putus asa--kebiasaan buruk, tak bisa tenang. Panik itu hanya mampu memperparah situasi, bodoh. Gadis itu tersedak, pasrah saat menyadari tubuhnya semakin turun, turun, dan ia tak bisa bernafas. Keputusannya salah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu sensasi membakar itu membelit lehernya. Amanda terbatuk saat merasakan kerongkongannya tercekat--luar biasa, tercekik lebih tepatnya. Ia menggelengkan kepala, tahu bahwa mungkin ia akan mati--tidak, tentu saja tidak, astaga. Dan, detik berikutnya lapis hazelnya terbuka, terkerjap tak percaya saat menyadari pandangannya berubah jernih. Nafasnya terhela dengan mudah. Gadis itu meraba lehernya, menemukan celah di kedua sisi, dan siluet tangannya yang berselaput membuatnya tertawa lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia cinta Gillyweed.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebak? Ia bisa berenang! Amanda berputar di tempat, luar biasa puas dengan apa yang didapatkannya, kemudian bergegas memutar kepala untuk mencari sosok-sosok tujuannya--ada, disana. Ia bergerak dengan lincah menghampiri Windstroke, tertawa lebar tanpa suara sekali lagi. Tangannya menepuk pundak rekan sebayanya itu, mengacungkan satu ibu jari dan memberi ucapan terima kasih, tentu juga tanpa suara. Di depan sana, sosok-sosok lainnya tampak. Syukurlah. Tak ada yang terluka, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Err... mau ngapain sih, by the way?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-7088031180643623976?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/7088031180643623976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=7088031180643623976&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7088031180643623976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7088031180643623976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/amulet-of-samarkand-2-part-1.html' title='The Amulet of Samarkand-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-5275195217708163058</id><published>2009-06-06T02:54:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T17:48:18.762-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gone with The Wind'/><title type='text'>Gone with The Wind-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Gone with The Wind-#2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Eh? Oh! Ungg.. tidak apa-apa, kak. Sepertinya cuma benjol saja. Aku sudah biasa kok."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Su-sudah biasa? Lagi-lagi sepasang hazelnya terkerjap sesaat, tatapannya lurus memandang gadis cilik itu, sekali mengerling memar yang tercetak di dahinya. Sudah biasa memar? Astaga. Entah harus merasa kasihan atau bagaimana. "Kau yakin? Baguslah kalau begitu," ujar Amanda, senyum simpul turut seperti biasa. Bertemu dengan gadis kecil yang sedikit ceroboh seperti itu seakan menyaksikan refleksi dirinya sendiri--seorang Amanda Steinhart yang begitu ceroboh, teledor, bahkan dapat jatuh akibat terselengkat kaki sendiri. Ck, ck. Dirinya memang seperti itu, dan ia bangga. Hoho. Bangga karena selipan peristiwa penuh kecerobohan yang seringkali hadir mampu melukis tawa lebar di wajahnya, meskipun diiringi oleh semburat kemerahan akibat rasa malu. &lt;i&gt;However, that she is&lt;/i&gt;. Well, setidaknya saat ini sifat ceroboh tersebut telah mulai bosan menemaninya--sudah mulai sembuh, tak seakut dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duuk!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GUBRAK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aw." Rasa nyeri mendarat di punggungnya selama sepersekian detik, melimbungkan tubuhnya yang tak siap--dan oh my, kali ini giliran dirinya yang jatuh tersungkur ke depan, menubruk sang gadis cilik di hadapannya pula. Amanda meringis, bergegas bangkit dari posisinya yang tertelungkup, duduk, bersyukur karena tempat ia berpijak adalah rerumputan, bukan bebatuan atau aspal. Ia melempar tatapan menyesal kepada gadis cilik yang tampaknya kembali terantuk batang pohon. Astaga, ia telah mencelakakan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar. Tadi, ada sesuatu yang membentur punggungnya, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda membalikkan tubuh, mencoba mencari tahu--oke, seorang anak laki-laki, junior jika ia boleh berprediksi. See? Bahkan tubuh juniornya tersebut lebih besar dari tubuhnya, dan dalam sekali sentak mampu membuatnya terjatuh. Rasanya ia ingin tertawa. Memiliki postur tubuh kecil terkadang tak menguntungkan. Gadis Ravenclaw itu hanya mengangguk kecil saat sang anak laki-laki menuturkan permintaan maaf, mengindikasikan jawaban 'tak apa' secara non-verbal. Memangnya apa yang seharusnya ia lakukan? Marah? Tentu saja tidak. Toh pemuda itu tak sengaja. "Terima kasih, tidak usah," ujarnya seraya bangkit. Maaf, bukan bermaksud untuk menolak bantuan, Orland--itu namanya, eh?--hanya saja ia merasa sungkan, entah mengapa. Amanda menepuk bagian belakang celananya, mengangkat wajah saat suara familiar itu terasa dekat. Senior Al-Kazaf telah datang menghampiri, berbicara kepada Orland dan sang junior perempuan beremblem Hufflepuff itu, merilis nasihat agar mereka berhati-hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hm, berhati-hati? Kalimat tersebut kembali membangkitkan memorinya--tiga tahun lalu, saat dirinya masih menjadi seorang newbie di Hogwarts, gadis cilik dalam artian sebenarnya, anak perempuan dengan keteledoran akut, sepertinya kalimat yang bergaung di udara barusan amat pantas dilontarkan kepadanya dalam setiap situasi. Masih ingat kali pertama seorang Amanda Steinhart menjejakkan kaki di Leaky Cauldron, eh? Ia tak pernah lupa--menumpahkan butterbeer ke atas baju seorang anak laki-laki sebaya yang membawa berudu dalam toples--pertemuan pertamanya dengan sang sahabat, Jonathan L. Baned. Benar-benar payah. Yang lain--terlemparnya pisau lipat yang tengah ia genggam tepat di hari ulang tahunnya, nyaris mengenai kaki Rainier. Hampir fatal, demi Merlin. Kemudian satu lagi, yang masih tercetak jelas di dalam benaknya adalah peristiwa di menara, saat ia dengan bodohnya membawa seluruh barang lelucon miliknya, membuat dua orang terkena ledakan Bom Kotoran serta dengan suksesnya meledakkan kembang api Fillibuster--wogh, betapa ceroboh dirinya saat duduk di kelas satu. Mencengangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ck, melantur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda tersenyum, binar di lensa kecokelatannya lagi-lagi hadir saat sang senior mengatakan bahwa kelincinya lucu. Memang! Mimzy memang lucu. Gadis empat belas tahun itu membelai Mimzy, tanpa alasan yang konkrit merasa amat senang. Leander hebat, tahu apa yang ia senangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Ada yang mendengar sesuatu?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh? Guratan samar terpampang di kening, dalam diam ia berusaha memfokuskan pendengarannya. Well, suara berkeresak dedaunan? "Ya, senior. Mungkin," ujarnya ragu. Tidak yakin apakah benar suara itu yang dimaksud. Detik berikutnya, ia tersentak saat Mimzy memberontak dan berhasil lolos dari dekapannya, melompat menjauh. Aneh. Ada apa? Amanda bergerak perlahan, mengikuti kemana kelincinya berpijak, tersenyum saat mengetahui dimana destinasi terletak. Larry. Ia membungkuk, memungut Mimzy dalam satu gerakan perlahan, kemudian kembali menegakkan diri dan mengedip kepada sahabatnya. "Sepertinya Mimzy menyukaimu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, kenapa Mimzy lari, ya?&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;A HREF=http://mfrost.typepad.com/photos/uncategorized/bunny.jpg&gt;Mimzy&lt;/A&gt; =9&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-5275195217708163058?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/5275195217708163058/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=5275195217708163058&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5275195217708163058'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5275195217708163058'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/gone-with-wind-2.html' title='Gone with The Wind-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-4612548371586392255</id><published>2009-06-05T16:47:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:02:54.894-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Mantra'/><title type='text'>Kelas 3 - Nathaniel</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Kelas 3 - Nathaniel&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hoahm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memicingkan mata. Silau. Sambutan cahaya keemasan dari sang penguasa langit sukses membuat sepasang hazelnya sontak terkerjap. Nathaniel melangkah gontai, perlahan menapakkan kaki menyusuri koridor lantai tiga, membiarkan naungan dinding batu mengawal di kedua sisi. Sekali lagi anak laki-laki itu menutup mulut saat kuapan lebar kembali menyerang, kemudian menggelengkan kepala untuk mengenyahkan virus kantuk yang luar biasa mendominasi detik ini. Sudah siang. Ia tahu, tentu saja. Sudah siang, ya, tetapi tubuhnya masih lemas, sepasang matanya redup dengan kelopak yang begitu berat, merindukan tempat tidur di kamar anak laki-laki Gryffindor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, tidak bisa dibilang tumben juga sih. Beberapa kali sindrom kantuk-di-siang-bolong seperti ini pernah menjangkitinya--tiga kali termasuk hari ini. Dan alasan yang mendasarinya lagi-lagi tak jauh berbeda. Lima huruf--esai. Sudah jelas, rite? Bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah, bahkan dirinya sendiri merasa heran atas kesungguhan sang benak. Tadi malam adalah giliran Rune Kuno, salah satu mata pelajaran tambahan di tahun ketiganya, yang berbaik hati berperan sebagai seorang teman hingga pukul lima pagi, menyita segala perhatian, konsentrasi serta waktu yang tersedia. Tak dapat dipercaya memang, tetapi pada kenyataannya ia lebih memilih untuk tidak tidur, duduk bersila di atas tempat tidur dengan perkamen serta buku panduan tergeletak di hadapan, hanya dengan tongkat sihir sebagai penerangan. Berubah menjadi para elang Ravenclaw, eh, Gladstone? Tentu saja tidak, bodoh. Cukup sang sepupu saja yang mewakili entitas bernama 'kecerdasan' itu dalam keluarga. Anyway, dirinya tak cerdas--karena itu ia berusaha, setidaknya &lt;i&gt;belajar&lt;/i&gt;, mengerjakan tugas--fine, tertawa saja, ia tak keberatan. Satu hal yang langka melihat seorang Gladstone mempelajari sesuatu dengan sungguh-sungguh, menekuni tugas tanpa tidur--ada alasannya, tentu, sudah bisa ditebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sure, Dad. Siapa lagi. Pemberian 'wejangan' selama dua jam penuh, dengan selipan kalimat-kalimat bertekstur ironi bahkan sarkasme--sudah cukup membuatnya muak, tahu. Cukup musim panas lalu saja telinganya berubah merah, bibirnya menipis disertai leher yang tercekat akibat menahan rasa kesal menerima hujan nasihat disertai genangan intonasi sinis disana-sini. Tidak akan terulang lagi, nope. Dan satu-satunya cara adalah dengan mengenyahkan huruf-huruf sial yang mendominasi laporan nilai miliknya term lalu--mensubstitusikannya dengan para entitas abjad kebanggaan para profesor. Tak berhasil? Masa bodoh. Setidaknya sang ayah &lt;i&gt;tahu&lt;/i&gt; bahwa dirinya telah berusaha. Hopes so.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kelas mantra--akan menjadi pembuktiannya yang pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gaung lemah tertinggal, berganti dengan hiruk pikuk ruang apik bernuansa--well, tak dapat mencegah sebelah alisnya untuk terangkat, Nat menarik langkahnya memasuki kelas. Hujan. Di dalam kelas. Great, dengan mudah dapat ditebak apa kegunaan jubah yang kini telah tersampir di tangan kanannya. Ia berjalan menuju sudut, sebisa mungkin tetap berada pada jalur kering, kemudian bersedekap saat suara melengking sang profesor mulai terdengar, samar dan sayup sesekali tersaingi gemuruh adiktif. Mantra Impervius, hm? Belum pernah mencoba--tak yakin sebenarnya, tetapi tak tersedia opsi penolakan dalam kelas, tentu saja. Anak laki-laki tiga belas tahun itu mencabut sang Elder, menyentuhkannya ke arah jubah seragam miliknya dan berseru tertahan, "Impervius!" Hanya begitu saja, kan? Segera, diloloskannya sang jubah melalu leher--mengenakan seragam tersebut dalam satu gerakan, kemudian melangkah menuju area kontra, membiarkan titik-titik air menyambutnya. Berhasil atau tidak--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;No man.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elemen liquid dari atas langit-langit sukses menelusup ke balik jubah, menetes membasahi pucuk kepalanya, bahu, merembes melalui kemeja. Nat bergerak kembali ke area kering sambil bersungut-sungut berdecak kesal. Payah. Ia melepas jubah--menatap pasrah kemejanya yang kini basah. Bahkan mantra yang diluncurkannya beberapa puluh detik yang lalu tak bekerja sama sekali. Sigh. Sekali lagi tangannya menyambar tongkat, merapalkan mantra, kali ini berusaha memusatkan konsentrasi sepenuhnya, "Impervius!" Let's see.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melindungi bagian kepalanya dengan tudung, ia kembali menjamah serbuan air, diam tak bergerak selama beberapa saat. Well, sejauh ini berhasil. Seringai puas mengambang di wajahnya. Bagus. Pada percobaan kedua, tak terlalu mengecewakan--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;Tes. Tes.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah. Nat berdecak jengkel saat merasakan dua tetes air menyapa bagian bahunya, disusul dengan tetesan berikutnya selang beberapa lama. Kebocoran di sektor strategis, ck. Hendak kembali ke tepi, mencoba memperbaiki untuk ketiga kalinya--namun urung saat kesadarannya menepuk benak. Sedang terjadi keributan di belakang punggungnya, dan ia sadar tahu sekarang. Nat berbalik, guratan dalam tercipta di keningnya saat menemukan apa yang terjadi. Oke, Dawne dan Sirius--baku hantam, hm? Nice. Membawa sepasang kakinya untuk mendekat, dengusan samar terilis tanpa sengaja. Dalam sekali pandang pun sudah jelas, karena Maraschine, eh? Wohoo, salut. Keadaan di dalam kelas berubah kacau sekarang, &lt;i&gt;man&lt;/i&gt;. Ia hanya bersedekap, mendengarkan lontaran-lontaran kalimat peleraian yang terdengar riuh--lihat kan, ia tak perlu turut serta. Toh Flitwick akan datang sebentar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, ia tak tahan untuk tak berkomentar rupanya. "Hei, Sirius," serunya, cukup keras untuk didengar pemuda Slytherin itu, jaraknya dekat. "Memesan satu tiket detensi rupanya. Pintar."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-4612548371586392255?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/4612548371586392255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=4612548371586392255&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4612548371586392255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4612548371586392255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/kelas-3-nathaniel.html' title='Kelas 3 - Nathaniel'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-8194862695961252788</id><published>2009-06-03T18:48:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T19:09:26.116-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Amulet of Samarkand'/><title type='text'>The Amulet of Samarkand-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;The Amulet of Samarkand-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musim gugur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well... Haha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;font color=#333333&gt;&lt;i&gt;And how the swift beat of the brain&lt;br /&gt;Falters because it is in vain,&lt;br /&gt;In Autumn at the fall of the leaf&lt;br /&gt;Knowest thou not? and how the chief&lt;br /&gt;Of joy seems--not to suffer pain?&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semburat biru pudar--itu. Tergantung nyaman di atas dengan angkuh, melempar pandangan teduh dalam desau bisikan sayu sang angin. Saat ini terabstraksi dengan jingga, dear, sudah sore. Mega terhampar, tertawa dalam keheningan, berkejaran dalam transformasi indisiplin tanpa sadar, berperan sebagai latar belakang segalanya. Teman setia mereka untuk empat bulan menjelang--liukan dedaunan kecokelatan disana-sini, lihat. Apa lagi yang kau harapkan memangnya, hm? Tidak, bukan senyum dari para peri serbuk bunga di ladang rumput hijau ketika musim semi bertamu. Atau anggukan hangat sang penguasa siang yang selalu riang ketika musim panas berkunjung. Tidak. Hanya kering. Membawa tajuk kehampaan yang nyata. Percaya? Memang begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu--ia tak suka musim gugur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya tak seringan biasanya. Gadis itu menoleh, menelengkan kepala beberapa derajat ke kanan, hazel kecokelatan miliknya memantulkan siluet suram riak pekat sang danau. Dalam diam, bibir terkatup rapat dan tatapan tanpa fokus. Alasan apa yang mendasari jejaknya tiba di tempat ini--entah, jangan tanya. Hanya jenuh dengan kastil, mungkin, salah satunya. Jenuh dengan kumpulan perkamen yang bersatu menghadirkan kalimat-kalimat pembelajaran rumit yang memusingkan, mungkin, salah duanya. Rasa gelisah yang tengah memeluknya tanpa izin, juga mungkin. Tidak tahu. Ada yang tahu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun itu, toh Amanda telah berpijak di atas area familiar itu. Tepi danau, dan sepasang kakinya masih gemar mendahului satu sama lain, tetap dalam tempo santai tanpa tergesa. Musim gugur, selalu sama, menghadirkan kelesuan yang amat sering menelusup jauh ke dalam relung benak serta batinnya, memberikan bayangan kenelangsaan yang sedemikian rupa. Sebagian besar sukses membuat senyumnya menghilang, mendatangkan kerutan samar yang menggurat keningnya, atau bahkan isak? Be--gitulah. Sedikit aneh jika menilik fakta bahwa kesedihan selalu menerpa di musim yang sama, ya, ia sendiri heran. Tapi memang begitu. Butuh bukti? Baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedikit berkelana menuju masa lalu, jika kalian tak keberatan. Hal pertama, peristiwa paling mengguncang yang pernah hadir dalam hidupnya--terjadi tepat dua bulan setelah sang musim gugur mengetuk pintu dunia dan masuk. Peristiwa yang hingga saat ini masih senantiasa &lt;i&gt;bermurah hati&lt;/i&gt; mampir dalam tidurnya hanya untuk membuat sang gadis gemetar--ia kehilangan kedua orangtua saat musim gugur, mate, jangan dibahas lagi. Kemudian, beberapa tahun berselang, musim yang sama mengiringi kecerobohan fatal yang ia lakukan--keteledoran paling luar biasa yang pernah tangannya perbuat, menyebabkan ibu dari sepupunya terpaksa kehilangan memori serta ingatan dan harus berpindah domisili ke St. Mungo--dengan diagnosa teracuni ramuan yang salah dicampurkan. Bahkan rasa bersalah itu masih melekat kuat-kuat di hatinya, tak pernah pergi. Bibi Antoinette hilang ingatan secara permanen saat musim gugur. Nice. Yang berikutnya, belum lama berlalu. Jembatan, tahun lalu, melibatkan empat oknum--tidak ingin ia ungkit lagi. Seorang Amanda Steinhart terlihat begitu lemah, begitu bodoh, begitu payah dan cengeng, begitu--well, semua serempak mengambil setting musim gugur, kan? Membuatnya cenderung melempar rasa tak senang kepada musim yang satu ini, harus diakui. Mau bagaimana lagi. Sigh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang, apakah musim gugur 1981 akan meneruskan sang tradisi? Semoga tidak. Ia berharap, serius. Amanda menghentikan langkah, menghadapkan tubuh ke arah danau dalam satu gerakan, memandang satuan elemen liquid di hadapannya dengan tatapan redup, kedua tangan di saku. Sayangnya, kenyataan yang tengah berlangsung adalah, kegelisahan menerpa. Untuk banyak hal--nilai akademik, Nathaniel, Leander--bingung, banyak hal yang mengganjal di hati. Kerlingan matanya menangkap sesosok gadis di atas sampan, senior MacKenzie? Sang prefek tengah berkutat melepas atribut yang ia kenakan--syal, jubah, sepatu, kaos kaki--dan dalam selang waktu beberapa detik berikutnya, suara 'byur' nyaring bergaung di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terperangah sesaat, Amanda terpaku di tempat dengan mulut sedikit terbuka. I-itu, apa yang dilakukan seniornya itu? Sosok lain--Windstroke, di atas sapu. Tidak, gadis Gryffindor itu tak terlihat melakukan apapun, hanya terbang rendah di atas danau. Menunggu kepastian atau bagaimana? Disusul ucapan seorang junior Hufflepuff yang berada tak jauh dari tempat Amanda berdiri. Dia... tidak ditolong? Ditolong, hm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. Irvine yang bertindak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mengerjap saat percikan air melompat ke udara. Irvine--telah terjun ke danau, kawan-kawan. Keren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=#333333&gt;"Kemana yang tenggelam? Aku tidak menemukan apapun."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Hei, Amanda, kau sedang tak peka atau bagaimana?&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Hanya berpikir. Ia melangkahkan kaki lebih dekat ke tepi danau, kemudian duduk bersimpuh dengan kedua tangan di atas rerumputan dan tubuh sedikit condong ke depan. "Hei, Irvine," serunya, cukup keras untuk didengar oleh pemuda itu, "Kurasa... Prefek MacKenzie tengah menyelam, bukan tenggelam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat. Kesimpulan pribadi selintas pandang.&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Credit to Autumn Song by Dante Alighieri)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-8194862695961252788?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/6679053/1/#new' title='The Amulet of Samarkand-#1'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/8194862695961252788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=8194862695961252788&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8194862695961252788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8194862695961252788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/06/amulet-of-samarkand-1.html' title='The Amulet of Samarkand-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-2648060156986705474</id><published>2009-05-29T15:57:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T19:14:11.711-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Saxophone'/><title type='text'>The Saxophone-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;The Saxophone-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=#333333&gt;&lt;b&gt;"KAU LENGAH, NATHANIEL GLADSTONE! APA SAJA SIH KERJAMU?"&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu terbakar begitu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shocked. Anak laki-laki itu terpaku selama beberapa saat, sorot matanya menampakkan keterkejutan--oh, &lt;i&gt;man&lt;/i&gt;. Nathaniel mengatupkan mulutnya yang sedikit terbuka, mengangkat tangan kanannya saat kesadaran telah hadir kembali, kemudian mengacak rambut hitamnya untuk mengenyahkan serpihan perkamen hangus. Sepasang lensa kecokelatannya mengerling gusar ke arah bisikan dan tawa samar yang terdengar dari sisi sebelah kanan tempat ia duduk, nafasnya terhembus sarkastik. &lt;br /&gt;Howler. Astaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leander, lihat saja kau.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal term yang menjengkelkan. Sigh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya berderap samar--bergerak perlahan menerobos kepungan rerumputan berkilat yang terhampar di sepanjang area halaman kastil, kedua tangan dalam saku sementara kepalanya menunduk menatap rute yang akan dipijak sepasang kakinya dalam ruang lingkup yang hanya tertangkap beberapa jengkal. Suntuk. Keramaian yang merambati telinganya tak ia hiraukan, benak anak lelaki tiga belas tahun itu tengah berkutat dengan pikiran tersendiri. Masalah howler yang datang di hari kedua tahun ajaran baru masih menyisakan rasa kesal berlebih di hatinya, ngomong-ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel menghentikan langkahnya ketika raganya telah tiba di bawah pohon chestnut rindang--tempat terjadinya peristiwa paling memalukan yang terjadi tahun lalu--nope, tetapi hari ini ia enggan membahas masalah tersebut, oke. Yang menyita pikirannya saat ini adalah--well, ia sudah bilang kan, masalah howler dari kakak sepupunya, yang membuatnya terpaku beberapa detik dengan semburat merah di wajah akibat rasa malu. Nice. Pemuda Gryffindor itu duduk, menyandarkan punggungnya ke batang pohon besar di belakangnya, tangan kanannya mencabut sehelai rumput di dekat kakinya yang bersila, memuntirnya tanpa tujuan. Sebenarnya, membahas dan memikirkan masalah yang satu itu, lagi, tak memberikan keuntungan baginya--tentu saja tidak, ia tahu. Hanya saja, entah, didasari rasa jengkel yang berkolaborasi dengan perasaan bersalah yang menggantung, mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leander Steinhart, Sir, Anda terkadang terlalu over protektif. Nat salah, fine, memang. Ia salah karena tak mencari Amanda sejak awal Hogwarts Express diberangkatkan. Ia lelah, by the way, tak ada yang sempat mengantarnya dari Highbury Crescent ke Stasiun King's Cross--Dad pergi sejak sehari sebelumnya, dan Leander bertugas di Kementrian, seperti biasa--sehingga ia dengan terpaksa harus menggunakan transportasi muggle. Sendirian, karena Amanda berangkat dari rumah Baned, ha. Guess what? Dirinya tak mengerti sama sekali--tersesat amat jauh, ia beruntung tiba di peron 9 3/4 tepat saat peluit keberangkatan dibunyikan. Ck. Dan hal yang dilakukannya adalah mencari kompartemen kosong terdekat, menghenyakkan tubuh di sudut, lalu tidur. Bahkan saat peristiwa penyerangan yang dilakukan oleh para oknum bertudung tak bertanggung jawab itu terjadi, ia baru terbangun di akhir, bergegas mencari sepupunya dan menemukan gadis itu meringkuk di sudut salah satu kompartemen. Sendirian dan gemetar hebat. Dimana Baned, eh? Tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau menyalahkan siapa kalau sudah begitu, hm?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, melengkapi kebodohannya--well, mungkin kalian menganggap apa yang ia lakukan adalah hal yang bodoh, namun baginya itu adalah hal yang seharusnya dilakukan pertama kali--mengirim surat ke Dad, menceritakan semua yang terjadi. Sayangnya, benaknya alpa bahwa mengirimkan surat kepada sang ayah sama saja dengan mengirimkan surat kepada Leander, sama saja dengan mengakui kesalahannya karena tak menjaga Amanda sesuai janji. Tetapi--oh, please, howler? Bukankah itu sedikit berlebihan melihat fakta bahwa sepupunya baik-baik saja? Baik, dirinya salah, ia minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap saja. Howler itu sukses membuat moodnya jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Ttttoooooooooeeeeeeeetttttttt."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nat tersentak, benaknya keluar dari topik pemikiran, berganti haluan. Apa sih? Suara itu. Familiar. Seperti... Kepalanya menoleh, mencari sumber suara. Ada, disana. Itu--Holmquist? Guratan terbentuk di keningnya seiring dengan gerakan bangkit yang anak laki-laki itu lakukan. Penasaran. Sepasang kakinya mulai melangkah lagi, kali ini tepat menuju tempat gadis Slytherin itu duduk dengan--sebuah Saxophone, tidak mungkin salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Well, Holmquist. Jangan merusak alat musik favoritku seperti itu," ujarnya dengan wajah datar, lensa hazelnya mengerling sang alat musik. Tua. Tetapi tetap menarik baginya. Nat bersedekap, sorot matanya menangkap siluet kertas yang tergeletak begitu saja di atas rumput, alisnya terangkat. "Dijual, eh? Wohoo, yang benar saja. Jangan, saranku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjual saxophone antik? &lt;i&gt;You must be kidding him.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Open for all now :3)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-2648060156986705474?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/2648060156986705474/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=2648060156986705474&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2648060156986705474'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2648060156986705474'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/saxophone-1.html' title='The Saxophone-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-5785618585196318977</id><published>2009-05-27T19:14:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:46:27.972-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Pemakaman Ala Viking'/><title type='text'>Pemakaman Ala Viking-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Pemakaman Ala Viking-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;Matanya sakit. Duh. Berganti posisi lagi, kali ini ke kanan, sang gadis menghembuskan nafas dalam keputusasaan. Ia mengusap matanya yang terasa berat, merasakan cekung telah terbentuk di bawah sang kelopak. Keremangan yang menyelubungi terasa menusuk, bintik hitam putih melayang di depan titik fokus, membaur menjadi ribuan dan enggan enyah. Apa sih ini? Ia mengerjapkan mata, berusaha menghadirkan sensasi normal yang biasa. Aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda tidak bisa tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berguling lagi di atas tempat tidur. Pandangannya kali ini terpancang pada langit-langit kamar anak perempuan kelas empat Ravenclaw, kosong, menerawang tanpa acuan. Benaknya lelah, tubuhnya juga, tetapi ia urung memejamkan mata. Tidak bisa--karena sugestinya menolak, hatinya memaksa agar sang lensa tetap terbuka. Gadis itu menghela nafas sekali lagi. Sebenarnya... ia takut. Takut, jika ia tertidur, mimpi itu datang lagi. Mimpi buruk yang seminggu belakangan selalu menyapanya, menyeringai kejam dan menghujam batinnya--lagi, lagi, dan lagi. Mereka tak pernah bosan. Mereka tak mau tahu bahwa dirinya sudah lelah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mum, Dad, kalian tak mau meninggalkan anakmu ini atau bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mengurut keningnya. Tidak tidur--pening. Entah bagaimana bisa fisiknya terkalahkan oleh paranoid semu, ia pun tak mengerti. Semenjak peristiwa penyerangan oleh para elemen pendukung Kau-Tahu-Siapa yang terjadi di Hogwarts Express beberapa waktu yang lalu, kedatangan para dementor, jeritan, luka, darah--dan yang terburuk, dibangkitkannya kenangan paling dalam, kenangan paling mengerikan yang ia miliki--semenjak saat itu film horor itu terus menerus diputar, berulangkali, scene yang sama, dan semakin lama semakin mengerikan. Setiap malam, dear. Jahat sekali. Sudah jelas kan, mengapa ia memilih untuk tak tidur malam ini. Gadis Ravenclaw itu sudah lelah ketakutan setiap saat. Letih terbangun dengan peluh di sekujur tubuh dan nafas terengah. Bosan. Kapan semuanya mampu terlupakan, ia tak tahu--karena itu yang mampu dirinya lakukan hanyalah mencegah. Tidak boleh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Katakan ia bodoh. Memang.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;Sial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah dua belas jam berlalu, mate. Dan akhirnya--ketakutannya kalah. Gadis itu tersentak, mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menemukan fokus terbaik. Haha. Tertawalah, dirinya pasti terlihat amat konyol saat ini. Well, tidak terlalu peduli sih, karena kekonyolan itu mengindikasikan satu arti lain. Mimpi buruknya bosan, hm? Bayangan mengerikan itu lelah mengikutinya, eh? Film horor tersebut letih mengejarnyakah? Berita bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mengucek matanya, tersadar dimana dirinya berada. Di tepi danau. Di bawah pohon oak rindang, dalam posisi bersandar pada batangnya dengan buku rune kuno di pangkuan. Sigh, ia sudah menduga dirinya tak akan mampu bertahan tanpa tidur sama sekali. Dan, oh, bodohnya, bahkan langit pun mulai ditinggalkan sang biru, berganti jingga yang berkunjung. Berapa lama sudah ia tertidur di tempat ini? Kalau tidak salah, saat memilih tepi danau sebagai lokasi belajar siang tadi sembari menunggu kelas rune dibuka, kira-kira... pukul dua. Sekarang--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pukul 6. 4 jam. Oh my.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda melongo saat kedua lapis hazelnya menangkap angka yang tertera pada arlojinya. Jam 6? Empat jam penuh ia tertidur, dan itu berarti kelas rune terlewat begitu saja dengan suksesnya. Bodoh. Ia menggerutu kesal, merutuki kegigihannya tak tidur semalaman. Imbasnya baru terlihat sekarang, kan? Ck. Dan, tidak ada yang membangunkannya pula, astaga. Namun di samping segala rasa sesalnya--akibat ketinggalan satu kelas, terutama--terselip keheranan yang menyenangkan. Tidak ada mimpi buruk. Sama sekali. Tidurnya tak disinggahi mimpi, dan mungkin karena itulah ia tidur begitu pulas. Berhasil, untuk saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, kenapa bisa ia tertidur dengan nyaman di &lt;i&gt;sini&lt;/i&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu bangkit dengan sedikit terhuyung. Tanpa cermin pun ia tahu penampilannya tengah tak keruan saat ini. Hmph. Langkahnya bergerak perlahan menghampiri danau, berlutut, menatap refleksi dirinya yang dipantulkan dengan amat tak sempurna oleh sang air, samar akibat terbias matahari senja, namun cukup untuk mengetahui betapa kusutnya ia saat ini. Amanda membasuh wajahnya dengan air danau, membiarkan elemen bumi yang satu berkejaran melewati pipinya, turun ke leher dan membasahi jubah. Lumayan berhasil, karena fokusnya berubah lebih tajam dalam sekali basuh. Fine. Semoga tak ada yang lewat--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Lacarnum inflamarae."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hela nafas. Engselnya bergerak, mencari sang pencipta suara--eh? Disana, terlihat siluet dua orang yang ia kenal. Mallandrt dan... Trixie? Sedang apa? Ia bangkit, berjalan mendekat seraya mendekap buku rune kunonya erat. Hm... Itu. Katak sahabatnya, Mr. Wiebig, ter--bakar? Dan meskipun keremangan mulai jatuh, ia masih dapat melihat, dear. Sahabatnya menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Trix, aku... turut berduka cita," tuturnya lirih, berjongkok di samping Trixie dan menepuk kepala gadis itu perlahan. "Hei, dear. Jangan menangis, ya? Mr. Wiebig tak akan senang melihatmu menangis," lanjutnya seraya memeluk sahabatnya dari samping. Ah, ia tidak senang berada dalam situasi seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Sebaiknya kalian mencari tempat yang lebih memiliki privasi kalau ingin memadu kasih seperti itu."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu. Ia tahu. Amanda menghela nafas, menoleh untuk kesekian kalinya dan menatap anak laki-laki itu. Lazarus. "Diamlah, Lazarus." Ia menempelkan telunjuk di bibir, mengisyaratkan agar pemuda itu diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mengertikah anak itu bahwa Trixie tengah berduka? Payah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-5785618585196318977?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/5785618585196318977/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=5785618585196318977&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5785618585196318977'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5785618585196318977'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/pemakaman-ala-viking-1.html' title='Pemakaman Ala Viking-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-1628098575061588227</id><published>2009-05-26T07:05:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:37:29.675-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Sejarah Sihir'/><title type='text'>Kelas 3-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Kelas 3-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas pertama ya? Hm. Dibuka disaat yang kurang tepat. Sigh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya menghentak. Gadis itu tak menyangkal dirinya bersyukur karena koridor lantai satu yang tengah dilintasinya tengah kosong--sama sekali. Bagus. Tak ada yang akan berpapasan dengannya, dan itu mengartikan banyak hal. Tak akan ada pandangan heran terlontar. Tak akan ada seseorang yang bertanya--ia sedang malas berbicara, oke. Tak akan ada suara-suara yang mengganggu. Tak akan ada--fine, tak akan ada kerutan di dahi melihat seorang Amanda Steinhart yang sedang &lt;i&gt;marah&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Kemarahan tengah bertamu. Jangan dekat-dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafasnya bergulir, ditarik dalam-dalam dan dihembuskan perlahan. &lt;i&gt;Sudahlah, Amanda. Tak perlu marah seperti itu.&lt;/i&gt; Mudah berbicara seperti itu, hei, kau, benak. Pengaplikasiannya sulit. Gadis empat belas tahun itu memperlambat jejaknya, menyamarkan gaung nyaring pantulan dinding batu yang sedari tadi menemani saat disadarinya pintu kelas telah menyambut. Kesempatan terakhir untuk menenangkan diri sebelum masuk kelas. Ia merilis nafas keras-keras, menelan ludah dan memejamkan mata sekilas, memaksa kesabaran untuk kembali hadir. Ayolah. Well, Amanda dianugerahi kesabaran di atas garis rata-rata, benar--thank God. Tetapi di atas segalanya, di antara hal-hal buruk yang dapat memancing emosi--ia paling &lt;b&gt;benci&lt;/b&gt; dibohongi.&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=gray&gt;"Nat. Coba perhatikan. Tulisan Leander di surat kemarin... aneh."&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Hm? Aneh bagaimana?"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;"Err... berbeda. Acak-acakan."&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Masa? Well, dua hari di St. Mungo tidak cukup sepertinya."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hening.&lt;br /&gt;"Apa katamu barusan?"&lt;br /&gt;Hening lagi.&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Huh? Ti-tidak, aku tidak bilang apa-apa."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Hazel kecokelatan sang gadis memicing.&lt;br /&gt;"Nathaniel Gladstone. Jangan bercanda. Leander--masuk St. Mungo?"&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"A-aku tidak bilang begitu."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Tak ada yang berbicara selama beberapa saat, namun gadis Ravenclaw itu melempar tatapan tak percaya, kemudian bangkit.&lt;br /&gt;"Baik. Biar aku tanyakan sendiri."&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Ti-tidak usah, Amanda."&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;Guess what? Akhirnya sepupunya mengaku. Leander masuk St. Mungo musim panas lalu akibat luka di tangan kanannya--dan Amanda tidak tahu? Nice. Mereka menyembunyikan fakta itu darinya--bodoh. Ia tidak senang sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghenyakkan tubuh di atas tempat duduk yang dipilih asal, Amanda bersandar pada punggung kursi dan bersedekap. Tidak ada semangat untuk mengikuti kelas sebenarnya, moodnya rusak akibat ketidaksengajaan fatal sepupunya. Menyesakkan menjadi seseorang yang terakhir mengetahui hal yang seharusnya ia ketahui sejak awal, kalau kau mau tahu. Tak ada gunanya marah-marah, ya, karena itulah ia hanya diam, memendam kemarahan bagi dirinya sendiri--asalkan tak ada yang menyulut, semua akan baik-baik saja. Gadis itu mengangkat wajah, mendoktrin benaknya untuk memberikan fokus sejenak saat sang profesor mulai membuka mulut dan menjelaskan materi hari ini. Kementrian Sihir. Topik yang 'bagus'. Semakin mengingatkannya pada sang kakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari mencatat, dear. Amanda mengeluarkan pena bulu, tinta, dan secarik perkamen kosong, kemudian menulis judul 'Kementrian Sihir' dengan huruf besar-besar, gerakannya sedikit menghentak. Ia membuka telinga lebar-lebar, menerima segala informasi yang diberikan dan memvisualisasikannya dalam bentuk tulisan berbentuk tak keruan, berusaha mencatat sedetail yang ia mampu. Lupakan dulu masalah Leander, oke? Deal. Seiring dengan gerakan tangannya, otaknya turut bekerja, mencerna kata demi kata yang bergaung di udara. Departemen pertama yang disebutkan--Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Seperti pengadilan di dunia muggle, eh? Tempat paling tepat bagi orang-orang tak bertanggung jawab yang menyerang kakaknya tiga kali berturut-turut. Tempat penjatuhan hukuman yang pantas. Hukuman seumur hidup. Azkaban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei. Konsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua--Departemen Bencana dan Kecelakaan Sihir. Kali ini ia tertegun. Apakah pegawai kementrian datang pada tiga penyerangan terhadap kakaknya, hm? Harusnya begitu. Jika benar begitu, mengapa tak ada kabar sama sekali mengenai pelakunya? Payah. Kementrian payah. Amanda meletakkan pena bulunya, menyerah. Tidak bisa fokus. Leander selalu hadir di benaknya hari ini. Astaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memutuskan untuk mendengarkan saja tanpa menulis, Departemen ketiga yang tersebut lagi-lagi membuat pikirannya berputar. Departemen Regulasi dan Kontrol Makhluk Gaib. O-ke, mereka yang mengawasi segala instrumen yang berkaitan dengan dunia sihir, kata Profesor Binns. Well, bagaimana dengan dementor yang menyerang Hogwarts Express? Kementrian tidak tahu atau bagaimana, huh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;Sudah cukup, Amanda. Kau kenapa, sih?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Baiklah, anak-anak. Aku ingin kalian berdiskusi tentang departemen dari kementrian sihir Inggris, hingga jam pelajaran kita habis."&lt;/font&gt; Diskusi. Amanda menoleh, mencari tahu siapa partner semejanya--Dutie. Siapa sajalah, terserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mulai dari mana, Mister?" tanyanya singkat, disertai helaan nafas. Ia melirik arloji di pergelangan tangan kirinya. Tampaknya akan menjadi diskusi yang panjang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-1628098575061588227?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/1628098575061588227/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=1628098575061588227&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1628098575061588227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1628098575061588227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/kelas-3-amanda.html' title='Kelas 3-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-236064102246277642</id><published>2009-05-25T14:51:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:49:39.941-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Rush Hour'/><title type='text'>Rush Hour-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Rush Hour-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=gray&gt;&lt;i&gt;"Amanda. Hei."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu--familiar. Tapi tidak. Keraguan masih mendominasi. Pelukan pada lututnya menguat, sementara sepasang matanya dipejamkan erat-erat, tak menerima interupsi. Dirasakannya bulu lembut sang makhluk mungil kecokelatan yang turut berada dalam dekapannya menggelitik pipi. Gadis itu tetap bergeming. Sama sekali. Ia bersyukur--ada Mimzy. Ada kelincinya yang menemani saat... saat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat pembunuhan itu hadir lagi. Saat film horor itu diputar lagi untuk yang kesekian kalinya. Saat peristiwa terburuk sepanjang hidupnya kembali dihujamkan tanpa ampun. Jahat. Curang. Makhluk hitam itu hanya lewat, tetapi sudah cukup membuat traumanya bangkit. Dirinya yang bodoh, benar--karena tak mampu berbuat apa-apa, hanya bisa meringkuk di sudut kompartemen seperti anak kecil umur lima tahun, melupakan fakta bahwa dirinya telah beranjak lima belas tahun! Apa namanya itu kalau bukan PAYAH dengan huruf besar, hm? Sembilan tahun peristiwa mengenaskan itu berlalu, tetapi tak ada setitik kilasan pun yang berhasil terlupa. Haha. Poor you, Steinhart.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-lama ia bisa gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda terpekik saat sebuah tangan menyentuh bahunya, secara spontan ia mengibas-ngibaskan tangan, berusaha mengusir makhluk apapun itu yang menghampiri. &lt;b&gt;"Pergi! Jangan dekati aku!"&lt;/b&gt; Bahkan dirinya sendiri terkejut akan suara pekikan yang terlontar. For God's sake, ia pasti terlihat amat konyol. Terserah, apapun yang dapat menjauhkan makhluk mengerikan itu dari sini. Pergilah. Jangan dekat-dekat. Please. Tolong--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Astaga. Ini aku, bodoh. Nathaniel."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertegun. Nafasnya kali ini tercekat, ya, namun dalam artian positif. Be-benarkah? Nat? Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan, masih dengan terpaan kecemasan dalam benak. Ia tak butuh kejutan lagi, please. Yang ia butuhkan saat ini adalah kebenaran. Semoga benar... Dan betapa leganya ia ketika mendapatkan wajah cemas sepupunya menatap balik. Tubuhnya lemas, sungguh. Lemas saking leganya. Amanda menghembuskan nafas dengan penuh syukur, secara spontan meletakkan Mimzy di atas kursi kompartemen--dan detik berikutnya ia memeluk sepupunya erat. Huft.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kau--oke? Amanda, kau gemetar--"&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak apa-apa," jawabnya cepat, melepaskan pelukannya dan kembali mengangkat Mimzy. Benar, ia masih gemetar. Ck. Sekali lagi, payah. Dengan sedikit terhuyung ia berdiri, berusaha mengabaikan gelenyar tak nyaman yang merambati kakinya. Sudah selesai, kan? Dementor-dementor itu sudah pergi, kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Maafkan aku, Amanda. Aku mencarimu kemana-mana, sungguh."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menggeleng. "Tidak perlu dipikirkan. Aku baik-baik saja, kok," ucapnya sengau. &lt;i&gt;Bohong itu dosa, Amanda&lt;/i&gt;. Masa bodoh, sekali ini saja. Dari tatapan pemuda di hadapannya, ia tahu Nat tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Kau perlu Madam Pomfrey. Well, kita sudah sampai, ngomong-ngomong."&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;Rumah sakit? Yang benar saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam ini suram. Malam tersuram yang pernah berkunjung ke Hogwarts--menurutnya. Hiruk pikuk bergema, memenuhi Aula Depan dengan keributan khas awal tahun ajaran, namun kali ini berbeda. Kekhawatiran masih berbisik, dear. Amanda bersedekap, menghela nafas letih. Ia menoleh sekali, gusar dengan raut wajah ketakutan yang lagi-lagi ia temui. Sepasang kakinya melangkah gontai menelusuri koridor remang, menjauhi Aula Depan dan bergerak menuju satu tempat yang menjadi destinasi massal para murid saat ini. Hospital Wing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel memaksa. Bukan kemauannya. Amanda tak pernah senang harus pergi ke rumah sakit--membuatnya terlihat lemah. Hanya pendapatnya yang berlebihan, memang. Tetapi, well, begitulah seorang Amanda Steinhart, terkesan berusaha membohongi diri sendiri. Hm. Ia mengerling sepupunya dengan sedikit kesal. Kenapa memaksa segala, sih? Sudah dibilang kan ia tak apa-apa? Tetapi sudah terlanjur berpijak disini, mau bagaimana lagi. Hazel kecokelatannya kembali bergulir, menatap koridor di depan, koridor depan rumah sakit--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For Merlin's sake. Langkahnya terhenti. Sepasang matanya mengerjap, desahan tak percaya terilis. Ini--banyak sekali yang terluka, oh my. Selama setengah menit gadis itu hanya terpaku dengan sorot mata gelisah. Astaga. Astaga. Hari ini... sungguh amat mengejutkan, ia tahu. Dementor--Pelahap Maut kurang ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menoleh, mengambil posisi menghadap sepupunya. "Nathaniel, kau pergilah. Aku sendiri saja," tuturnya lirih, namun matanya menatap tajam, mengindikasikan bahwa ia sedang tak ingin berdebat. Dan ia bersyukur sepupunya mengerti. Ia menatap punggung Nat yang mulai menjauh, kemudian bergegas berbalik dan dengan langkah cepat berjalan memasuki ruangan rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gosh. Di dalam sini jauh lebih sibuk. Ia menggigit bibir bawahnya, menatap teman-temannya yang terluka dengan miris. Keterlaluan. Ia tidak mau diam saja, tidak. Dan lupakan bahwa dirinya pernah gemetar lima belas menit yang lalu. Amanda menapak perlahan--menghindari dua sosok peri rumah yang tengah melesat dengan gelas-gelas cokelat panas--dan menghampiri Madam Pomfrey. Kewalahan-kah ia? Prediksi Amanda sih begitu. "Permisi, Madam Poppy. Aku... adakah yang bisa kubantu?" tanyanya ragu, kecemasan kembali hadir saat melihat sosok yang ia kenali. Itu--Glows. Devindra. Dan, oh, senior Morcerf? Oh my. "Amanda Steinhart, Ravenclaw, kelas empat, Madam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa ia lakukan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-236064102246277642?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/236064102246277642/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=236064102246277642&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/236064102246277642'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/236064102246277642'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/rush-hour-1.html' title='Rush Hour-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-6218624350842004981</id><published>2009-05-25T14:44:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T17:48:31.979-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gone with The Wind'/><title type='text'>Gone with The Wind-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Gone with The Wind-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=gray&gt;&lt;i&gt;Pulang, ya? Lusa. Kujemput&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Leander. Ck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin parah saja, kan? Dunia sihir tak berubah menjadi lebih baik. Tak sesuai harapannya. Tak sesuai keinginan khalayak ramai. Salahkah berharap seperti itu, hm? Semoga tidak. Sayangnya--harapan tersebut dikhianati. Kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah kecilnya mengayun perlahan, menerabas rerumputan musim panas yang berkilau akibat embun yang tertinggal. Mentari tengah tersenyum sepertinya, sinar keemasan milik penguasa langit itu mulai menyapa lembut--membelai kulitnya. Hari kedua di tahun keempatnya. Term baru, selalu menghadirkan hal baru di berbagai aspek. Perlengkapan sekolah, junior baru, nyanyian topi seleksi--hal yang baru itu menyenangkan, mate. Tetapi sungguh, sang gadis cilik sama sekali tak mengharapkan kejutan layaknya yang terjadi di Hogwarts Express kemarin. Kejutan--berupa peristiwa buruk. Begitu buruk bagi dirinya secara pribadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda Steinhart memang melangkah dengan riang--kalian akan berpendapat seperti itu jika melihatnya, taruhan--tetapi hatinya gelisah. Terus menerus khawatir membuat hati menjadi amat sangat tak nyaman, kau tahu. Kepalanya menunduk disertai helaan nafas berat, kedua lensa kecokelatannya menatap makhluk kecil dalam dekapan. Hanya makhluk tersebutlah yang mampu menyunggingkan senyum di wajah gadis empat belas tahun tersebut, sejenak mengenyahkan kegusaran yang melanda. Mimzy, namanya. Seekor kelinci kecil berbulu kecokelatan--dari Leander. Entah ada angin apa sehingga sang kakak memberikan sesosok binatang peliharaan baru, untuk menemani Proteus, mungkin. Apapun, yang pasti keputusan Leander ia akui tepat. Mimzy-lah satu-satunya yang menjadi temannya saat para dementor menyerang. Makhluk mungil yang ia dekap erat saat kelebatan-kelebatan mengerikan mulai mengalun dalam ingatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa lalunya lagi. Terpampang jelas tanpa cela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dementor--mampu membangkitkan kenangan terburuk seseorang, begitu yang selama ini ia dengar. Tetapi menghadapi makhluk hitam tersebut secara langsung dan menghadapi kenyataan bahwa apa yang selama ini ia dengar adalah tepat adanya--benar-benar di luar dugaan. Saat itu ia tak mampu berbuat apa-apa. Hanya bisa memeluk lutut dan sang kelinci di sudut kompartemen, lagi-lagi dengan tubuh gemetar. Amanda bersyukur tak ada orang lain disana, sehingga dirinya tak akan terlihat konyol. Ia sengaja menempati kompartemen yang kosong, memang. Tak ada Larry. Tak ada Nathaniel. Ia sendiri, berkutat dengan kenangan yang masih terus menyiksanya tanpa ampun. Saat itu dirinya menggeleng berkali-kali, berharap dengan begitu segala peristiwa terburuk dalam hidupnya tersebut dapat terlempar keluar dan tak lagi mengganggu. Tidak berhasil, tentu. Well, setidaknya ia selamat, tak terjadi hal yang lebih konyol--pingsan misalnya, atau menangis. Wohoo, tidak. Ia telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menangis lagi. Yang satu itu berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan--sesuai prediksi, sepucuk surat datang saat sarapan pagi tadi. Leander. Secepat itu informasi beredar, hm? Memintanya untuk pulang, berkata panjang lebar bahwa ia sangat cemas dan berkata bahwa pemuda itu telah 'menegur' Nathaniel karena tak menemani Amanda di kompartemen yang sama. Menegur, ya, dalam artian sebenarnya. Detik berikutnya sepupunya menghampiri dengan wajah kusut dan bersungut-sungut, disertai serpihan perkamen hangus di rambut hitamnya. Demi Merlin--Howler. Terkadang Leander bisa menjadi seseorang yang terlalu berlebihan, astaga. Nathaniel turut memintanya pulang. Bodoh. Yang benar saja kalian, hah. Tidak mungkin ia pulang di awal tahun ajaran baru. Tidak mau. Lagipula bukankah Leander sendiri yang bilang bahwa Highbury Crescent tidak aman? Ia jadi tidak mengerti. Mereka terlalu over protektif. Hal yang menurutnya tak perlu, seorang Amanda Steinhart mampu menjaga dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, sepertinya mereka tak percaya. Fine. Yang pasti ia tak mau pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, mau kemana, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari Hagrid, sebenarnya, tetapi ia sendiri tak yakin pria besar itu ada di gubuknya. Amanda ingin bertanya perihal makanan yang dapat diberikan untuk Mimzy, berharap Hagrid dapat memberitahu dimana ia dapat menemukan selada atau wortel segar. Wogh, dan kalian tahu apa yang ia temui? Orang-orang yang ia kenal tengah berada di depan sana. Ada... wew, prefek Balin, dan--err, oke, prefek McCafferty...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Please, Amanda, tidak perlu ingat kejadian di jembatan lagi, kenapa sih?&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...ada sahabatnya, juga 2 orang gadis, junior sepertinya. Oh, dan Bleki. Great. Pagi hari yang keren. "Pagi, semua." Amanda mengangguk dan tersenyum lebar, kelereng kecokelatannya sedikit berbinar. Ia rindu mereka semua--kecuali Larry, mungkin, secara liburan musim panas lalu ia habiskan bersama sahabatnya itu. "Err... ada yang lihat Hagrid? Oh, ini Mimzy, by the way, kelinci--"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DUAK!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"ADUH!!"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interupsi. Amanda menoleh cepat, mencari tahu sumber suara tersebut. Seorang gadis cilik tengah terduduk di bawah pohon--habis menabrak, sepertinya. Ya ampun. Amanda bergegas menghampiri, berjongkok disamping gadis itu. "Kau, apakah ada yang terluka?" tanyanya seraya mengerjapkan mata, memandang kening anak perempuan di hadapannya. Memar. "Itu--perlu kuantar ke rumah sakit?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawarannya serius lho.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-6218624350842004981?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/6218624350842004981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=6218624350842004981&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6218624350842004981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6218624350842004981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/gone-with-wind-1.html' title='Gone with The Wind-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-5097812407027141857</id><published>2009-05-17T07:41:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T17:44:28.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fidget'/><title type='text'>Fidget-#3</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Fidget-#3&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghembuskan nafas frustasi. &lt;i&gt;Man&lt;/i&gt;, setidaknya empat hal yang membuat wajahnya berubah datar dan mimiknya bersungut-sungut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First, telapak kakinya berdenyut keras dan rasa nyeri itu tak jua hendak hilang, bahkan berkurangpun tidak. Ada yang salah pasti. Sialnya, entah mengapa benak terus menerus melarang kedua belah tangannya untuk bergerak turun, mengurai sepasang tali sepatu ketsnya dan melepas sang alas kaki. Sekedar untuk melihat--tidak. Bukan gengsi, hanya merasa kurang sopan. Semoga tak lebih parah dibandingkan memar yang terpampang sekitar satu setengah tahun yang lalu, tercetak di kakinya karena alasan yang sama. Terinjak--oleh seorang gadis kecil. Bedanya, saat itu benda yang menjadi biang keladi hanyalah seonggok sepatu flat, sedangkan sekarang? Sick.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hobi baru para anak perempuan Hogwarts : menginjak kaki orang sembarangan. Amazing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua. Tepat waktu itu penting. Tahu, kan? Sayangnya, tak semua orang menyadarinya. Sepupunya tidak. Sigh. Bukan bermaksud untuk marah--nope, ia tak akan tega marah pada Amanda saat ini, sementara banyak kekacauan tengah menimpa keluarga mereka. Hanya saja, menunggu tidak terdapat di dalam list hal-hal yang disukainya, selalu menimbulkan rasa jengkel dan gusar. Keinginan kuat untuk bertemu kembali dengan sang sepupu sajalah yang menahannya disini. Ck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga. Delapan huruf itu menerpanya lagi--menunggu. Pelaku--&lt;i&gt;another Steinhart&lt;/i&gt;, kali ini si sulung. Nathaniel mengerling konter jauh disana, masih menemukan pemandangan yang tak jauh berbeda dengan sepuluh menit yang lalu. Keramaian bertumpah ruah dan berpusat disana, membuatnya kembali berdecak. Kelihatannya masih lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir. Anak lelaki tiga belas tahun itu kembali berpindah ke tempat semula, kursi kayu di bagian sudut--berkawan dengan jendela tepat di sampingnya, mengambil pose bersedekap. Harapannya masih tersedia, mate. Harapan melihat sosok mungil yang sama, yang pertama kali ditemuinya di pesta kebun Gryffindor, yang mempelopori peristiwa injak-menginjak-kaki-Gladstone, yang... cantik itu. Bodoh. Kardionya berderap dalam tempo yang lebih cepat saat ini, imbas dari kembali diputarnya ingatan-ingatan dalam benak. Well, harapan tinggal harapan, tak semudah membalik telapak tangan untuk mendapatkan realisasinya. Sepanjang penantiannya di tempat ini, tak ditemukannya siluet seseorang yang dikenalnya, no one, dan masihkah mungkin ia berharap untuk bertemu dengan gadis yang satu itu? Lebih baik jangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, prediksi baginya hanyalah hal yang tabu. Prediksi Nat lebih sering meleset--dugaannya jarang menembus titik kebenaran. Fine, itu fakta, karena bukti telah hadir di depan mata. Kali ini biarkan hatinya memuji kesalahan prediksi yang terjadi, oke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan--jangan salahkan dirinya karena terpaku saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada. Itu. Di depannya. Aurore Petrabella Marvil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Nathaniel! Tak kusangka kita bertemu di sini! Kau lagi apa? Kalau aku-"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Tak disangka. Sama sekali. Dewi fortuna tengah bertamu ke ruang takdirnya, eh? Selamat datang dan terima kasih telah mampir kalau begitu. Kelereng kecokelatan anak lelaki itu tak bergerak, terpancang pada satu titik fokus dalam kegemingan absurd--sepasang lazuli yang lain di hadapannnya. Menyertai dalam hentakan seiring, rona merah merambati wajahnya--lagi-lagi. Kegusaran yang menghampirinya di awal menguap sedikit demi sedikit, tergantikan sensasi aneh menyenangkan yang mencengkeram perutnya. Apa ini? Kenyataan perasaan yang selama ini selalu berusaha ia sanggah, ha? Akan terus berlangsung jikalau saja interupsi tak seenaknya menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lensa beningnya bergulir sedikit ke samping, mendapatkan garis konkret berbentuk seorang wanita paruh baya, tengah mengaktifkan mulutnya, bercerocos menguraikan kata-kata--itu... ditujukan untuknya? Nat mengerjapkan mata, mulutnya sedikit terbuka, tak mengerti. Sebentar. Jika ditilik dari pilihan frase dan kata yang keluar dari bibir wanita tersebut, sedikit banyak ia dapat menyimpulkan sang maksud dan tujuan. Ro, ck ck. Gadis cilik itu pasti cerita mengenai insiden jatuh dari pohon dan kancing-tersangkut yang menimpa Nat beberapa saat yang lalu, kepada wanita itu. Dan pastinya saat ini image seorang Nathaniel Gladstone berbalik seratus delapan puluh derajat, menjadi seorang pemuda kurang ajar yang menimpa gadis malang tanpa basa-basi demi suatu maksud terselubung. Great. Mampus deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tergagap, berusaha mengumpulkan suaranya yang secara tiba-tiba menghilang tanpa izin--ketika makhluk itu datang. Terkesiap, sepasang matanya melebar, terlebih lagi ketika sang makhluk mungil mendarat cuek di atas bahu Marvil. Kupu-kupu? Jangan lagi. Nat perlahan bangkit, melangkah tanpa suara menghampiri gadis Slytherin itu, kemudian mengibaskan tangan dengan lembut ke arah sosok bersayap tersebut--yang segera pergi dengan keanggunan yang sama seperti waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marvil, kau tak sadar ada kupu-kupu kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel meneruskan gerakannya, menepuk bahu sang gadis kesayangannya, tersenyum simpul dan berujar, "Apa kabar?" Senyuman dari seorang Gladstone--langka, mate. Lalu, sadar bahwa ia belum menanggapi ucapan bibi entah-siapa-itu, mulutnya kembali terbuka, suara khasnya mengudara lagi. "Anda... salah paham, Nyonya. Waktu itu saya--tidak sengaja. Maaf." Hembusan nafas sebagai penutup. Cukupkah kalimat itu sebagai jawaban?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya tidak.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-5097812407027141857?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/5097812407027141857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=5097812407027141857&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5097812407027141857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5097812407027141857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/fidget-3.html' title='Fidget-#3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3976825631149222935</id><published>2009-05-14T19:58:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T19:16:51.635-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Watching Movie'/><title type='text'>Watching Movie-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Watching Movie-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seka. Kibas. Apa lagi? Kipas-kipas. Tidak mempan juga. Sigh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dihujani kilauan kalor keemasan tanpa toleransi seperti ini bukan kemauannya, tak perlu ditanya. Hanya saja, seratus meter di depan, destinasi menunggu, plang besar membuat senyumnya terukir tipis. Well, sejauh ini pun sebenarnya ia tak keberatan sih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis itu membuka topi birunya, untuk kesekian kalinya menyeka titik-titik peluh di kening dengan lengan sebelum kembali memakai sang topi, mengkover kepala serta rambut kecokelatan kuncir kudanya. Panas. Siang hari musim panas di pusat kota London, tak perlu buang-buang tenaga untuk berharap kesejukan menyambut. Bising, polusi, tebaran manusia tumpah ruah. Bercampur baur dengan para muggle dalam kapasitas besar, kesempatan langka, sungguh. Berkali-kali sang gadis mengerjapkan mata ingin tahu, menelengkan wajah mengamati macam pribadi yang berlalu-lalang, sedikit penasaran terhadap apa yang dikenakan, dibawa serta dikerjakan komunitas dunia seberang--melupakan kausnya yang basah, juga rasa tak nyaman di kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mengerling ke samping, menemukan siluet anak lelaki Hufflepuff--sahabatnya. Jalan yang mereka tempuh lumayan jauh, tahu. Jangan protes jika saat ini gurat kelelahan terpancar dari wajah mereka--wajah Amanda setidaknya--dan panas membakar juga merambati kakinya. Tidak, percayalah, ia tak keberatan barang sedikitpun. Merepotkan Jo, lagi, untuk mengantarnya dengan cara yang sama seperti saat pertama dirinya berangkat ke rumah sementaranya selama musim panas ini--berapparate, FYI--merupakan pilihan terakhir yang akan diambilnya untuk merealisasikan keinginan yang tanpa alasan jelas ingin ia lakukan. Memaksanya untuk merelakan sepasang kaki miliknya untuk berjalan dari Queen's Road nomor empat puluh tujuh hingga ke tempat ini, Sloane Square.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda ingin nonton Superman II.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, sebenarnya ada seorang lagi yang pada akhirnya harus turut mengorbankan diri, repot-repot dan bersedia berjalan kaki, berpeluh dan letih bersamanya, membuat Amanda merasa sedikit bersalah. Terpaksakah Larry menemaninya? Semoga tidak--ya, firasatnya sih mengatakan tidak, hoho. Sekali lagi bibirnya melengkung simpul, merasa amat beruntung karena memiliki seorang sahabat seperti Jonathan Larson Baned, yang disadarinya selalu ada. Terima kasih banyak. Gadis itu menggamit lengan Larry, setengah menarik sang anak lelaki memasuki pintu teater Royal Court bersama binar rasa senang dan kepuasan--akhirnya sampai. Tak terlalu ramai. Mungkin hari ini termasuk pemutaran film ke sekian, sepi penonton. Atau...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filmnya sudah mulai, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda melirik arlojinya, kemudian mengangkat wajah untuk membaca jam tayang yang tertera--great, satu menit lagi. Melepaskan gamitannya pada lengan Larry, ia menghampiri tempat penjualan tiket dengan sedikit tergesa. Tempat duduk, err... um... asal saja deh. "Superman II, I18 dan I19, please." Menyambar tiket dan kembali menghampiri sahabatnya setelah mengucapkan terima kasih kepada gadis penjaga loket, ia kemudian mengangsurkan salah satu lembaran. "Kau I18 ya, Larry?" Amanda mengedipkan sebelah mata disertai cengiran jenaka spontan. "Hari ini aku yang traktir. Semuanya," ujarnya lagi, melontarkan nada tak-menerima-protes. Hitung-hitung berterima kasih atas apa yang selama ini telah Larry lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyempurnaan. Satu konter lagi sebagai tujuan. Ia menggumamkan pesanan--satu popcorn ukuran paling besar di etalase, dan dua soda dingin. Uh-uh, satu popcorn untuk berdua saja, lagipula tampaknya ia tak akan sanggup memakan itu semua sendirian. Ia yang traktir juga, by the way. Amanda mengangguk kepada Larry, mengisyaratkan bahwa semuanya sudah beres, lalu kembali menarik sahabatnya tanpa basa-basi. Ke studio 4.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kan. Sudah gelap. Gadis empat belas tahun itu menggenggam lengan Larry erat, merasa gamang. Payah. Selamat sampai tujuan, sih. Row I, sisi tengah, tak banyak yang menempati, tak banyak yang akan terganggu. Bagus. Tapi tetap saja, jalan ke tengah tidak keliha--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DUK!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tersandung. "Ma-maaf," ringisnya cepat-cepat, memicingkan mata untuk mereka dimana wajah seseorang yang ia tendang kakinya. Anak lelaki sepertinya. Sekali lagi ia meminta maaf, kemudian menghenyakkan diri di atas tempat duduk yang seharusnya. Huft. Selamat, selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei. Se-sebentar. Kesadaran itu telat hadir. Amanda tertegun, dengan sedikit tak percaya ia menoleh, benar-benar menyipitkan mata untuk mengkonfirmasi penglihatannya barusan. "Istvan?" gumamnya tak yakin. Benar, tahu. Itu... Well, kalau begitu-- Ia mengedarkan pandangan, berusaha mengalahkan kegelapan. Di baris yang sama dengannya tak ada siapapun lagi yang ia kenali. Mungkin... Amanda menoleh ke belakang--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan yang dilihatnya pertama kali adalah siluet rambut keriting gimbal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"DANIELLE!" pekiknya keras. Bodoh. B.O.D.O.H. Seruan protes terlontar dari beberapa penjuru, membuat cengiran bersalah lagi-lagi terpampang di wajahnya. Amanda merosot di bangkunya, membenamkan tubuh pada sandaran kursi sebelum menoleh dan mencondongkan tubuh ke arah sahabatnya. Duh, telinga Larry yang mana sih? "Larry," bisiknya, "Lihat ke baris atas, deh." Ia menunjuk row H dengan ibu jarinya. "Banyak anak Hogwarts... sepertinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya, ia tak suka kegelapan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3976825631149222935?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3976825631149222935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3976825631149222935&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3976825631149222935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3976825631149222935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/watching-movie-1.html' title='Watching Movie-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-4953244885802109194</id><published>2009-05-13T11:02:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T17:45:47.127-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fidget'/><title type='text'>Fidget-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Fidget-#2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, bersama kejenuhan serta kekhawatiran yang terus bergulir, kedua lapis lensa kecokelatan milik sang anak lelaki berulang kali bergerak menyapu penjuru ruangan, mencoba menemukan seseorang atau sesuatu yang ia kenal. Sejauh ini yang ditemukan--nothing. Ralat, ada. Jauh di seberang sana, di balik konter berdebu yang disesaki antrean panjang pengunjung--termasuk Leander, terdapat para pegawai magang, eh? Tidak kenal. Ia butuh seseorang yang ia &lt;i&gt;kenali&lt;/i&gt;, bukan hanya sekedar tahu. Dan kriteria tersebut belum terpenuhi hingga saat ini. Yang terpampang di hadapannya, sebagian besar adalah para pribadi cilik yang berlalu lalang, sibuk dengan urusan masing-masing, berteriak-teriak bising ataupun berkerumun dalam kelompok-kelompok kecil Ck.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Calon juniornya, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tahu. Dan juga tidak perduli. Calon murid Hogwarts ataupun bukan, yang pasti salah satu dari mereka saat ini tengah menghampirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel mengangkat satu alisnya, menatap anak lelaki di hadapannya acuh. Bukankah plang Leaky Cauldron tergantung besar-besar di depan, ha? Tidak lihat atau bagaimana? Ia mengangguk singkat, sekaligus sebagai jawaban atas pertanyaan kedua yang sampai ke telinganya. Refleks, Nat mengerling pakaian yang dikenakannya--polo shirt dan celana jeans denim--fine, so muggle. Salahkan komunitas dimana ia tinggal, menyebabkan hal-hal yang berkaitan dengan muggle berkawan erat dengan dirinya, membuat seorang Nathaniel Gladstone tak tampak seperti penyihir. &lt;i&gt;But he is&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Keberatan kalau aku bergabung di sini?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nat menatap lekat anak lelaki di hadapannya--sebelas tahun menurut prediksinya--masih bersedekap, berusaha menilik apakah orang asing tersebut berbahaya atau tidak. Kewaspadaan itu bertambah, mate. Levelnya bertingkat sehubungan dengan keempat serangan yang menimpa sepupunya. Dirinya kelihatan tak ramah, oke, memang. Tak perlu protes. Hm, kelihatannya sih anak lelaki baik-baik. Ia mengacak rambut hitamnya. "Tidak. Tidak perlu bertanya, sebenarnya," ujarnya, mengangkat bahu. Situasi ini. Mirip dua tahun yang lalu, dimana dirinyalah yang berperan sebagai sang anak kecil sebelas tahun, menghampiri meja dengan anak lainnya yang tak dikenal. Dan saat itu keramahan yang dilontarkan ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, sayangnya ia tak terbiasa bersikap seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdeham, Nat berpindah ke kursi sebelah pinggir, kemudian menegakkan posisi duduknya. "Hogwarts, eh?" Pertanyaan standar, menebak saja. Jika prediksinya benar, berarti saat ini dirinya tengah menghadapi sang calon junior. Great, let's see. "Nathaniel Gladstone, by the--ARGH!" Perkenalan diri dengan interupsi luar biasa mengejutkan, menghadirkan denyutan keras di kaki kanannya. SIAPA SIH? Ia meringis, secara spontan menoleh sengit, mencoba mencari tahu pelaku--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha-ha. Seorang gadis. Menginjak kakinya. Lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel menahan emosinya mati-matian, memejamkan mata kesal sambil membungkuk dan mengusap-usap kaki kanannya yang masih terbungkus sepatu, sama sekali tak peduli dengan permintaan maaf yang diserukan gadis cilik tidak-punya-mata itu. Tak ada gunanya meminta maaf, tahu. Toh sudah terlanjur. Yang saat ini sedang benaknya lakukan adalah berusaha tidak memvisualisasikan amarahnya, mencoba tidak membentak, tidak berlaku kepada kepada seorang anak perempuan. Tidak. Jangan sampai. Ia menarik dan menghembuskan nafas berulang kali, berusaha menstabilkan tensi, sebelum akhirnya bergumam gusar, "Lain kali hati-hati, Nona."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak etis membuka sepatu di tempat ini, sial. Pemuda Gryffindor itu menggerakkan kakinya dengan tak nyaman, masih disertai ringisan. Bodoh, rasa nyerinya keterlaluan. Apa sih yang anak itu pakai? Sekali kerlingan, dan dirinya mendengus tak percaya. Itu--for God's sake, apa-apaan? Seorang gadis cilik dengan sepatu boot berhak extremely tinggi, runcing pula? Ck ck, korban mode.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencoba untuk tak terlalu peduli, Nat kembali bersandar pada punggung kursi, berpura-pura tak merasakan nyeri yang mendera kaki kanannya. Kalau sampai terluka--lihat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong-ngomong, kejadian barusan mengingatkannya kepada seseorang. Seseorang yang selalu mengganggu benaknya akhir-akhir ini. Seseorang, yang selalu membuat kardionya berderap satu ketukan lebih cepat, bahkan hanya memikirkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aurore Petrabella Marvil, dimana kau, eh?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-4953244885802109194?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/4953244885802109194/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=4953244885802109194&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4953244885802109194'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4953244885802109194'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/fidget-2.html' title='Fidget-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-7273990351271089424</id><published>2009-05-12T03:48:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T17:43:07.960-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='47 Queen&apos;s Road-London'/><title type='text'>47 Queen's Road, London-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;47 Queen's Road, London-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"O-oke."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siluet kebiruan pudar dengan corak kelabu bertindak sebagai latar belakang, menaungi ketiga sosok di bawah langit itu, yang tengah berdiri berdekatan satu sama lain. Sang gadis cilik menahan nafas tanpa sadar, tangan kanannya bergerak perlahan dan menggamit lengan sahabatnya--tas koper dalam genggaman, sementara tangan satu lagi memegangi bagian lengan baju gadis dewasa di sisi lain--sesuai perintah. Apparate. Wew. Well, tidak heran sebenarnya, dan seharusnya cara bepergian seperti ini telah mampu diprediksi sejak awal. Hanya saja rasa nervous yang biasa mampir di benak seseorang saat mencoba sesuatu yang baru--mulai menyerangnya, membuat kardionya berderap lebih cepat. Err... sebenarnya masalah transportasi menuju rumah tujuan sama sekali tak terbersit di pikirannya selama perjalanan di atas Hogwarts Express, pikirannya penuh--dihantui rasa tenang bercampur dengan kekhawatiran yang tetap enggan untuk enyah. Merasa cemas terus menerus seperti ini melelahkan, kalau ia boleh jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, sudah siap, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menggigit bibir bawahnya, merasa bahwa dirinya tak akan pernah siap namun sadar mau tak mau apparate akan berkawan dengan kehidupannya--dalam waktu beberapa tahun lagi, dan kali pertama tak selalu berakhir buruk seperti yang ia bayangkan. Kata siapa pula itu? However, detik berikutnya peron 9 3/4 secara tiba-tiba terlihat kabur, sepasang kaki berbalut sneaker biru miliknya tak lagi menjejak tanah, sekelebat bayangan berpusing di depan matanya, menghadirkan pening. Gadis empat belas tahun itu memejamkan kedua matanya, mengeratkan genggaman kepada kedua sosok di sampingnya, berharap sensasi aneh yang menjalari tubuhnya cepat berakhir--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;GUSRAK!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;DUK!&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duh." Amanda meringis, secara refleks mengusap-usap sikunya yang nyeri akibat terbentur koper hitam yang mendarat persis di samping tubuhnya. Sampai? Sepertinya begitu. Ia mengangkat wajah, mengerjapkan mata dan melempar pandang tertarik ke arah rumah yang menjulang di hadapannya, kemudian cepat-cepat bangkit saat menyadari posisi jatuhnya--tengkurap, FYI--dan menepuk-nepuk kaus serta celananya, mengusir beberapa helai rumput yang mampir. Pendaratan yang kurang mulus sebenarnya, tidak dalam posisi berdiri, tetapi perasaan senang atas apparate-nya yang pertama kali saat ini mendominasi, mensunggingkan senyum puas di bibir--tidak peduli bahwa yang menjadi pelaku utama bukan dirinya. Amanda menoleh ketika sebuah keluhan hadir di telinganya, dan kedua matanya kembali terkerjap. Ah ya, masih ada dua orang yang lain, dan ia lupa, ck ck. Ia beranjak, menghampiri anak lelaki satu-satunya di sana dan membantu sahabatnya itu berdiri. Tidak apa-apakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis Ravenclaw tersebut mengangguk, menanggapi pertanyaan sang senior sekaligus menyatakan persetujuan atas kalimat barusan. Kurang mulus, tak apa, ia tak keberatan, sungguh. Oh, oke, sensasi apparate memang &lt;i&gt;begitu&lt;/i&gt;. Begitu, sama dengan keren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Nah Amanda. Queen's road empat puluh tujuh."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggukan lagi terlontar, diiringi oleh senyuman lebar serta binar di kedua lapis lensa kecokelatan miliknya. Ya, Queen's road nomor empat puluh tujuh, tempat dimana ia akan menghabiskan seluruh waktu libur musim panasnya. Tempat dimana dirinya harus menginap selama rentang waktu tersebut. Entah, Amanda merasakan sesuatu yang ganjil di hatinya, imbas dari kekhawatiran yang masih senantiasa berdentum di dalam dada--kekhawatiran yang turut serta dengan setia hingga ke tempat ini sekalipun, bercampur dengan rasa tidak enak karena harus merepotkan orang lain. 'Menumpang', istilahnya. God, kalau bukan karena Leander dan Nathaniel yang meminta dengan sangat, ia tak akan mau. Sepupunya curang, by the way, diizinkan tetap menetap di Highbury Crescent nomor empat, sementara dirinya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bertiga menganggap seorang Amanda Steinhart itu lemah. Ha-ha. Nice.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar kata 'berantakan' bergaung di udara, Amanda mengedarkan pandang, mengamati area yang sempat diprediksi olehnya sebagai halaman belakang, menelusuri setiap jengkal yang kasat mata. Berantakan? Tidak kok. Hanya saja... kelihatan telah cukup lama ditinggalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"-maaf."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha? Ia menoleh cepat ke arah sang senior, menggeleng spontan. Kenapa minta maaf? Seharusnya dirinya yang mengucapkan kata tersebut. "Tidak, Prefek Baned," serunya seraya tersenyum canggung, "err... Ketua Murid maksudku--eh, senior..." Gadis itu menggaruk pelipisnya, bingung. Bagaimana ia harus memanggil seorang Jo Baned yang telah lulus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku--yang minta maaf--" ucap Amanda, menatap Larry sekilas, menandakan bahwa permintaan maafnya juga ditujukan bagi anak lelaki satu itu, kemudian menunduk menatap sepatunya, "--jadi merepotkan."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-7273990351271089424?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/7273990351271089424/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=7273990351271089424&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7273990351271089424'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7273990351271089424'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/47-queens-road-london-1.html' title='47 Queen&apos;s Road, London-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-7465457774741803540</id><published>2009-05-10T15:16:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T17:45:09.626-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fidget'/><title type='text'>Fidget-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Fidget-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=gray&gt;"Sendiri saja, kenapa sih?"&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Tidak, Nathaniel. Kau--pergi bersama Leander."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki itu mengerang. "Aku BUKAN anak kecil lagi, Dad!"&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Terserah. Ya, atau tidak sama sekali."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;Nat mengerling Leander, sang kakak sepupu, yang tengah berkutat dengan kemeja Muggle berwarna hitam, sementara topi baseball biru tua telah bertengger santai di atas kepala pria dewasa tersebut. Menyamar, eh?&lt;br /&gt;"Penyamaran yang buruk, bro," lontarnya seraya mendengus samar, sudut bibirnya sedikit terangkat--menyeringai. Namun segera terkatup ketika tatapan tajam sang ayah melesat dan menusuk, membuatnya terdiam. Kan, salah lagi.&lt;br /&gt;Ia mengangkat bahu dengan acuh, mengindikasikan persetujuan tanpa minat. Terserah deh, Dad. Apapun asal dirinya diizinkan pergi ke Leaky Cauldron. "Well, jangan larang aku beli es krim, oke?"&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Debu ini. Bikin kesal saja. Panas terik mampir lagi, selalu hadir tanpa mau tahu situasi. Nathaniel berdecak, mengucek mata kanannya yang dikunjungi elemen tanah berbulir kasar tersebut. Jalan di pusat kota London selalu sama di musim panas, menghadirkan peluh yang menetes deras membasahi sekujur tubuh. Hari ini pun tak berbeda. Kelereng kecokelatan miliknya melirik si sulung Steinhart, sedikit mengamati penampilan baru sang pemuda. Kewaspadaan tingkat tinggi, ya, menuntut penyamaran habis-habisan. Bukan bersembunyi, Nat tahu, hanya tak ingin terjadi serangan lagi. Apalagi untuk hari ini, dimana akan hadir sosok yang akan kembali mereka berdua temui setelah sekian lama--dua minggu itu lama, tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ingin segera bertemu Amanda, eh, Leander?" Nat berseru singkat, kedua tangannya dalam saku sementara sepasang kaki berbalut kets putih berayun cepat. Senyuman terbersit di wajah pemuda di sampingnya, membuat anak lelaki tiga belas tahun itu kembali menyeringai. Tentu saja. Di samping alasan 'dunia sihir sedang dalam puncak bahaya' ala Dad, fakta bahwa seorang Amanda Steinhart akan menemui mereka di Leaky Cauldron tak diragukan lagi menjadi sebab mengapa Leander amat bersikukuh menawarkan diri mengantarnya ke Diagon Alley. Well, sejujurnya, jika pertanyaan yang ia lontarkan barusan berbalik dan diajukan untuknya, jawabannya pun ya, dengan huruf besar. Perlengkapan tahun ketiga urusan belakangan, bertemu sepupu yang tak ditemuinya selama libur musim panas menjadi prioritas, tak perlu ditanya. Bagaimana kabar gadis itu, hm? Apakah Baned memperlakukannya dengan baik? Tidak? Lihat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pintu masuk berderit terbuka, merilis bunyi yang membuat Nat meringis tak nyaman. Leaky Cauldron--Kuali Bocor, ramai seperti biasa, terutama dalam rentang waktu mendekati awal tahun ajaran baru Hogwarts. Ia terbatuk sekali, bersungut-sungut merutuki pilihan tempat yang tak kondusif, mengedarkan pandang ke seantero ruangan. Tak banyak yang memutuskan untuk memesan minum dan duduk, kelihatannya. Beberapa set kursi-meja kosong tak berpenghuni, seakan memanggilnya untuk duduk. Memang itu yang akan dilakukannya, segera. Nat menepuk bahu Leander, menggumamkan permintaan tolong untuk memesankan segelas butterbeer, kemudian menunjuk sebuah meja kosong di samping jendela paling ujung. Setelah mendapatkan konfirmasi berupa anggukan, ia mulai melangkah melintasi ruangan, menyusuri jalan yang diapit meja-meja tua, mengacuhkan oknum-oknum penebar kebisingan yang tak sengaja ia lewati. Berisik. Maka dari itulah ia memilih sudut terpencil ruangan, tak ingin terganggu. Ada beberapa hal yang hendak ia pikirkan baik-baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghenyakkan diri di atas kursi tua berdebu, Nat kemudian bersandar seraya bersedekap, sementara pandangan kedua matanya terlempar ke luar jendela dan berkelana tak terfokus. Biarkan benaknya berpikir sejenak, membunuh waktu selagi menunggu Leander yang tengah berkutat dengan antrean panjang melelahkan di sana. Yang menyita pikirannya saat ini tak lain tak bukan adalah masalah penyerangan berturut-turut yang mengancam keluarganya, memporakporandakan bangunan rumahnya. Dan pelakunya masih berkeliaran dengan bebas di luar sana. Great. Apa yang bisa ia lakukan? Tidak ada. Tak ada kontribusi yang berguna darinya, bahkan ketika serangan keempat terjadi di depan matanya saat libur musim panas lalu. Bodoh. Sampai kapan Leander akan terus diincar, ha? Apakah Amanda akan terpaksa dipindahkan ke tempat lain lagi pada musim panas tahun depan? No way.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki itu menghela nafas, kali ini tatapannya berkeliaran menilik ruangan. Seseorang yang dikenal mungkin bisa menghancurkan rasa frustasinya. Adakah?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-7465457774741803540?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/7465457774741803540/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=7465457774741803540&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7465457774741803540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/7465457774741803540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/fidget-1.html' title='Fidget-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-1827084557747867873</id><published>2009-05-10T15:10:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:54:38.170-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shape of My Heart'/><title type='text'>Shape of My Heart-Finale</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Shape of My Heart-Finale&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fine. Tidak ada masalah, katanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menatap tajam lantai jembatan tanpa titik fokus yang jelas, hanya berusaha tak menoleh dan memandang wajah anak lelaki di hadapannya dengan berpura-pura tertarik luar biasa kepada tempatnya berpijak selama setengah jam terakhir. Tidak cukup membantu, sebenarnya. Ia dapat merasakan tatapan terpancang ke arahnya, namun ia bergeming. Tenggelam dalam kemarahan yang berkecamuk di dalam dada, keselarasan berpikir tingkat tinggi miliknya terpinggirkan untuk sementara. Terenyahkan tanpa alasan yang jelas. Sang egoisme sukses menyeruak ke barisan terdepan pasukan benak, mengalahkan akal sehat dan kesabaran yang biasanya bertugas sebagai pemimpin. Kenapa, eh, Amanda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak percaya. Kalimat pernyataan tak-ada-masalah yang dilontarkan Larry entah mengapa tak berhasil menyentuh tombol keyakinan miliknya. Ucapan hanya ucapan, hanya rangkaian kata yang tersusun tanpa konkrit nyata, tanpa bukti bahwa rangkaian tersebut benar adanya. Firasatnya melarang hatinya untuk percaya, maaf. Hanya pendapat semata, sebenarnya. Tetapi saat ini, detik ini pendapatnyalah yang paling benar, pemikirannyalah yang akan digunakan dan dilaksanakan sebagai undang-undang. Oke?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;&lt;i&gt;Astaga, Steinhart. KENAPA marah-marah sih?&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ada apa denganmu, ha? Amanda memejamkan mata dan menelan ludah sekali, berusaha menstabilkan sensasi menyesakkan yang menggedor-gedor dadanya cepat. Ini--God, sabar. Gadis cilik itu menarik nafas dalam-dalam, menahannya sebentar dalam waktu sepersekian detik, kemudian merilis sang karbondioksida kembali lepas ke udara bebas. Ia mengulanginya dua kali berturut-turut, merealisasikan nasihat sang paman. Kurang berhasil rupanya. Gelenyar tak nyaman itu masih hinggap. Argh. Ia tak pernah tahu--kelelahan, rasa malu, frustasi, serta perasaan diabaikan dapat bereaksi dan menghasilkan produk berupa kemarahan. Ia baru tahu. Dan sayangnya sang gadis Ravenclaw tak tahu kalau seonggok luapan hati bernama kemarahan dapat meningkatkan tingkat keletihan beberapa level lebih tinggi. Bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, sudahlah. Kembalilah menjadi dirimu, Amanda. Berpikirlah dari sudut pandang seseorang berakal jernih, please. Coba pikir--Jonathan Baned, bertindak tak sesuai harapanmu barusan, eh? Melenggang pergi dengan acuh. Apakah kau lupa bahwa &lt;i&gt;memang&lt;/i&gt; begitu sifat sang anak lelaki yang menjadi sahabatnya? Tak ingatkah kau bahwa sikap seperti itu wajar dan biasa dilakukan dalam keseharian? Sadar. &lt;font color=gray&gt;Kau payah dan egois.&lt;/font&gt; Benar. Dirinya hanya ingin diperhatikan lebih. Itu saja sebenarnya. Benar-benar naif dan tak dapat dipercaya, rite? Amanda tertegun saat menyadari fakta yang terlambat hadir tersebut, hatinya mendengus tertawa. Jangan menyalahkan orang lain atas apa yang kau lakukan, Amanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Ia harus minta maaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalanya bergerak perlahan, hendak menoleh untuk melontarkan permintaan maaf yang terlambat. Kata-kata telah sampai di leher--namun terhenti dan tak mampu keluar. Terpaku, tertegun sekali lagi. Tubuh kecilnya tak lagi berdiri secara independen, seseorang di hadapannya, seseorang yang amat ia kenal--memeluknya. Baru mampu bergerak setelah lewat beberapa detik, Amanda menghela nafas samar, balas mendekap sahabatnya, kedua lengannya melintang di balik punggung sang anak lelaki. Helaan nafas itu... kelegaan. Ia mengangguk kecil saat kalimat yang dilontarkan Larry sampai ke telinganya. Berhasil. Jo memang hebat. Kemarahannya menguap begitu saja, seakan tersapu angin yang tengah berhembus, sementara rasa frustasinya runtuh. Ini--sama. Rasa nyaman saat Leander memeluknya di hari kakaknya pulang--rasa itu ia dapatkan saat ini. Singkat, tapi amat berarti baginya, sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali berdiri bebas, Amanda menatap pemuda di hadapannya, melempar senyuman letih sebagai jawaban pertanyaan non-verbal yang tertangkap olehnya. Sudah lebih baik. &lt;i&gt;Jauh&lt;/i&gt; lebih baik. Ia mengerjapkan mata saat mendengar kalimat berikutnya. Berantakan? Tak diragukan lagi. Amanda dapat merasakan matanya sembab, hidungnya memerah akibat menangis. Ck ck. Kembali ke asrama, tidak sendirian pula--ide terbaik hari ini. Sekali lagi kepalanya mengangguk, sepasang kakinya mulai bergerak--tunggu. Ia memberi isyarat kepada Larry untuk menunggu sebentar, kemudian beranjak menghampiri tepi jembatan, menatap jurang yang terhampar di bawah, dan senyuman itu kembali terukir. Hal terakhir sebagai penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda membuka genggaman tangannya, memandang gumpalan perkamen yang tanpa sadar masih berada disana. Menghela nafas, lagi, ia meraih tongkat Eldernya, berdeham kecil sebagai pengantar, kemudian berujar lirih seraya menunjuk sang perkamen dengan ujung tongkat, "&lt;i&gt;Lacarnum Inflamarae&lt;/i&gt;." Merilis carik tersebut tanpa basa-basi, menjatuhkannya jauh menuju jurang dengan kobaran jingga menyelimuti benda itu secara keseluruhan. Selesai. Lupakan segalanya. Lupakan kebodohan yang telah ia lakukan. Lupakan kesalahan terbesar dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan Lazarus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kembali menghampiri Larry, mengangguk, memberi isyarat bahwa semuanya telah selesai. Saatnya kembali ke kastil. Kedua lensa beningnya meredup sesaat ketika menangkap dua sosok di depan, bersama, terlihat bahagia--hei, hei. Lupakan. Sudahlah. Ya. Hatinya lebih ringan saat ini, meskipun sesak itu masih tersisa. Life must go on, rite? Amanda menoleh, tersenyum kepada sahabatnya. "By the way, Larry," ucapnya mengiringi langkah yang terus beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih banyak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;Hm, FIN? Well yeaps, for NOW.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;Thread officialy closed.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-1827084557747867873?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/1827084557747867873/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=1827084557747867873&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1827084557747867873'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1827084557747867873'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/shape-of-my-heart-finale.html' title='Shape of My Heart-Finale'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-697574096950124705</id><published>2009-05-07T22:27:00.003-07:00</published><updated>2009-08-22T18:43:36.413-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meja Hufflepuff'/><title type='text'>Meja Hufflepuff-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Meja Hufflepuff-#2&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sama-sama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan kanannya menopang pipi di sisi yang sama, sementara posisi duduknya diubah sedikit menyamping. Kelereng kecokelatannya memantulkan siluet anak lelaki di hadapannya, melengkungkan senyum simpul di bibir sang gadis. Berharap apa yang dilihatnya merupakan mimik tanpa manipulasi, Amanda melirik dua bentuk bungkusan hadiah yang tergeletak manis di atas meja, merasa senang dapat menemukan senyuman tipis terlontar di wajah sahabatnya. Langka, kalau ia boleh jujur. Sensasi menggembirakan saat mengetahui kau dapat membuat seseorang gembira tengah berlaku detik ini, mampir di benaknya. Baguslah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan? Gadis cilik itu terkerjap, sadar akan kelalaiannya memenuhi hak atas tubuhnya--belum makan dari pagi. Lupa. Ia meringis, merasakan gemuruh samar mulai bergejolak di bagian dalam perutnya. Tangan kanannya bergerak, meraih sepotong pai ayam milik Larry tanpa basa-basi, kemudian nyengir di tengah gerakan mengunyah yang segera menyusul. Cengiran tersebut betransformasi menjadi kuluman senyum saat pertanyaan sederhana yang diucapkan oleh anak lelaki di hadapannya terdengar. "Well, lihat saja sendiri, Larry," balas Amanda singkat, masih disertai senyuman simpul, jemarinya sekali lagi menyambar potongan pai--iseng. Bukan sekedar ingin membuat penasaran, sebenarnya. Lebih karena rasa khawatir senyum di wajah sahabatnya akan memudar ketika mengetahui apa yang ia berikan sebagai hadiah ulang tahun. Kecemasan berlebihan--well, dirinya tak berharap banyak Larry akan senang mendapatkan arloji dan buku yang tak seberapa. Err... ya, setidaknya ia berharap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menatap kembali wajah khas seorang Jonathan Larson Baned entah mengapa membangkitkan kembali kemelut bayangan insiden jembatan beberapa bulan lalu, peristiwa paling nekat dan memalukan sepanjang hidupnya, realisasi kebodohan tak terhingga dari seorang Amanda Steinhart. Rasa penasaran akan sikap Larry yang tak biasa ketika itu masih tersisa, kalau ia boleh jujur. Namun dirinya tak pernah berani bertanya lagi, tak siap menerima reaksi dari sahabatnya, tak ingin sikap pemuda Hufflepuff tersebut berubah. Tidak. Amanda lebih memilih terperangkap dalam keingintahuan daripada mendapatkan sikap dingin seperti waktu itu. Mungkin memang seharusnya ia mengubur sang kisah musim gugur dalam-dalam, membiarkannya lekang oleh waktu tanpa tersisa. Lupakan hal menyesakkan yang mendera--namun tidak dengan yang satu itu. A hug--seorang sahabat untuk sahabatnya, menghadirkan ketenangan yang tak terdefinisikan. Harus diakui, hal tersebut tak bisa dikatakan tidak membuatnya terkejut, but fine for her, exactly. Sebuah statement terbentuk di benaknya segera setelah kejadian tersebut--kepedulian itu ada. Diantara tebaran sikap dingin serta keacuhan yang tampak, Amanda yakin, meskipun dengan rasio perbandingan yang rendah, Larry peduli padanya. Bantah saja, bagaimanapun dirinya tetap yakin. Dan... semoga kepedulian itu hadir hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butuh bantuanmu, Larry. Sangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Err... Larry," kalimat pembukaan. Amanda menyelipkan rambut kecokelatannya ke belakang telinga sebelum melanjutkan, "Um... Aku butuh bantuanmu." Kali ini ia memainkan jemarinya dengan gelisah, menghela nafas berat melalui mulut. Kecemasan mulai menjangkiti hatinya lagi seiring detik yang berlalu.  Satu-satunya orang yang mungkin ia mintai tolong hanyalah Larry, opsi lain terhapus dengan berbagai alasan klasik. Mau bagaimana lagi, ia harus bertanya. Setidaknya mencoba, dengan segenap harapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan meluncurlah seluruh masalah secara gamblang melalui bibirnya, terucap disertai mimik kekhawatiran yang terpasang jelas di wajah. Segalanya. Mengenai perkamen surat yang ia dapatkan beberapa hari yang lalu dan datangnya kabar yang luar biasa menyentaknya. Dituturkannya secara keseluruhan--tiga serangan telah dilancarkan di tempat dan waktu yang berbeda, namun dengan incaran yang sama. Leander. Kakaknya. Dan yang terdekat adalah serangan terakhir, ledakan berskala medium terjadi tepat di halaman belakang tempat tinggalnya, Highbury Crescent nomor empat, menghancurkan tembok bagian timur dan memporakporandakan kebun anggrek terpelihara milik Bibi Antoinette. Sampai disitu kabar yang ia terima, meskipun hatinya amat yakin informasi mengenai apa yang sebenarnya terjadi tidak diberitahukan kepadanya secara keseluruhan. Ada yang disembunyikan--apapun itu, Leander dan Paman Amethyst melarangnya untuk pulang ke rumah saat libur musim panas nanti. Dilema, namun yang pasti sebuah keputusan harus diambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah diputuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begitulah, Larry," tutupnya dengan lesu, tetap diiringi oleh hela nafas bingung. "Yang ingin aku tanyakan, um..." Amanda menatap sahabatnya lekat, menggigit bibir bagian bawah. Berharap. "...bolehkah aku tinggal di rumahmu libur musim panas nanti?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu? Tidak ada solusi alternatif. Huft.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-697574096950124705?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/697574096950124705/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=697574096950124705&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/697574096950124705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/697574096950124705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/meja-hufflepuff-2_07.html' title='Meja Hufflepuff-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-6456536505931883075</id><published>2009-05-06T14:48:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T19:07:07.158-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='State of Shock'/><title type='text'>State of Shock-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;State of Shock-#1&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua lapis lensa kecokelatan itu terbuka, menatap kosong keremangan yang melingkupi penglihatannya. Terpejam, hanya dalam hitungan detik--kembali terbuka, disertai gerakan gelisah sekujur tubuhnya, merubah posisi berbaring yang dipilihnya. Tidur. Please. Argh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel menyerah. Fine, akui saja, ia tak bisa tidur. Anak lelaki itu bangkit sambil bersungut-sungut, mengacak rambut gelapnya dengan frustasi. Kenapa sih? Hanya gara-gara surat sial, eh? Ck ck. Ia beringsut menuju tepi tempat tidur, menghela nafas kesal, tangan kanannya menyambar secarik perkamen lusuh yang tergeletak sembarangan di atas meja samping tempat tidur--well, surat dari Dad. Tiba saat sarapan, berhasil dengan gemilang meruntuhkan nafsu makannya seketika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serangan, yeah. Tiga kali, tempat dan waktu berbeda. Tidak dijelaskan secara detail, tetapi kali terakhir terjadi di tempat yang familiar. Halaman belakang Highbury Crescent nomor empat--rumahnya. Ledakan berskala sedang, menghancurkan tembok pembatas bagian timur, memporakporandakan kebun anggrek kesayangan Mom, dan kabarnya--Leander terluka. Dalam surat dituliskan bahwa fakta yang belakangan disebutkan berstatus tertutup rapat bagi sang sepupu, Amanda Steinhart, dirahasiakan sementara. Keputusan yang tepat, Nat tahu itu, karena entah apa yang akan gadis itu lakukan jika mengetahui kakaknya positif menginap di St. Mungo selama dua hari. Dan ya, untuk turut mendukung permintaan kedua sosok tertua di keluarganya tersebut--&lt;i&gt;&lt;font color=gray&gt;Jangan pulang saat libur musim panas nanti, Nak&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Man, are you kidding him?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda tiga belas tahun itu bangkit, menyambar tongkat sihirnya dan sebotol plastik air mineral yang masih terisi kurang lebih setengahnya dari atas meja, kemudian tanpa berniat bersusah payah mengganti piyama kelabu yang melekat, dirinya menjejak perlahan menuju pintu kamar, berusaha tak bersuara. Tidak yakin akan arah tujuannya, Nat menenggak sang air mineral sekali, mengizinkan sepasang kaki untuk membawanya kemanapun yang mereka suka. Ia butuh udara segar untuk berpikir. Bukan ruangan suram macam kamar asrama, ruang rekreasi atau kelas kosong. Nope. Keputusan yang akan diambil akan menentukan apa yang bakal ia dan sepupunya lakukan dua minggu lagi saat tahun ajaran berakhir dan libur musim panas menghampiri. Pulang, atau tidak. Dua opsi dan hanya satu keputusan. Jika kalian semua bertanya kepadanya akan opini pribadi--dalam sekali sentak pun jawabannya sudah jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akan tetap pulang. Tak peduli apa yang akan dilontarkan ayahnya dan Leander--keluarganya dalam bahaya dan ia pergi layaknya seorang pengecut? Wohoo, tunggu dulu. Tidak akan terjadi dengan alasan apapun. Masalahnya sekarang adalah... Amanda. Yang jelas gadis Ravenclaw tersebut TIDAK boleh pulang. Bagaimanapun caranya, tidak. Tetapi--kemana gadis itu dapat pergi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkahnya terhenti saat saraf sensoriknya berkedut sadar. Dirinya telah berdiri di ambang menara astronomi, mendengus sarkastik. Oke, menara yang terpilih, bukan halaman, atau danau, atau dedalu. Great choice, feet. Nathaniel melangkah melewati jalan masuk, mengacak rambutnya asal--lagi, berharap tak ada orang lain dengan ide yang sama, pergi ke tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial. Kakinya mengambang di udara, tubuhnya terpaku bertepatan dengan tertolehnya sang leher ke arah kanan. Dua orang. Dan, menyempurnakan segalanya, salah satu dari mereka adalah--prefek. Mampus. Nat menelan ludah, mulai bergerak mundur. Detensi bukanlah sesuatu yang ia cari saat ini, rite? Sedikit tergesa, ia memutar tubuh, mengambil ancang-ancang untuk pergi tanpa suara... sama sekali tak melihat kemana langkahnya beranjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUAKK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Argh!" Seruan spontan terilis dari mulutnya, disusul oleh gerakan semi-membungkuk seraya memegangi keningnya yang pening. Kebodohan tingkat dewa. Nat meringis, mengaduh lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelap, tahu. Jangan salahkan kakinya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-6456536505931883075?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/6456536505931883075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=6456536505931883075&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6456536505931883075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6456536505931883075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/state-of-shock-1.html' title='State of Shock-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-4188880634417533395</id><published>2009-05-04T16:32:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T19:10:55.760-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Phoenix and The Turtle'/><title type='text'>The Phoenix and The Turtle-#3</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;The Phoenix and The Turtle-#3&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasa--saja. Please.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menelan ludah sekali lagi. Sulit, tahu. Ketika orang yang kau kagumi tengah berdiri di hadapanmu, ada tiga hal yang biasanya akan terjadi. Pertama, bersikap norak dengan terpekik-pekik tak jelas dan ber-'oh-my-God' ria--dilakukan para gadis pengidap fanatikisme dan sindrom lebayisme akut. Kedua, kabur atau pura-pura tak melihat karena nervous--banyak kasus yang terjadi di depan matanya, serius. Dan yang ketiga, bersikap normal seakan yang berdiri di hadapannya hanyalah seseorang yang tak dikenal, tanpa mimik terkejut maupun tergagap tak jelas--dengan sukses dilaksanakan oleh para pribadi lihai yang pandai memanipulasi sikap menjadi yang seharusnya. Seorang Amanda Steinhart jelas absolutely amat sangat bukan salah satu dari pengidap fanatikisme. Tidak. Ia bukan tipe gadis seperti itu, oke. Dirinya juga bukan seseorang dari kubu opsi kedua--ia tidak kabur saat ini, rite? Dan akui saja, juga bukan anggota opsi yang ketiga. See? Sikapnya tidak tenang, ia tak pandai memasang mimik tak terpana, juga tak lihai menghilangkan kegugupannya--seorang Amanda Steinhart bukan personil ketiga pilihan di atas. Well, ketiga opsi tersebut tercampur aduk di benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Harus mampu menjadi yang ketiga, Amanda.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;She's trying&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat tanya yang kemudian diucapkan oleh prefek Al-Kazaf membuatnya mengerjapkan sepasang matanya. Kan. Kegugupan yang melandanya memang sedikit tak wajar, dan tindak-tanduknya tersebut kelihatannya menghasilkan persepsi yang salah. Payah, deh. "Aku baik-baik saja, Prefek--" ujarnya dengan senyum yang diusahakan sekuat tenaga agar kelihatan normal, "--dan tidak ada yang salah dengan dirimu, sungguh." Yeah, cukup berhasil hingga saat ini. Setidaknya tak separah awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fine, urusannya sudah selesai. Buku yang ia cari telah ia dapatkan, saatnya kembali dengan tujuannya semula. "Err, kalau begitu aku permi--" ucapannya terhenti seketika saat sudut matanya menangkap gerakan dari atas kepala senior di hadapannya. I-itu... Senyuman lebar mengembang di bibir sang gadis, matanya berkilat dengan binar ketertarikan. Seekor musang. Musang kebanggaan para punggawa Hufflepuff, dengar-dengar. Dua kali sudah ia melihat makhluk tersebut secara langsung--kesempatan lain adalah saat kejadian munculnya polusi tak sedap di dekat Dedalu Perkasa--dan oh, seandainya Ravenclaw memiliki hewan pribadi seperti asrama kuning tetangga. Amanda mengangguk paham saat prefek Al-Kazaf memberi isyarat agar ia tak berisik. Ia masih tersenyum seraya mendongak menatap makhluk lucu tersebut, melupakan keinginannya untuk beranjak kembali ke meja baca, ketika sebuah suara membuat kepalanya menoleh. Suara seorang anak lelaki--memanggil kapten Al-Kazaf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, Amanda tahu pemuda itu. Salah satu yang berada di tempat kejadian perkara perusakan buku Rune Kuno miliknya oleh senior McKay--senior Eastwood, rite? Ia melempar senyum seraya mengangguk sopan kepada sang senior, benaknya berputar saat kalimat berikutnya yang diperdengarkan hinggap di telinganya. Benar juga. Prefek Al-Kazaf kelihatannya selalu membawa sang musang kemana-mana. Ke Dedalu, dan sekarang ke perpustakaan. Hanya pendapat, kesimpulan dari apa yang ia lihat. Jikalau benar--wogh, ia kepingin. Gadis itu mengangkat tangannya, hendak menyentuh makhluk mungil bernama musang yang masih tetap bertengger di atas kepala pemuda di hadapannya... dan interupsi lagi-lagi mampir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Pacarmu, kapten?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A-APA? Tangannya mengambang di udara, sementara tubuhnya terpaku. Pertanyaan macam apa itu? Menyadari posisinya, Amanda cepat-cepat menurunkan tangan kanannya, kemudian menoleh ke belakang. Ada senior Beau ya? Ti-tidak ada ternyata. Ia mengerjapkan mata sekali, dua kali, menatap senior Eastwood dengan mulut sedikit terbuka. A-apakah yang dimaksud adalah dirinya? ASTAGA. "Bu-bukan, Senior," timpalnya dengan gugup, menelan ludah sekali lagi. Bagaimana bisa senior Eastwood mengambil kesimpulan seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Hai semuanya, benarkah ini pacarmu senior?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HAH? Amanda mengerutkan kening dan melempar tampang tak percaya kepada seorang junior perempuan yang menudingkan jari telunjuk ke arahnya. Apa sih? Apakah dirinya dan Prefek musang itu terlihat tengah berpacaran? Statement yang terlontar di benaknya barusan secara spontan menghadirkan semburat kemerahan di wajahnya.  Hei, hei, sadar Amanda. Jaga perasaanmu itu, bodoh. Suara bersin nyaring menyentakkannya dari lamunan, mengalihkan wajahnya kembali kepada gadis cilik bersapu tangan. Berdeham sekali, Amanda lalu berkata, "Bukan, anak manis, aku--bukan pacar Prefek ini," kali ini giliran telunjuknya yang menuding ke arah Prefek Al-Kazaf. Duh, maaf, tidak sopan sebenarnya menunjuk orang seperti itu. Habisnya--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Bukannya kakak itu pacar kakak Jona yah?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ampun. Kali ini Amanda tersedak. Apa lagi ini? Seorang gadis mungil berambut keriting datang, mengajukan pertanyaan yang--well, membuatnya ingin tertawa, kalau kau mau tahu. Jona? Pacarnya? Astaga. Amanda mengulum senyum, membungkuk sedikit hingga wajahnya sejajar dengan wajah sang gadis-cilik-imut--siapa? Danielle kalau ia tak salah dengar barusan--kemudian bergumam pelan, "Well, kalau yang itu mungkin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;He? Ngomong apa sih kau, Amanda?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bercanda, dear," tawanya berderai lirih seraya mengacak rambut Danielle. "Kakak Jona itu sahabatku, Danielle yang manis," lanjutnya dengan senyuman simpul sebagai penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak tukang gosip di Hogwarts, ternyata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-4188880634417533395?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/4188880634417533395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=4188880634417533395&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4188880634417533395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4188880634417533395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/phoenix-and-turtle-3.html' title='The Phoenix and The Turtle-#3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3054439154318501916</id><published>2009-05-03T19:28:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:54:49.802-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shape of My Heart'/><title type='text'>Shape of My Heart-#6</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Shape of My Heart-#6&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, kan? Dirinya merasa menjadi orang yang paling bodoh di jagat raya--saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, seperti yang telah ia duga sebelumnya, kemungkinan terburuk tengah berjaya di bawah naungan musim gugur tahun 1980. Khususnya bagi seorang gadis cilik empat belas tahun Ravenclaw bernama Amanda Steinhart. Di antara beragam kejadian yang tersedia sebagai opsi untuk dipilih, disusul keputusan akhir serta konsekuensi yang hadir, tak dapat dipercaya--yang terburuklah yang mendominasi. Segala hal yang tak diinginkan menyerangnya bagaikan air bah, menenggelamkannya dalam kenelangsaan tak bertoleransi yang menyesakkan. Tak ada yang berhak untuk disalahkan kecuali dirinya sendiri--tidak juga secarik perkamen yang telah teremas di tangannya. Tidak. Ia yang menciptakan surat tersebut, maka tak pantas jika ia menimpakan kemarahan kepada benda tanpa kehidupan alih-alih kepada dirinya sendiri. Tak pantas tangannya terkepal erat dengan benda itu dalam genggaman, tak lagi berbentuk. Dirinya yang salah. Jangan. Menyesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;God. Apapun yang ia lakukan untuk menguatkan diri sendiri--sungguh, ia tak mampu tegar saat ini. Dan harus ia akui... sesal itu ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang punggung telapak tangannya turut basah. Amanda terisak lirih, masih menutup kedua matanya dengan satu tangan--tangan yang sama, yang menggenggam sang perkamen, sementara tangan pasangannya masih menggenggam lengan sahabatnya erat. Kalimat ayo-pergi-larry yang terucap dari bibirnya beberapa saat yang lalu tak jua menghendaki sepasang kakinya untuk bekerjasama, tetap melekatkan rasa lemas yang entah bagaimana caranya malah mematrikan bagian bawah tubuhnya di atas lantai jembatan tanpa mampu bergerak. Apa, Amanda? Masih tak mampu menerima kenyataan? Mati saja kalau begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada tanggapan. Belum. Kedua matanya terpejam, masih menangis--benar-benar memalukan, ya--tetapi tanpa melihatpun Amanda dapat merasakan anak lelaki di hadapannya mulai bergerak. Dan, fine, Larry benar-benar melangkah, diiringi sepatah kalimat yang menghujam hatinya hingga ke dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=gray&gt;&lt;i&gt;Untuk apa menangisi orang yang bahkan tak akan menangisimu?&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isaknya terhenti. Statement itu--luar biasa benar. Klise baginya, namun keakuratan tanpa keraguan yang terkandung di dalamnya membuat Amanda terhenyak, tubuhnya meremang. Yeah, untuk apa pula ia menangis? Untuk siapa tepatnya ia menangis? Lazarus. Kebodohan tingkat dewa, benar, karena--ia berani bertaruh nyawa untuk mengatakan bahwa pemuda yang menyebabkan ia menangis sama sekali tak peduli. &lt;i&gt;Sama sekali&lt;/i&gt;. Bahkan melirik pun tidak. Jadi? Satu hal lagi, menguatkan keberadaan label 'bodoh' yang melekat pada dirinya. Sempurna. Amanda menyeka air matanya, tetap dengan punggung tangan yang sama, bertepatan dengan terlepasnya genggaman tangannya pada lengan sahabatnya--Larry. Pergi. Ia mengangkat wajah. A-apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua lensa bening kecokelatan sang gadis menatap punggung sang anak lelaki Hufflepuff dengan sedikit kilatan tak percaya. Lagi? Kenyataan terhempas kepadanya--lagi? Larry tidak peduli. Sahabat yang paling ia sayangi pun tak peduli. Tak ada, memang. Ia memang ditentukan menjadi seseorang yang tak digubris, seseorang yang terlupakan, dan seseorang yang ditinggalkan. Tidak perlu protes, karena toh tak ada gunanya. Terima saja, Amanda. Lengkapi kepingan kehidupanmu, ya? Ya. &lt;i&gt;With pleasure&lt;/i&gt;. Gadis itu menyeka keras-keras keseluruhan matanya yang basah, menghapus total jejak kelemahan yang terlanjur hadir beberapa saat yang lalu. Tidak. Boleh. Menangis. Lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat. Larry semakin jauh. Apakah kau akan diam saja, Amanda? Membiarkan anak lelaki itu pergi tanpa penjelasan sedikitpun mengapa sikapnya begitu tak peduli seperti itu? Ia tak mengerti mengapa benaknya menyatakan bahwa sahabatnya tak melakukan hal itu--meninggalkannya--tanpa sebab. Ada sesuatu. Dan kemungkinan besar adalah kesalahan Amanda. Akhirnya sepasang kakinya mengaktifkan kembali saraf mereka dengan seharusnya, sukses bergerak, melangkah cepat mengejar sahabatnya. Dengan sedikit terhuyung--kakinya masih lemas, FYI--Amanda setengah berlari, dan setelah berada dalam jangkauan ia menarik lengan sahabatnya sekuat yang ia mampu untuk menghentikan langkah sang anak lelaki, serta menyentakkannya agar Larry berbalik dan berhadapan dengannya. Bagaimanapun. Caranya. "Larry," ujarnya dengan nafas tersengal, imbas kolaborasi kelelahan dan emosi yang sesungguhnya. "Kau. Kenapa sih? Marah padaku? Ada masalah?" Nada tinggi itu tak seharusnya kau lantunkan, Amanda. Terserah, yang pasti kali ini kemarahan yang menguasainya. Ia sudah lelah diam saja. Ia capek menjadi pribadi lemah yang tak melakukan apapun di saat dirinya terpuruk. Sudah cukup. Kau harus menjelaskan, Jonathan L. Baned. Harus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Hei, apa-apaan sih, Steinhart?&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mendesah frustasi. "Salahku, kan? Tentu saja. Aku salah--lagi." Ia memejamkan mata sekali, kemudian melempar pandang ke arah lain, enggan menatap wajah pemuda di hadapannya. "Maafkan aku, kalau begitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah. Tak menjawab juga tak apa, Larry. Langkahkan kakimu tanpa sepatah katapun, ia pun tak keberatan. Gilirannya untuk tak peduli, ya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3054439154318501916?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3054439154318501916/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3054439154318501916&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3054439154318501916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3054439154318501916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/05/shape-of-my-heart-7.html' title='Shape of My Heart-#6'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-5070216100363241256</id><published>2009-04-28T10:35:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T18:43:45.083-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Meja Hufflepuff'/><title type='text'>Meja Hufflepuff-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Meja Hufflepuff-#1&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Timeline : 28 April 1981)&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;Jangan. Terburu-buru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gemeresak kertas terdengar beruntun. Mengiringi, gerakan cekatan sepasang tangan sang gadis mendominasi aktivitas yang berlangsung dalam ruangan berlabel kamar asrama tersebut, sedikit terlihat terburu. Sedikit... lagi. Beberapa langkah lagi dan selesai. Berhenti untuk berpikir sejenak, ia memandang hasil pekerjaan sementara, mengangguk samar kepada diri sendiri--tak terlalu buruk. Gunting di sini, rekat di sana. Tekuk, lipat dua kali--kertas biru tua yang menjadi objek utama menurut patuh, membungkus dua objek lain, berbentuk masing-masing balok persegi panjang dalam ukuran yang berbeda. Dirinya memotong pita perekat sekali lagi, melekatkannya di bagian terakhir sebagai penutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Done.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menghela napas dan tersenyum puas. Akhirnya. Satu jam penuh ia berkutat dengan benda yang kini telah terbungkus rapi di hadapannya, ck ck. Hanya dua buah benda, dan ia memerlukan waktu sedemikian banyaknya. Bukan profesional dalam membungkus hadiah, tentu saja. Gadis cilik itu melirik arloji yang tergeletak di atas meja di sisi tempat tidur, memicingkan mata untuk mencari tahu pukul berapa sekarang... 19.15. Astaga. Amanda melompat dari atas tempat tidur, meraup ceceran kertas yang bertebaran, meremas seluruhnya menjadi satu sebelum melemparkannya dengan tepat ke dalam tempat sampah di ujung ruangan. Kemudian ia menyambar segala peralatan yang sukses digunakan--hanya gunting dan pita perekat, meletakkan keduanya di tempat semula, laci meja samping tempat tidur. Tujuh lewat lima belas, duh, semoga Aula Besar belum mengakhiri kegiatan rutinnya. Makan malam. Setelah mengenakan sepatu dengan asal pakai, Amanda mengambil dua benda yang menjadi pemeran utama, tersenyum sekilas sekali lagi, lalu dengan bergegas memutar pegangan pintu kamar anak perempuan kelas tiga Ravenclaw. &lt;i&gt;Here she goes&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=yellow&gt;&lt;b&gt;Meja Hufflepuff&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;Rangkaian obor menyambutnya tiap beberapa meter, menciptakan pencahayaan pudar dengan siluet abstrak pada dinding lorong. Amanda menatap kedua benda dalam genggamannya silih berganti dengan pandangan kosong sementara sepasang kakinya melangkah cepat melintasi lorong lantai dasar menuju Aula Besar. Tepatkah apa yang ia pilih, eh? Tak terlalu yakin sebenarnya, hatinya sedikit tak puas. Lima puluh galleon, hanya sejumlah itu yang mampu dirinya keluarkan, hasil jerih payah sebagai pegawai magang Leaky Cauldron. Ya, hanya lima puluh galleon, sayangnya. Ia enggan meminta lebih kepada sang paman, meskipun ia yakin dengan sangat bahwa Paman Amethyst akan memberikannya dengan senang hati. Tidak, rasanya akan berbeda, membeli dengan hasil keringat sendiri dibandingkan membeli dengan uang hasil pemberian seseorang--opsi pertama lebih menyenangkan di hati. Dan tentu, merepotkan orang lain adalah sikap yang paling ia hindari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua, bukan satu. Mengapa? Amanda sendiri tak tahu persis alasannya. Benda berbentuk balok persegi  yang kini berada di tangan kanannya saat ini--itu--adalah buku &lt;i&gt;Menaklukkan Bludger&lt;/i&gt;, satuan perkamen yang terpilih diantara sekian banyak panduan Quidditch lain. Di Diagon Alley awal term lalu, Amanda menghabiskan waktu hampir dua jam penuh di dalam Toko Quidditch, berputar-putar ke seluruh penjuru ruangan, berkutat dengan benaknya sendiri, mencoba menentukan mana yang sebaiknya ia beli. Sekumpulan sapu yang berjejer rapi di dekat counter utama benar-benar membuatnya kepingin, sebenarnya. Hanya saja, harga yang terpampang membuatnya menggerutu dalam hati, merutuki diri sendiri mengapa tak mengumpulkan uang sedari dulu. Dan--buku tersebutlah yang pada akhirnya dibawanya keluar toko, mengakhiri pencariannya akan hal-hal bertemakan Quidditch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak puas sama sekali, tak perlu ditanya, saat itu Amanda memutuskan untuk menelusuri pelosok Diagon Alley--disertai Nathaniel yang entah mengapa menjadi amat pemarah--dan, well, 'benda' itulah yang ia temukan. Arloji hitam terbaik yang terpajang di sebuah toko jam besar di pinggir jalan utama. Sebuah arloji dengan latar belakang yang mampu berganti seiring suasana hati, dilengkapi kompas sihir. Wew. Bahkan dirinya sendiri kepingin. Beli, tanpa basa-basi, merogoh koceknya hingga knut terakhir. Bukan masalah, dan ia berharap hadiahnya tak mengecewakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinar terang benderang menyambut sang gadis ketika kakinya menapak Aula Besar, hiruk pikuk ramai membuat telinganya berdengung. Kelihatannya makan malam baru saja dihidangkan--menilik meja-meja panjang yang masih penuh terisi makanan. Makan malam, itu nanti. Kedua lapis lensa beningnya menyusuri tiap jengkal ruangan, sedikit cemas seseorang yang dicarinya tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda memutar langkah, melewati meja asrama kebanggaannya, Ravenclaw, tersenyum dan membalas sapaan beberapa orang dengan bersemangat, namun ia tak berhenti. Terus berjalan hingga tiba di jajaran para musang menikmati hidangan. Ia tersenyum ketika akhirnya sampai di tempat dimana orang-yang-dicarinya duduk, napasnya terhela perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai, Larry," ujar Amanda seraya mengacak rambut sahabatnya dan mengambil posisi duduk di tempat kosong di sebelah kanan anak lelaki tersebut. Kemudian ia menyodorkan kedua benda dalam dekapannya, nyengir. "Selamat ulang tahun."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-5070216100363241256?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/5070216100363241256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=5070216100363241256&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5070216100363241256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5070216100363241256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/meja-hufflepuff-1.html' title='Meja Hufflepuff-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-6181883839444237701</id><published>2009-04-25T22:49:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:55:01.228-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shape of My Heart'/><title type='text'>Shape of My Heart-#5</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Shape of My Heart-#5&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi sekarang? Silahkan permainkan jalan hidupnya, wahai angin. Mengapa tak sekalian saja terbangkan dirinya--terjunkan ke jurang. Habis perkara, dan bahkan hal tersebut terlihat begitu menyenangkan saat ini, menawarkan solusi termudah untuk masalahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;Solusi terbaik bagi pribadi yang putus asa.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teduh. Mega beriak, berformasi rapat dalam rangkaian elemen putih bergelombang, membentuk serakan abstrak tanpa cela. Kawanan tersebut berkompromi satu sama lain, bekerjasama dengan kooperatif--mengkover bumi dalam beberapa lapis, mengenyahkan sebagian sinar matahari pagi. Pukul sembilan lewat sekian waktu Inggris Raya, musim gugur 1980. Hu-uh, musim gugur, dilengkapi angin yang hiperaktif. Herannya, saat ini sebulir kristal bening mengalir perlahan melintasi pelipis sang gadis cilik, turun ke sisi wajah hingga leher. Peluh berlatarbelakang kesejukan pagi, eh? Tidak wajar. Gadis itu mengangkat lengannya, mengusap peluh tersebut--refleks. Tampaknya rasa lelah telah menyeruak keluar, terealisasikan dengan gamblang tanpa basa-basi dan pendahuluan. Capek. Ingin rasanya ia mengundang bumi untuk menelannya. Menghilangkannya dari muka dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menggigit bibir bawahnya, kilatan redup di sepasang kelereng cokelatnya menyorot lurus, lagi-lagi memvisualisasikan kepasrahan kuadrat maksimal saat menatap carik perkamen tersebut mendarat amat dekat dengan seorang anak lelaki dan sesosok gadis senior disana. Dan--tak ada yang mampu ia harapkan lagi, Larry meraih lembaran tersebut, melanjutkan dengan tindakan yang tidak mungkin tidak dilakukan--melihat dan membaca. Apa yang akan dilontarkan sahabatnya itu sebagai respon? Apa? Terserah, apapun yang akan ia terima, tak peduli. Masa bodoh. Ia pun hanya terdiam, bergeming ketika pemuda musang itu bergerak menghampiri, menyodorkan perkamen si-biang-keladi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Selesaikan urusanmu."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guratan samar terbentuk di kening Amanda. Urusan... apa? Berhubungan dengan isi perkamen? Itu berarti satu. Menyelesaikan urusan dengan Lazarus. Oh. Larry mendengar ucapannya, pengakuannya kepada anak lelaki Slytherin tersebut, tak diragukan lagi. Tetapi Amanda yakin, sahabatnya tak mendengar &lt;i&gt;jawaban&lt;/i&gt; yang terlontar sebagai balasan. Tidak, tentu. Ia menerima perkamen tersebut, tertarik luar biasa untuk meremasnya detik itu juga. Urusannya disini telah selesai, mate. Mencapai titik akhir. Amanda ingin berbicara. Tapi untuk apa? Lihat. Bahkan sahabatnya--Jonathan Larson Baned--sama sekali tak perduli, membalikkan tubuh begitu saja. Tak ada yang perlu diperdulikan sih, benar. Tak ada yang penting mengenai dirinya. Sedikitpun. Sadar diri, lebih baik ketimbang tidak--hanya akan menyakiti diri sendiri. Namun, entah, tetap saja ada siluet kekecewaan yang menyerang hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kau tahu, Larry?" ujarnya lirih, "Urusanku sudah selesai." Yeah, tetap terucap. Tak tahu Larry akan peduli atau tidak, yang penting ia telah menjelaskan. Amanda menghela nafas lesu. Pertahanannya akan runtuh total kalau begini terus. Usaha untuk memaksa diri untuk kuat, untuk tak putus asa, untuk bersikap dewasa dan mandiri, segalanya mulai sia-sia. Gawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia... butuh Nathaniel. Ia butuh Leander. Butuh Paman Amethyst. Butuh--ia butuh seseorang... siapapun. Trixie mungkin. Vincent. Atau Phoebus, peri rumah kesayangannya pun ia tak keberatan. Namun lagi-lagi, tak ada seorangpun, rite?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya... ada. Seseorang di hadapannya. Tetapi seseorang itu tak tahu kalau ia membutuhkannya saat ini. Apakah ia harus mengucapkannya? Harus? Lagi-lagi dengan resiko yang terpampang jelas di depan mata. Resiko tetap dianggap tak penting. Bahkan lebih buruk, resiko menyadari bahwa tak ada yang memperdulikannya. &lt;i&gt;Does she want to take the risk?&lt;/i&gt; Tergantung. Hati dan benaknya yang menentukan. Sanggup berdiri sendiri? Ya sudah, tidak perlu berbicara kalau begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kenyataannya ia tak sanggup. Tangan kanannya meraih lengan sahabatnya, sementara kepalanya menunduk dan ia menelan ludah dengan susah payah. "Jangan pergi, kumohon," suaranya berbisik serak dengan nada putus asa. Ia lemah. Payah. Cengeng. Memang. Tak sengaja sebenarnya--matanya mengerling ke samping, menatap tempat dimana Lazarus--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--dan Prefek Aza. Itu--mereka--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuhnya terasa gamang. Terpaku. Tanpa tahu alasannya, nafasnya tersengal, dan secara spontan genggaman tangannya pada lengan sahabatnya mengerat. Bodohnya ia. Semuanya benar-benar jelas. Sejelas pandangan di musim panas. Seterang pencahayaan saat siang hari menjelang. Mengapa ia tak pernah tahu? Seorang Azaria McCafferty--tentu saja. Gadis yang begitu sempurna, begitu tak sebanding dengan dirinya. Karena itu, terimalah, Amanda. Terima kenyataan. Su... lit. Tapi harus. Perasaannya tak keruan, dan kakinya lemas, wajar. Imbas dari kenelangsaan, mungkin. Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"A-ayo kita pergi, Larry," ujarnya terbata, masih tetap menggenggam lengan anak lelaki tersebut. Tak ada gunanya pula ia berada di sini. Hanya mencabik-cabik hatinya, menoreh benaknya. Pulang ke kastil, tidur. Simpel. Asal tidak lagi di tempat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah. Pertahanannya sungguh-sungguh terjatuh. Menangis, kan. Amanda menutup matanya yang basah dengan sebelah tangan. Untuk yang terakhir kali, izinkan bagian terapuh dirinya menerobos keluar. Terakhir kali. Janji.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-6181883839444237701?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/6181883839444237701/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=6181883839444237701&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6181883839444237701'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6181883839444237701'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/shape-of-my-heart-6.html' title='Shape of My Heart-#5'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-6439753635910740460</id><published>2009-04-25T09:57:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T19:11:03.550-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Phoenix and The Turtle'/><title type='text'>The Phoenix and The Turtle-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;The Phoenix and The Turtle-#2&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa sih tingginya? Tak akan lebih dari dua ratus sentimeter--absolutely.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang lensa bening kecokelatan berkilat redup, menembus keremangan yang diciptakan oleh siluet bayangan rak-rak raksasa yang menjulang angkuh hingga ke langit-langit, saling berpadu padan dan bercampur satu sama lain. Seratus lima puluh dua sentimeter versus dua meter tepat, dan ia kalah? Hanya berbeda lima puluh senti, dan bahkan jemarinya tak mampu menyentuh papan rak hitam keenam dari lantai, tak peduli berapa jauhnya ia merentangkan tangan dan mengangkat tumitnya ke udara. Gadis itu mendesah, menatap buku incarannya dengan putus asa. Menyerah dan kembali berkutat dengan pekerjaan awalnya? Oho, paradigma menyerah tak pernah eksis dalam lingkup benaknya, tidak sebelum ia mencoba segala upaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda menurunkan pandangan, tangan kanannya mengusap tengkuk beberapa kali. Pegal. Mendongak bukan aktivitas yang nyaman dilakukan terlalu lama, kalau kau belum tahu. Well, apa sesungguhnya yang membuatnya kukuh untuk meraih buku yang satu itu, eh? Tidak tahu. William Shakespeare bukan salah satu pribadi yang menjadi idolanya--tak ada yang mengumandangkan puisi-puisi berima di seantero rumahnya di London, tentu saja. Bahkan komunitas Muggle yang melatarbelakangi kehidupannya di Highbury Crescent nomor empat enggan menghadirkan kesusastraan dalam entitas lebih--bercampur dengan sikap individualisme yang menguasai masalah tetangga-antar-tetangga. Entah. Hanya penasaran akan syair yang terpampang di atas secarik perkamen lusuh yang kini tengah berada dalam genggamannya, mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Think, Amanda. Pikir. Menilik panjang dan lebar dari rak-rak hitam identik yang berdiri dalam jarak yang sama di ruangan perpustakaan tersebut, dan melihat bahkan begitu banyak buku tergabung dengan jajaran level atas dalam masalah ketinggian, satu statement sudah pasti. Tak mungkin para pengunjung atau Madam Pince sekalipun mampu mencapai buku-buku tersebut tanpa bantuan, atau alat, atau apapunlah. Apa yang akan seorang penyihir lakukan dalam situasi layaknya saat ini? Tangga seperti yang digunakan Mr. Ollivander mungkin... Yang lain, err...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;YA AMPUN. Ahahahaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana Amanda tersedak, terbatuk kecil saat kesadaran itu tiba. Astaga, kealpaanmu sungguh tak dapat dipercaya, Steinhart. Gadis itu menertawakan dirinya sendiri, menertawakan kebodohannya yang luar biasa. Oke, coba kita ingat kembali. Mantra Panggil termasuk dalam daftar mantra legal baginya, rite? Ya. Dan ia sama sekali lupa bahwa dirinya memiliki sesuatu bernama &lt;i&gt;tongkat sihir&lt;/i&gt; terselip di balik jubahnya. Ayo tertawa, ia memang pantas ditertawakan, haha. Rowena Rawenclaw pun sepertinya akan tertawa melihat seorang penyihir--Ravenclaw pula--bisa-bisanya lupa bahwa dirinya penyihir. Amazing. Masih dengan keheranan terhadap diri sendiri, Amanda merogoh ke dalam saku jubah, mengambil tongkat Eldernya perlahan. &lt;i&gt;Shakespearean Gleanings&lt;/i&gt;, &lt;i&gt;Shakespearean Gleanings&lt;/i&gt;--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Ini?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang telah mendahuluinya. "Ah ya, terima kasih," ujar Amanda seraya tersenyum, kepalanya terangkat, mencoba mencari tahu siapa gerangan yang berbaik hati menolong--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My God. I-ini. Di--hadapannya. Dewi fortuna ternyata tengah menyempatkan diri mengunjunginya. Harus gadis itu akui hatinya melonjak ketika tahu siapa yang berdiri di sampingnya. Ta-tanpa alasan yang jelas mengapa. Menghadirkan keterpakuan sejenak dalam beberapa detik. Tongkatnya berhenti di udara, sementara kedua kelereng cemerlangnya terkerjap sekali. Yang menolongnya itu... Itu--Prefek Balin Al-Kazaf. Seseorang yang dikaguminya. Beater favoritnya. Benarkah itu dia, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan yang kemudian terlontar dari pemuda di hadapannya membuat Amanda tersentak sadar, cepat-cepat mengatupkan bibirnya yang sedikit terbuka. Jangan. Norak. Please. "Err... Ti-tidak juga... A-aku..." Ia menarik nafas dalam-dalam, mencoba menenangkan benak dan hatinya ke taraf normal. Tenang, Amanda. Hanya seorang prefek Al-Kazaf. Hanya seorang kapten Al-Kazaf. Jangan bersikap tak normal seperti itu, bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya... penasaran sebenarnya, Senior--err, Prefek maksudku," ujarnya dalam sekali tarikan nafas, kemudian sedikit mengangkat tangan kirinya, menunjukkan carik perkamen syair yang menarik hatinya. "Aku..." Amanda menerima buku tujuannya perlahan setelah sebelumnya menyelipkan kembali sang tongkat ke balik jubah. "Terima kasih banyak," ucapnya dengan senyum canggung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sial--kenapa rasa gugup ini tak mau pergi, sih?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-6439753635910740460?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/6439753635910740460/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=6439753635910740460&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6439753635910740460'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/6439753635910740460'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/phoenix-and-turtle-2.html' title='The Phoenix and The Turtle-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-2584746113437667117</id><published>2009-04-23T19:21:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T05:30:20.639-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Comments'/><title type='text'>The Comments (in The Coffee House)-Part #3</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;The Comments (in The Coffee House)-Part #3&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=white&gt;Kat a.k.a Jonathan L. Baned said:&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;ehem..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya-webe mau repp disini apaan. Ini tadinya sampe di draft dulu di Ms.Word-tapi tetep wae WB =)) =)) *diinjek* Udah baca postnya cha-lebih WB lagi &lt;s&gt;untung belum baca penetram yang disinyalir akan membuat saya makin WB&lt;/s&gt; *diinjek lagi* Well-komen-oke dah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Amanda Steinhart:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;*lirik anak bungsu dulu sebelum ngetik* *grin*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yep, Manda itu-chara yang pertama-tama saya perhatiin. LC, tret &lt;b&gt;Hello! Flakier~&lt;/b&gt; pas disitu post saya as jonah masih abalan-liat cha nyinggung Hello Plakier saya otomatis ngecek tret itu sekali lagi =)). Bener kata cha, banyak banget yang masuk disitu-mana pas saya lihat, RPnya pada kebut gitu-astaga-saya langsung mikir, ini yang masuk situ kaga kasian apa ya sama TS *dicekek*. Oke, BTT-saya lihat postnya Manda &lt;s&gt;sementara chara saya nampak histeris di pojokan karena kecebong imutnya ketumpahan butterbeer.&lt;/s&gt; Entah ada magnet apa, saya langsung klik akunnya Amanda, yang emang pas itu udah keisi identitas ID yahoo!nya. sekali lagi, dengan nekad-saya klik YM, nyalain akun dan nge-add YMnya manda. Sesimpel itu-pertamanya, disusul dengan IM pertama dengan Manda &lt;s&gt;yang saya sudah lupa apa isinya *dihajar*&lt;/s&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas Hello! Flakier~ saya sebenernya udah nggak terlalu intens lagi memperhatikan postnya Manda-kejer post juga waktu itu, soalnya =)). Baru merhatiin pas sampe Hogwarts. Pas seleksi, kalo nggak salah sempet nanya-nanya ke Manda juga mau masup asrama mana. Pengumuman seleksi keluar dan-BLAM! Lanjutin lagi ngestalkin si Manda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal-awal di Hogwarts, postnya pendek-tapi berisi. Saya sampe cengo, pas tau Dini ngepost menggunakan media telepon seluler a. k. a Handphone. Niatan. Makin kesana makin mantep pulak. Makin panjang dan makin *tarik nafas* nggak nahan. Apalagi SoMH yang sukses membuat Chara &lt;s&gt;dan PM&lt;/s&gt; mengalami krisis identitas yang berlebihan sehingga muncul keraguan untuk mengerepp tret tersebut. Deskripnya mantep banget. Nunjukkin kalau Manda itu-aah-apa ya? Cerdas ravenclaw benjet dan-begitulah. Tipe yang baik hati, tidak sombong &lt;s&gt;dan rajin menabung, mungkin&lt;/s&gt;. Mana-visunya-aiih.. *diinjek chara* cakep luar dalem dah *shot*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Plot? Term depan yak =)) *lirik chara yang ngurek-ngurek tanah*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nathaniel Gladstone:&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kalo Nat mah nggak bisa panjang-panjang =)). Lebih merhatiin Amandanya daripada Natnya, Din *shot* Nat itu-pokoknya hot-hotnya pas di 4-4-2. Aih, kenapa kesel sama Jonat? Apakah Jonat sebegitu menariknya &lt;s&gt;untuk disiksa, dianiaya dan ditendang ke danau hitam&lt;/s&gt;? Tapi-saya menikmatinya kok *menghindar dari sambitan chara* Nat itu kerasa banget, kalo sayang sama Manda. Gryffin pulak. Maniak bola-nggak mau kalahan orangnya *diinjek* =)). Nat agak-agak sinis-apa Cuma perasaan saya aja yang agak jarang baca postnya Nat? Tidak tahu *uhukkomenmakinuhukkagakjelas*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara deskrip? Wah-jangan ditanya. Satu PM-jelas sama mantepnya dongs ah :*. Sifatnya bisa kerasa banget bedanya-kontras sama deskripsinya yang-aah-ajojig. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*lirik atas*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PM: Noh jadi-ajegile panjang yak? Post nih?&lt;br /&gt;Jo: Post aja lah PM-ngapain nanya dulu?&lt;br /&gt;Jonah: .... *blush*&lt;br /&gt;PM: Lah itu adik elu&lt;br /&gt;Jo: oh-ngerti *nyengir; sikut jonah*&lt;br /&gt;Jonah: *ke pojokan; ngurek tanah; merutuki PM* &lt;br /&gt;PM: *menghilang dengan kerennya, seret Jo; tinggalin Jonah*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=white&gt;Allesha Montez a.k.a Flavarel Montez said:&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;amanda_poldi_cannavaro: Dil, mampir diskusi krakter gw dil :D &lt;&lt; bukti yang cukup jelas kalo lo nyuruh gw ngerepp disini, Mand =)) =)) *ditoyor*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, langsung ke permasalahan *halah* &lt;b&gt;Amanda Steinhart&lt;/b&gt;. Seperti biasa, FYI, gw dulu agak jarang ngestalking chara baru, kecuali kalo yang emang gw udah tau duluan sih kek Jonah gitu *ditabok* Ngemalesin soalnya. Kenapa? Gitu deehhh =)) Serius, gw gak liat postingan lo selama di Leaky Cauldron dan Diagon Alley gitu. Pokoknya sampe gw liat postan lo di dapur ituh-najis gw lupa judulnya apaan-gw langsung.. Najiskenapagwgakstalkingniorangdarikemarenkemareeeennnn~ =)) =)) Deskripnya mantep, Ravenclaw-ish-terserah deh ya mau nyebutnya apaan. Sifatnya juga gak muluk-muluk banget. Dan jujur sejujur-jujurnya, gw kaget banget liat postingan lo di Shape of My Heart. NEMBAK SYLAR, YA TUHAAANNN~ =)) =)) Ah udahlah, mantep banget.. Asli gw pengen RPan sama elu deh di The Phoenix and The Turtle &lt;s&gt;yang sempet gw kira adalah tret berdua Manda sama Balin *digaplok Jonah*&lt;/s&gt; pake.. Arenne ;))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arenne: Kok elu tau banget gw pengen RPan sama Manda sih, Dhill?&lt;br /&gt;Dhilla: Loh? Iya tah?&lt;br /&gt;Arenne: *bisik-bisik* Gw tertarik sama dia, Dhill.. *mesem-mesem*&lt;br /&gt;Dhilla: HOOO~ Nah, terus si Akasha-gimenong? ;))&lt;br /&gt;Arenne: Ah, Dhilla, Asha masih yang lebih menarik perhatian gw kok.. *blushing tingkat dewa*&lt;br /&gt;Dhilla: *toyor anak bungsu*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Nathaniel Gladstone&lt;/b&gt; yak sekarang~ Tau gw si Manda bikin chara lagi, gw langsung kejar entah kemana lagi postannya. Abisan gw udah yakin, kalo chara orinya ajah udah bagus, pasti klonnya juga mantep tingkat dewa. Kek orang yang komen chara lu diatas gw *senggol Chajar sama Indra* =)) =)) Yep, lagi-lagi gw dibikin sukaaaa banget sama gaya postingannya yang mantep. Terutama yang pas maen sepakbola itu loh-gw juga lupa judulnya apa, astagaaaa =))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya: dua-duanya mantep. :D&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-2584746113437667117?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/2584746113437667117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=2584746113437667117&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2584746113437667117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2584746113437667117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/comments-in-coffee-house-part-3.html' title='The Comments (in The Coffee House)-Part #3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-3869463760620112772</id><published>2009-04-23T19:05:00.000-07:00</published><updated>2009-05-05T05:30:34.443-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Comments'/><title type='text'>The Comments (in The Coffee House)-Part #2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;The Comments (in The Coffee House)-Part #2&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=white&gt;mataripatrelli a.k.a Azaria McCafferty said:&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;s&gt;suruhngisijugaamadini=))&lt;/s&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PM: Bentar dulu, gw ngisi ini baru gw draft elu-elu pada. Janji.&lt;br /&gt;Azaria: Tret Character Discussionnya Amanda sana Nat yak?&lt;br /&gt;PM: Ho oh. Eh yak, menurut lu pada itu dua bocah gimana, hm?&lt;br /&gt;Danielle: *usap-usap dagu* nggak pernah ngeplot sama Kak Amanda *nyengir innocence* Kalo Kakak Nat sih pernah sekali, di kelas kosong itu. Kereeeeen, good loking pula.&lt;br /&gt;Nathan: *toyor Danielle* gw nggak pernah ngeplot juga. Jangan tanya gw.&lt;br /&gt;Azaria: Ngg--ao ah *misuh-misuh inget plot jembatan*&lt;br /&gt;PM: *ngakak geje* Udah yak, brb dulu *muter badan, balik ke leptop*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huallo, Dear &gt;:D&lt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, Amanda yah. Oke, pertama kali gw ngeliat ini chara itu--di Leaky Cauldron, tretnya si Jonah yang berjudul &lt;i&gt;Hello, Flakier&lt;/i&gt;. Nyahahha. Waktu itu sih gw cuma ngeliat idnya doank--capek capeeek gw gara-gara di tret itu banyak beud yang ngerepp, jadi gw baca sekilas doank  :)) *disodok golok* Gw magang juga di toko buku as Ngkep Winchester waktu itu, nah, saia juga melayani Anda, Miss Steinhart :)) Hanya lagi-lagi karena banyaknya pelanggan di toko Jubah Madam Malkin waktu itu, saia tidak membaca postan Anda secara menyeluruh *disodok golok lagih* =)) Nah yak, maapin gw karena gw nggak ngebaca postan-postan ente secara menyeluruh =)) Penyakit lama gw suka males ngebaca postan anak-anak baru &gt;_&gt; Kalo udah nyampe Hogwarts baru gw stalking dan seleksi alam pun mulai sehingga anak-anak baru itu keliatan mana yang aktipnya dan mana yang tidak :)) *gw ngomong apa seh*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sampai pada akhirnya si Keket IM gw, katanya ada cewek yang mirip Jo. Hoe? Saha? Dijawab ama dia Amanda Steinhart =)) Hoooh, dari saat itu sih gw baru ngebaca-baca postannya si Amanda ini. Lagipula dilihat-lihat anak ini &lt;s&gt;hiper&lt;/s&gt;aktif juga, jadi mungkin ntaran ampe Hoggy juga masih aktip. Hoho. Dan--yeah, postannya memang menarik. Bener kok. Keren. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gw stalking-stalking lagi ini chara sampe sekarang--hoo, makin meningkat postannya. Makin keren :x Ceroboh-ceroboh dewasa, Raven banget dah pokoknya. Pemilihan gaya bahasanya juga suka, puncaknya gw spikles ngeliat postan ini bocah di SoMH, keren mampus =)) Gw minder sumpah, ampe jujur aja gw tadinya kaga jadi mau repp di sono--minder. Eaaah, sial Azaria ama Danielle karakternya kaga kayak Amanda karakternya *ketauan banget pengen nyolong deskripnya* *ditabok* =)) Pokoknya sip lah buat Amanda ini--tipe istri yang baek bener *lirik2 postan atas* =)) Jadi istri Nathan nyok *digorok Jonah* =)) *dilindes calon istri beneran* =))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prefect, eh? &gt;:) Haha, lihat saja nanti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan--sekarang ke Gladstone. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa--gw males stalker anak baru =)) Dan menunggu seleksi alam =)) Begitulah, sampai gw yah jujur kaga kenal ada chara bernama Nathaniel Gladstone di IH =)) *sungkem dini* Hem, ampe si dini IM gw katanya minta dibikinin siggy. Hoh? Gw kira minta bikinin buat Amanda--eah, nggak taunya buat klonnya. Si Nat ini--gw cek siggy request. OWEH, MANTAN PISNYA AVALON =)) CAKEP =)) *matiin caps* Langsung gw iyain dah buatin siggy meskipun hasilnya standar =))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuma sampe disitu aja gw kenal Nat--jujur. Gw belum sempet baca-baca postan Nat karena anak-anak gw banyak plot Summer waktu itu &gt;.&lt; Meskipun udah ada niat stalking sih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan--jujur lagi, gw baru baca postan Nat di 4-4-2. EAH, GW SUKAA, SUKAAAA *injek caps lagi*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskripsinya itu--aaaah, cowo banget sumpah. Cowok gripi :x Cakep lagi *dijotos lagi* Perbedaan deskrip Amanda sama Nat, beda--gw suka. Ciri khasnya beda juga. Pokoknya sukaaa. Cowo banget, suka bola awww. *mule kumat* =)) Cara dia deskripsiin maen bola juga. Sep markosip lah pokoknya. Bahkan di SoMH meskipun Nat cuma ada di plesbek dan piguran *digaplok* itu udah menarik, gw kebayang Nat sama Leandernya :x Aaah, pokoknya keren ah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Azaria: Oy oy, jangan senyum-senyum ndiri depan leptop, oy.&lt;br /&gt;PM: *getok chara* berisik ah&lt;br /&gt;Danielle: Woee, reppin gw di Lion Sleep.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, denger? Chara gw udah protes, gw ciao dulu yak =)) Oke? Dadaaaah. Pokoknya udah sip. ;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=white&gt;Skupie a.k.a Nathan K. Harvarth said:&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;s&gt;diancem pake piso biar ngerep disini *ditoyor*&lt;/s&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*liat komen di atas yang panjang2*&lt;br /&gt;ASTAGA, din =)) Udah dibilangin gek gw belum pernah RP-an ama si Amanda, sama si Nat juga baru sekali seinget gw... Munyung, harus ngomong apa juga gw bingung (ketauan jarang merhatiin tret yang lain =))&lt;br /&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yak, kalau si Amanda, sih... dari pengamatan saia yang cuma seadanya, sepertinya tipikal yang kalem, ya? Jarang nyari masalah dan kayaknya mengalir begitu... &lt;s&gt;sungguh beda sama PM-nya yang gila *digorok*&lt;/s&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau si Nat... yang pertama kali gw komentarin adalah... UNTUNG GAK JADI MAKE NAMA INI BUAT NATE *ehem* Yak, FYI, awalnya chara saia punya rencana dinamain antara nathan/nathaniel/nathanael. Berhubung menurut Menye Nathan aja, jadilah... Ah, kalau namanya sama kan aneh juga ya... *ketip2in Cha* =)) *ehem oot* Kesan pertama dari karakter ini, sih, ini beneran anak gripin? Abisnya jarang ada anak gripin yang kalem-tenang paling2 si hakurai yang nyasar atau si LOCK yang karakternya khas bikinan Ajur (iya, gw tau sekarang yang megang rhea). Emang ini mau dimasupin gripin apa sebenernya nyasar? :3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;....saya beneran jarang liat, maafkan ketidak tahuan saya. Tapi dari post2nya yang panjang, saya bisa menyimpulkan kalau rp anda pasti bagus *ditoyor* =))&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-3869463760620112772?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/3869463760620112772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=3869463760620112772&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3869463760620112772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/3869463760620112772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/comments-in-coffee-house-part-2.html' title='The Comments (in The Coffee House)-Part #2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-8689187961157213530</id><published>2009-04-23T04:39:00.001-07:00</published><updated>2009-05-05T05:30:47.020-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Comments'/><title type='text'>The Comments (in The Coffee House)-Part #1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;The Comments (in The Coffee House)-Part #1&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Post kali ini OOC sebenarnya :3 Dipost disini sebagai motivasi jika seandainya sewaktu-waktu gue mengalami krisis kepercayaan diri OTL Di bawah ini adalah komen-komen di The Coffee House dari teman-teman IH yang baik hati, hiks *menyusut air mata**diinjek*&lt;br /&gt;Pokoknya BIG THANKS for all of you, guys!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=white&gt;marvilapin a.k.a Aurore Petrabella Marvil said:&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;Naaaaathanieeeel ma darling~~&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*ditendang*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya suka mereka berdua :x&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda yang baik hati, Nathaniel yang &lt;s&gt;seksi&lt;/s&gt; cool~ :x :x&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deskrip keren, gampang dicerna dan ngena... UGYAAAA BIKIN IRIIIIII! XDDDDD&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=white&gt;dark a.k.a Darkest Dawghew said:&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;Amanda.. cewe yang keterlaluan kalemnya :))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, cewe-cewe tuh harusnya yang kek Amanda gini. Terpelajar, cerdas, kaga banyak cincong =)) *disepelet anak sendiri*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bikin ngiri, ah.. :-*&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel.. hmm..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau masih sayang nyawamu, jangan jadi anak manja. --&gt; Darkie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=))=))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Permainan sax yang sangat menghibur, Nak. Saya suka musisi, fyi ;))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=white&gt;Chaos Code a.k.a Tristain F. Steinegger said:&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;Amanda Steinhart... gw sih pernah RP sekali doang sama tuh Chara...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;First Impression, Deskrip yang bagus dan kurang lebih overall... nice. Gw bisa lihat penjiwaan chara yang kalem dan mungkin &lt;i&gt;keibuan&lt;/i&gt;? Entahlah tapi yang pasti tipe tipe ravenclaw yang bagus... lebih kearah sosok yang mungkin menjadi prefect dkk... tapi who knows right =))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=white&gt;R. Betelgeuse a.k.a Rhea Cygnus Betelgeuse said:&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;*disuruhngisidisinisamaamanda* diniiiii~ =))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mah jangan ditanya, deskripnya udah mantep banget, din *acungin seribu jempol, minjem jempol tetangga* gw suka minder kalo baca deskrip lw. Apalagi yang di SoMH *baru baca* paling mantep itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*lirik2 atas* Pasti kelas 5 nanti Amanda bakalan jadi Prefect ;)) ramalan gw biasanya bener loh din ;))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo Nathaniel yang uhukgantenguhuk *dirajam Ro* deskripnya juga udah bagus. Bilang Trixie cantik lagi :"&gt; jadi malu =)) *digiles Ro* kapan-kapan maen sama Trixie yuk Nat ;;)*ketip-ketip* *ditabok Ro Dean* =))&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya gw suka Amanda sama Nathaniel :x :x :x &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Chara yang mantep sama kaya PMnya ;))&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-8689187961157213530?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/8689187961157213530/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=8689187961157213530&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8689187961157213530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/8689187961157213530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/comments-in-coffee-house-part-1.html' title='The Comments (in The Coffee House)-Part #1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-2644110863858106702</id><published>2009-04-22T00:15:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T19:11:12.947-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='The Phoenix and The Turtle'/><title type='text'>The Phoenix and The Turtle-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;The Phoenix and The Turtle-#1&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;At the free time&lt;/i&gt;--perpustakaan senantiasa menjadi sahabat karib. For her, at least.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, ya, &lt;i&gt;today is Friday&lt;/i&gt;. Hari terakhir pembelajaran dalam rentang waktu seminggu, dan dua hari kedepan akhir pekan menyambut, menawarkan segala hal bertajuk 'istirahat, istirahat, dan istirahat' bagi seluruh anak tanpa kecuali. Dan begitupun bagi seorang Amanda Steinhart, hatinya tak ayal bersorak saat waktu berharga seperti ini datang. Makan siang tanpa cela, perut penuh, cuaca pun memutuskan untuk bersikap kooperatif dengan memancarkan sinar terbaik mereka yang begitu teduh dan nyaman. Thank God, sedikit tak dapat dipercaya, di antara seabrek hari-hari yang penuh dengan aktivitas yang menguras kinerja otak sedemikian rupa, masih ada waktu-waktu menyenangkan yang mampu mengenyahkan penat yang tertimbun dalam benak. Great. Dan momen-momen tersebut amat tak layak untuk disiakan tanpa guna, dimanfaatkan hanya untuk termenung dengan pikiran kosong di tepi danau atau menghenyakkan tubuh di atas tempat tidur kemudian terpekur tanpa alasan yang jelas--seperti yang beberapa bulan terakhir ini seringkali ia lakukan. Tidak lagi. Lupakan hal-hal tak berguna yang terus menerus menginvasi hati dan benakmu selama ini, Amanda. Tentu--lagipula segalanya berjalan lebih mudah saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pagi hari di jembatan, beberapa waktu yang lalu--membuat masalah yang selama ini menyerang hatinya perlahan menguap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis cilik itu mengubah posisi duduknya, sedikit bergeser ke kiri sementara kepalanya tetap menunduk dan menelusuri kata demi kata yang terangkai di dalam buku yang membentang terbuka di hadapannya. Amanda menyelipkan uraian rambutnya ke belakang telinga, sesekali garis samar tergurat di keningnya. &lt;i&gt;Penilaian Pendidikan Sihir di Eropa&lt;/i&gt;--tidak, buku ini berbeda dengan para modul wajib dengan jumlah halaman tanpa toleransi yang dimiliki tiap-tiap mata pelajaran di Hogwarts--hanya bacaan sampingan, dan belum selesai dibaca olehnya hingga saat ini. Masih banyak halaman yang tersisa, masih banyak bahan kajian menarik yang terhampar di dalamnya, mengulik rasa penasaran. Bahasa yang tertera tidak terlalu berat, sungguh, sehingga rasanya bosan pun enggan mampir. Tangan kanannya mulai bergerak, membuka halaman baru, mencoba mencari tahu bagaimana akhir perdebatan seru antara para penyihir Perancis dan Irlandia--dan gerakannya terhenti. Kali ini keningnya jelas-jelas mengerut, matanya mengerjap sekali. Secarik perkamen independen keruh terselip di perbatasan halaman dua ratus lima puluh tujuh dengan halaman dua ratus lima puluh delapan. Eh? Di atas perkamen tersebut tertulis bait-bait bersusun rapi dengan tulisan tangan kecil-kecil. Amanda meraih perkamen tersebut, kemudian membaca baris demi baris secara perlahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;quote&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;b&gt;The Phoenix and The Turtle&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Let the bird of loudest lay,&lt;br /&gt;On the sole Arabian Tree,&lt;br /&gt;Herald sad and trumpet be&lt;br /&gt;To whose sound chaste wings obey&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But thou, shrieking harbinger,&lt;br /&gt;Foul pre-currer of the fiend,Augur of the fever's end,&lt;br /&gt;To this troop come thou not hear&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;/quote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well. Apa sih ini? Puisi? Apa yang dilakukan deretan puisi di tengah-tengah kepungan Pendidikan Sihir Eropa? Penasaran dan sedikit terpana dengan kata-kata yang digunakan dalam puisi tersebut, ia terus membaca. Kata demi kata, baris demi bait, hingga tiba pada dua bait terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;quote&gt;&lt;i&gt;Truth may seem, but cannot be :&lt;br /&gt;Beauty brag, but 'tis not she;&lt;br /&gt;Truth and beauty buried be&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To this urn let those repair&lt;br /&gt;That are either true or far;&lt;br /&gt;For these dead birds sigh a prayer&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;William Shakespeare, 1601&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/quote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. I-ini... luar biasa. Amanda terkerjap, masih terpaku, lidahnya berdecak mengungkapkan kekaguman. Ia bukan seorang melankolis yang gemar kepada sesuatu bernama puisi, syair atau semacamnya, namun entah mengapa &lt;i&gt;poem&lt;/i&gt; yang baru saja ia baca berhasil menghadirkan sensasi menggelenyar yang aneh pada tubuhnya. Aneh, ya. Sedikit... unik, mungkin, entahlah. Dan, um, William Shakespeare, rite? Sama sekali bukan nama yang asing sebenarnya. Muggle yang satu itu memiliki kesohoran tingkat jagat raya--berlebihan, oke, tetapi begitulah pendapatnya kurang lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda bangkit, menutup buku di hadapannya. Siapapun yang telah meninggalkan syair tersebut, orang itu berhasil memicu ketertarikan miliknya, sukses melambungkan niatnya untuk mengetahui lebih jauh mengenai seorang Shakespeare. Pertanyaannya sekarang adalah, apakah tempat berlabel perpustakaan Hogwarts memiliki buku yang berkaitan dengan hal itu? Patut dicari tahu. Ia mulai melangkahkan kaki menelusuri lorong-lorong suram di antara rak-rak hitam yang berdiri angkuh, matanya terus bergerak, membaca satu persatu judul buku-buku lusuh yang berjejer alfabetik. Mantra... Transfigurasi... Sejarah... Herbologi... Bacaan ringan... Itu dia. Amanda mendongak, menatap seonggok buku berjudul &lt;i&gt;Shakespearean Gleanings&lt;/i&gt; yang terselip di tengah rak keenam dari bawah. Duh. Gadis itu berjinjit, mengulurkan tangan sejauh yang ia mampu, mencoba menggapai buku tujuannya. Ti-tidak sampai. Amanda menghela nafas sejenak, kemudian kembali membiarkan tumitnya terangkat di udara, bahkan melompat sekali--tidak bisa. Ia berdecak kesal, kepalanya kembali menengadah, memandang sang buku dengan tatapan kepingin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Argh, nasib menjadi gadis pendek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Credit to wikipedia. Klik di &lt;url=http://en.wikipedia.org/wiki/The_Phoenix_and_the_Turtle&gt;sini&lt;/url&gt; untuk melihat syair lengkap The Phoenix and The Turtle)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-2644110863858106702?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/2644110863858106702/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=2644110863858106702&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2644110863858106702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/2644110863858106702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/phoenix-and-turtle-1.html' title='The Phoenix and The Turtle-#1'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-1863645465678636133</id><published>2009-04-18T09:42:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T18:55:10.674-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shape of My Heart'/><title type='text'>Shape of My Heart-#4</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Shape of My Heart-#4&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi sang gadis cilik berambut kecokelatan itu--saat ini jurang yang terhampar di bawah jembatan terlihat begitu menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya menerjunkan diri ke bawah sana tak akan terlalu menyakitkan. Setidaknya ia akan mati secara langsung. Terserah, Amanda tak keberatan. Apapun. Apapun asal ia dapat keluar dari situasi dimana dirinya terjebak saat ini. Apapun yang mampu menolongnya untuk pergi dari kungkungan rasa malu yang menghujam ulu hatinya. Apapun yang bisa menghilangkannya dari muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;For God's sake, apa yang telah ia lakukan? Apa yang telah ia katakan barusan, hah? Tolong beritahu padanya bahwa tiga kata itu tak pernah meluncur keluar dari bibirnya, tak pernah bergaung di udara, dan Lazarus tak pernah mendengarnya. Ya, kan? Beritahu dirinya bahwa itu tak pernah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Well, Steinhart. Pada kenyataannya itu semua benar terjadi. Kau telah mengucapkannya, anak malang.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lidah, kau jahat. Sangat. Kau juga, akal. Kau diam. Tak bertindak. Tak kuasa mengontrol sang batin yang tengah berada pada tingkat kewarasan di bawah nol. Memaksa Amanda untuk menghadapi konsekuensi yang tengah menghampirinya, seorang diri. Memaksanya bertahan menunggu tanggapan--entah apa--yang akan terlontar dari mulut pemuda di hadapannya. Menunggu dengan perasaan tak keruan dan galau, komplikasi antara rasa kesal terhadap diri sendiri dengan kekhawatiran luar biasa. Sudah terlanjur, kawan-kawan, mau bagaimana lagi. Yang bisa ia lakukan hanya diam. Pasrah. Menunggu. Tanpa harapan, kalau ia boleh jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengusan, dengar? Pertanda buruk. Amanda tak berani bergerak, tangan kirinya mencengkeram pagar jembatan dengan erat. Ia tak lagi mampu berpikir saat ini. Benaknya kosong, sepasang kelereng kecokelatannya balas menatap manik cemerlang milik Lazarus dengan hampa. Tepatkah apa yang telah dilakukannya barusan--mengatakan secara lugas? Tidak tahu. Tidak tahu. Yang ia tahu hanya satu : tak peduli tindakannya beberapa detik yang lalu itu benar atau tidak, yang pasti keberaniannya mulai bangkit. Sebuah beban telah terangkat dari lubuk hatinya, menghadirkan rasa nyaman yang begitu melegakan. Ba-baguslah. Dan satu lagi. &lt;i&gt;Ia bukan pengecut, see?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jantungnya seakan berhenti berdetak saat Lazarus mencondongkan tubuh, mempersempit jarak di antara mereka. Amanda merasakan tubuhnya meremang, sensasi menggelitik merambati telinganya saat bisikan tersebut akhirnya terdengar. The answer?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"I wish I can feel the same."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guratan samar terbentuk di kening sang gadis. A... pa maksudnya itu? Positif? Ataukah negatif? Mulutnya telah terbuka beberapa inci, hendak merilis pertanyaan, namun urung ketika--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"-but I'm not."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;But I'm not. But he's not. But Lazarus's not. Begitu. Jawaban yang telah Amanda duga sejak lama. Segalanya sudah jelas. Great.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah menduganya, eh? Lalu KENAPA saat ini ia merasakan langit runtuh dan menimpanya? MENGAPA tubuhnya seakan kehilangan pijakan dan sepasang kakinya lemas? APA yang kini menyebabkan relung hatinya sesak dan mencelos? Hati tak dapat berbohong, Amanda. Hatimu tak mampu berbohong. Apapun sugesti yang berusaha ia tanamkan ke dalam hatinya untuk 'menerima' kenyataan, buktinya ia tak bisa. Penolakan terang-terangan telah dihempaskan kuat-kuat, menghantam dirinya tanpa toleransi. Tetapi bagaimanapun, betapa sulitnya, ia harus mampu. Harus. &lt;i&gt;That's the final decision&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda mengangkat wajahnya, mengangguk samar seraya melempar senyum lemah kepada Lazarus. "Terima kasih," ucapnya lirih, "dan maaf." Berhasil mengaktifkan kembali neuron geraknya, gadis itu memutar langkah, membalikkan tubuh dan berjalan dengan sedikit terhuyung, menjauhi sang anak lelaki Slytherin, sekaligus turut mati-matian mengenyahkan kenelangsaan yang melanda. Kepalanya menunduk--dan kristal bening itu hadir juga di kedua pelupuk matanya tanpa mampu dicegah, mengaburkan pandangan. Hei, apa-apaan, ha? Jangan cengeng, Amanda. Terima segala konsekuensi, ingat? Ia ingat. Ia tahu, itu janjinya. Tapi merealisasikan apa yang telah diucapkan tak semudah yang kalian duga. Sungguh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seseorang di sampingnya. Eh? Gadis itu menoleh beberapa derajat, cukup untuk mengenali siapa gerangan orang tersebut. Larry? Ga-gawat. Cukup sekali sahabatnya itu melihatnya menangis. Tidak untuk kedua kali. Amanda memodifikasi gerakan menghapus air mata dengan gerakan mengucek, berpura-pura menyalahkan para debu. "Hai, Larry," serunya dengan suara serak, kakinya tetap melangkah silih berganti. Ada perasaan lega yang mendarat di hatinya saat mengetahui sahabatnya berada disini, mengindikasikan bahwa dirinya tak sendiri. Amanda butuh seseorang. "Apa kabar?" Jangan salahkan keminiman kosakatanya, please. Otaknya tak dapat bekerja dengan benar saat ini. Sebuah seruan familiar terdengar, menghentikan laju sepasang kakinya. Amanda menoleh, mendapatkan senior McCafferty telah berada didekatnya, memanggil Larry, menyodorkan... buku. Oh. Sepertinya Larry punya urusan lain. Mungkin memang sebaiknya ia pergi. Mungkin memang sebaiknya ia melewati ini semua sendirian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai jumpa, Larry," gumamnya lirih, kepalanya kembali tertunduk, kakinya kembali bergerak. Namun lagi-lagi terhenti saat sang angin sekali lagi menginterupsi, menerbangkan 'lagi' perkamen dalam genggamannya, berlawanan arah dengan arah kemana kakinya menuju. Perkamen itu terbang dengan anggun, menghampiri... Senior McCafferty. Perfect. Seniornya itu akan tahu. Atau jangan-jangan Larry dan sang senior telah mendengar ucapannya pada Lazarus, eh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matilah Amanda.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-1863645465678636133?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/1863645465678636133/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=1863645465678636133&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1863645465678636133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/1863645465678636133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/shape-of-my-heart-5_18.html' title='Shape of My Heart-#4'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-5653869144948146589</id><published>2009-04-17T04:16:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T18:40:43.653-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Le Papillon'/><title type='text'>Le Papillon-#3</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Le Papillon-#3&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;i&gt;Then the unnamed feeling&lt;br /&gt;It comes alive...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Thank God&lt;/i&gt; Amanda tak berada di sini. Entah apa yang akan sepupunya itu lakukan dan katakan jika menangkap basah dirinya sedang berada dalam posisi mencengangkan seperti ini, salah tingkah, dilengkapi wajah yang merona dengan semburat kemerahan. Jangan sampai, jangan sampai. Bisa-bisa gadis itu mengganggunya sepanjang libur musim panas, menghujaninya dengan celotehan dan tawa berderai seraya memaksanya untuk bercerita macam-macam. Setiap hari sepanjang liburan. Dan pastinya akan ditimpali oleh Leander--tidak diragukan lagi--dengan tepukan di bahu serta nasihat, mungkin? Cih, yang benar saja. Tipikal Steinhart. Kalau sudah begitu, hanya tinggal menunggu waktu hingga isu tersebut mendarat di telinga sang ayah. Kalau sudah begitu--gawat tingkat dewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nathaniel masih berkutat dengan sang kancing, yang luar biasa menjengkelkan karena tak jua setuju untuk bekerja sama, properti keperakan itu tetap kukuh bersarang pada jalinan benang milik kerah baju gadis dihadapannya. Apa yang salah sih? Well, sebenarnya Nat dapat menyelesaikan masalah ini dalam sekejap mata--tarik paksa, putuskan untaian benang yang melintang, beres. Hanya saja ia tak berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;font color=gray&gt;Putra tunggal keluarga Gladstone, menimpa seorang gadis cilik hingga terjatuh, kemudian merusak bajunya.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Dad akan membunuhnya&lt;/b&gt;. Berlaku sopan kepada lawan jenis, prinsip yang telah mendarah daging dan tertanam di benaknya sejak dirinya mulai beranjak dewasa, hasil didikan keras-intensif sang ayah. Ia tak akan mengatakan bahwa segala apa yang diberikan Dad tak berguna--tentu saja tidak--harus ia akui seluruh prinsip dan peraturan tersebut bertujuan untuk menjadikan Nat seseorang dan pribadi yang lebih baik. Fine, ia mengerti, sangat mengerti. Hanya saja ada beberapa poin yang tak mampu ia terima dengan sukarela tanpa kerutan di dahi atau alis yang terangkat, tak mampu ia cerna dengan akal sehat, memancing pemberontak dalam salah satu sisi hatinya untuk meletup. Tetapi--tidak, berlaku sesopan yang ia mampu terutama kepada lawan jenis bukanlah salah satu prinsip yang ia abaikan. Laksanakan, meski dalam keadaan sulit. &lt;i&gt;Like now&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki dua belas tahun itu dapat merasakan wajahnya memanas, kemudian merambat ke telinga ketika suara tawa Marvil terus terlontar beberapa saat tanpa henti. Astaga, cewek. Dalam kondisi seperti ini, yang biasanya akan secara spontan Nat lakukan adalah mendelik sembari mendengus sinis, menggelengkan kepala tak percaya. Ta-tapi, apa yang ia lakukan sekarang? Terdiam. Dengan kegugupan yang berusaha mati-matian ia sembunyikan dengan sebisa mungkin terlihat sibuk dengan kancing si biang keladi. Ada apa, hm, Nathaniel? &lt;i&gt;Kau bertingkah aneh hari ini, Nak&lt;/i&gt;. Ya, memang. Amat sangat aneh. Sesuatu tengah menusuk-nusuk dadanya dengan pisau, perasaan janggal menggelayuti hatinya. Apa? Tidak tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;Karena Marvil, eh?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Pa-pardon&lt;/i&gt;? Karena gadis di hadapannya? Yang benar saja. Mustahil, haha. Mustahil, ya kan? Benar kan? Pastilah. Tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sialnya memang iya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, mengakui fakta bahwa dirinya bertingkah aneh dan nervous hanya karena seorang Aurore Petrabella Marvil memang sulit. Tapi... begitulah. Memangnya apa lagi? Tak ada alasan lain. Dan, well, percayalah, ini kali pertama Nat merasakan sensasi menyesakkan--sekaligus menyenangkan--mampir di benak dan batinnya hanya karena seorang gadis. Marvil, objek utama dalam kasus ini, memang berbeda dari gadis-gadis lain di Hogwarts--setidaknya bagi Nathaniel. Kontras. Unik, begitu polos meskipun terkadang tindakan dan jalan pikirannya tak tertangkap akal sehat. Ceroboh, memicu keinginan Nat untuk... melindunginya. Seperti dirinya melindungi Amanda, mungkin. Dan, satu hal yang paling menarik dari gadis ini adalah... ia sepertinya tak pernah sadar bahwa dirinya cantik. &lt;i&gt;Interesting&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;Ya Tuhan, apa yang barusan ia pikirkan? Astaga. Ingat, Nathaniel, kau-masih-dua-belas-tahun. Pikiran macam apa itu.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kenapa? Masa bodoh, ia tak peduli. Ia hanya mengungkapkan isi hati, tidak boleh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Great. Akhirnya berhasil. Lilitan benang yang mengait pada kerah baju Marvil telah terurai dengan sukses. Huft. Nat menghela nafas lega. "Sudah selesai, Mar--"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Detik berikutnya anak lelaki itu telah terpaku di tempat, kaku tak mampu bergerak saat secara tiba-tiba Marvil memeluknya. Tubuh Nat meremang, jantungnya berpacu begitu cepat, sementara tanpa sadar ia menahan nafas. A-ada apa? Ke-kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Nat-h-yel... U-usir... Usir &lt;i&gt;dia&lt;/i&gt;..."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia? Nathaniel mengedarkan pandangan, berusaha menemukan sesuatu atau seseorang yang berlabel 'dia' seperti yang dimaksudkan Marvil. Eh? Itu... Kupu-kupu? Hewan penyebab dirinya jatuh. Nat menurunkan tatapannya, mengerling gadis cilik yang tengah mendekapnya erat. Marvil takut kupu-kupu. Begitu. Masih berusaha meredakan detak jantungnya yang bertempo abnormal, ia mengibaskan tangan kanannya perlahan ke arah makhluk mungil bersayap tersebut. Sang kupu-kupu terbang dengan anggun, bergerak menjauh tanpa interupsi, menerabas angin dengan lembut. Nat menepuk pelan punggung Marvil dengan ragu. Ia membuka mulut, hendak menginformasikan bahwa objek antagonis telah pergi. Hm, atau lebih baik tidak usah ya? Kejadian seperti ini tak terjadi setiap hari--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;Nathaniel Gladstone, kau...&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bercanda. "Kupu-kupunya sudah pergi, Ro."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Credit to Metallica - The Unnamed Feeling)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-5653869144948146589?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/5653869144948146589/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=5653869144948146589&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5653869144948146589'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5653869144948146589'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/le-papillon-3.html' title='Le Papillon-#3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-4210199569128072935</id><published>2009-04-15T13:52:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:56:57.175-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shape of My Heart'/><title type='text'>Shape of My Heart-#3</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Shape of My Heart-#3&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benci. Satu kata, mewakili segalanya. Satu kata, dan elemen bahasa tersebut berhasil mendeskripsikan serta menyentak keluar seluruh aspirasi hatinya. Ya, gadis itu benci--pada dirinya sendiri, untuk saat ini. Benci karena lidahnya selalu enggan berkompromi dan bermufakat dalam situasi menyesakkan seperti ini. Kedua kakinya turut bersekongkol, memutuskan untuk melipatgandakan bobot mereka seratus kali lipat, kemudian memakukan diri di atas lantai jembatan. Bagian intern dari sang leher terasa kering, memaksa gadis cilik tersebut untuk mengaktifkan kelenjar saliva setidaknya sekali per tiga puluh detik. Kardionya  terus menerus menggedor dadanya tanpa ampun, begitu keras hingga detaknya tersampaikan kepada sang telinga. Jadi begitu, eh? Fine. Kalian semua... benar-benar tak setia kawan, wahai tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, dan--ya. Amanda benci. Ia benci--tatapan itu. Tatapan yang terlontar dari kedua manik pemuda di hadapannya. Tatapan angkuh yang selalu serupa dalam setiap kesempatan. Tatapan yang seringkali membuat Amanda tak berkutik dan terkesiap. Ia sudah bilang, kan? Tolong. Tolong jangan menatapnya seperti itu, Lazarus. &lt;i&gt;Please&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Apa lagi, Steinhart?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lagi? Tidak tahu. Dirinya tak tahu. Jangan tanya. Amanda melempar pandang kosong ke arah jurang jauh di bawah jembatan sekaligus membebaskan diri dan menghindari tatapan Lazarus. Benar, lalu apa sekarang? Salahkan dirinya yang begitu bodoh, tak mampu mengontrol sang mulut, mengundang kembali masalah yang hendak beranjak pergi beberapa detik yang lalu. Bodoh. Bodoh. Lihat, kan. Kini ia hanya mampu terdiam, terapung dalam penyesalan dan tenggelam dalam keputusasaan karena tak mampu mengulang kembali waktu yang telah berlalu dan membatalkan segala hal yang telah ia lakukan. Penyesalan--is nothing. Tak ada gunanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda memiliki dua pilihan. Pertama, kembali memasang sang kedok, menuturkan jawaban serta alasan palsu sama seperti sebelumnya--dengan konsekuensi : menemukan guratan ketidaksabaran di wajah pihak di hadapannya tertoreh lebih dalam, dan menerima makian, mungkin? Opsi kedua, pilihan sinting--&lt;i&gt;go ahead&lt;/i&gt;. Lanjutkan apa yang telah kau mulai, Amanda. Ralat, lanjutkan apa yang telah terlanjur kau mulai, sengaja atau tidak. Terima segala apa yang akan terjadi. Silangkan jari dan berharaplah untuk yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So. Pilih yang mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat berikutnya yang terucap dari bibir sang anak lelaki membuat engsel lehernya kembali berputar. Menjelaskan tentang isi perkamen, hm? Jika ia boleh berkata jujur... well, ia tak berani. Katakan saja ia payah, silahkan. Yang pasti, Amanda masih waras dan tentu, yang akan terpilih adalah pilihan pertama. Lupakan perkamen biang keladi tersebut, lupakan bahwa mereka pernah bertemu di tempat ini, lupakan bahwa ia pernah melontarkan kalimat 'tunggu, Lazarus'--ITU jalan terbaik. Amanda telah membuka mulut, mencoba menuturkan permintaan maaf, memberi penjelasan bahwa tak ada apapun, bahwa rangkaian kata yang tertulis di atas perkamen sama sekali tak berarti apa-apa... tetapi tak ada yang keluar. Suaranya tercekat bahkan sebelum tiba di leher, sesuatu menghambat perjalanannya. Oh, apa lagi sih? God, tolong ia, kali ini saja. &lt;i&gt;She begs you&lt;/i&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei. Masih pagi. P-A-G-I. Oh, well, yeah. Pagi musim gugur. Identik dengan dedaunan yang meranggas, meninggalkan tempatnya bernaung, melambai dan meliuk menghampiri siapapun yang beruntung tengah berada tepat di bawahnya. Sang angin berbisik, berhembus dalam tempo tak terprediksi dan bermain-main dengan segenap komposisi bumi yang terserak. Burung gereja bercengkerama seperti biasa. Seperti biasa--tidak, tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara itu--berbeda sama sekali. Itu... tawa? Dedaunan melintas, merapat di telinga gadis Ravenclaw, bergesek dan terkekeh. A-apa? Bagaimana mungkin? Tuan angin menggelitik pipinya seraya mendesis lembut, menghantarkan ucapan menghujam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Poor you, chicken Steinhart...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bukan PENGECUT. Jangan. Pernah. Berani--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Burung gereja mungil itu menghampiri, menceracau ribut, seakan memberikan... semangat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Selangkah lagi, gadis manis, ayo.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dunia bekerja sama untuk mempermainkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FINE. Hati terdalamnya memang tak pernah kalah. Hati kecilnya selalu berhasil mengambil alih, bahkan sukses menyingkirkan akal. Ya, dan kali ini mereka curang. Menggunakan fantasi tak berdasar, tak tercerna tetapi entah bagaimana berhasil menarik tuas yang tepat di pusat hati. Amanda menyerah. Ia akan melaksanakan apa yang telah ia mulai. Masa bodoh apapun yang akan terjadi. Terserah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;i&gt;I'm here with my confession...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menghela nafas berat, ia menatap lekat pemuda di hadapannya. Sebuah tindakan yang secara otomatis memicu sindron nervous, dan kali ini Amanda dapat merasakan telapak tangannya berkeringat. Cepatlah. Lima detik, dan semuanya selesai. "Err... sebenarnya..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;i&gt;Got nothing to hide no more...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tangannya kini berada dalam saku, salah satunya menggenggam sang arloji kesayangan. Lehernya tercekat lagi, jantungnya kembali beraksi, menabuh dadanya dengan keras. Beri ia keberanian, God. Tolong. "A... Aku..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;i&gt;I don't know where to start...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang harus ia katakan? Demi Leander, demi Nathaniel, dan demi semua orang yang ia sayangi, APA yang harus ia UCAPKAN? "Lazarus, a-aku..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p align=center&gt;&lt;i&gt;But to show you the shape of my heart...&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku suka padamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(OOC : Song credit to Shape of My Heart - Backstreet Boys)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-4210199569128072935?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/4210199569128072935/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=4210199569128072935&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4210199569128072935'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/4210199569128072935'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/shape-of-my-heart-4.html' title='Shape of My Heart-#3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-5920828364700383626</id><published>2009-04-12T06:17:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T18:53:27.326-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Set Adrift on Symphony Bliss'/><title type='text'>Set Adrift on Simphony Bliss-#2</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Set Adrift on Symphony Bliss-#2&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak lelaki itu membasahi bibirnya yang kering sebelum kembali memainkan sang alat musik, untuk kedua kalinya mengalunkan partitur yang sama. Edelweiss, &lt;i&gt;Leontopodium alpinum&lt;/i&gt;, spesies makhluk hidup yang begitu mengagumkan, memikat hati pribadi yang menatapnya, melengkungkan seulas senyuman pada kontur wajah mereka yang menggenggamnya. Sang lambang kemurnian dan cinta abadi inilah yang menjadi sosok kesayangan Mom, juga menjadi bunga yang paling wanita itu senangi. Sejak Nathaniel kecil, filosofi mengenai Edelweiss telah tertanam hingga ke dasar benaknya--akibat begitu seringnya diperdengarkan--hingga turut menjadikannya salah seorang diantara para pengagum makhluk kecil anggun tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran hidup, bagi penerus keluarga Gladstone adalah mutlak hukumnya, wajib diinjeksi dan didoktrinkan ke dalam cara berpikir masing-masing pihak tanpa terkecuali. Filosofi-filosofi kuno dan kolot, peraturan yang mendikte, semua hal tersebut telah menjadi bagian pokok dan anggota tetap dalam perjalanan kehidupan Nathaniel, berbagai prinsip telah tertulis dalam undang-undang yang tercetak pada lembaran perkamen 'Prinsip Gladstone's'. Ya, ya, kau tahu semua itu benar-benar menjemukan dan sungguh mengekang apapun yang ia lakukan--menyulutnya untuk memberontak sesekali. Nat lebih senang kepada sesuatu yang tidak kaku, tidak terpaku hanya kepada apa yang tertulis saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, ia beruntung karena Mom seakan mengerti apa keinginannya. Wanita itu dalam berbagai kesempatan selalu mendidik Nat dengan caranya sendiri, lemah lembut, pendekatan secara personal yang benar-benar dapat menyediakan rasa nyaman--amat bertolak belakang dengan Dad. Cara tersebut berhasil dengan gemilang, segala perkataan Mom mampu ia resapi tanpa sisa dengan senang hati. Termasuk salah satu kalimat yang sukses membuat hatinya berdesir sejak kali pertama ia mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;Jadilah Edelweiss, dear Nathaniel.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Jadilah Edelweiss. Tentu, Mom, ia bersumpah bahwa ia akan berusaha menjadi sekuntum Edelweiss. Menjadi seseorang yang kuat, mampu bertahan bahkan di tempat-tempat tak terduga tanpa tercemari elemen buruk apapun yang mungkin mengelilinya--tetap bergeming dalam kemurnian. Kau dengar, Mom? Putramu bersumpah, sungguh. Apapun. Apapun yang dapat membahagiakanmu Mom, akan Nat lakukan. Untuk menebus kesalahan luar biasa fatal yang telah ia lakukan empat tahun lalu. Kesalahan fatal yang membuat anak lelaki itu tak mampu memaafkan dirinya sendiri hingga detik ini. Kesalahan seorang anak kecil delapan tahun yang begitu bodoh hingga menyebabkan sang ibu harus mendekam di suatu tempat yang amat tak pantas bagi wanita anggun tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;St. Mungo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Leher Nathaniel kembali tercekat, sekali lagi menghentikan nada yang tengah mengalun. Rahangnya mengeras, bibirnya terkatup rapat dan menipis. Detik berikutnya ia kembali meniup sang saxophone, masih memainkan lagu yang sama--namun dengan emosi yang berbeda. Lagu riang, benar sekali, seharusnya begitu. Tetapi yang terdengar saat ini adalah melodi kemarahan, tempo yang digunakan berubah menjadi satu ketukan lebih cepat, alunan yang bergaung lirih dimainkan secara tersentak-sentak dengan sengaja. Terserah. Ia tak peduli lagi apakah ada yang mendengarnya atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarahan itu muncul lagi. Kemarahan, luapan amukan yang membawa hasrat luar biasa besar untuk menghukum diri sendiri. Jika dirinya tak begitu bodoh waktu itu, Mom tentu masih ada bersama mereka, menyambutnya dengan senyuman menyejukkannya saat libur musim panas. Jika ia tak melakukan kebodohan itu empat tahun yang lalu, Dad tak akan sekeras sekarang, ia pun dapat bermain saxophone di rumah dengan leluasa tanpa harus bersembunyi dari sang ayah. Seandainya saja pada saat itu Nat mendengarkan instruksi dengan baik, ramuan tersebut tak akan gagal. Seandainya saja pada saat itu ia berkonsentrasi penuh, Mom tak akan kehilangan seluruh ingatannya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan apa yang mampu ia lakukan, hah? Menyesal? Menangis? Betapa lemahnya kau, Nathaniel Gladstone. Tak ada tindakan berarti yang pernah kau lakukan, kan? Hanya terdiam. Tak ada satu hal pun yang pernah ia lakukan untuk membalas apa yang telah Mom berikan selama ini. Lihat saja. Di hari ulang tahun ibunya--hari ini--ia hanya bisa mendekam di balik tembok Hogwarts, memberikan alunan lagu dari kejauhan. Cih, APA GUNANYA?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Kau cukup mahir juga, rupanya, &lt;i&gt;senior&lt;/i&gt;."&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunan Nat buyar. Terkejut setengah mati mendengar suara entah-siapa-itu, tubuhnya tersentak, lutut kanannya menyepak lampu minyak di samping kakinya dengan keras. Benda itu terlontar beberapa meter jauhnya, kaca pelindungnya pecah berkeping-keping, menimbulkan suara memekakkan yang bergaung ke seluruh penjuru ruangan. Kedua mata Nat membesar tak percaya ketika menyaksikan api dari lampu minyak telah menjalar, membakar sepasang kursi meja dengan. A-astaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia bergegas bangkit--saxophone tergenggam erat di tangan kanan--untuk menghindari api yang mulai bergerak ke arahnya--terlalu bergegas hingga pinggangnya terbentur ujung salah satu meja, diiringi suara berkelontang ganjil. Ugh. Nat mengerang, memegangi pinggangnya yang sakit, kemudian secara perlahan mengangkat wajah. For God's sake, yang benar saja. 5 orang? 5 orang lain telah berada di dalam ruangan yang sama dengannya--kemungkinan besar sedari tadi--dan ia sama sekali tak sadar? Gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Woi, api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ampun, api, ia lupa. Dengan panik Nat merogoh saku celananya, mencari keberadaan sang tongkat. Tertegun, ia terhenyak sesaat. Tongkatnya tak ada.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-5920828364700383626?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/6646917/1/#new' title='Set Adrift on Simphony Bliss-#2'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/5920828364700383626/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=5920828364700383626&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5920828364700383626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/5920828364700383626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/set-adrift-on-memory-bliss-2.html' title='Set Adrift on Simphony Bliss-#2'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-9019344262227002235</id><published>2009-04-11T07:24:00.001-07:00</published><updated>2009-08-22T17:23:26.833-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Steinhart'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Shape of My Heart'/><title type='text'>Shape of My Heart-#3</title><content type='html'>Lidahnya masih kelu. Sedari tadi yang mampu ia lakukan hanya membuka dan menutup mulut berkali-kali, tergagap seraya menelan ludah serta menahan nafas, mencoba meredakan detak jantung yang mulai tak normal. Di hadapannya kini telah berdiri sosok yang entah--memang ia inginkan berdiri di sana atau sebaliknya, amat ia inginkan kepergiannya. Seperti yang biasa Amanda saksikan di berbagai kesempatan bertatap muka dengan pemuda itu, alis Lazarus kali ini tak ayal kembali terangkat, sepasang kelereng gelapnya menghujam tepat di titik fokus kedua lensa kecokelatan milik sang gadis. To-tolong jangan menatapnya seperti itu, Lazarus. Ia mohon...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatapan khas seseorang yang tak percaya. Amanda tahu. Ia dapat melihat itu. Kalimatnya yang mendeklarasikan bahwa tidak ada yang perlu dijelaskan memang hanya merupakan sebuah kebohongan belaka, kedok payah yang sengaja ia pasang di bagian muka agar pemuda tersebut tak mengetahui apa yang sebenarnya hendak diutarakan olehnya saat tangan kanannya bergerak perlahan untuk menulis surat itu--tadi malam. Tetapi sepertinya sang kedok tak terpasang dengan sempurna, sehingga celah-celah berhasil terbentuk, mengizinkan Lazarus melihat apa yang berada di baliknya dan melontarkan terkaan. Ya kan? Well, bagaimanapun terkaan tetaplah terkaan, kecurigaan semata, tak terbukti, tak dapat dikatakan benar sebelum pemeran utama mengangguk dan mengiyakan. Kelas tiga--sekitar tiga belas tahun, dan bisa dikatakan hampir mustahil jika Slytherin di hadapannya mampu menguasai Legilimens. Amanda tak perlu khawatir kalau begitu. Rahasianya akan tetap terkubur dalam-dalam, tak akan ada yang mampu menemukannya, asal--pikiran nekat yang akhir-akhir ini seringkali menyergap benaknya mampu dienyahkan. Pikiran nekat dan sinting untuk mengungkapkan segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;No way. Itu. Tidak. Boleh. Terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya sekarang adalah, mampukah Amanda bertahan dengan rahasia itu? Bertahan selamanya, berkawan dengan perasaan tertekan yang menyesakkan? Alam sadarnya menyatakan bahwa ia mampu. Pasti mampu. Harus mampu. Namun ia sadar, hati kecilnya tak setegar itu. Sugesti yang terus terdoktrin sepanjang hidupnya bahwa seorang Steinhart tak boleh lemah dan harus memiliki keyakinan di setiap hal yang ia lakukan, kemungkinan besar tak akan mempan terhadap bagian terdalam hatinya. Kalau sudah begitu bisa gawat.&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;&lt;font color=gray&gt;"Siapa namanya? Siapa? Oh, ayolah, beritahu kakakmu ini, Amanda."&lt;br /&gt;"I-itu... tidak penting, Leander. Lupakan."&lt;br /&gt;"Beritahu saja, Amanda. Apa susahnya sih."&lt;br /&gt;"Oh, diamlah, Nathaniel," ujar Amanda, kedua matanya mengerling sepupunya penuh arti.&lt;br /&gt;"Ah ya, Nathaniel. Kau bisa memberitahuku, rite? Siapa?" tanya Leander seraya mencondongkan tubuh ke arah anak lelaki dua belas tahun di seberang meja, wajahnya memajang mimik penasaran.&lt;br /&gt;"Nathaniel Gladstone," desis Amanda, "Don't."&lt;br /&gt;Nat menyeringai jenaka, menjulurkan lidah kepada sang gadis, kemudian berkata, "Lazarus. Sylar Lazarus, Leander."&lt;br /&gt;Sebuah bantal melayang, dengan sukses menimpa kepala anak lelaki Gryffindor yang kini tengah tertawa terpingkal itu, disusul pukulan bertubi-tubi di bagian punggung.&lt;br /&gt;"Ya ampun, kenapa harus marah, dear, Amanda?" ucap Leander dengan tawa berderai, menghentikan gerakan Amanda yang tengah bersiap dengan pisau dapur--wohoo, bercanda. "Memiliki perasaan spesial pada seseorang bukanlah suatu kesalahan," lanjut Leander lagi. Amanda tertegun. Benarkah? Benarkah hal tersebut bukan suatu kesalahan?&lt;br /&gt;"So--mengapa tak kau katakan saja padanya?"&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;Itu dia. Cikal bakal yang menghadirkan pikiran-pikiran nekat di benaknya. Kalimat yang diucapkan dengan begitu ringan oleh Leander, terdengar bagai petir di siang bolong bagi Amanda, kalau kau mau tahu. Gila--tapi sialnya--juga masuk akal. Katakan saja. Haha. Tidak mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amanda terpaku saat Lazarus meraih tangannya, mengembalikan lembaran perkamen yang menjadi biang keladi, kemudian memutar langkah setelah mengucapkan sebuah statement penuh ketidakpedulian. Terserah katanya. Dengar, kan? Lazarus sama sekali tak peduli, Amanda. Apa lagi yang kau harapkan? Bagus. Pergi saja sana.&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Hei. Sadar, gadis kecil. Kesempatan seperti ini tak akan datang dua kali.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Apa? Kesempatan apa? Bertemu Lazarus dan tak ada orang lain sehingga ia dapat mengutarakan isi hatinya? Dirinya masih waras, maaf saja.&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Oh, tidak berani? Betapa pengecutnya kau, Steinhart.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Jangan. Pernah. Menyebutnya. Pengecut.&lt;br /&gt;&lt;p align=right&gt;&lt;i&gt;Kenapa? Memang benar kan?&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;Frustasi. Marah kepada dirinya sendiri, tanpa sadar dan tanpa berpikir lagi, detik berikutnya Amanda telah berseru, "Tunggu sebentar, Lazarus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fine. Pelatuk telah dipicu, kawan-kawan.&lt;br /&gt;&lt;hr&gt;&lt;br /&gt;Yang pernah baca tulisan di atas, komen donk :| Emang ngena banget? Bukannya narsis, gue cuma bingung. *yang bikin sama sekali gak ngeh*&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2476950853226052813-9019344262227002235?l=steinhart-gladstone.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='related' href='http://s15.zetaboards.com/hogwartsnox/topic/6651061/1/?x=0#post8014869' title='Shape of My Heart-#3'/><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/feeds/9019344262227002235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=2476950853226052813&amp;postID=9019344262227002235&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/9019344262227002235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2476950853226052813/posts/default/9019344262227002235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://steinhart-gladstone.blogspot.com/2009/04/shape-of-my-heart-3.html' title='Shape of My Heart-#3'/><author><name>Amanda Steinhart</name><uri>http://www.blogger.com/profile/13949221714046826627</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2476950853226052813.post-4399413937612036979</id><published>2009-04-10T10:56:00.000-07:00</published><updated>2009-08-22T17:59:55.111-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Kelas Astronomi'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Gladstone'/><title type='text'>Astronomi - Kelas 2-#1</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;font size="4" face="Comic Sans MS" color=navy&gt;Astronomi-#1&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Please, bantu aku, Amanda."&lt;br /&gt;&lt;font col
